
Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk, Keiko berganti pakaian dan keluar dari kamar mandi. Untunglah kaos oblong dan celana training yang diberikan oleh Kim pas dengan ukuran tubuhnya. Gadis itu baru saja duduk di depan meja rias dan menyisir rambut ketika terdengar suara ketukan di pintu. Ia ingin mengabaikannya, tetapi suara ketukan itu terdengar semakin keras. Lagipula, bisa saja Kim membawa kabar tentang Hiro. Akhirnya gadis itu untuk memutuskan untuk membuka pintu.
“Apa Hiro sudah sa—“
“Bagaimana keadaanmu?”
“Hey!”
Keiko ingin menghalangi Andrew yang hendak masuk ke dalam “kamarnya”, tapi sosok jangkung lebih dulu menerobos pertahanannya, bahkan menarik pinggangnya hingga tubuh mereka saling menempel erat.
Tubuh Keiko seakan melayang di udara ketika Andrew mengangkatnya dengan satu tangan, lalu menutup daun pintu dengan kakinya yang panjang.
“Lepaskan aku!” desis Keiko seraya meronta.
“Diamlah,” ujar Andrew seraya mengangkat tubuh Keiko dan menggendongnya ke ranjang.
Ia mendudukkan gadis itu di pinggir kasur, lalu berjongkok dan mengambil kotak P3K di lantai. Tanpa banyak cakap, pria itu menggulung kaki celana kanan Keiko. Ia mendesah pelan ketika melihat luka di kaki gadis itu. Garis merah sepanjang hampir 15 sentimeter itu terlihat kontras dengan warna kulitnya yang semulus kelopak sakura. Lebam-lebam kebiruan tampak di bagian betis, mata kaki, dan lutut.
“Ini perlu dikompres. Aku akan meminta Kim mengantarkan obat untuk mengompresnya,” ujar Andrew seraya memutar kaki Keiko dengan hati-hati, mencari luka lain yang mungkin tidak terlihat.
Ketika mendengar dari Kim bahwa Keiko tidak mau diobati, pria itu langsung berderap ke sini tanpa memikirkan apa-apa lagi. Bahkan teriakan Clark tidak bisa menghentikannya. Ia tidak ingin karena kesal, Keiko tidak mau diobati. Selama ia ada, ia akan memastikan gadis itu baik-baik saja seperti janjinya selama ini.
“Lepaskan!” seru Keiko seraya menarik kakinya. Melihat wajah pria itu tiba-tiba membuatnya kesal. Sangat kesal hingga rasanya ia ingin meneriaki pria itu sekeras mungkin.
Andrew mendongak dan menatap Keiko dengan sorot mengintimidasi, lalu menggertak, “Jika kamu terus meronta, aku akan mengikatmu di atas ranjang.”
Ancaman itu seketika membuat tubuh Keiko membeku. Ia tidak bersuara atau mencoba untuk melepaskan diri lagi. Ia meringis dan berusaha mati-matian menahan suaranya ketika Andrew menyemprotkan antiseptik di lukanya. Rasanya cukup menyengat. Akan tetapi, tak lama kemudian terasa sedikit sejuk.
Perlahan Keiko menunduk, lalu mendapati Andrew sedang meniup kakinya, menyemprot antiseptik, lalu meniup lagi. Melihat pemandangan itu membuat hatinya terasa hangat ... sekaligus kesal.
Ia tahu pria itu hanya sedang memanfaatkannya untuk mendekati Hiro, atau bahkan mungkin ayahnya. Memikirkan hal itu membuat hatinya terasa sakit. Gadis itu mengepalkan tangannya dan menoleh ke lukisan abstrak yang tergantung di dinding, berharap gambar itu bisa mengalihkan pikirannya.
“Luka kecil yang tidak diobati dengan benar lebih berbahaya dari luka besar yang terlihat. Seharusnya sebagai seorang dokter, kamu lebih mengerti itu,” kata Andrew seraya mengoleskan salep antibiotik, lalu menutupnya dengan plester.
Keiko mendengkus dan menjawab, “Bukan urusanmu!”
Semua perhatian pria itu hanya membuatnya semakin kesal!
Tunggu, dari mana ia tahu kalau aku adalah dokter? Ha! Tentu saja! Dia sudah memata-mataimu selama ini, gadis bodoh! Memangnya apa yang kau harapkan? Keiko mengumpat dalam hati.
Andrew mengangkat kaki kiri Keiko, tapi gadis itu menarik kakinya dengan cepat dan berdiri. Tubuhnya sempoyongan dan hampir jatuh, tapi Andrew bangun dan menahan pinggangnya dengan sigap.
“Aku bisa sendiri. Keluarlah. Berhenti berpura-pura baik padaku. Itu membuatku muak,” ujar Keiko sambil membuang muka.
Mata Andrew menyipit, memerhatikan ekspresi gadis di depannya dan bertanya, “Jadi menurutmu, aku hanya berpura-pura?”
Memang ia tidak bisa menyalahkan Keiko kalau dia bersikap apatis. Ia sudah bersiap untuk menghadapi penolakan dari gadis itu. Akan tetapi, tetap saja ... rasanya sakit ketika ditolak oleh seseorang yang kau sayangi.
“Semua pertemuan kita, itu tidak disengaja bukan? Kamu yang mengaturnya? Berpura-pura menjadi Andrew Roux untuk mendekatiku, agar bisa mendekati Hiro? Mendekati ayahku? Kamu memanfaatkanku!”
Andrew terdiam sejenak. Ia sama sekali tidak menyangka pemikiran Keiko akan sejauh itu ... tapi biar bagaimanapun gadis itu memang berhak untuk marah.
“Aku memang Andrew Roux,” ujar Andrew dengan suara tetap tenang, “Dan untuk pertemuan kita, bukan aku yang mengaturnya. Mungkin semesta mendengarkan doaku dan—“
Gadis itu berusaha sekuat tenaga ingin membebaskan diri, tapi Andrew seolah tidak terpengaruh. Pria itu menatap Keiko lekat-lekat, seolah tersihir dengan aroma sabun yang menguar dari tubuhnya. Ia menatap bibir merah muda yang merekah, lembab dan menggoda. Ia sangat ingin menunduk dan menyesapnya hingga mereka berdua kehabisan napas, lalu ....
“Apa yang sedang kau pikirkan? Dasar mesum!” maki Keiko seraya mendorong tubuh Andrew, tapi pria itu bergeming, seperti tembok baja yang kokoh dan tetap berdiri di hadapannya.
Pria itu hanya mengerjap pelan ketika mendengar gadis mungil dalam dekapannya itu memakinya dengan cukup keras.
“Mesum?” gumam Andrew seraya menunduk, perlahan mendekatkan wajah ke arah Keiko.
“A-apa yang—“
Keiko menahan dada Andrew dengan tangan kanannya, tapi pria itu mencekal pergelangan tangannya dan tidak melepaskannya. Mendadak gadis itu melupakan semua gerakan ilmu bela diri yang pernah dipelajarinya. Ia sama sekali tidak memberikan perlawanan.
Tidak. Bukan lupa. Ia hanya tidak ingin ... tidak mau melukai pria itu.
“Kalau aku mesum, kita tidak akan tidur di kamar yang terpisah, Baby ...,” bisik Andrew tanpa mengalihkan tatapannya.
Napasnya hangat yang menerpa wajah Keiko, membuat sekujur tubuh gadis itu tiba-tiba meremang. Wajahnya merah padam. Ia tahu apa maksud Andrew. Ia juga tahu kalau sudah sedikit keterlaluan dengan mengatai pria itu mesum, tapi gengsinya terlalu tinggi.Ia tidak mau meminta maaf lebih dulu.
“Kalau begitu lepaskan aku," ucap Keiko, berusaha menutupi getaran samar dalam suaranya.
Wajah mungil yang merona dan terlihat gugup itu membuat Andrew semakin ingin menggodanya.
“Tadi kamu tidak keberatan sama sekali saat aku memelukmu seperti ini,” ujar Andrew seraya menarik pinggang Keiko hingga kini hampir tak ada lagi jarak di antara mereka.
“Itu berbeda!” sanggah Keiko cepat.
Wajahnya semakin merah karena kesal. Bisa-bisanya pria di hadapannya itu menyamakan situasi yang jelas-jelas berbeda yang terjadi di antara mereka!
“Kamu berdebar-debar lagi,” ujar Andrew ketika merasakan detak pembuluh nadi di pergelangan Keiko semakin cepat.
“T-ti ... aku, tidak—“
Andrew meraih tangan Keiko yang bebas, menariknya dan meletakkan di dadanya yang juga berdebar tak beraturan.
“Kamu merasakannya?” gumam Andrew pelan, “Waktu itu ... saat aku menahanmu di lift, kamu juga melihatnya juga, bukan? Kilasan-kilasan memori itu ... katakan, aku tidak sendirian. Kamu juga merasakannya, bukan?”
“A-apa maksudmu?”
“Katakan ... Sakamoto Keiko, apa kamu mengingatku?”
Keiko tertegun. Ia tahu apa maksud Andrew. Ia pikir hanya dirinya yang melihat kilasan-kilasan itu dalam kepalanya. Bahkan setelah beberapa lama, ia mulai berpikir bahwa saat itu ia hanya berhalusinasi. Namun, sekarang ....
“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Keiko seraya menatap manik hitam Andrew yang sedang menatapnya dengan sorot penuh kerinduan.
Ya. Ia yakin pria itu sedang menatapnya dengan penuh kerinduan ... bara yang menyala-nyala ... juga cinta.
***