Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Hari yang melelahkan



Andrew mengangkat kedua tangannya dengan hati-hati, menandakan bahwa ia sudah menyerah dan tidak akan melawan. Namun, pria di hadapannya justru merespon dengan kasar.


“Brengsek! Aku bilang jangan bergerak!” bentaknya seraya mengayunkan popor senjatanya dengan kasar ke pelipis Andrew.


Kepala Andrew tersentak ke kanan dengan keras. Cairan hangat mengalir dari lukanya yang berdenyut nyeri. Telinganya berdenging, membuatnya merasakan ada ribuan kunang-kunang sedang beterbangan di balik kelopak matanya. Namun, ia tetap tenang dan menghadap musuhnya kembali tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Si jaket army tergelak puas dan berseru memanggil temannya, “Cepat kemari, Bodoh! Bantu aku mengikatnya, lalu cari gadisnya. Bos pasti akan senang dan memberi kita banyak hadiah.”


“Hei!”


Si jaket army terkejut dan langsung menoleh ketika mendengar suara wanita datang dari balik tubuhnya. Andrew memanfaatkan kesempatan itu tanpa berpikir panjang. Ia bergerak secara alami mengikuti insting, memukul dan mengunci pergelangan tangan pria itu. Sepersekian detik kemudian, ia memutar lengan pria itu hingga bunyi berderak terdengar jelas bersamaan dengan lolongan kesakitan yang menyayat hati. Dari balik jaket army, tampak tonjolan tulang yang terpatah membentuk sudut yang aneh.


Tak memberi kesempatan, Andrew segera membanting pria itu ke tanah, lalu mengunci lehernya dan membuat gerakan memutar seperti yang ia lakukan tadi. Dalam sekejap, pria yang melolong kesakitan itu tiba-tiba bungkam dengan leher berputar hampir 180 derajat.


Di sisi lain, Keiko yang sudah bersiap dengan pedang di tangannya segera melompat ke arah pria bertopi yang masih tersaruk-saruk dengan mata tertutup. Tubuh rampingnya melenting dan berputar dua kali, kemudian mendarat dengan satu kaki di dekat pria yang masih terus mengumpat itu. Dalam satu gerakan yang terlihat ringan tapi penuh tenaga, Keiko menyabetkan pedangnya ke samping. Makian dari mulut pria di hadapannya pun terhenti.


Darah berceceran di mana-mana. Genangan hitam pekat di atas tanah melebar dengan cepat di sekitar tubuh yang sudah terpisah dari organ lainnya. Aroma amis yang membasahi tanah sungguh membuat mual. Keiko hampir saja memuntahkan isi perutnya, tapi ditahannya sekuat tenaga. Sekarang bukan waktunya untuk menjadi lemah.


“Cepat panggil Hiro, aku akan menyalakan helikopternya,” ujar Andrew sambil memungut salah satu senjata dan menyerahkannya kepada Keiko.


“Oke. Hati-hati,” balas Keiko seraya menerima senjata yang diserahkan oleh Andrew dan menggunakannya sebagai alat penerang untuk kembali ke lokasi Hiro berada.


“Hiro!”


“Aku di sini,” jawab Hiro dengan suara lemah. Ia bukannya tidak mendengar pertempuran sengit yang baru saja terjadi. Akan tetapi, seluruh tubuhnya seolah mati rasa. Ia kedinginan hingga mulai menggigil.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Keiko ketika menyadari wajah Hiro yang sangat pucat saat terkena sorotan lampu.


“Ya. Jangan cemas. Tidak akan mati sekarang. Setidaknya, sebelum aku berhasil mendapatkan hatimu—“


“Berhenti membual.”


Keiko meletakkan tangan Hiro di bahunya, kemudian mulai memapahnya menyusuri jalan setapak. Dari kejauhan, samar-samar suara helikopter sudah terdengar.


Keiko menghela napas lega dan berkata, “Andrew sudah berhasil menyalakan benda itu. Jangan takut, setelah tiba di kota, kita akan mengobati lukamu.”


Hiro terkekeh pelan hingga membuatnya terbatuk dan nyaris kehabisan napas. Intonasi suara Keiko saat membicarakan Andrew benar-benar berbeda dibandingkan saat berbicara dengannya.


“Kamu benar-benar jatuh cinta kepada pria asing itu, ya?” tanya Hiro setelah berhasil mengatur napasnya kembali normal.


Tubuh Keiko sedikit menegang ketika mendengar pertanyaan Hiro. Jatuh cinta ... ya, ia memang jatuh cinta kepada Andrew Roux. Bukan karena ketampanan atau harta yang dimilikinya, tapi karena ... entah, ia selalu merasa aman dan tenang ketika berada di dekat pria itu. Ada semacam perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Bahwa jiwa mereka seolah terikat oleh benang merah yang tak kasat mata. Ah, bagaimana menjelaskannya kepada Hiro?


“Jangan salahkan aku. Kamu sendiri yang menitipkan aku kepadanya.” Akhirnya Keiko bergumam pelan setelah sibuk bergumul dengan pikirannya sendiri.


Hiro mendengkus dan membuang muka. Ia menitipkan Keiko kepada Andrew Roux karena merasa sudah tidak mungkin bisa lolos lagi. Siapa yang menyangka keadaan akan berbalik seperti ini? Salahkah jika ia ingin mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi miliknya?


“Um.”


“Pernah merisakmu?”


“Kadang-kadang bercandanya sedikit menjengkelkan, tapi tidak sampai menyakitiku.”


“Hum ... begitu ....” Senyum Hiro terlihat masam sekaligus pahit. Ia lalu kembali bertanya, “ Dia pernah menyentuhmu?”


Keiko terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kalau maksudmu menyentuh dalam arti yang tidak baik, dia tidak pernah melakukannya. Tidak pernah memaksaku melakukan apa yang aku tidak suka.”


“Bagus. Kalau dia memaksamu, aku sendiri yang akan mematahkan kaki dan tangannya.”


Kali ini giliran Keiko yang mendengkus. Ia mencibir sambil berkata, “Bukankah kamu sendiri yang hampir pernah melakukannya?”


“Itu ....” Kening Hiro berkerut dalam ketika mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat ia menyelinap diam-diam ke kamar Keiko. “Maaf, itu karena aku mabuk ... akumulasi dari rasa putus asa dan reaksi alami tubuhku membuatku melakukan hal tidak terpuji itu. Maafkan aku, ya.”


“Lupakan saja, aku hanya bercanda!” seru Keiko. Mereka sudah hampir sampai di dekat helikopter yang tampaknya sudah siap untuk lepas landas.


“Tidak. Aku benar-benar minta maaf. Mengenai ucapanku soal berubah menjadi lebih baik, aku bersungguh-sungguh, Keiko. Aku akan berusaha untuk menjadi seorang pria yang pantas dan layak berada di sisimu.” Pria itu agak berteriak karena suara baling-baling yang berputar kencang cukup mengganggu.


“Apa yang kalian bicarakan? Cepat sedikit! Musuh mulai berdatangan!” seru Andrew dari atas helikopter. Dari posisinya itu, ia bisa melihat kilatan cahaya yang semakin banyak bergerak liar di antara pepohonan.


Keiko terkesiap dan menoleh ke belakang. Andrew benar, di belakang sana puluhan cahaya menari tak beraturan dalam kegelapan, terlihat seperti pasukan kunang-kunang raksasa yang sedang mencari mangsa.


“Tekan tombol di dekat dinding itu!” teriak Hiro sembari menunjuk ke arah kanan.


Keiko mengarahkan lampu sorot ke sana dan menemukan tombol yang dimaksud oleh Hiro. Ia menekannya dan mundur satu langkah. Tak lama kemudian, terdengar suara dengungan yang cukup keras ketika atap di atas mereka terbelah menjadi dua dan menyusut ke sisi yang berlawanan. Kini langit malam terbentang luas di atas kepala mereka. Mendadak gadis itu menjadi bersemangat. Ia segera berlari kembali ke sisi helikoper dan melemparkan senjatanya ke kolong bangku belakang.


“Ayo, cepat naik,” ujar Keiko seraya membantu Hiro memanjat ke atas helikopter.


Usaha itu sedikit sulit karena Hiro yang terluka benar-benar sudah tampak kepayahan. Sedangkan tenaganya sendiri sudah cukup terkuras habis. Setelah membantu Hiro memakai sabuk pengaman, gadis itu memutar dan naik dari sisi sebelahnya.


“Kami sudah siap!" serunya kepada Andrew.


“Oke. Bersiaplah untuk lepas landas.”


Andrew menekan bulatan merah di sisi kanannya dan mendorong tuas. Perlahan kendaraan itu mulai membubung ke angkasa. Dari kejauhan, lampu-lampu terlihat bergerak semakin cepat dan tak beraturan. Lamat-lamat suara tembakan terdengar susul menyusul. Namun, itu semua perlahan memudar ketika helikopter yang dikendarai oleh Andrew melesat cepat di udara.


Di bangku belakang, Keiko menarik napas lega. Setidaknya kini ia bisa memejamkan mata sebentar ... benar-benar hari yang melelahkan ....


***