Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Tiba di Kamakura



Sepanjang perjalanan menuju Kamakura, beberapa kali Clark meminta Leon untuk menepi di gas station atau kedai makan untuk mengawasi sistem perlindungan yang terpasang di ponselnya. Setelah yakin tidak ada yang mengikuti, mereka kembali melaju di jalanan yang mulai lengang. Meski cukup lelah dan mengantuk, dua orang dalam mobil itu tetap memaksa diri untuk selalu waspada. Jangan sampai lengah dan memberi celah kepada musuh untuk menyerang.


Semua itu mereka lakukan karena Garry memberi tahu bahwa orang-orang suruhan Jovanka sedang mengejar. Begitu pun dengan para petinggi EEL yang masih percaya bahwa Andrew membelot, dan Clark adalah kaki tangan Andrew. Mereka semua melakukan segala cara untuk melacak keberadaan Clark.


Untungnya Garry selalu sigap memberi tahu di wilayah mana yang sedang dilakukan rasia dan pemblokiran jalan. Dengan begitu Leon bisa memutar dan mengambil arah melalui jalan-jalan setapak yang tidak tercantum dalam rute resmi. Tentu saja Garry pula yang membantu mereka menemukan rute yang aman.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Leon menepikan mobilnya ke pinggir jalan raya yang terlihat lengang. Tidak ada satu orang pun yang terlihat di sekitar situ. Wajar saja karena jam di pergelangan Clark sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama satu jam bertambah menjadi empat jam karena harus memutar dan menghindar dari pemeriksaan.


“Sepertinya tidak ada yang mengikuti kita,” ujar Clark seraya mengamati titik kuning yang berpendar di layar ponselnya.


Hanya ada titik itu saja di sepanjang rute Jalan Yakamura. Itu artinya tidak ada kendaraan lain yang sedang melintas di dekat mereka. Ia melirik ke samping dan mendapati wajah Leon sudah benar-benar terlihat kelelahan dan mengantuk.


“Ayo, masuk ke laman parkir,” ajak Clark sambil memasang kembali rompi dan jaketnya sehingga semuanya tertutup dengan sempurna. Sama sekali tidak terlihat kalau di balik jaket itu tersembunyi puluhan senjata mematikan yang sangat canggih.


“Baik,” jawab Leon dengan patuh.


Pemuda itu sudah hampir menguap, tapi ditahannya dengan kepalan tangan. Sambil mengerjap dan menggoyangkan kepala untuk menghalau kantuk, Leon menginjak pedal gas sehingga mobil van itu kembali bergerak pelan memasuki halaman sebuah losmen kecil di pinggir kota Kamakura.


Tidak tampak petugas keamanan yang berjaga, oleh karena itu Leon langsung mengarahkan kemudi menuju lahan kosong yang sepertinya digunakan sebagai tempat parkir bagi kendaraan para tamu. Ada sebuah dua buah mobil dan tiga buah sepeda motor yang terparkir di sana. Leon melihat kaca spion dan menempati lahan parkir paling ujung, sedikit jauh dari kendaraan yang lain.


Setelah mobil itu benar-benar berhenti, Clark segera melepaskan sabuk pengaman dan berjalan menuju penginapan kecil yang sudah dipesan oleh Garry secara online. Pemuda jenius itu memalsukan data diri Clark dan Leon dan membuatkan tanda pengenal palsu yang dapat digunakan oleh kedua rekannya itu ketika sedang bertugas.


Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal di dalam mobil, Leon keluar dan menekan tombol untuk mengunci kendaraan itu. Segera ia berlari kecil untuk menyusul Clark yang sedang berbicara dengan seorang pria tua yang tampak jelas baru saja terbangun dari tidurnya. Pria tua itu mengenakan sweater rajut yang warnanya sudah terlihat pudar.


“Terima kasih. Maaf telah mengganggu istirahat Anda,” ujar Clark seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.


Pria tua di hadapannya hanya melambai-lambaikan tangannya kemudian kembali masuk ke bangunan yang terpisah dari deretan pintu-pintu losmen. Sepertinya dia adalah pemilik penginapan ini, atau mungkin hanya orang yang disuruh memegang kunci penginapan. Entahlah, Clark tidak mau ambil pusing. Ia melihat angka yang tertera di anak kunci dan segera mencari pintu dengan nomor yang sama.


Garry memang sengaja mencari penginapan dengan model kuno seperti ini agar tidak mudah dilacak. Segala tempat yang telah menggunakan biometrik scanner harus ia hindari jika tidak ingin tertangkap.


Clark lebih dulu melangkah masuk, lalu memindai seluruh ruangan untuk memeriksa apakah ada kamera tersembunyi atau alat penyadap di kamar itu. Ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Meskipun tidak bisa dibilang besar atau modern, ruangan itu terlihat cukup nyaman. Cat temboknya berwarna putih sehingga terlihat bersih.


Ada dua buah ranjang single yang diletakkan bersebelahan, juga sebuah lemari pakaian yang terlihat cukup tua. Sebuah meja antik dan dua buah kursi sofa dengan model kuno terletak di dekat jendela yang ditutup oleh kain gorden berwarna cream yang cukup bersih.


Clark mengangguk puas. Setelah yakin bahwa semuanya aman, ia menoleh dan berkata, “Aman. Ayo, masuk.”


Leon mengangguk dan masuk dengan patuh. Pemuda itu langsung meletakkan tas ransel yang dibawanya ke dalam lemari kayu yang berwarna cokelat tua. Tas itu berisi perbekalan, pakaian ganti, uang tunai jika sewaktu-waktu dibutuhkan dan perlengkapan cadangan jika amunisi yang dibawa oleh Clark tidak cukup.


“Lumayan, ada air hangat kalau kamu ingin mencuci muka,” kata Clark yang baru kembali dari kamar mandi dalam ruangan itu.


Ia lalu memeriksa ponselnya, mengakses lokasi yang baru saja dikirimkan oleh Garry. Diam-diam Clark merasa salut kepada pemuda itu. Selisih waktu antara Tokyo dan Jakarta adalah dua jam. Itu berarti pemuda itu belum tidur sama sekali. Dia terus memantau dan memandu sejak Clark dan Leon keluar dari Tokyo.


Terima kasih. Kami sudah tiba di penginapan. Kamu istirahatlah sebentar.


Setelah mengirim pesan itu untuk Garry, Clark segera mempelajari blue print sebuah bangunan yang mirip kastil dari masa abad pertengahan. Tata ruang bangunan itu cukup rumit. Meski merupakan bangunan lama, hampir semua sistem keamanan di dalam kastil itu telah memakai security sistem level tertinggi. Ada pula beberapa pria yang berjaga di setiap pintu. Padahal, satu-satunya pemilik kastil yang tersisa bahkan tidak pernah terlihat keluar dari bangunan itu.


“Ini cukup aneh,” gumam Clark seraya memeriksa kembali silsilah keluarga Nakamura dengan teliti.


Dari semua blood line itu, hanya informasi mengenai keturunan terakhir keluarga Nakamura yang tidak pernah diberitakan kepada khalayak umum. Bahkan foto dan identitasnya tidak pernah diketahui oleh siapa pun, kecuali mungkin orang-orang yang berada di dalam kastil itu. Selama bertahun-tahun keberadaannya tersembunyi sangat rapat, terutama setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat saat akan berkunjung ke salah satu perusahaan mereka yang berada di Amerika.


Seluruh aset dan perusahaan keluarga Nakamura tetap bertahan hingga sekarang, tapi orang yang mengelola semua itu pun tidak pernah muncul di hadapan pubik. Keluarga itu benar-benar seperti permukaan air tenang yang tidak bisa diprediksi kedalamannya.


“Kapan kita bergerak, Kapten?” tanya Leon yang tampak sudah lebih segar.


“Setelah matahari terbit, kita berangkat,” jawab Clark. Ia lalu menjelaskan detail lokasi kepada Leon dan apa tugas pemuda itu selama misi ini dijalankan.


Untuk meminimalisir risiko tertangkap atau dicurigai, hanya Leon dan Clark yang akan menyusup ke dalam kediaman Nakamura untuk mencari tahu apa yang tersembunyi di dalam sana. Suka atau tidak, siap atau tidak, mereka harus lebih dulu mendapatkan barang yang dicari oleh Ryuchi dan Jovanka itu.