Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Wedding Ceremony (2)



Si Tua Alfred ikut melangkah maju dan menenangkan, “Kamu pasti bisa melakukannya dengan sangat baik, Nak. Jangan pedulikan orang lain yang ada di sekelilingmu, anggap saja mereka tidak ada.”


“Oke.” Keiko tersenyum dan mengangguk dengan patuh.


Pukul 17.00 tepat, lonceng berbunyi. Marry dan Sofie membantu menurunkan veil untuk menutupi wajah Keiko.


Jantung Keiko berdetak dua kali lebih cepat, tapi ia melingkarkan tangannya ke lengan si Tua Alfred dan melangkah keluar dari ruangan dengan mantap.


Semua akan baik-baik saja ... Andrew sedang menunggu di depan sana, tak ada yang perlu kamu takuti ....


Tarik napas, Keiko ... bernapas ....


Iring-iringan pengantin wanita segera berjalan keluar. Keiko dan Alfred di depan, Marry dan Sofie mengikuti dari belakang, berjalan dengan hati-hati sambil memperhatikan ujung gaun Keiko yang mirip ekor putri duyung, jangan sampai terselip dan membuat Keiko tersandung.


Ketika gadis itu memasuki ballroom, suara dentingan piano yang merdu mengalun di udara. Ia memang sengaja meminta kepada Andrew agar acara pernikahan ini dilakukan dengan cara klasik, dengan dentang lonceng dan piano ... entah mengapa ia selalu memimpikan ini sejak dulu untuk pernikahannya. Untunglah Andrew tidak keberatan dan mengabulkan permintaannya itu.


Diiringi musik yang mengalun lembut, semua orang yang ada dalam ruangan itu seolah tersihir melihat sang mempelai wanita memasuki ruangan. Selangkah demi selangkah, semakin mendekat ke altar ... hingga akhirnya ketika Alfred menyerahkan tangan Keiko ke dalam genggaman Andrew, desah napas tertahan terdengar di udara.


Di atas altar, mempelai pria terlihat agung dan rupawan, sementara mempelai wanita begitu cantik dan bersinar, sungguh perpaduan sempurna yang membuat orang iri. Orang-orang dari Injan Entertainment yang ditugaskan untuk meliput acara itu secara eksklusif segara mengabadikan setiap momen yang tercipta, tidak ingin melewatkannya sedikit pun.


Prosesi upacara pernikahan pun segera dilakukan. Sang pemuka agama yang memimpin jalannya wedding ceremony memberikan wejangan singkat, kemudian meminta pengantin untuk saling berhadapan dan mengucapkan janji pernikahan.


Andrew menatap istrinya lekat-lekat, kemudian mulai mengucapkan janji pernikahannya. Sepatah demi sepatah kata diucapkannya dengan sungguh-sungguh.


“Sakamoto Keiko, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, baik saat susah atau senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, juga pada waktu sehat ataupun sakit. Aku akan menjaga dan mengasihimu sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku kepadamu di hadapan Tuhan dan semua orang.”


Ia lalu mengambil cincin di nampan yang disodorkan oleh Clark dan memakaikannya ke jari manis Keiko. Benar-benar terlihat sangat cantik. Gejolak di dalam dadanya saat ini sungguh tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


Keiko merasakan tangan Andrew sedikit gemetar, sama seperti dirinya yang mulai sesak napas. Ia berdeham pelan, meredakan debaran jantungnya dan menghela napas dalam-dalam sebelum mengucapkan janji pernikahan miliknya.


“Andrew Roux, aku menerima engkau menjadi suamiku, untuk saling menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, baik dalam keadaan susah atau senang, sehat atau sakit, dalam kelimpahan dan kekurangan, aku akan tetap mendampingi dan mencintaimu sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku kepadamu di hadapan Tuhan dan semua orang.”


Keiko mengambil cincin dan memakaikannya ke jari manis Andrew. Ia lalu mendongak dan tersenyum lebar.


Akhirnya ....


“Silakan cium pengantin Anda, Mr.Roux.” Sang pastor memberi arahan sambil mengurai senyum. Pasangan pengantin yang diberkatinya hari ini benar-benar sangat serasi.


Andrew maju satu langkah, membuka veil yang menutupi wajah istrinya, kemudian mencium bibir Keiko dengan sangat lembut, seolah ia mencurahkan semua perasaannya saat mencium gadis yang kini sudah resmi menjadi miliknya di hadapan hukum dan agama.


Kedua orang itu sama sekali tidak menyadari tatapan muram yang datang dari barisan pengiring pengantin pria, terlalu larut dalam euforia yang memabukkan ....


Andrew baru menjauhkan wajahnya ketika merasakan napas istrinya yang tersendat. Ia mengulum senyum dan berbisik di telinga Keiko, “Jangan lupa bernapas, Baby ....”


Wajah Keiko memanas, ia bisa merasakan bibirnya kebas karena ciuman tadi, tapi tidak berdaya untuk membalas suaminya itu.


Pastor mengakhiri upara pernikahan dan mempersilakan kedua mempelai untuk turun dari altar. Andrew menggandeng tangan Keiko dan melangkah turun. Mereka berhenti sebentar di tengah aula, menyapa beberapa kenalan dan kerabat yang mengucapkan selamat.


Setelah itu, mereka kembali berjalan keluar dari ballroom, sesekali mengangguk dan menyapa orang-orang yang menyambut mereka di sisi kiri dan kanan.


Para pengiring mengikuti dari belakang, semuanya tampak semringah kecuali Hansel yang berjalan dengan wajah datar. Pria itu tidak ingin tersenyum, tapi juga tidak ingin merusak momen bahagia milik Keiko, jadi ia berusaha keras agar bisa mengikuti seluruh prosesi hingga akhir.


Andrew dan Keiko menuju ruang khusus untuk beristirahat. Di sana sudah ada Almira Gonzales dan make up artis yang akan melakukan retouch riasannya. Namun, sebelum memoles kembali riasan dan pakaian, semua orang dipersilakan untuk mengisi perut sebelum meneruskan rangkaian acara yang masih akan berlangsung sepanjang malam.


Ada banyak hidangan khas Prancis yang tersedia di atas meja. Andrew mengambil piring, mengisinya dengan Foie Gras dan semangkuk Soupe a l’oignon yang kini menjadi kesukaan istrinya, lalu menyerahkannya kepada Keiko.


“Makan sedikit. Jangan sampai sakit karena terlalu lelah,” ujar pria itu dengan penuh kelembutan.


“Terima kasih. Kamu juga makan dulu.”


“Oke, Nyonya Roux. Aku akan makan bersamamu.” Andrew mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan duduk di sebelah istrinya.


Clark diam-diam mengambil ponsel dan mengabadikan momen indah itu dengan kameranya, lalu mempostingnya di media sosial dengan caption: Pangeran dari Keluarga Roux benar-benar sudah tidak lajang lagi. Hari patah hati sedunia untuk gadis-gadis single di luar sana.


Dalam sekejap, postingannya mendapat jutaan like dan dibagikan ratusan ribu kali, membuatnya tercengang karena sama sekali tidak menduga popularitas Andrew menyamai selebriti internasional.


Sementara itu, Hansel yang kehilangan minat untuk makan saat melihat kemesraan Andrew dan Keiko, akhirnya memilih untuk keluar dari ruangan itu dan mengisap rokok di koridor. Pria itu berdiri dengan gelisah, berharap dalam hati agar semua acara itu bisa lekas selesai.


Tanpa sadar pria itu menoleh dan menatap melalui jendela kaca, pemandangan pasangan pengantin yang sedang makan dengan sangat harmonis membuatnya sungguh tidak tahan lagi. Ia membuang puntung rokok yang masih tersisa separuh, menginjaknya sampai baranya padam, lalu bergegas menuju kamar mandi. Ia perlu membasuh wajah dengan air dingin agar kesadarannya tetap terjaga.


***