
Interaksi kecil antara kedua orang itu terganggu ketika suara dering ponsel Andrew bergema dalam ruangan. Pria itu mengambil ponsel dalam saku celana, kemudian membaca pesan yang masuk. Ekspresi wajahnya tenang dan datar seperti biasa, membuat Keiko tidak dapat menebak berita apa yang baru saja diterima olehnya.
“Apa ada sesuatu?” tanya Keiko, terdorong oleh rasa penasaran yang tidak bisa ditahannya.
Andrew tersenyum sekilas dan menjawab, “Tidak ada yang mendesak, jangan khawatir.”
“Oke ....”
Keiko mengabiskan rotinya dan meneguk susu hangat dalam gelas perlahan.
“Kamu tidak sarapan?” tanyanya ketika menyadari sejak tadi hanya dirinya sendiri yang menikmati roti dan susu.
Andrew tersenyum lembut mendengar pertanyaan itu. Sedikit perhatian dari Keiko sudah bisa membuatnya sebahagia ini. Rasanya ia sanggup menaklukkan seluruh dunia demi gadis itu.
“Aku sudah makan tadi, maaf tidak menunggumu karena harus mengurus beberapa hal,” jawab Andrew dengan intonasi suara yang tidak pernah ia gunakan terhadap orang lain—lembut dan penuh kasih sayang.
“Tidak apa-apa, aku mengerti,” balas Keiko seraya bangun dari kursi. Ia membawa piring dan gelas kotor, menoleh kepada Andrew dan kembali bertanya, “Di mana dapur.”
“Lurus saja, pintu ketiga di sebelah kanan,” ujar Andrew seraya menunjuk lorong panjang yang tersambung dengan ruang tamu.
“Oke. Terima kasih.”
Keiko berjalan melewati Andrew dan menuju dapur. Ia mencuci piring dan gelas dengan cepat lalu kembali ke depan. Andrew sudah berdiri di dekat pintu keluar, menunggunya dengan sabar.
“Ayo,” ujar pria itu seraya menunjuk ke sisi kiri rumah kayu, “Tempat itu yang paling tinggi, kita bisa melihat seluruh bagian pulau dari sana.”
Melihat antusiasme Andrew membuat Keiko ikut bersemangat. Ia mengangguk dan melangkah di belakang pria itu. Mereka melangkah beriringan melalui setapak yang sedikit menanjak. Sesekali Andrew menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Keiko tidak kesulitan, atau berhenti sejenak ketika jarak di antara mereka terlampau jauh.
Tidak sampai 15 menit kemudian, mereka telah sampai di puncak bukit yang dimaksud oleh Andrew. Datarannya memang cukup luas dengan hamparan padang rumput yang tidak terlalu tinggi.
Pemandangan dari atas sana memang sangat indah. Cahaya kuning keemasan dari matahari yang belum terlalu tinggi terlihat kontras dengan latar belakang langit biru dan permukaan air laut yang keperakan. Sementara di bawah sana pasir putih terhampar di sepanjang teluk.
Burung-burung camar memekik dan melayang-layang di angkasa. Beberapa ekor menukik tajam, menyambar ke dalam air, lalu kembali membubung tinggi dengan ikan besar dalam paruh mereka.
Meski menggigil karena udara yang masih cukup dingin, wajah Keiko semringah melihat pemandangan itu. Setidaknya beban pikiran dan kekhawatirannya selama beberapa hari ini dapat teralihkan untuk sesaat.
“Kamu suka?” tanya Andrew saat melihat gadis di hadapannya menoleh ke segala arah dengan raut wajah yang terlihat cukup bahagia.
“Hum, suka,” jawab Keiko sambil tersenyum dan mengangguk, “Terima kasih.”
Tokyo adalah kota besar yang dipenuhi bangunan tinggi dan teknologi mutakhir yang terasa monoton dan membosankan. Sementara di sini ... tempat ini benar-benar jauh dari kata modern, jauh dari peradaban ... seolah-oleh terpisah dari dunia yang serba maju. Udara yang segar dan lingkungan yang benar-benar alami membuat segala kepenatan mendadak hilang begitu saja.
Ayahnya dan Hiro tidak pernah mengajaknya ke tempat-tempat seperti ini. Mereka selalu menghadiri acara-acara yang diselenggarakan di gedung-gedung pencakar langit atau restoran bintang lima yang dipenuhi pengawal bersenjata. Jika dibandingkan dengan kedamaian yang ia rasakan saat ini, Keiko benar-benar berterima kasih kepada Andrew karena memberinya kesempatan untuk menikmati suasana yang indah.
Gadis itu mengedarkan pandangan dan menyadari tempat yang mereka datangi ini adalah sebuah pulau kecil yang lokasinya ia tidak tahu. Mungkin pulau ini bahkan tidak tertera di dalam peta karena benar-benar hanya berupa satu gundukan bukit saja.
Ia menoleh kepada Andrew dan bertanya, “Dari mana kamu mengetahui tempat ini?”
“Seorang teman merekomendasikannya kepadaku,” jawab Andrew. Senyum tak hilang dari wajahnya karena menyaksikan keceriaan Keiko. Dalam hati ia mengingatkan diri sendiri untuk memberikan kompensasi yang pantas kepada Garry karena sudah menemukan pulau ini dan membantunya membelinya.
“Tidak bisa dibilang begitu ... dia mengenal teman dari pemilik pulau ini, jadi—“
Keiko terbelalak dan berseru, “Pulau?”
“Ya.”
“Kamu membeli pulau ini? Bukan hanya rumahnya saja?” tanya Keiko dengan mata menyipit, ingin memastikan dugaan dalam benaknya yang tampaknya sedikit tidak masuk akal.
“....”
Andrew terdiam karena tahu ia telah salah bicara, sementara Keiko terdiam karena terkejut Andrew membeli seluruh pulau untuk tempat mereka bersembunyi. Gadis itu menatap Andrew dengan sorot menyelidik. Sekaya apa pria itu sampai-sampai membeli pulau dalam waktu yang begitu singkat? Ayahnya dan Keluarga Kobayashi merupakan salah satu dari klan terkaya di Kota Tokyo, tapi tidak ada yang pernah membeli sebuah pulau seperti sedang membeli camilan.
“Kenapa kamu masuk badan intelejen negara?” tanya Keiko lagi setelah pulih dari keterkejutannya.
“Huh?” Andrew menatap Keiko dengan kening sedikit berkerut.
Ia pikir gadis itu akan menceramahinya soal pemborosan dan lain sebagainya, alih-alih mendapat pertanyaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pembahasan mereka sebelumnya.
“Dengan kekayanmu itu, seharusnya kamu bisa menjadi Tuan Muda yang egois dan arogan, melakukan apa pun yang kamu mau, duduk dan memerintah sesuka hati. Kenapa repot-repot menjadi bawahan di sebuah organisasi mata-mata internasional seperti ini?”
Andrew terkekeh pelan mendengar penuturan gadis di hadapannya yang masih menatapnya dengan ekspresi serius dan menuntut jawaban.
“Kalau aku bilang ... itu untuk memudahkan aku dalam mencari dirimu, apa kamu akan percaya?” ujar Andrew balas bertanya.
Keiko tertegun, tidak tahu harus menjawab apa. Namun, lagi-lagi rasa hangat yang manis mengaliri pembuluh darahnya, membawa serta endorfin yang memabukkan. Rona merah menjalari wajahnya dengan cepat, membuat pipinya terlihat seperti sakura yang sedang mekar.
Gadis itu menggigit bibir dan mengumpat dalam hati. Mengapa pula harus malu hanya karena pertanyaan sepele itu? Tinggal jawab saja ya atau tidak.
“Kamu sedang merayuku?” tanya Keiko sambil terkekeh pelan untuk menutupi rasa malunya. Ia mengangkat tangan dan menyelipkan anak rambut yang meriap tertiup angin ke belakang telinga.
Andrew ikut tersenyum tipis. Suara tawa yang lembut dan seksi lolos dari bibirnya. Ia lalu menggeleng pelan sambil menjawab, “Aku tidak perlu merayumu. Kamu akan jatuh cinta kepadaku.”
Keiko mencibir dan memelototi pria di depannya. “Percaya diri sekali,” gerutunya pelan.
Tawa Andrew semakin nyaring, tawa yang lepas dan mencapai dasar hati. Gema tawa itu beradu dengan deru ombak yang memecah karang. Entah mengapa tawa Andrew berhasil menular dan membuat Keiko mengulum senyum. Pria itu benar-benar terlihat tampan saat tidak sedang memasang wajah datar dan menggunakan nada suara yang tegas.
Tiba-tiba Andrew berdeham dan menatap Keiko dengan sorot penuh kesungguhan. Ia lalu berkata, “Sakamoto Keiko, beri aku kesempatan, ya? Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu. Oke?”
Keiko tertegun. Ini bukan kali pertama Andrew mengucapakan kata-kata romantis kepadanya. Namun, kali ini terasa berbeda. Pria itu sepertinya bersungguh-sungguh.
Melihat Keiko hanya terdiam membuat rasa percaya diri Andrew mendadak menguap entah ke mana. Hidup selama 30 tahun, ia belum pernah menyatakan perasaan secara terang-terangan kepada siapa pun. Kali ini, ia sudah bersusah payah mengumpulkan keberanian sejak ... entah, mungkin saat mereka pertama kali bertemu di museum Furukawa.
Selama itu pula ia masih ragu. Tidak mau terlalu mendesak gadis itu. Namun, perkataan Keiko bahwa dia akan pergi setelah semua kekacauan ini selesai membuat Andrew membulatkan tekad. Ia akan mengejar cinta Sakamoto Keiko. Tidak peduli apa pun yang akan terjadi, ia harus mendapatkan gadis itu.
***