Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Sangat mencintaimu



Sepanjang perjalan menuju rumah sakit, Keiko duduk dengan gelisah. Otaknya masih memikirkan transfer dan gaun pengantin tadi.


Akhirnya, karena tidak tahan lagi, gadis itu menoleh ke arah suaminya dan bertanya, "Andrew, apakah kamu tidak merasa semua ini sedikit berlebihan?”


" Apa yang berlebihan?" Andrew balas bertanya mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu.


"Saham dan gaun pengantin ...."


“Sudah kukatakan sebelumnya, Baby ... tidak ada yang berlebihan untukmu.” Andrew tersenyum dan mengerling ke arah istrinya. “Bukankah kamu sekarang adalah wanita kaya? Jangan ragu-ragu untuk menggunakan uang yang kamu miliki.”


“Andrew, serius sedikit. Aku benar-benar cemas ....”


“Istriku tersayang, aku serius ... bahkan jika kamu ingin membeli sebuah pulau, lakukan saja. Aku akan membantu memilihkan pulau yang memiliki pemandangan dan cuaca yang bagus.”


Keiko mendengkus dan memalingkan wajahnya. Ia lebih memilih untuk menatap jalanan di luar sana daripada harus berbicara dengan Andrew, hanya membuat kepalanya semakin pening.


“Oke ... oke ... tidak bercanda lagi.” Andrew terkekeh dan menarik tangan istrinya, lalu mencium punggung tangannya dengan mesra.


“Kamu jangan cemas, Baby. Semua keperluan pernikahan kita, mulai dari gaun pengantin sampai dekorasi, itu dari uangku. Aku sudah menabung dan merencanakannya sejak bergabung dengan EEL dan memiliki penghasilan sendiri. Selain itu aku juga menerima laba setiap bulan dari sahamku di Phoenix.Co. Aku berharap, saat menikah denganmu, aku bisa memberikan yang terbaik dari hasil kerja kerasku sendiri. Bagaimana, kalau begini sudah oke? Kamu tidak marah lagi?” bujuk Andrew.


“Oh, kecuali masalah undangan. Itu memang ayahku yang memesannya ... sejak sepuluh tahun lalu, saat dia berharap aku akan segera menikah dan meneruskan menjalankan perusahaan,” lanjutnya lagi sambil tersenyum tak berdaya.


Keiko menatap suaminya dengan emosi yang campur aduk. Pelupuk matanya terasa hangat dan berat saat gumpalan-gumpalan air menggenang di sana. Bibirnya sedikit bergetar ketika berkata, “Dasar bodoh ... bagaimana kalau kita tidak bertemu?”


“Maka aku akan mencarimu di kehidupan selanjutnya,” jawab Andrew dengan santai. Saat tidak mendengar jawaban dari Keiko, ia menoleh ke arah gadis itu dan mendapati mata bulatnya sudah memerah.


Pria itu lalu mengulurkan tangan untuk mengusap pipi istrinya dengan penuh rasa sayang sambil menggoda, “Kenapa? Merasa sangat terharu? Semakin jatuh cinta kepada suamimu ini?”


Keiko meraih telapak tangan Andrew, menciumi punggung tangannya sambil mengangguk cepat dan menjawab, “Sangat terharu ... sangat mencintaimu ....”


Andrew menarik tangannya tanpa mengatakan apa pun. Ia memutar kemudi memasuki halaman rumah sakit dan memarkir mobil di basement. Air mata Keiko yang menetes di tangannya terasa seperti bara api yang membakar seluruh indranya. Ia melepaskan sabuk pengaman, memutar tubuhnya menghadap Keiko dan mengulurkan tangan untuk mengusap butiran bening yang meninggalkan jejak basah di pipi gadisnya.


“Katakan sekali lagi,” pinta Andrew dengan suara serak.


“Kamu berhasil membuatku tersentuh dan merasa sangat terharu, Mr.Roux. Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu ....”


Andrew merangsek maju, mengimpit tubuh Keiko di kaca jendela dan berbisik, “Maka itu sudah lebih dari cukup untukku, Baby. Semua yang kulakukan itu sepadan ....”


Pria itu menekan dagu Keiko dengan jarinya sehingga gadis itu mendongak. Ia kemudian melu*mat bibir semerah cherry itu dengan sangat antusias dan hati-hati. Ia membuka mata dan memperhatikan ekspresi wajah istrinya, seolah tidak rela kehilangan momen berharga ketika istrinya mengerang dan mendesah karena perbuatannya itu.


Keiko terengah-engah kehabisan napas ketika akhirnya Andrew melepaskan pagutannya. Wajahnya yang tadi memerah karena menangis, kini merona karena badai yang baru saja berlalu. Ciuman Andrew Roux selalu berhasil menyeretnya ke dalam pusaran yang membuatnya kehilangan kendali diri.


Otak Keiko langsung berkelana ke mana-mana, membuat wajahnya semakin merah padam karena salah tingkah.


“Ayo keluar, di sini panas sekali.” Gadis itu membuka pintu mobil dan melarikan diri sebelum Andrew menggodanya lagi.


Andrew terkekeh pelan dan mengikuti istrinya keluar. Sedikit berlari, ia mengejar langkah kaki Keiko yang sudah hampir mencapai pintu masuk rumah sakit. Dari belakang, gadis itu terlihat seperti kelinci kecil yang sedang melarikan diri dari serigala jahat. Andrew mengulum senyum dan menggelengkan kepalanya, sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba melintas di benaknya, membuatnya bahagia karena berhasil menemukan kembali kekasihnya.


“Ada apa?” tanya pria itu ketika melihat Keiko tiba-tiba menghentikan langkahnya sebelum mencapai lift.


“Di kamar mana Hiro dirawat?”


“Oh ... lantai 12, kamar nomor 4.” Andrew lebih dulu maju untuk menyentuh panel touchscreen dan memilih nomor lantai yang mereka tuju.


“Ayo ...,” ajaknya seraya menggandeng lengan istrinya.


Ada empat orang lainnya di dalam kotak besi itu sehingga Andrew dan Keiko terpaksa harus sedikit berdempetan. Tubuh Andrew menempel ke dinding lift, sedangkan Keiko berada di sisi kanannya, agak ke tengah. Kebetulan di belakang Keiko adalah seorang pria yang tampaknya berusia sekitar 30-an. Dilihat dari samping, postur tubuh pria itu dan Keiko seolah sedang saling menempel, seperti sepasang kekasih yang sedang pergi berkencan. Kening Andrew mengernyit tidak suka. Ia segera merengkuh pinggang Keiko dan menariknya untuk bertukar tempat.


Keiko yang terkejut tidak sempat memberikan respon apa pun karena gerakan yang sangat cepat itu. Saat tubuhnya limbung dan hampir jatuh, lengan Andrew menopang punggungnya dengan kokoh dari belakang. Ia mendongak untuk menanyakan apa yang baru saja terjadi, tapi ia hanya mendapati wajah Andrew yang memandang lurus ke depan tanpa ekspresi apa pun, seolah barusan tidak terjadi apa-apa.


Akhirnya gadis itu hanya bisa menoleh dan mengangguk dengan kikuk ke arah beberapa orang di samping yang terpaksa tergeser karena tubuh Andrew yang lebih besar berada di tengah lift. Akan tetapi, belum sempat ia mengatakan apa pun, Andrew sudah menarik bahunya dan menekannya agar melihat lurus ke depan.


Andrew menunduk dan berbisik di telinga Keiko, “Hanya boleh melihat suamimu ini.”


Keiko menelan ludah dan mengangguk dengan patuh meski dalam hati merasa sangat tertindas, mengapa suaminya sangat ... bagaimana menjelaskannya?


Untunglah lift segera terbuka dan mereka yang lebih dulu keluar daripada orang-orang di dalam tadi.


“Lain kali, jangan biarkan pria lain berdiri di dekatmu, harus segera pindah ke sisiku. Mengerti?” ucap Andrew begitu pintu lift tertutup di belakangnya.


Keiko tidak tahu harus tertawa atau menangis. Namun, pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk dengan patuh dan menjawab, “Oke, Suamiku ....”


“Gadis pintar ....”


Andrew mengangguk puas dan tersenyum lebar. Ia mengetatkan cekalannya di pinggang Keiko dan berjalan menuju pintu berwarna putih dengan angka 4 di depannya.


Ia benar-benar sudah tidak sabar ....


***