Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Hadiah Pernikahan (2)



Ketika Andrew melihat Keiko masih menatapnya seperti orang linglung. Ia mendekat, meletakkan pulpen di tangan gadis itu, kemudian menekannya ke atas kertas.


“Ayo, cepat tanda tangan. Almira sudah menunggu di aula barat untuk mengukur gaun pengantin, setelah itu kita masih harus ke rumah sakit untuk menjenguk Hiro,” desaknya. Ia terlihat lebih bersemangat dibandingkan Keiko.


Otak Keiko yang masih kosong menolak semua informasi yang tiba-tiba itu, tapi tindakan dan perkataan Andrew membuatnya antara sadar dan tidak sadar menorehkan tanda tangan di atas namanya.


Andrew menuntun tangan istrinya, menunjukkan beberapa halaman lain yang perlu ditandatangani, kemudian tersenyum sangat lebar ketika semua berkas itu telah selesai dipindahtangankan.


“Bagus sekali. Besok aku akan ke kantor dan mengumumkannya saat rapat pemegang saham, Ayah,” ujar pria itu dengan sangat puas.


Marco Roux melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh. “Lakukan apa pun yang kamu mau. Permintaanku tidak muluk-muluk, cepat berikan aku cucu.”


“Tenang saja, Ayah, aku akan bekerja keras untuk mewujudkan keinginanmu itu!”


Wajah Keiko semerah buah plum. Bisa-bisanya Andrew berteriak seperti itu tanpa merasa malu di depan semua orang.


“Oke, sudah selesai. Terima kasih Tuan Lyod.” Andrew bangkit dan menjabat tangan pengacara yang sudah membantunya mengurus proses pemindahan saham itu.


Ia lalu menoleh ke arah Keiko dan berkata, “Ayo, kita ke aula barat.”


“T-tapi ... a-aku ....”


Andrew menarik tangan Keiko dengan tidak sabar menuju pintu penghubung yang ada di sisi kanan mereka. Keiko hanya bisa menoleh dengan bingung ke arah Marco Roux dan berkata, “Ayah, kami pergi dulu.”


“Pergilah,” balas Marco Roux.


Setelah anak dan menantunya tidak terlihat lagi, Marco berencana untuk kembali ke kamarnya. Akan tetapi, Lyod Baron menahan niatnya itu.


“Tuan Marco, sejujurnya saya cukup terkejut dengan keputusan Anda ini. Apakah Anda yakin—“


“Tidak perlu khawatir. Asal Andrew mau meneruskan perusahaan itu, apa pun akan aku lakukan. Aku percaya kepadanya, percaya kepada keputusannya untuk memindahkan seluruh saham itu atas nama istrinya. Jika dengan demikian dia akan lebih serius dalam mengelola perusahaan, maka biarkan saja,” sela Marco Roux dengan acuh tak acuh.


“Putraku hanya ada satu, setelah aku mati, dia dan anak-anaknya kelak yang akan meneruskan perusahaan keluarga itu, jadi aku rasa siapa pun nama pemegang saham terbesar tidak menjadi masalah,” lanjutnya lagi tersenyum tipis.


Pria tua itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia dapat melihat bahwa Sakamoto Keiko memiliki dampak yang sangat besar terhadap putranya. Ia cukup yakin mulai besok Andrew akan serius meneruskan menjalankan Phoenix.Co yang sudah dikembangkannya selama puluhan tahun. Dan, itu sudah lebih dari cukup untuknya.


Lyod hanya bisa menghela napas dan membalas, “Baiklah kalau begitu. Saya pamit, Tuan.”


“Ya. Pergilah. Terima kasih atas bantuanmu.”


Lyod mengangguk sekilas dan berjalan menuju pintu, sedangkan Alfred segera menuju ke kamarnya. Ia cukup lelah setelah seharian mengurusi ini dan itu, ingin beristirahat sebentar.


Sementara itu, di aula barat, lagi-lagi mata Keiko membola ketika menyadari siapa desainer yang dipanggil untuk membuat gaun pengantinnya. Ia tidak memperhatikan ketika menyebutkan nama wanita itu tadi, tapi sekarang ... tidak mungkin, itu adalah Almira Gonzales, salah satu perancang busana paling top di Eropa. Wanita itu sudah memiliki banyak penghargaan atas rancangannya, memiliki logo resmi sendiri atas hasil karyanya, juga sering melakukan pameran busana di mancanegara.


“Halo, Tuan dan Nyonya,” sapa wanita itu begitu melihat Andrew dan Keiko memasuki aula. Ia bangun dari tempat duduknya dan menyambut kedua orang itu.


“Halo, Miss Almira,” sapa Keiko, dengan wajah takjub menatap wanita cantik dan anggun di depannya.


Tubuh yang semampai itu dibalut gaun hitam yang pas di lekuk tubuhnya dan membuat Almira Gonzales benar-benar tampak memikat. Rambutnya yang dipotong model pixie dan dicat warna silver membuatnya terlihat sangat fresh dan imut. Keiko benar-benar kagum.


“Halo, Mrs.Roux, senang bisa berjumpa dengan Anda.”


“Maaf, telah membuat Anda menunggu Miss Almira, ada beberapa urusan yang harus ditangani lebih dulu,” sapa Andrew seraya mengulurkan tangan dan menjabat tangan desainer itu dengan erat.


“Tidak masalah, kebetulan hari ini aku sedang kosong.” Almira lalu mengalihkan tatapannya kepada Keiko dan berkata, “Istri Anda sangat cantik, Tuan. Aku langsung memiliki beberapa gambaran untuknya.”


Andrew tertawa puas mendengar perkataan itu. Ia senang tidak salah memilih orang untuk merancang gaun pernikahannya dan Keiko.


“Secara resmi aku menyerahkannya ke tangan Anda, Miss Almira. Aku percaya kepada kemampuan Anda.”


“Model seperti apa yang Anda sukai, Mrs.Roux?” tanyanya saat mengukur lingkar pinggang Keiko.


“Aku lebih suka potongan yang sederhana ....”


Almira mengangkat alisnya sekilas dan mengulas senyum. Baru kali ini ia menemukan pengantin wanita yang meminta model gaun sederhana. Biasanya para wanita selalu ingin menjadi pusat perhatian.


“Istri Anda cukup unik, Mr.Roux,” goda Almira seraya mengangkat kepalanya dan menatap Andrew yang sedang memperhatikan dari depan.


“Yah ... dia memang unik, itu sebabnya aku sangat mencintainya ....”


“Aku mengerti.”


Almira membuka tabletnya dan membuat lima desain dengan cepat. Ia lalu menunjukkan hasilnya kepada Keiko dan memintanya untuk memilih.


Keiko terpana melihat hasil arsiran dalam gadget yang terlihat seperti nyata. Kini ia mengerti mengapa Almira Gonzales bisa menembus pasar mancanegara dan menyabet banyak penghargaan. Kemampuan wanita itu memang sangat luar biasa.


“Sepertinya yang ini sangat indah,” kata Keiko seraya menunjuk gambar kesatu.


“Ini juga sangat cantik,” sambungnya lagi sambil menunjuk gambar ketiga dan kelima. Ia lalu menoleh kepada Andrew dan berkata, “Andrew, kalau tidak kamu saja yang pilihkan untukku, ya ....”


Andrew terkekeh pelan dan mendekat. Ia menerima tablet yang diserahkan oleh Almira dan melihat pilihan istrinya. Setelah membandingkan model rancangan gaun sebentar, ia mengembalikan tablet kepada pemiliknya dan berkata, “Bikin saja tiga-tiganya, nanti kita lihat yang mana yang paling bagus setelah dicoba.”


“Andrew—“


“Aku ingin ada taburan berlian di seluruh permukaan gaun. Istriku harus menjadi yang paling cantik dan berkilau minggu depan.”


“Andrew! Itu terlalu berlebihan.” Keiko menarik lengan kemeja Andrew dengan gugup.


“Tidak ada yang berlebihan untuk istriku.” Andrew merengkuh pinggang Keiko dan mencium keningnya sekilas.


“Begitu saja, Miss Almira. Aku harap gaun-gaun itu bisa jadi sebelum hari resepsi.”


“Itu bisa diatur, Mr.Roux.” Almira tersenyum puas dan membereskan peralatannya. “Ngomong-ngomong, selamat untuk pernikahan kalian, aku sungguh berharap hubungan kalian abadi selamanya.”


“Terima kasih, Miss,” jawab Andrew.


Ia lalu menggandeng Keiko dan mengantar Almira Gonzales ke teras.


Setelah melihat mobil Almira sudah menghilang di tikungan, Andrew berkata, “Nah, sekarang waktunya untuk menjenguk Hiro."


“Oke.”


Andrew segera memanggil pelayan dan memintanya untuk mengambilkan suplemen kesehatan yang sudah ia siapkan sebelumnya.


“Kenapa kamu tampak bersemangat untuk mengunjunginya?” tanya Keiko sedikit curiga.


“Aku sudah tidak sabar untuk memberikan identitas baru miliknya, juga memamerkan istriku kepadanya.”


Keiko hanya bisa memutar bola matanya dan menerima bungkusan merah yang diserahkan oleh pelayan.


“Ayo.”


Andrew menggandeng Keiko menuju mobil. Seringai lebar tak hilang dari wajahnya ketika mengendarai kendaraan itu meninggalkan pelataran mansion.


***