
Kenapa pria bodoh itu membawanya ke sini?
Andrew mengumpat dalam hati ketika melihat Hiro dan Keiko memasuki ruangan. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga bunyi bergemelutuk terdengar jelas, membuat Jovanka mendongak dan menatapnya dengan heran.
Clark maju dua langkah, berdiri di samping sahabatnya dan berbisik, “Kendalikan dirimu, Drew.”
Andrew mendengkus pelan dan memalingkan wajah. Saat ini ia benar-benar ingin menerjang dan menghajar Hiro karena bertindak sangat ceroboh. Apakah dia tidak tahu kalau tunangannya baru saja diserang oleh musuhnya? Membawa gadis itu ke sini sama saja membuka peluang untuk serangan berikutnya. Bertahun-tahun berkecimpung dengan para bandit, tentu saja membuat Andrew paham kalau para penjahat selalu mengincar kelemahan musuh mereka. Dalam kasus ini, sudah pasti
Sakamoto Keiko adalah kelemahan Hiro yang akan terus diincar.
Setelah melepaskan tangan Jovanka, Andrew berjalan menuju meja prasmanan. Ia meraih segelas soft drink di atas meja dan menghabiskannya
dalam satu tarikan napas. Pria itu merasa sangat kesal. Tindakan Hiro membuat semuanya menjadi lebih sulit. Ia takut tidak bisa membuat keputusan dengan benar jika sudah berhubungan dengan Keiko. Jika yang datang tadi adalah Mr. Sora sendiri, tentu semuanya akan lebih mudah
“Kenapa bukan Kobayashi Senior yang datang?” gumam Andrew saat Clark menyusul dan berdiri di sampingnya.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Clark pelan, “Tidak ada informasi dari pusat mengenai perubahan ini. Mungkin pria tua itu tidak bisa datang sehingga terpaksa digantikan oleh putranya.”
“Lalu kenapa dia mengajak gadis itu? Benar-benar bodoh dan ceroboh,” rutuk Andrew tanpa menutupi rasa kesalnya.
Jovanka mendekat. Wanita itu kembali melingkarkan tangannya di lengan Andrew dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa berbisik-bisik?”
Clark menganggukkan kepalanya sekilas ke arah Hiro dan Keiko yang sedang menuju anak tangga sambil bertanya, “Kenapa tidak ada yang memberi tahu jika Kobayashi Junior yang datang?”
“Aku juga tidak tahu. Mr. Tanaka tidak memberitahu apa pun sebelum aku berangkat tadi,” balas Jovanka.
Dari ekspresi wajah Jovanka, Andrew cukup yakin wanita itu pun tidak tahu perubahan ini. Mau tidak mau, sekarang mereka harus berimprovisasi, bukan?
“Kemarilah,” ajak Andrew seraya menggandeng tangan Jovanka ke tengah ruangan. Mereka harus bisa menarik perhatian Hiro kalau ingin semuanya berjalan sesuai rencana semula.
Jovanka tersenyum lebar dan semakin menempelkan tubuhnya ke lengan Andrew. Ini adalah kesempatan yang benar-benar langka. Biasanya ia selalu mudah menaklukan seorang pria, bahkan biasanya pria-pria itu dengan sukarela melemparkan diri ke dalam pelukannya, bertekuk lutut tanpa ia perlu bersusah payah. Andrew Roux
adalah satu-satunya pengecualian. Pria itu benar-benar sedingin gunung es di Antartika, membuat Jovanka semakin penasaran dan ingin memilikinya.
Jimmy yang sudah berpakaian layaknya seorang pengusaha berjalan menghampiri Andrew dan menyapa, “Anda pasti Mr. Roux Junior, bukan? Suatu kebetulan yang luar biasa bisa bertemu Anda di sini.”
“Halo, Tuan ... Russel?” balas Andrew seraya menyambut tangan Jimmy yang terulur ke arahnya.
“Benar sekali! Tidak saya sangka Anda memiliki ingatan yang bagus. Makan malam bersama ayah Anda tidak terlupakan.”
“Anda harus mengunjungi Paris lagi. Ayah pasti akan senang.”
“Tentu saja saya akan ke sana lagi. Ngomong-ngomong, urusan apa yang membuat Tuan Muda yang tertutup seperti Anda datang ke sini?”
Andrew menunjukkan ekspresi tidak berdayanya dan menjawab, “Ayah sudah semakin tua. Dia bersikeras menyerahkan Phoenix.Co untuk diurus oleh saya. Well ....”
“Oh, saya mengerti ....”
Dua orang pria itu lalu tertawa seperti sepasang sahabat lama yang baru saja bertemu. Sementara Clark hanya bisa menahan napas melihat dua orang
rekannya memainkan sandiwara di hadapannya, jangan sampai terjadi kesalahan dan berakibat fatal. Ia pun segera menjalankan perannya sebagai seorang asisten yang baik, mencarikan tempat duduk agar mereka bisa lebih leluasa berbincang-bincang.
Tamu yang datang semakin banyak. Ruangan yang semula kosong kini mulai terisi dengan cepat. Semua jenis manusia hadir di sana dengan kepentingan mereka masing-masing. Beberapa ada yang ingin mencari koneksi, yang lain ingin mendapatkan keuntungan sebesar mungkin. Jadi, bisa dibilang hanya ada sekitar 0,01 % tamu yang datang untuk acara amal.
Andrew dan Jimmy terus memainkan peran mereka dengan sangat baik. Tujuannya adalah agar dapat menarik perhatian anak buah Kobayashi yang dapat dipastikan sudah berpencar dalam ruangan untuk mencari mangsa baru. Untunglah niat mereka segera terlaksana. Tidak berapa lama kemudian nampak seorang pria bertubuh kekar perlahan mendekati meja mereka dan menunduk ke arah Andrew.
“Tuan Kobayashi menunggu Anda di ruang VIP, Sir,” ujar pria itu seraya menyodorkan sebuah kartu hitam dengan ukiran naga emas di bagian depannya.
Andrew menoleh ke arah pria itu sekilas, lalu segera berdiri dan merapikan jasnya. Syukurlah. Setidaknya ia tidak perlu berlama-lama bertukar omong kosong
“Hanya Mr. Roux saja” ujar pria itu lagi ketika melihat Jovanka dan Clark ikut berdiri.
“Aku tunangannya. Dia tidak boleh meninggalkanku di sini,” protes Jovanka sambil menggenggam jemari Andrew.
“Mr. Roux tidak bisa pergi tanpa saya, Tuan,” timpal Clark seraya merapikan dasinya, “Saya yang mengatur semua jadwalnya.”
“Oh ... kalian lanjutkan saja. Hubungi saya kalau waktu Anda sudah senggang, Tuan,” ujar Jimmy seraya bangun dan menjabat tangan Andrew.
Tugasnya sudah selesai. Sekarang ia harus segera keluar dan memeriksa jalur evakuasi jika mendadak mereka harus menjalankan plan-B.
Utusan Hiro terlihat sedikit bimbang. Ia menekan tombol pada saluran komunikasi yang menyelip di belakang teling dan berbicara dalam bahasa Jepang. Tidak lama kemudian, ia mengangguk dan menunjukkan jalan ke arah tangga.
“Silakan, Mr. Roux,” ujarnya sembari memberi jalan. Tangannya yang terulur ke depan membuat ujung kemejanya sedikit tertarik ke atas, membuat warna tato yang hitam kebiruan menyembul di dekat pergelangan tangan.
Dua orang pria berjas hitam segera menghampiri Andrew, Jovanka, dan Clark setelah mereka mencapai anak tangga teratas. Mereka menggeledah tubuh tiga orang itu, lalu mempersilakan mereka menuju ruang VIP. Ruangan itu terlihat lebih luas dari dalam. Design minimalis dengan perpaduan warna yang tidak terlalu terang dan mencolok membuat ruangan itu terasa cukup nyaman.
“Tuan,” sapa Andrew seraya sedikit membungkuk, diikuti oleh Jovanka dan Clark.
“Mr. Roux, senang bertemu dengan Anda.” Hiro bangun dan menyambut tamunya dengan kedua tangan terbuka lebar. “Duduklah. Buat diri Anda merasa nyaman.”
Mau tidak mau, Andrew merasa kagum karena pria itu berbicara dalam bahasa Inggris yang cukup fasih.
“Terima kasih, Tuan Kobayashi,” balasnya.
Andrew tersenyum tipis dan mengambil tempat duduk menghadap kaca. Tanpa disuruh,
Jovanka dan Clark duduk di sisi kanan dan kirinya. Sekilas ia melirik pada Keiko yang sedang duduk di dekat mini bar. Tampaknya gadis itu belum menyadari kehadirannya.
“Anda benar-benar seorang gentleman, bersikeras untuk mengajak tunangan Anda ke sini, eh?” ujar Hiro seraya menuangkan Russo Baltique Vodka,
salah satu minuman beralkohol termahal di dunia.
“Anda juga memiliki selera yang bagus mengenai minuman,” balas Andrew sambil menyeringai tipis. Ia tahu pria di depannya itu hanya sedang menyindir. Mungkin Hiro kesal karena Jovanka dan Clark bersikeras untuk ikut dengannya.
“Well ... saya yakin kita sama-sama memiliki selera yang bagus, bukan begitu?”
Hiro menyerahkan gelas yang sudah terisi pada para tamunya, lalu bersandar di sofa berwarna turquoise dengan nyaman.
Melihat tingkah Hiro membuat Andrew semakin kesal, karena sejujurnya ... pria itu terlihat cukup tampan, cukup serasi jika disandingkan dengan Keiko. Tiba-tiba ia merasa pesimis. Bisakah ia mendapatkan hati gadis itu?
“Ehem! Tuan Roux pasti akan sangat senang jika bisa bekerja sama dengan Hynn Industry,” ujar Clark sembari menyenggol siku Andrew. Ia menoleh dan menatap sahabatnya dengan mata menyipit. Bisa-bisanya pria itu melamun di saat genting seperti ini!
“Oh, yeah. Memang saya berencana ingin membuka cabang Phoenix.Co di Jepang. Sebuah kebanggaan jika bisa bekerja sama dengan Anda.” Andrew
meraih gelas di hadapannya dan mengangkatnya hingga setinggi dagu. “Cheers?”
Hiro tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit. Sepertinya ia merasa sangat puas dengan pernyataan Andrew barusan. Pria itu pun segera mengangkat gelasnya dan menyentuhkannya ke ujung gelas Andrew.
“Cheers.”
Suara gelas yang berdenting menarik perhatian Keiko. Gadis yang sedang kesal karena dipaksa datang ke sini oleh tunangannya itu perlahan
membalikkan tubuh, lalu hampir terjungkal dari kursi ketika melihat siapa yang sedang duduk di hadapan Hiro.
Apakah pria itu ingin cari mati? Aku harus segera memperingatkannya!
Seolah memiliki benang merah yang menghubungkan mereka berdua, Andrew pun mendongak dan menoleh ke mini bar. Ia tersenyum dan mengangkat gelasnya ke arah gadis yang sedang terbelalak menatapnya.
“Cheers?”