
Andrew berpura-pura tidak melihat gadis yang hampir membenamkan wajahnya ke meja di hadapannya dan makan dengan tenang. Suasana hatinya cukup baik. Masakan Keiko lumayan enak, meski tidak seenak hidangan dari restoran bintang lima, tapi sangat cocok dengan lidahnya. Bumbunya tidak terlalu pedas dan tidak terlalu berminyak, cita rasa makanan rumahan yang khas.
“Makan malam ini enak sekali, terima kasih,” gumam Andrew seraya membereskan piring dan mangkuknya.
Keiko yang juga sudah selesai makan segera mendongak, menatap Andrew yang hanya berjarak satu meter di depannya. Sejujurnya, ini pertama kali ia memasak untuk orang lain ... selain untuk ayahnya. Mendengar pujian atas hasil masakannya membuat gadis itu cukup senang. Pundaknya yang kaku dan tegang sejak tadi kini sedikit terkulai.
“Terima kasih juga untuk semua bantuanmu, aku sangat menghargainya,” balas Keiko sambil bangun dan merapikan sisa makanan di atas meja.
Andrew segera membantu gadis itu membawa piring kotor ke wastafel dan mencucinya, sementara Keiko bersandar di pinggir kursi dan menatap siluet yang menjulang di samping kulkas itu. Di bawah cahaya lampu yang redup, seorang pria yang tinggi dan kokoh sedikit menunduk untuk membasuh sabun di piring dan mangkuk. Gerakannya terlihat alami, menandakan kalau pria itu cukup sering melakukan pekerjaan rumah tangga.
Tanpa sadar bibir tipis Keiko melengkung ke atas. Dalam bayangannya, seorang tuan muda yang merupakan pewaris tunggal dari Phoenix.Co adalah pria yang arogan dan sulit dilayani. Siapa sangka hanya dengan dua jenis sayuran tumis dan satu porsi sup daging sudah membuatnya rela mencuci piring dan mangkuk?
“Apa yang kamu tertawakan?”
“Huh? A-apa ... t-tidak ada ....”
Keiko mengerjap-ngerjap cepat ketika menyadari Andrew sudah berdiri di depannya. Sangat dekat. Terlalu dekat hingga aroma mint yang segar terasa menggelitik ujung hidungnya. Gadis itu ingin mundur, tapi pinggangnya sudah menempel di meja.
“K-kamu ... mundur sedikit,” pinta Keiko dengan wajah memerah.
“Tidak mau,” jawab Andrew dengan suara sedikit serak.
Ia tidak ingin mundur. Ia ingin menggodanya. Siapa suruh ketika ia berbalik tadi langsung mendapati gadis itu sedang mengulum senyum seraya menatap ke arahnya. Entah gadis ini sadar atau tidak kalau penampilannya yang seperti itu benar-benar sangat menggoda.
“Apa yang ... apa yang kamu lakukan?” bisik Keiko ketika tubuh Andrew semakin mendekat, bahkan hampir menempel dengan tubuhnya sendiri.
Andrew mengulurkan tangan dengan santai, lengannya yang kokoh melewati daun telinga Keiko. Sapuan angin dari gerakan itu membuat Keiko sedikit bergidik dan merinding. Ia mengelak hingga punggungnya sedikit melengkung ke belakang.
“Menyingkir!” seru Keiko sambil melotot.
Ia sudah bersiap dan memasang kuda-kuda ketika tangan Andrew kembali bergerak di sisi tubuhnya, lalu berhenti di depan wajahnya. Pria itu menggoyang-goyangkan gelas di depan hidungnya.
“Apa yang kamu takutkan? Aku hanya ingin mengambil ini,” ujar Andrew dengan wajah polos, seolah ia tidak sedang melakukan sesuatu yang salah. Pria itu mendekatkan gelas ke bibirnya dan meneguk isinya dengan santai.
“K-kamu ... kamu ....”
“Apa?”
“Memangnya tidak bisa memutar dari arah lain?”
“Dari sini lebih dekat.”
“....”
Keiko kehabisan kata-kata, hanya bisa terus memelototi Andrew dengan tangan terkepal erat. Ia merasa malu sekaligus marah. Pria di hadapannya ini memang minta dihajar sampai babak belur!
Andrew terkekeh pelan melihat ekspresi jelek di wajah Keiko. Ia mengangkat tangan untuk mengusap puncak kepala gadis itu sambil berkata, “Oke ... oke ... aku yang salah, tidak bercanda lagi.”
Keiko mendengkus dan menepis tangan Andrew dengan kesal. Ia hendak berjalan keluar dari ruangan itu, tapi lagi-lagi lengan Andrew menghalangi langkahnya.
“Bukankah kamu ingin bernegoisasi?” tanyanya seraya menaikkan alisnya.
Keiko membuka mulutnya untuk membantah, tapi lalu teringat niatnya untuk membalaskan dendam ayahnya. Akhirnya ia hanya bisa mengembuskan napas dengan keras dan kembali duduk di kursi. Ia melirik sekilas ke arah Andrew yang masih mengulum senyum di depannya, lalu mencibir sebelum berkata, “Aku mungkin memiliki benda yang kalian cari.”
“Oh.”
Keiko mengernyit dengan tidak senang.
Hanya “oh”?
Respon macam apa itu?
Ia pikir setidaknya Andrew akan menatapnya dengan berbinar-binar dan memohon agar ia memberitahu di mana benda yang mereka cari berada. Namun, dugaannya salah. Pria itu hanya mengatakan “oh” dan berdiri di sana dengan tenang, seolah semua itu tidak ada hubungannya dengan dia. Keiko yang sudah sedikit tenang kembali kesal.
“Apanya yang ‘oh’?” tanya Keiko seraya menatap Andrew dengan tajam. Ia bersedekap dan memerhatikan respon pria itu dengan teliti, berharap menemukan sebuah kejanggalan dari gerak-gerik pria yang tidak bisa ditebak itu.
“Lanjutkan. Bukankah kamu memiliki persyaratan?” balas Andrew seraya duduk di kursi yang sebelumnya ia gunakan ketika makan.
“Itu ... aku ....”
Tangan Keiko mengepal dengan kuat, seolah mengumpulkan seluruh keberaniannya sebelum melanjutkan, “Aku ingin terlibat dalam operasi yang akan kamu lakukan bersama anak buahmu. Apa pun itu, aku ingin terlibat di dalamnya. Aku ingin—“
“Tidak bisa.”
“Apa katamu?”
“Aku bilang tidak bisa,” ulang Andrew dengan sangat tenang. Ia bisa melihat pemberontakan dan kemarahan yang menggelegak dalam manik bulat Keiko, tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk menolak permintaan gadis itu.
“Kenapa?” cecar Keiko seraya menggertakkan giginya kuat-kuat.
“Tidak sepadan. Masalah sepele ini jika dibandingkan dengan keselamatanmu, itu sama sekali tidak sepadan.”
“Masalah sepele?” cibir Keiko sinis, “Itu sama sekali tidak sepele. Hal-hal yang berhubungan dengan ayahku sangat berarti, bahkan jika harus mati pun aku rela.”
“Tapi aku tidak rela. Apalagi jika sampai membahayakan nyawamu. Aku sama sekali tidak rela.”
Nada suara Andrew masih terdengar tenang dan stabil, sama sekali tidak terpengaruh dengan perubahan emosi lawan bicaranya. Ketenangan Andrew Roux sungguh tidak dapat dibandingkan dengan apa pun. Oleh karena itu, Keiko hanya bisa menahan napas dan menatap pria itu dengan sorot yang membara, seolah sedang membakar tubuh pria itu dengan api yang tidak terlihat.
“Jangan memelototiku seperti itu,” gumam Andrew pelan sambil tersenyum lembut, “Aku berjanji akan menyerahkan pembunuh ayahmu kepadamu. Kamu bisa menanganinya sendiri nanti, ketika aku berhasil menangkapnya.”
Keiko masih tetap mengunci mulutnya, terlalu malas untuk berbicara omong kosong dengan pria di hadapannya.
“Mengenai benda yang kamu miliki itu, jika kamu memberitahukannya kepadaku, maka akan lebih mudah untuk memecahkan masalah yang rumit ini. Tapi kamu tidak boleh terlibat sama sekali. Cukup berikan kepadaku dan aku akan membereskannya. Jika tidak mau, kamu juga tetap tidak boleh melakukan apa pun. Duduk dengan tenang di sini sampai aku menemukan cara untuk mengatasinya. Kamu hanya boleh pergi ketika aku mengatakan sudah aman. Oke?”
Meski tampak santai dan tidak menampilkan ekspresi apa pun, Keiko dapat menebak bahwa Andrew sudah membuat keputusan yang tidak akan tergoyahkan. Hal itu membuatnya semakin kesal sekaligus merasa tidak berdaya, tapi ia tahu tidak ada gunanya membantah. Pria seperti Andrew Roux bukan tipe orang yang mudah dibujuk atau diprovokasi, ia tahu hal itu dengan sangat jelas.
Keiko mengalihkan tatapannya, mengumpat dan memarahi Andrew dalam hati sebelum akhirnya menjawab, “Oke.”
Memangnya apalagi yang bisa ia lakukan? Dirinya benar-benar tidak berdaya tiap kali menghadapi pria itu.
***
Hai...hai...haiii...
Makasih banyak untuk like, vote, tips dan komentar2 seru dari kalian😍
Sebagai ungkapan terima kasih, othor kasih bonus hari ini. Semoga suka yaa..
Mwuah!
***