
Tidak sampai lima menit kemudian, suara baling-baling yang berputar cepat di langit menarik perhatian Keiko. Gadis itu melotot ketika melihat Andrew melompat turun dari atas kendaraan yang belum berhenti dengan sempurna itu.
“Hati-hati!” teriak Keiko tanpa sadar sehingga membuat luka di pinggangnya seolah tertarik dan berdenyut nyeri. Ia mendesis dan bergumam pelan karena menahan rasa sakit.
Kedua kaki Andrew menapak dengan stabil ke atas tanah. Tanpa memedulikan yang lain, pria itu segera berlari menghampiri kekasihnya yang tampak sedang kesakitan. Hanya dalam lima langkah lebar ia sudah sampai di hadapan Keiko. Perlahan ia berjongkok untuk menyamakan posisi tubuhnya dengan gadis itu, lalu menangkup wajahnya dengan hati-hati.
“Kamu ceroboh sekali!” ujar kedua orang itu bersamaan.
Keiko melotot lagi dan mengulangi perkataannya, “Ceroboh sekali! Melompat seperti itu, tidak takut kakimu terkilir?”
Andrew menatap datar ke arah Keiko, tidak tahu harus tertawa atau menangis. Penampilan gadis itu lebih menyedihkan, tapi masih sempat mengkhawatirkan dirinya yang melompat dari helikopter. Ia ingin memarahi kekasihnya itu karena tidak menuruti perkataannya dan keluar dari tempat persembunyian. Namun, melihat kondisinya yang seperti ini membuat Andrew tidak tega melakukannya.
Akhirnya pria itu hanya bisa mendesah pelan dan berkata, “Maafkan aku, sudah membuatmu khawatir. Lain kali akan lebih berhati-hati.”
Melihat ekspresi Andrew yang tak berdaya itu membuat Keiko merasa bersalah. Ia menggigit bibir dan menunduk, tahu kalau ia pun telah membuat pria itu cemas karena keluar dari tempat persembunyian.
“Maaf, aku ....”
“Tidak apa-apa. Ayo, lukamu harus segera diobati,” sela Andrew seraya membungkuk dan meletakkan tangannya di bagian tubuh Keiko yang tidak terluka. Ia lalu mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan berjalan menuju helikopter.
Kali ini Keiko tidak membantah. Ia melingkarkan tangannya di leher Andrew dan berpegangan erat-erat. Semua rasa takutnya sudah hilang. Ia tahu, selama ada Andrew di sisinya maka semuanya pasti akan baik-baik saja.
“Sakit tidak?” tanya Andrew saat melihat noda merah di sekitar pinggang gadis itu.
Keiko menggeleng dan menjawab, “Tidak terlalu. Sudah lebih baik sejak kamu datang.”
Andrew mendengkus dan membalas, “Hanya kutinggal sebentar saja, kamu sudah pandai bermulut manis, hum?”
Ia mempercepat langkah kakinya menuju helikopter, lalu sedikit menunduk dan masuk dengan hati-hati.
Keiko terkekeh pelan dan bersandar di dada Andrew, mendengarkan degup jantungnya yang kuat dan stabil. Betapa menyenangkannya kalau ia bisa mendengarnya seumur hidup ... hanya mendengar detak jantungnya seorang, tidak ada yang lain ....
“Kenapa kamu kembali?” tanyanya setelah Andrew masuk dan duduk di dalam helikopter. Sekilas ia masih bisa melihat Kim masuk dan duduk di dalam helikopter yang lain. Jadi, di dalam kendaraan itu kini hanya ada mereka berdua saja, tentu saja selain pilot di depan.
“Masih ingin tahu alasannya?” balas Andrew seraya menoleh dan menatap Keiko lekat-lekat, membuat gadis itu gugup dan mengalihkan pandangannya sambil tersipu malu.
“Ayo, berangkat!” perintah Andrew pada anak buahnya yang duduk di kokpit, “Langsung ke rumah sakit militer terdekat.”
“Siap, Kapten!”
Baling-baling helikopter kembali berputar cepat. Kendaraan itu kembali mengudara dan melesat menuju tempat yang disebutkan oleh Andrew barusan.
Mendengar perintah Andrew itu, Keiko buru-buru mendongak dan bertanya, “Apakah tidak apa-apa jika pergi ke sana? Bukankah mereka sedang mencarimu? Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil. Lebih baik diobati sendiri.”
Andrew tersenyum lembut mendengar perkataan Keiko yang bertubi-tubi. Ia menopang tubuh gadis itu dengan satu tangan, lalu tangan yang lain mengusap kepalanya dengan penuh rasa sayang.
“Jangan khawatir. Semua bukti rekaman Mr.Durrant sudah kuserahkan ke markas pusat. Nama baikku sudah pulih. Kini hanya tinggal mengurus orang yang menyandera Clark dan Leon saja,” jelas Andrew tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Keiko.
“Oh ... syukurlah kalau begitu. Bagus sekali ... aku benar-benar lega,” ujar Keiko seraya menghela napas dalam-dalam. Akhirnya semua kegilaan ini berakhir. Ia sungguh merasa tenang sekarang.
Merasakan napas Andrew yang terus menerpa wajahnya membuat Keiko sedikit kikuk. Ia baru sadar kalau sejak tadi masih berada dalam dekapan pria itu.
Gadis itu melepaskan tangannya dari leher Andrew dan berkata, “Aku bisa duduk sendiri. Turunkan aku.”
“Kamu terluka. Tempat duduknya terlalu keras. Kenapa? Apakah pelukanku kurang nyaman?”
“....”
“Kenapa diam? Mana yang tidak nyaman?”
“Aku ... tidak nyaman karena terus dipeluk olehmu,” gumam Keiko pelan.
Andrew terkekeh dan mendekatkan wajahnya hingga kening mereka berdua saling menempel. Ia meraih jemari Keiko dan meletakkannya di dadanya yang berdetak tak beraturan.
“Tapi aku ingin terus memelukmu. Seumur hidup hanya memelukmu seorang. Boleh tidak?”
Tiba-tiba terdengar suara batuk beberapa orang bergema dalam kabin helikopter. Keiko menyipit dan memperhatikan alat komunikasi Andrew.
“Biarkan saja. Paling-paling mereka akan iri. Salah siapa kekasihku sangat cantik dan imut,” balas Andrew dengan suara yang sengaja dibuat lebih keras.
Keiko mengangkat tangannya dan meninju dada Andrew dengan kesal. Bibirnya mengerucut, tapi tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulutnya. Ia takut Andrew akan semakin bertingkah dan menggodanya.
Tahu bahwa gadis dalam dekapannya mulai kesal, Andrew mematikan sambungan komunikasinya. Ia meraih wajah Keiko hingga gadis itu kembali menatap ke arahnya.
“Sakamoto Keiko, berjanjilah kamu tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, ya? Kamu hampir membuatku mati karena serangan jantung. Kamu tahu itu?”
“Baik. Lain kali akan patuh,” jawab Keiko dengan sungguh-sungguh.
Andrew tersenyum puas mendengar jawaban itu. Ia berkata, “Gadis pintar.”
“Aku bukan anak kecil,” protes Keiko. Ia selalu merasa seperti seorang bocah perempuan yang dipuji oleh ayahnya setiap kali Andrew menyebutnya “gadis pintar”.
Mendengar protes itu, Andrew hanya terkekeh pelan. Di matanya, Sakamoto Keiko terlihat seperti seorang gadis imut yang menggemaskan.
“Andrew ....”
“Hum?”
“ Terima kasih sudah kembali untukku,” ujar Keiko dengan tulus. Dari dasar lubuk hatinya, ia sungguh berterima kasih karena Andrew mau bersusah payah kembali untuk menyelamatkannya.
“Dengan pacar sendiri, tidak perlu terlalu perhitungan,” jawab Andrew dengan santai.
Ia menyentuh dagu Keiko dan melanjutkan, “Ngomong-ngomong, gadisku ini sangat hebat. Meski membuatku hampir terkena serangan jantung, tapi kemampuanmu benar-benar patut diacungi jempol.”
Keiko merona. Meski begitu, matanya berbinar bahagia. Rasanya belum pernah sebangga ini ketika dipuji oleh orang lain.
Melihat Keiko yang berbinar-binar sambil mengulum senyum, Andrew segera menambahkan, “Tapi ingat yang kukatakan sebelumnya, jangan pernah mengulanginya lagi.”
“Baik, Suamiku,” goda Keiko seraya terkekeh pelan. Saat ini rasa sakit di sekujur tubuhnya sudah tidak separah tadi. Mungkin karena endorfin sudah memenuhi seluruh syarafnya, mungkin juga karena kehadiran Andrew Roux membuatnya merasa aman dan bahagia.
Namun, tawa gadis itu tiba-tiba berhenti ketika merasakan cekalan di lengannya mengetat. Ia mendongak dan menatap Andrew dengan ekspresi penuh tanya. Mengapa tiba-tiba pria itu memberikan reaksi yang sedikit aneh?
“Katakan sekali lagi,” pinta Andrew dengan raut wajah yang sangat serius.
“Apa?” tanya Keiko, semakin heran melihat ekspresi pria itu.
“Yang baru saja kamu ucapkan,” ulang Andrew. Raut wajahnya dipenuhi sorot penuh harapan dan kesungguhan.
Keiko tahu apa yang dimaksudkan oleh pria itu, tetapi memilih berpura-pura bodoh dan tidak tahu.
“Yang mana?” tanya gadis itu lagi dengan mimik wajah yang tampak polos dan suci.
Andrew gemas karena tahu Keiko sedang mempermainkannya, tapi hanya bisa menghela napas dan menatap langit biru di luar jendela.
“Tunggu sampai kita menikah. Lihat bagaimana aku akan membereskanmu,” gumamnya pelan, benar-benar merasa tidak berdaya.
Ancaman itu membuat Keiko langsung bungkam. Ia menariki kemeja Andrew dan berkata, “Maaf, ya ... tidak menggodamu lagi.”
Andrew mendengkus dan melirik ke arah Keiko dengan mata menyipit. Ia sengaja tidak mau menjawab, diam-diam menikmati ekspresi panik di wajah gadis itu. Dalam penampilan yang acak-acakan dan gugup seperti ini pun Sakamoto Keiko tetap terlihat menarik ... ah, ia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.
***
Haiii...
Othor penasaran, apakah ada kaum adam yang juga membaca kisah ini? Atau hanya cewek2 kece yg nunggu Mr.Roux update tiap hari?😆
Btw, tak bosan2nya saya kasih tahu kalau setiap komen,like,dan vote kalian itu bener2 mood booster untuk saya😍
makasih yaaa kesayangan🥰🥰