
Suara dengungan dan percakapan samar menggelitik indera pendengaran Kim, tapi otaknya belum mampu mengolah informasi dari lingkungan di sekitarnya. Seluruh tubuhnya berdenyut nyeri, terutama kepala dan lehernya.
Rasa pedih yang menyengat membuat wanita itu merasa sangat tersiksa. Sialnya matanya seolah enggan terbuka, kelopaknya saling menempel erat meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuka mata.
Suara derit besi yang bergesekan dengan lantai membuat Kim waspada. Suara percakapan dalam bahasa Jepang dan Inggris yang patah-patah membuat kening Kim sedikit mengernyit. Namun, aroma anyir yang pekat membuyarkan konsentrasinya.
Ia bisa merasakan cairan hangat yang mengalir tanpa henti dari bahunya, menetes melalui pipi dan daun telinga, lalu meruncing di dagu sebelum jatuh ke lantai. Merasakan aliran darahnya yang aneh, Kim baru sadar jika ia sedang terikat dengan posisi terbalik. Pantas saja kepalanya berdenyut hebat, seolah hampir meledak.
Angin dingin berembus entah dari mana, menyapu permukaan kulitnya yang sepertinya tidak mengenakan pelindung. Ia langsung menyadari pakaiannya telah dilucuti, hanya tersisa pakaian dalam yang menempel di tubuhnya. Perlahan kesadarannya meningkat.
Lilitan yang kencang di pergelangan tangan dan kakinya terasa menyakitkan. Gesekan dengan permukaan tali membuat kulitnya terasa seolah teriris dan terbakar oleh rasa perih yang menyengat. Tanda sadar erangan pelan lolos dari mulutnya, membuat napasnya tersangkut di tenggorokan karena rasa sakit kembali menghantam rusuk dan uluhati.
“Uhuk!” Kim terbatuk pelan, membuat tubuhnya tertarik ke atas sehingga tali yang mengikat kakinya berputar pelan.
Suara-suara percakapan di sekitarnya semakin mendekat, kemudian berhenti sekitar beberapa langkah entah di sebelah mana. Tubuh Kim menegang karena ruangan mendadak sepi. Bahkan suara langkah kaki pun tak terdengar.
Sekuat tenaga wanita itu mencoba lagi untuk membuka mata, ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi. Akan tetapi, sebelum berhasil mengenali siluet yang menjulang dan mengelilinginya, Kim merasakan satu gerakan cepat yang tertuju ke arahnya.
Byuuur!
“Argh!” Kim mengerang keras ketika cairan panas membasahi ujung kakinya, mengalir melewati paha hingga ke ujung rambutnya.
Dalam sekejap tubuh wanita itu memerah dan melepuh. Suara teriakan yang hampir lolos dari mulutnya ia tahan sedemikian rupa sehingga menjadi geraman yang lebih mengandung amarah dan dendam. Ia sungguh tidak akan melepaskan siapa pun yang berada di balik semua kejadian ini.
“Sudah sadar?”
Pertanyaan dari suara bariton itu diikuti dengan suara benda berat yang diseret mendekat. Kim mengernyit, sepertinya suara itu tidak asing. Dengan perjuangan yang hampir menguras semua tenaga, wanita itu akhirnya berhasil membuka matanya yang lebam dan memerah darah. Salah satu sudut matanya bahkan tidak bisa membuka dengan sempurna karena pecah dan bengkak. Rasa sakitnya benar-benar tak terlukiskan. Namun, saat akhirnya ia berhasil mengenali siapa yang sedang duduk di hadapannya sambil mengisap cerutu dengan tenang, sorot mata Kim dipenuhi ejekan.
“Akhirnya Anda tidak tahan lagi, Kapten?” tanya Kim dengan suara yang serak.
Tenggorokannya terasa kering dan pedih, tapi nada suaranya benar-benar penuh dengan ironi. Meski ia sudah diberi tahu bahwa Mr. Tanaka adalah salah satu orang yang berkhianat di dalam organisasi, tetap saja ia merasa sedikit tidak percaya. Hampir lima tahun bekerja dengan pria itu membuatnya sempat berpikir bahwa Mr.Tanaka tidak mungkin melakukan hal-hal yang keji, tapi rupanya ia salah. Manusia memang makhluk hidup yang tidak bisa diprediksi.
“Jangan buang-buang tenagamu yang tidak seberapa itu untuk memprovokasi diriku. Katakan, di mana gadis itu berada?” ujar Mr.Tanaka seraya mengepulkankan asap tebal dari mulutnya ke arah Kim.
Kim terkekeh pelan dan meludah. Cairan yang keluar dari mulutnya lebih menyerupai gumpalan darah hitam daripada saliva.
“Sampai mati pun tidak akan saya beritahukan kepada Anda,” balas Kim masih dengan sikap yang menantang.
Meskipun ia tahu kemungkinannya untuk lolos kali ini sangat tidak mungkin, tapi ia benar-benar akan bertahan sampai detik terakhir. Walaupun disiksa hingga seluruh anggota tubuhnya tercerai-berai, ia tidak akan pernah mengatakan di mana lokasi Kapten Andrew dan Nona Keiko.
“Baik. Kamu yang memintanya. Jangan salahkan aku tidak sungkan.”
Mr.Tanaka menyilangkan kaki dan menjetikkan jarinya. Dua orang pria bertubuh kekar dengan potongan rambut ala militer segera mendekat. Salah seorang dari mereka mendekat, lalu mengeluarkan sebilah belati yang diselipkan di pinggang. Pria yang lain menahan tubuh Kim agar tidak bergerak, lalu rekannya menorehkan belati ke leher Kim, membuat wanita itu menggertakkan gigi karena menahan rasa sakit.
Dengan cepat darah menderas, membanjiri wajah dan rambut Kim. Ia mengerjap ketika cairan merah yang hangat itu melewati wajahnya. Beberapa tetes bergelantungan di bulu mata sebelum kembali meluncur melewati kening. Beberapa masuk melalui hidung dan membuatnya tersedak. Aroma anyir yang kuat membuatnya mual. Namun, wanita itu tetap memilih untuk bungkam.
“Kamu memiliki waktu setidaknya ....” Mr.Tanaka melirik jam di pergelangan tangannya sebelum melanjutkan, “tiga puluh menit untuk berubah pikiran. Aku akan membiarkanmu hidup dengan tenang jika kamu memberitahukan di mana mereka berada.”
Kim terkekeh pelan, seolah tidak peduli pada seluruh sel-sel di tubuhnya yang menjerit nyeri. Tiga puluh menit ... tampaknya sekarang alat pelacak yang ia aktifkan tidak akan berguna sama sekali. Ia sudah dapat memastikan bahwa 30 menit kemudian, membuka mulut mengenai lokasi Andrew dan Keiko atau tidak, hasilnya akan sama saja ... bedebah tua di depannya itu akan tetap menghabisi nyawanya. Oleh karena itu, mengapa tidak sekalian saja ....
Wanita itu menyeringai tipis ketika atasannya itu terkesiap dan melompat dari kursi yang sedang didudukinya.
“Aktifkan sistem penghancuran diri,” ujar Kim lagi, seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tidak berada di ruangan itu.
“A-apa yang kau lakukan?” tanya Mr.Tanaka ketika melihat manik hitam Kim kini berkilat merah saga. Begitu pun degup jantungnya yang kini terlihat jelas, seolah kulit wanita itu berubah menjadi transparan.
“Anda memberiku waktu tiga puluh menit, sayangnya ... kesempatan Anda untuk menyelamatkan diri hanya sepuluh detik,” balas Kim dengan tenang, sangat kontras dengan seringai di wajahnya yang semakin lebar.
“Ap-apa maksudmu?” hardik Mr.Tanaka dengan suara tergagap-gagap. Jantung wanita di hadapannya itu seolah berpijar, terang dan menakutkan.
Pria itu menendang kaki dua orang pengawal yang tadi menyayat leher Kim sambil berseru, “Hentikan dia!”
Pria yang memegang belati segera menusuk tubuh Kim sekuat tenaga. Akan tetapi, senjata dengan bahan dasar logam itu seolah menyatu dengan tubuh Kim, kemudian meleleh seperti lilin yang dibakar. Dua pria itu saling menatap dengan heran. Salah seorang dari mereka lalu mengayunkan tinjunya ke perut Kim, tapi tangannya langsung mencair begitu bersentuhan dengan permukaan kulit wanita itu.
Suara lolongan kesakitan dan kepanikan bergema dalam ruangan. Pria yang tangannya hancur itu terjungkal dan berguling-guling di atas lantai, sementara temannya hanya mematung, menatap Kim seperti sedang melihat hantu.
“Apa yang kalian lakukan? Dasar bodoh! Bunuh wanita itu!” raung Mr.Tanaka murka, tapi anak buahnya yang lain tidak ada yang berani mendekat. Beberapa orang bahkan sudah berlari keluar dari ruangan itu.
“.... tujuh ... enam—”
“Diam! Diam!” teriak Mr.Tanaka dengan kalap, “Hentikan wanita gila ini!” serunya lagi seraya menunjuk kepada beberapa orang pengawal yang masih berdiri di sisinya.
Pria-pria bertubuh kekar itu perlahan mundur sambil menatap ngeri ke arah Kim yang sudah sepenuhnya menyala, dalam arti yang sebenarnya. Seluruh tubuh wanita itu membara seperti inti nuklir yang sedang melakukan fusi. Sementara itu, Mr.Tanaka terus berteriak-teriak seolah kehilangan kewarasannya. Ia tidak mau melepaskan kesempatannya untuk menjadi penguasa tertinggi di dunia terang dan gelap. Rencanya sudah sangat sempurna, seharusnya tidak berakhir seperti ini. Tidak boleh ....
“Tiga ... dua ....”
“Diam kau, wanita busuk!”
“Satu ... mari pergi ke neraka.”
Boom!
Suara ledakan keras disertai hancurnya seluruh bangunan gudang terbengkalai yang digunakan oleh Mr.Tanaka untuk menyekap Kim. Guncangan itu terasa hingga radius lima kilometer, mengundang rasa ingin tahu orang-orang yang tinggal di sekitar situ, termasuk satu kompi pasukan khusus yang diperintahkan untuk menjemput Kim.
Seorang pria berambut pirang mengambil alat komunikasinya dan mengirim kabar kepada Andrew:
Aset tidak berhasil diamankan. Copy. Tidak ada yang selamat.
***
Haii..makasih banyak utk semua komentarnya.
maaf nggak bisa balas satu2,tapi tetap saya baca semua komentar satu per satu. my mood booster😍
love you all🥰