
Cahaya matahari beranjak naik, menelusup melalui celah kaca jendela yang tidak tertutup gorden sepenuhnya. Siluet suami istri yang saling berpelukan itu terpantul pada cermin besar yang ada dalam ruangan. Di bawah bias sinar yang menyebar di udara, pemandangan itu tampak harmonis dan indah.
Aroma yang familiar dan kehangatan yang memancar di dekatnya membuat Keiko semakin merapatkan tubuh ke dada Andrew. Matanya masih terpejam erat. Lengkungan di bibirnya tampak lembut dan manis. Sepertinya ia sedang memimpikan sesuatu yang menyenangkan. Tanpa sadar kakinya terangkat dan mengait pinggang Andrew.
Gerakan kecil itu membuat panca indra Andrew terjaga. Ia bisa merasakan sesuatu yang lembut dan mungil sedang meringkuk di dekatnya. Perlahan pria itu membuka mata, lalu buru-buru menghalangi wajah dengan telapak tangan ketika sinar matahari langsung menyambutnya. Di bawah berkas cahaya yang jatuh di hadapannya, seraut wajah mungil yang tertidur dalam pelukan membuat tubuh Andrew menegang, napasnya stagnan. Apakah ia sedang bermimpi?
Wajah yang bercahaya itu benar-benar terlihat seperti peri. Fitur kulitnya yang halus dan kenyal membuat Andrew ingin menggigitnya. Alis yang melengkung sempurna, bulu mata lentik, bibir mungil berisi dan merona ... ah, gadis cantik ini miliknya. Hanya miliknya seorang.
Andrew mempertahankan posisi tubuhnya. Ia tidak berani bergerak sama sekali, takut jika ia melakukan gerakan kecil dan membangunkan Keiko. Ia masih ingin menikmati momen indah itu sedikit lebih lama lagi. Namun, embusan napas yang hangat menerpa permukaan kulit membuatnya merinding. Tiba-tiba bagian bawah tubuhnya memberikan reaksi, secara alami mendirikan tenda di bawah sana.
Andrew mengumpat dalam hati. Ia melirik ke bawah dan mendapati bahwa pakaiannya sudah diganti. Apakah Keiko yang melakukannya?
Senyum lebar segera terpatri di wajah pria itu. Namun, saat melihat posisi kaki Keiko yang melingkari pinggangnya membuat otaknya kembali mendidih. Aliran darahnya memanas, seperti magma gunung berapi yang berkumpul di satu titik dan membuat inti tubuhnya terasa nyeri.
Mungkin karena merasakan gerakan-gerakan kecil di dekatnya, Keiko mengernyit. Hawa hangat yang tadi membuatnya nyaman kini terasa semakin panas seperti bara, seolah suhu udara di sekitarnya meningkat drastis dalam sekejap. Kelopak matanya bergetar, lalu mata bulatnya perlahan terbuka.
Gadis itu mengerjap beberapa kali, berpikir ia masih berada di alam mimpi ketika melihat permukaan kulit berwarna kuning langsat yang hanya berjarak sekitar satu jengkal dari ujung hidungnya, tangan yang melingkar di pinggangnya, dan ... astaga, Keiko merasa tungkainya tiba-tiba kaku. Dengan gerakan yang sangat lambat ia mendongak, lalu hampir pingsan ketika melihat wajah Andrew yang sangat menawan.
“Morning, Baby,” sapa Andrew dengan suara yang serak. Ia berdeham ketika merasakan tenda kecil di bawah sana semakin menjulang tinggi.
Keiko ingin membuka mulut untuk membalas sapaan itu, tapi kemudian sesuatu yang keras dan menonjol menggesek pahanya. Otaknya membeku sesaat, neuron sarafnya seperti saling bertabrakan dalam tempurung kepala. Ia belum sempat memberikan reaksi, telapak tangan yang besar menarik wajahnya hingga mendongak disertai suara Andrew yang kembali terdengar.
“Morning kiss?”
Mata Keiko membola, kesadarannya kembali dengan cepat. Ia melepaskan pelukan dan kaitan kakinya, kemudian berguling menjauh dalam satu gerakan kilat.
“A-aku belum gosok gigi," elaknya sedikit tergagap.
“Aku tidak keberatan mencium kamu yang bau,” balas Andrew sambil mengangkat alisnya dan memberi tatapan yang menggoda.
Keiko melotot dan berseru, “Kamu yang bau!”
Mata gadis itu melirik ke gundukan di pangkal paha suaminya yang terlihat sangat jelas, lalu wajahnya berubah merah padam. Gadis itu mengalihkan pandangannya dan melihat wajah suaminya yang tampak santai, ia tiba-tiba memiliki keinginan untuk memarahi suaminya.
“Tidak tahu malu,” desisnya seraya berguling turun dari atas ranjang.
“Ini reaksi yang wajar, Sayang. Justru aneh kalau aku tidak mengeras saat melihatmu. Kalau seperti itu ... bagaimana aku akan memuaskanmu di masa depan?”
Andrew mengedipkan matanya dengan genit dan melanjutkan, “Lagipula, bukankah kamu sudah melihatnya saat mengganti pakaianku semalam?”
“Kamu ... kamu ... aku ....” Keiko mengepalkan tangannya dan berderap menuju pintu. “Buka pintunya, aku mau keluar.”
Andrew berguling dengan ekspresi malas dari atas kasur dan berjalan dengan sangat pelan menghampiri Keiko. Ia menekan dinding dengan satu tangan, sedangankan tangan yang lain bergerak ke arah panel dengan gerakan yang sangat sensual.
Jarak yang begitu dekat membuat Keiko tidak tahu harus mengarahkan tatapan matanya ke mana. Panas. Semuanya terasa sangat panas. Tiba-tiba ia merasa bajunya sangat sesak hingga membuatnya seolah tercekik.
“Istriku, terima kasih sudah merawat suamimu ini dengan sangat baik tadi malam sehingga bangun dengan sangat segar pagi hari ini. Kamu bahkan menemaniku tidur ... bagaimana kalau nanti malam aku yang gantian menemanimu tidur?” gumam Andrew, jarinya sengaja bergerak berputar di atas panel tanpa benar-benar menyentuhnya.
Andrew terkekeh pelan dan menekan ibu jarinya ke panel. Istrinya terlihat seperti kelinci kecil yang bertemu serigala. Apakah begitu takut ia akan memakannya?
“Aku—“
Keiko langsung melesat keluar seperti busur panah ketika pintu di sampingnya sudah sedikit bergeser, ia tidak mau repot-repot mendengarkan ucapan Andrew yang belum selesai. Tidak mau otaknya berkelana ke mana-mana dan membuatnya panas dingin!
“Ah!”
Gadis itu terpekik kaget ketika hampir bertabrakan dengan Alfred yang sedang berjalan ke arah kamar Andrew.
“Maaf, Tuan ...,” ujar Keiko sambil membungkuk dalam-dalam. Ia langsung berlari pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
Si Tua Alfred terpaku selama beberapa saat, kemudian setengah berlari menuju kamar Marco Roux dengan sangat bersemangat. Ia mengetuk pintu kamar tuannya itu dengan tidak sabar sambil memanggil nama Marco beberapa kali.
“Ada apa ribut sepagi ini?” gerutu Marco dengan wajah kusut yang tersembul dari balik pintu.
“Aku rasa sebentar lagi kamu akan benar-benar menjadi seorang kakek!” seru Alfred dengan antusias.
“Apa? Bagaimana kamu bisa yakin seperti itu?”
“Aku baru saja memergoki Nyonya Muda keluar dari kamar Tuan Muda. Sepertinya mereka tidur satu kamar tadi malam. Mungkin karena mabuk ....”
Mata Marco yang tadinya setengah terpejam kini terbuka lebar.
“Benarkah?” serunya dengan bersemangat, “Katakan, apakah dia tampak malu?”
“Ya, aku rasa begitu. Dia hanya meminta maaf sekilas lalu buru-buru pergi, seolah takut ada orang yang memergokinya!”
“Bagus sekali! Cepat, beritahu pelayan untuk menyiapkan ramuan penguat kandungan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada calon cucuku!”
“Baik. Aku pergi sekarang.” Alfred bergegas menuju dapur untuk memberitahukan apa yang diperintahkan oleh tuannya.
Marco Roux tidak bisa tidur lagi. Ia mengambil tabletnya kemudian mulai menyiapkan nama bayi laki-laki dan perempuan.
Di kamar lain, Andrew mengerang putus asa karena rupanya berendam air dingin pun sama sekali tidak membantu membuat bagian bawah tubuhnya mereda.
“Kamu tenang sedikit ... jangan bereaksi setiap kali berada di dekatnya, bisa tidak?” gerutunya seraya menatap bagian yang terasa nyeri dan bengkak.
Hanya bisa mengerang putus asa dan bermain solo untuk sementara waktu ....
***