Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Membujuk wanita hamil



Saat membuka mata dengan perasaan yang sedikit linglung, hal pertama yang dilihat oleh Keiko adalah lukisan dirinya yang berjajar rapi di dinding. Banyak lukisan. Ia tertegun sekejap, kemudian tersadar di detik berikutnya. Itu bukan dirinya. Maksudnya ... itu memang lukisan wajahnya, tapi jelas bukan dirinya yang sekarang. Ia tidak memiliki semua pakaian dalam lukisan itu.


Setelah terombang-ambing dalam emosi yang kompleks, kening Keiko secara bertahap membentuk kerutan yang dalam. Rasa bimbang dan keragu-raguannya yang dulu ia tekan dan sembunyikan kini kembali mencuat ke permukaan: Apakah Andrew Roux benar mencintainya? Atau hanya karena wajahnya sangat mirip dengan wanita dalam lukisan itu? Apakah cinta yang disebutkan oleh Andrew itu bukan hanya sebuah obsesi semata? Betapa menyedihkannya kalau Andrew mencintainya hanya karena kebetulan wajahnya mirip dengan wanita dalam lukisan itu ....


Tiba-tiba Keiko memiliki keinginan dan dorongan yang sangat besar untuk menangis. Mata bulatnya yang biasanya bersinar dengan ceria kini mulai berembun.


Pada akhirnya, ketika Andrew masuk untuk memeriksa apakah istrinya sudah bangun atau belum, wanita itu sudah bergelung seperti seekor trenggiling yang terluka di sudut ranjang. Suara isakan tertahan terasa menusuk gendang telinganya. Dalam sekejap kepanikan melanda hati pria itu.


Ia segera duduk di dekat Keiko dan mengusap pundaknya dengan sangat lembut sambil bertanya, “Baby, ada apa? Kenapa menangis? Apa ada yang tidak nyaman?”


Keiko berjengit dan menghindari sentuhan suaminya. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, membuatnya terlihat seperti sebuah kepompong. Permukaan kain yang menutupinya bergerak naik-turun karena tangisannya semakin kencang. Karena Andrew bertanya seperti itu, sekarang ia merasa semakin sedih!


“Sayang? Kamu marah kepadaku karena tidak membangunkanmu? Apa kamu lapar? Aku ambilkan makanan, ya?”


Andrew masih berusaha menebak apa yang membuat istrinya marah dan menangis dengan sedih seperti itu. Namun, saat sudah menunggu lebih dari lima menit dan tidak mendapat jawaban sama sekali, ia mulai gelisah. Tangannya terulur lagi ke arah Keiko, tapi wanita itu seperti bisa merasakan pergerakannya dan segera menghindar, berguling menjauh dengan selimut melilit seluruh tubuhnya.


Andrew tiba-tiba merasa sakit kepala, tidak tahu harus bagaimana membujuk istrinya. Dokter Carla sudah menjelaskan bahwa mood wanita yang sedang hamil tidak tentu, kadang sangat bahagia, bisa juga mendadak sedih atau marah tanpa alasan. Sepertinya sekarang Keiko sedang mengalami fase bad mood yang membuatnya seperti ini. Lalu, apa yang harus ia lakukan?


Akhirnya hanya bisa menggunakan alasan bayi untuk membantu membujuk istrinya.


“Sayang, jangan begitu ... kamu akan menyakiti bayi kita. Kalau tidak bisa bernapas dengan benar, bayi juga akan kekurangan pasokan oksigen. Terlalu banyak menangis juga bisa membuat bayi sedih, kamu tidak mau mereka lahir dengan wajah murung, bukan?” ujar Andrew dengan sangat lemah lembut. Seumur hidup, ia tidak pernah menggunakan intonasi yang sangat rendah hati dan penuh kesabaran seperti itu kepada siapa pun.


Nampaknya, usaha kerasnya itu membuahkan hasil. Isak tangis dari balik selimut perlahan mereda, lalu sebuah tangan mungil yang putih muncul dari balik selimut, disusul ujung hidung yang sudah memerah karena terlalu banyak menangis.


“Sayangku ... katakan kepada suamimu ini, apa yang membuatmu sedih? Siapa yang menindasmu? Katakan ... aku akan membalasnya untukmu dan bayi kita,” bujuk Andrew.


Ia mencoba menarik gulungan kain itu agar mendekat ke arahnya, tapi tubuh di dalam selimut itu menengang sehingga gumpalan kain tidak bergerak. Andrew juga tidak bisa menggunakan seluruh tenaganya, jadi ia hanya bisa mengalah dan membiarkan istrinya bernapas dari lubang kecil di antara lapisan selimut.


“Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu!” Suara Keiko yang serak terdengar sangat sedih, seperti orang yang sedang patah hati.


Wajah Andrew berubah kaku. Kesalahan apa yang sudah dilakukannya? Ia duduk mematung dan mencoba mengingat, merunut semua kejadian dari awal mereka berangkat dari Finlandia sampai tiba di Kota Dinan, kesalahan apa yang sudah dilakukannya secara tidak sengaja. Akan tetapi, meski telah berupaya keras untuk memikirkannya sampai keringat mulai muncul di pori-pori keningnya, ia tidak mendapat jawaban apa pun.


“Kalau aku melakukan kesalahan kepadamu, aku mohon ma—“


“Sebenarnya kamu tidak benar-benar mencintaiku, ‘kan? Iya, ‘kan? Mengaku saja!” sanggah Keiko sebelum permintaan maaf Andrew selesai diucapkan.


“Baby, apakah kamu sedang salah paham? Dari mana datangnya pemikiran itu? Apa ada yang bicara omong kosong denganmu?” tanya Andrew hati-hati, tidak ingin membuat istrinya semakin marah dan kesal kepadanya.


“Kamu hanya mencintai dia, ‘kan? Wanita di lukisan itu, wanita yang ada dalam mimpimu itu. Aku hanya mirip dengannya, oleh karena itulah kamu bisa suka denganku. Kalau wajah kami tidak mirip, kamu mungkin tidak akan menoleh ke arahku sama sekali. Betul begitu?”


Suara Keiko yang sengau tapi mencoba untuk mengungkapkan emosinya terdengar sangat imut sekaligus sangat kasihan, seakan seseorang baru saja melabraknya karena telah merebut kekasih wanita lain dan membuatnya merasa sangat tertindas.


Di sisi ranjang, Andrew tidak tahu harus menangis atau tertawa. Ia menyapu ke seluruh kamar dan mendapati bahwa mungkin ayahnya atau Alfred telah memasang beberapa lukisannya di tembok. Mulut pria itu membuka dan menutup seperti ikan koi, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal dan menghibur hati istrinya yang sedang susah karena pemikiran konyol yang entah tercetus dari mana.


“Baby, kamu adalah dia, bagaimana bisa aku mencintaimu hanya karena memiliki wajah yang sama dengannya? Kamu juga melihatnya sendiri, bukan? Kita di masa lalu ... aku tahu kamu juga melihat beberapa mimpi ....”


Kali ini giliran Keiko yang terdiam setelah mendengar jawaban suaminya. Itu benar ... ia memang melihat beberapa, bahkan bisa mendengar percakapannya dengan jelas. Kalau dirinya berbeda dengan wanita dalam lukisan, bukankah seharusnya ia tidak bisa melihat dan mendengar itu semua?


“Kalau kamu tidak suka, aku akan melepaskan semua lukisan itu. Diganti dengan foto-foto bulan madu kita saja, bagaimana?” tawar Andrew ketika menyadari kobaran api dari dalam gulungan selimut sudah berkurang banyak.


“Tidak perlu!” Keiko berkelahi dengan lilitan kain sebelum akhirnya bisa keluar dari gulungan kepompong itu.


“Aku lapar, mau makan dumpling,” lanjutnya lagi, dengan wajah angkuh duduk di tepi ranjang dan memberi tatapan memerintah kepada Andrew.


“Segera disiapkan, Mrs.Roux. Tunggu sebentar.”


Andrew melesat keluar, lalu kembali dengan nampan berisi dumpling kukus dan saus cabai berwarna merah segar. Air liur Keiko hampir menetes.


“Buka mulut,” pinta Andrew seraya mencapit dumpling dan menyodorkannya ke mulut Keiko.


Wanita itu membuka mulut dan makan dengan patuh, sama sekali sudah melupakan pemikiran absurdnya saat terbangun tadi.


Di depannya, Andrew hanya bisa mengulum senyum dan menggeleng tak berdaya. Siapa suruh ia sangat mencintai kelinci kecil ini? Bahkan membujuknya seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk dan menyuapinya seperti bayi besar ....


Meski demikian, tak ada sedikit pun keluhan yang tampak dari wajah Andrew. Ia duduk diam dan menyuapi Keiko dengan tekun, terus memberinya makan satu per satu sampai wanita itu kenyang dan bersandar dengan malas di ranjang.


Membujuk wanita hamil rupanya tidak sesulit yang ia bayangkan ....


***