Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Cerewet sekali



Keiko masih mengantuk. Matanya masih sedikit terpejam ketika mendengar suara ketukan di daun pintu, juga suara Andrew yang memanggil namanya beberapa kali. Gadis itu bangun dan duduk di tepi ranjang, menguap sebentar sebelum berjalan ke pintu dan membukakannya.


“Ada apa ribut sepagi ini?” tanya Keiko dengan suara serak. Ia benar-benar masih mengantuk.


Tangan Andrew membeku di udara. Mulutnya terbuka seperti orang bodoh. Ia sama sekali tidak menyangka penampilan Keiko saat baru bangun tidur sungguh sangat menggoda. Anak rambut yang mencuat ke mana-mana tidak membuat gadis itu terlihat jelek sama sekali. Wajah polos tanpa make up itu terlihat seperti seorang anak kecil yang polos. Andrew sangat ingin memeluk pinggang Keiko yang mungil dan ******* habis bibir seksi yang merekah itu.


“Ada apa?” tanya Keiko lagi ketika melihat napas Andrew mulai memburu.


“Kamu cantik sekali. Aku benar-benar mencintaimu,” jawab Andrew tanpa berkedip.


“Huh?” Keiko terbengong, menatap pria di hadapannya dengan ekspresi bingung.


Apakah dia sedang mabuk?


“Aku bilang kamu cantik sekali, dan aku benar-benar mencintaimu,” ulang Andrew, masih tetap menatap Keiko dengan sorot memuja.


Keiko memutar bola matanya dan ingin menutup pintu,tapi Andrew buru-buru menahannya.


“Apakah masih sakit?” tanya Andrew untuk mengalihkan perhatian ketika menyadari Keiko sudah mulai memelototi dirinya.


Gadis itu menggeleng pelan. Obat yang dioleskan oleh Andrew sungguh mujarab. Rasa sakit di pergelangan kakinya sudah jauh berkurang. Memar dan bengkaknya pun sudah tidak terlihat lagi.


“Tidak terlalu. Terima kasih.”


“Baguslah kalau begitu,” ujar Andrew puas.


“Ada lagi?” tanya Keiko dengan datar. Ia bersedekap dan menanti jawaban Andrew sambil memberi tatapan penuh intimidasi kepada pria itu.


“Kamu mau sarapan apa? Aku akan membuatkannya,” ujar Andrew tanpa merasa terganggu sama sekali dengan sikap Keiko.


“Apa saja boleh.”


“Baik. Aku akan segera kembali. Beristirahatlah lagi, aku akan membangunkanmu kalau sarapan sudah siap,” ujar Andrew.


Keiko inging memarahi Andrew, mengapa tidak memasak saja dulu dan membangunkannya nanti. Namun, pria itu lebih dulu mengulurkan tangan untuk merapikan anak rambut Keiko, lalu mengusap pipinya dengan sangat lembut. Dia langsung pergi sebelum Keiko sempat memberikan reaksi.


Gadis itu termangu sesaat sebelum menutup pintu. Ia kemudian berjalan dengan tatapan kosong menuju ranjang dan merebahkan kepala di bantal, kemudian memejamkan mata. Rasa hangat dan lembut masih tertinggal di pipinya, seolah jemari Andrew masi berada di sana. Entah mengapa tiba-tiba rasa bahagia membuncah dari dalam hatinya, membuat seringai bodoh muncul di wajahnya.


Namun, tak lama kemudian gadis itu mengangkat tangan dan menepuk-nepuk pipinya pelan sambil bergumam, “Sadarlah, Keiko ... jangan sampai terjebak di dalam hal-hal yang akan menyusahkanmu kelak. Kalian dari dunia yang berbeda ....”


Senyuman tiba-tiba hilang dari wajah Keiko, digantikan oleh wajah lesu dengan sorot mata yang redup. Bukannya ia tidak memiliki ketertarikan sama sekali terhadap Andrew Roux. Kadang terbesit dalam hatinya untuk merespon sikap Andrew Roux. Ia juga ingin mempertimbangkan kemungkinan untuk menerima pernyataan cinta pria itu. Hanya saja ... mereka benar-benar berasal dari keluarga yang bertolak belakang.


Keiko memejamkan mata dan mulai berpikir. Katakanlah Andrew memang benar-benar mencintainya, tapi bagaimana dengan keluarga pria itu? Apakah mereka juga bisa menerima latar belakangnya yang kelam ini? Putri dari seorang mafia ... huh, apa yang bisa ia banggakan?


Selain itu, seperti yang dikatakan sendiri oleh Andrew sebelumnya, ada banyak wanita yang tergila-gila dan akan melemparkan diri dengan sukarela ke dalam pelukan pria itu. Ia tidak sanggup kalau harus bersaing dengan perempuan-perempuan dari kelas atas yang memiliki latar belakang yang lebih bagus. Ia sudah pasti tidak akan memenangkan apa pun, hanya akan menyakiti dirinya sendiri jika sungguh-sungguh jatuh cinta kepada pria itu tapi kemudian harus berpisah karena tidak sanggup menghadapi berbagai rintangan. Itu pasti akan terasa sangat menyakitkan.


Setelah bergelut dengan pikirannya yang rumit, Keiko menghela napas dan membuka matanya dengan berat hati, lalu langsung menjerit kencang ketika mendapati seraut wajah sedang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.


“Ap-apa yang kamu lakukan di sini?” seru Keiko seraya meraih bantal dan melemparkannya ke arah Andrew yang sedang berdiri di sisi ranjang sambil menatapnya lekat-lekat. Gadis itu buru-buru duduk dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya.


Andrew berkelit dengan mudah, lalu kembali ke posisinya yang tenang dan terlihat menjengkelkan sehingga membuat Keiko sangat ingin bangun dan menghajarnya sekuat tenaga.


“Aku sudah mengetuk pintu sejak tadi tapi kamu tidak menjawab, lalu aku melongok dan melihatmu menutup wajah sambil bergumam tidak jelas, jadi aku masuk karena takut kamu sedang kesakitan,” jelas Andrew dengan ekspresi wajah yang datar dan terlihat tidak bersalah sama sekali.


“Kesakitan apanya? Bukankah sudah kukaakan bahwa aku baik-baik saja? Bagaimana kalau aku sedang mengganti baju? Apa kamu akan tetap menerobos masuk?” cecar Keiko dengan mata bulat yang menyorotkan permusuhan. Semua rasa bahagia dan berbunga-bunga tadi mendadak menguap entah ke mana. Ia pasti sudah tidak waras karena sempat memuji pria itu dalam hati.


“Aku minta maaf. Jangan marah, ya? Aku hanya khawatir terjadi sesuatu kepadamu,” bujuk Andrew seraya duduk di sisi ranjang.


Keiko memutar bola matanya dan mendengkus sebal. Pria itu benar-benar mengagetkannya.


“Ada apa lagi?” tanya gadis itu masih dengan raut wajah yang masam.


Andrew tampak ragu sejenak sebelum menjawab, “Ada hal mendesak yang terjadi. Aku akan berangkat sebentar lagi. Patuhlah dan beristirahat di sini. Oke?”


Kontak dengan Clark dan Garry mendadak putus. Dua orang itu tidak bisa dihubungi sama sekali. Ia khawatir ada yang terjadi di luar rencana. Namun, Andrew tidak ingin membuat Keiko khawatir, jadi ia tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Keiko terdiam, terlihat jelas ingin memberontak dan membantah, tapi tatapan Andrew yang penuh permohonan membuatnya mengurungkan niatnya itu.


Akhirnya gadis itu hanya bisa mendesah pelan dan menjawab, “ Oke”


Andrew tersenyum puas dan berkata, “Orang yang akan menemanimu sebentar lagi akan datang, jadi jangan khawatir ....”


“Hm.”


“Istirahat dengan tenang, jangan pergi terlalu jauh dari dermaga.”


“Hm.”


“Ingat untuk menjaga dirimu baik-baik, jangan ceroboh, ingat makan tepat waktu.”


Keiko memutar bola matanya dengan ekspresi bosan dan kembali bergumam, “Hm.”


Ia merasa seperti seorang gadis kecil yang sedang dinasihati oleh ayahnya yang akan pergi bekerja. Rupanya Andrew Roux bisa lebih cerewet daripada seorang bibi tua.


***