Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Kita tidak terlalu akrab



Mansion Keluarga Roux.


Seorang gadis yang mengenakan gaun sutra duduk dengan anggun di ruang tamu depan. Tungkainya yang jenjang terlihat ketika ia menyilangkan kaki sehingga membuat gaunnya sedikit tersingkap. Mata bulatnya yang berwarna biru jernih menatap ponselnya dengan serius. Sesekali ia mendongak untuk melihat teras depan yang tampak sunyi. Terlihat jelas kalau gadis itu sudah sedikit tidak sabar, tapi berusaha ditahannya dengan tetap bersikap elegan.


“Silakan diminum, Nona,” ujar salah seorang pelayan seraya meletakkan secangkir teh chamomile di atas meja.


“Terima kasih,” balas Cecille, tersenyum lembut ke arah sang pelayan. Meski itu adalah cangkir ketiga yang ia minum dan perutnya mulai terasa kembung, ia tidak akan menyerah. Sudah diputuskan sejak dari rumah, ia tidak akan pulang sebelum bertemu Andrew Roux.


Sebenarnya, ia sudah menyimpan rasa untuk Andrew Roux sejak lama, saat mereka baru menginjak usia remaja. Sosok Andrew yang dingin dan menutup diri langsung menarik minatnya. Saat pemuda lain di sekolah tergila-gila dan mengejarnya, Andrew justru seolah tidak melihatnya sama sekali. Beberapa kali mereka berpapasan di lorong dan tempat parkir, tapi pria itu berjalan lurus tanpa menoleh ke arahnya satu kali pun. Sejak itu ia terobsesi untuk mendapatkan perhatian Andrew Roux.


Hingga tak disangka-sangka, pada suatu hari ayahnya mengatakan bahwa ia akan dijodohkan dengan pria itu. Siapa yang bisa menolaknya? Pesona Andrew Roux tak tertandingi oleh pria mana pun yang ada di planet ini. Oleh karena itulah ia rela menunggu hingga hampir menghabiskan seluruh masa mudanya. Namun, kini penantian panjangnya akan berakhir bahagia, ‘kan? Akhirnya Andrew kembali setelah berkeliaran begitu lama di luar negeri, itu yang ia dengar dari pelayan yang ia sogok di dalam mansion keluarga Roux. Oh ... tentu saja tidak ada yang tahu perihal pelayan itu.


“Apakah mereka masih lama?” Cecille mulai gelisah. Sudah satu jam lebih ia menunggu, tapi belum ada tanda-tanda kalau Andrew akan segera tiba.


Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Clark yang sedang sibuk bermain game di ponselnya akhirnya mendongak.


“Aku tidak tahu,” jawabnya singkat, kemudian kembali menatap ponselnya dengan serius. Sedikit lagi ia akan naik level, tidak ingin konsentrasinya terganggu. Selain itu, sambil bermain game, ia juga rutin mengirimkan pesan kepada Andrew mengenai apa yang sedang dilakukan Cecille sejak datang tadi.


Wajah Cecille berubah masam. Pria yang sejak tadi duduk di ujung sofa itu membuatnya merasa tidak nyaman. Ia merasa seperti sedang diawasi, tapi tidak berani mengusirnya pergi. Bagaimanapun, ia tahu pria itu adalah sahabat Andrew. Ia tidak mau pria itu dan Andrew memiliki kesan buruk terhadapnya karena bersikap tidak sopan.


“Bukankah jarak ke bandara tidak terlalu jauh? Mengapa mereka lama sekali?”


“Mungkin Tuan Marco mengajak Andrew untuk—“


“Sepertinya itu mereka!” seru Cecille dengan bersemangat ketika mendengar suara mobil yang berhenti di depan pintu. Ia bangkit dan menghambur keluar sebelum Clark sempat mencegahnya.


Mata gadis itu bercahaya di bawah sinar matahari, menatap penuh harap ke mobil yang baru berhenti di pelataran. Setelah penantian panjang yang begitu lama, akhirnya tiba juga saat ini. Ia meremas gaunnya dengan gugup, menunggu pintu mobil terbuka dengan sedikit berharap ... apakah Andrew masih mengingatnya?


“Halo, Paman. Apa kabar?” sapa Cecille ketika melihat Marco Roux lebih dulu turun dari mobil.


“Baik. Sejak kapan kamu datang?” balas Marco berbasa-basi.


“Belum terlalu lama,” jawab Cecille sambil tersenyum cerah. Ia lalu kembali menoleh saat mendengar suara pintu mobil yang kembali terbuka. Berdebar-debar ... jantungnya seolah akan melompat keluar dari tenggorokannya.


“Andrew! Aku ....” Cecille tertegun ketika melihat Andrew memutar dan membukakan pintu mobil dari sisi yang satu lagi. Apakah ada penumpang lain?


Ketika melihat seorang gadis keluar dari sana dan langsung melingkarkan tangannya ke lengan Andrew, tubuh Cecille menegang. Cahaya di matanya yang semula berpendar seketika meredup. Ia mengepalkan tangan erat-erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan dengan keras.


Sementara itu, Keiko yang sejak dari dalam mobil sudah melihat kehadiran Cecille tiba-tiba merasa rendah diri. Kulit Cecille yang seputih susu terlihat kontras dengan warna keemasan ikal rambutnya yang berkilau indah, menjuntai hingga ke pinggang. Bibirnya yang tipis dan merona alami membuatnya tampak sangat imut seperti seorang gadis yang polos. Dalam balutan gaun sutra putih itu, Cecille benar-benar terlihat seperti dewi Aphrodite. Ia melirik ke arah Andrew sekilas, bagaimana bisa pria itu tidak tertarik sama sekali?


“Nona Cecille,” sapa Andrew dengan formal ketika berjalan menapaki anak tangga, “Mengapa berdiri di di depan pintu?”


Senyuman di wajah Cecille berubah kaku. Meski demikian, ia tetap menjawab dengan sopan, ”Aku dari dalam, keluar karena tidak sabar ingin bertemu denganmu.”


“Oh. Kenapa sungkan sekali. Ayo, masuk,” ajak Andrew seraya menggandeng Keiko dan lebih dulu berjalan menuju aula utama. Senyuman di wajahnya terlihat sangat lebar. Mengingat akta nikah yang ada dalam saku jasnya, ia ingin membeli pigura dan memajang benda itu di aula utama agar semua orang bisa melihatnya!


Cecille yang diacuhkan terpaksa mengikuti dari belakang dengan langkah yang kaku. Sepasang pria dan wanita yang berjalan di depannya sambil saling bergandengan tangan membuat matanya sakit. Seumur hidup, tidak pernah satu kali pun Andrew menggandeng atau menatapnya seperti itu!


“Sudah, Paman,” jawab Cecille sambil duduk di seberang Marco. Ia tetap memaksakan seulas senyum meski Andrew tidak menoleh ke arahnya sama sekali.


“Andrew, bagaimana kabarmu? Aku sangat rindu ...,” ujarnya lagi dengan intonasi yang sangat lembut dan penuh perhatian.


Andrew menengok ke arah Cecille dengan kening berkerut dalam, memperlihatkan rasa tidak sukanya dengan sangat jelas.


Pria itu kemudian menjawab, “Seingatku, kita tidak terlalu akrab.”


Ia melingkarkan tangannya di pinggang Keiko dan melanjutkan, “Ucapanmu barusan bisa membuat istriku salah paham.”


Istri?!


"Halo, Nona. Namaku Keiko," sapa Keiko dengan ramah. Ia merasa sedikit kasihan melihat wajah gadis di seberang meja yang tampak seperti sudah hampir menangis.


"Halo. Aku Cecille," balas Cecille singkat.


Tadinya ia ingin menambahkan bahwa dirinya adalah calon tunangan Andrew, tapi ia tahu itu hanya akan semakin mempermalukan dirinya sendiri.Oleh karena itu, ia hanya bisa menatap Keiko dengan perasaan yang tak terlukiskan. Amarah, sakit hati, kebencian, kekecewaan, merasa dipermalukan ... semuanya bercampur dan menggelegak seperti kawah yang siap memuntahkan lahar kapan saja.


Akan tetapi, di permukaan gadis itu tetap terlihat tenang dan tidak tergoyahkan. Ia menoleh ke arah Marco Roux dan bertanya, “Istri? Paman, bisakah Anda menjelaskannya kepadaku? Seingatku terakhir kali Anda mengatakan bahwa—“


“Maafkan aku, Cecille. Aku juga tidak tahu kalau dia sudah menikah,” sela Marco roux dengan ekspresi yang sangat natural, seolah pria tua yang tadi menangis karena melihat akta nikah putranya di balaikota itu bukan dirinya.


“Bagaimana bisa?” Bibir Cecille gemetar. Ia meremas dan memilin gaunnya dengan rasa frustasi yang membuncah. “Kata ayahku ... aku ....”


“Aku sudah menghubungi ayahmu, kami akan berbicara nanti sore. Aku sungguh berharap bisa memberikan kompensasi yang sepadan, tapi ....” Marco menoleh ke arah putranya dan memberi isyarat lewat tatapan matanya. “Andrew, kamu sudah menyakiti Cecille. Cepat minta maaf.”


Andrew mendesah pelan sebelum berkata, “Sejak awal kamu tahu bahwa aku tidak pernah menyetujui perjodohan itu. Maaf, terpaksa mengecewakanmu.”


“Aku sudah menunggumu lebih dari sepuluh tahun, Andrew. Tidak. Bahkan lebih lama dari itu. Aku sudah menyukaimu sejak—“


“Aku tidak pernah memintamu untuk menunggu, bahkan aku sempat menghubungimu dan meminta agar kamu tidak menyetujui ide konyol ayahku dan ayahmu itu, tapi kamu menolak. Jadi, jangan salahkan aku tidak sungkan.”


Jawaban yang menohok itu sungguh membuat Cecille ingin menggali kuburan untuk dirinya sendiri. Air mata merebak, tapi ia mendongak dan menggertakkan gigi dengan keras kepala.


Tidak boleh menangis. Tidak boleh kalah. Tidak boleh menyerah ... sama sekali tidak boleh ....


***


Cecille



Mr. and Mrs.Roux