Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Melindunginya



Injan Entertainment.


Wajah para pemegang saham tampak puas ketika berjalan keluar dari ruang rapat. Rupanya kekhawatiran mereka akan kemampuan sang CEO dalam memimpin perusahaan terbukti hanyalah rasa cemas yang berlebihan. Presentasi yang diberikan tadi sangat memuaskan. Hanya dalam jangka waktu kurang dari satu bulan, perkembangan Injan Entertainment telah melewati target yang ditetapkan sebelumnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kemampuan Hansel Roux.


Hansel keluar paling terakhir dari ruangan. Ia melihat jam di pergelangan tangan, sudah hampir pukul satu siang. Tidak terasa rapat kali ini lumayan lama.


Pria itu melonggarkan ikatan dasi dan berjalan menuju kantornya. Untunglah rapat kali ini berjalan lancar meski pikirannya bercabang. Entah mengapa wajah Cecille yang kekanak-kanakan dan keras kepala terus mengganggunya sejak tadi. Ia sedikit penasaran, berapa usia gadis itu sebenarnya? Dari penampilannya, dia terlihat seperti gadis berusia 22 tahun yang manja dan suka merajuk, tapi juga bertingkah seperti Nona Besar yang arogan dan angkuh. Benar-benar perpaduan yang menarik.


Hansel membuka pintu kantor dan berjalan menuju kursinya yang berada di dekat jendela. Ia melepaskan jas, lalu bersandar di kursi sambil memejamkan mata. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Jari-jarinya yang sedang mengetuk-ngetuk meja tiba-tiba berhenti. Ia mengambil ponsel dan mengetik pesan.


Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?


Kirim.


Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan balasan muncul di pop-up.


Siapa?


Seringai di wajah Hansel semakin lebar. Benar-benar gadis angkuh. Bahkan membalas pesan pun sesingkat ini.


Ck. Gadis Bodoh, ini aku. Apakah ibumu sudah datang?


Hansel menunggu, tapi ponselnya tidak berbunyi lagi. Ia berdiri dan bersandar di tepi jendela, lalu menatap ponsel di tangannya seperti sedang memeriksa dokumen perusahaan yang sangat penting.


Lima menit berlalu tanpa balasan. Alis Hansel bertaut di kening. Haruskah ia mengirimkan pesan lagi untuk menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh gadis bodoh itu sehingga tidak membalas pesannya? Atau langsung meneleponnya saja? Akan tetapi, apakah itu tidak terlihat terlalu mencolok? Terlalu memaksa.


“Sebaiknya tunggu saja,” gumam pria itu seraya memutar-mutar ponsel di tangannya.


Ia kembali duduk dan membuka berkas di atas meja, mencoba untuk membacanya dengan teliti. Namun, berkali-kali pula matanya melirik ke arah ponsel dengan tidak sabar.


Sialan! Benar-benar tidak bisa berkonsentrasi!


Pria itu bangun dan mulai berjalan mondar-mandir di tengah ruangan, bingung untuk memutuskan apakah akan mengirim pesan lagi atau langsung menelepon saja. Kemudian ia tiba-tiba berhenti ketika menyadari mengapa harus gelisah karena gadis sialan itu? Tidak mau membalas pesannya, ya sudah!


“Memangnya dia pikir dia siapa? Huh,” gerutunya dengan wajah masam.


Hansel berbalik dan melangkah kembali ke kursinya, bersamaan dengan suara itu, terdengar suara ketukan yang sedikit terburu-buru. Tak lama kemudian, kepala Betty menyembul dari balik pintu meski ia belum menyuruhnya untuk masuk.


“Maaf, Tuan, ada telepon dari kantor polisi.” Wajah Betty terlihat pucat dan gugup.


“Marquess of Alrico dan putrinya ditahan dengan tuduhan penganiayaan terhadap Bryan Scoth. Anda juga dituntut karena bersekongkol dengan mereka. Polisi sedang dalam perjalanan kemari,” imbuhnya lagi sambil meremas tangan dengan gelisah. Injan Entertainment belum lama berdiri, jika diterpa gosip miring karena sang CEO bermasalah dengan hukum, takutnya akan mempengaruhi reputasi mereka.


Wajah Hansel berubah suram. Pantas saja ....


“Saya akan menghubungi pengacara perusahaan untuk—“


Betty terpana dan bingung, tapi tetap mengangguk dengan sopan dan meninggalkan ruangan itu tanpa banyak tanya. Setelah pintu di depannya tertutup, sorot mata Hansel yang suram berubah dingin. Tangannya terkepal erat hingga pembuluh darahnya menonjol di permukaan kulit.


Bryan, si Keparat itu ... benar-benar cari mati. Nyalinya lumayan juga ....


Hansel berjalan menuju meja kerjanya dan membuka laci. Ia meraba di bagian atas dan menekan bulatan kecil yang tersentuh oleh telunjuknya. Sebuah kotak rahasia terbuka dari bagian samping. Ada tiga pucuk pistol dan sebuah telepon seluler dengan model kuno. Ia mengambil telepon seluler dan menyalakannya. Segera setelah benda itu hidup, ia mengetik pesan dan mengirimkan nya kepada satu-satunya nomor yang ada di kontak.


Bawa Bryan Scoth kemari.


Setelah mengirim pesan, Hansel mematikan ponselnya dan mengembalikan benda itu ke tempat semula. Ketika kotak kecil itu didorong ke samping, hanya terlihat alat tulis dan aneka faktur di dalam laci. Ia lalu duduk dengan tenang dan melanjutkan pekerjaannya.


Ketenangannya itu tidak terusik sama sekali saat dua orang petugas berseragam tiba di kantornya untuk mengonfirmasi pemukulan yang dilakukan olehnya semalam di Berlyn’s Club.


“Aku hanya melindungi Cecille. Bajingan itu mencoba untuk memperkosanya.”


“Tapi menurut Bryan Scoth, dia hanya mabuk dan salah masuk toilet. Anda tiba-tiba datang dan menghajarnya karena cemburu buta. Benar demikian?” tanya seorang polisi yang bertubuh bongsor.


“Aku menghajarnya karena dia lebih dulu memukuli Cecille sampai lebam. Kalian tidak bisa melihatnya? Kalau tidak, periksa saja rekaman kamera CCTV.”


“Tidak ada lebam di tubuh Nona Cecille, dan lagi ... kamera CCTV tidak merekam apa pun. Kamera itu rusak sejak dua hari lalu. Pengurus gedung belum sempat memperbaikinya.”


Kening Hansel berkerut. Tidak ada lebam? Mungkinkah karena pengaruh obat? CCTV rusak ... heh ... kemampuan Bryan Scoth ini tidak terlalu buruk, tapi masih kalah jauh jika dibandingkan dengan dirinya ....


“Karena Anda sudah mengakui tindak kekerasan itu, silakan ikut kami ke kantor,“ ucap si polisi bertubuh bongsor. Ia lebih dulu berdiri, diikuti oleh rekannya yang terlihat lebih pendiam.


“Baiklah ....” Hansel bangun dan mengikuti kedua orang itu dengan tenang. Ia berpesan kepada Betty untuk meredam gosip yang mungkin akan muncul karena ia pergi dengan dikawal dua orang polisi.


Saat tiba di kantor polisi, tatapannya langsung tertuju pada Cecille yang sedang duduk di ruang tunggu. Sang Marquess dan istrinya tidak terlihat, sepertinya belum selesai diinterogasi. Saat mata mereka bertemu, gadis itu menatapnya dengan sorot yang penuh keluhan, seperti kelinci kecil yang tertindas dan meminta perlindungan.


“Tunggu sebentar,” pinta Hansel kepada dua orang polisi yang mengawalnya.


Ia segera menghampiri Cecille yang berdiri dengan mata berkaca-kaca. Benar-benar terlihat sangat kasihan. Hansel mengulurkan tangan dan memeriksa lengan gadis itu. Lebamnya memang sudah hilang, pipinya pun sudah tidak bengkak lagi.


“Mama yang memberi obat,” jelas gadis itu tanpa ditanya, “Tahu begini, biarkan saja tetap lebam dan bengkak ....”


Hansel tersenyum tipis dan menyelipkan ikal rambut keemasan di balik telinga Cecille sambil bergumam pelan, “Tenang saja, dia tidak akan mengganggumu lagi.”


Mata Cecille membola. Suara Hansel sangat pelan, ia harus memfokuskan seluruh indra pendengarannya untuk memahami apa yang baru saja diucapkan oleh pria di depannya itu. Namun, sebelum ia sempat memberikan reaksi, Hansel sudah berputar dan berjalan bersama polisi menuju ruang interogasi.


Apa maksud pria itu barusan?


Cecille meremas tangannya dengan gugup. Apakah Hansel Roux sedang berusaha untuk melindunginya?


***