
Suara tangis bayi menggema di lorong-lorong rumah sakit saat masih pagi buta. Marco Roux dan Alfred yang sedang menunggu di depan langsung melonjak bangun, saling menatap dengan ekspresi campur aduk, kemudian berpelukan dan melompat-lompat kecil.
“Cucuku sudah lahir! Alfred, mereka sudah lahir! Oh, astaga .....”
“Selamat, Tuan! Anda sudah menjadi seorang kakek,” ucap Alfred seraya menepuk-nepuk pundak Marco.
Mata Marco Roux berkaca-kaca. Ia sangat senang sampai rasanya hampir pingsan. Semalam saat Andrew mengabari bahwa Keiko mulai mulas, ia langsung menyuruh putranya itu untuk membawa Keiko ke rumah sakit yang sudah dipersiapkan khusus untuk Keiko saat akan melahirkan. Cucunya lahir tiga minggu lebih awal dari HPL sehingga membuatnya sedikit cemas.
Saat Keiko dibawa masuk ke dalam ruang bersalin sekitar delapan jam lalu, rasanya perut Marco Roux ikut melilit. Ia tidak bisa duduk dengan tenang, berdiri pun lututnya terasa goyah. Kini semua penderitaan itu berakhir saat suara tangisan yang kencang terdengar dari dalam ruang bersalin. Sekarang ia sangat ingin melihat kedua orang bayi itu, tapi sepertinya belum boleh masuk, hanya bisa berjalan mondar-mandir di depan kamar sambil meremas jarinya dengan gugup.
“Ayah.”
Marco Roux melompat dan berputar dengan cepat ketika mendengar suara putranya. Andrew berdiri di depan pintu sambil menggendong seorang bayi lucu yang terbalut selimut putih bersih. Marco segera menghampiri anak dan cucunya dengan langkah tergesa.
“Dua-duanya laki-laki,” ucap Andrew saat melihat ayahnya ingin menyentuh bayi di dekapannya, tapi ayahnya tampak ragu-ragu. Sorot mata pria tua itu tampak takjub, seakan sedang menatap sebongkah berlian langka yang paling mahal di dunia.
“Cucuku ...,” gumam Marco dengan mata yang kembali berkaca-kaca. “Oh, ya ampun ... dia sangat lucu. Mana yang satu lagi?”
“Masih ditangani oleh perawat. Tunggulah di kamar pasien, Ayah. Sebentar lagi mereka akan dibawa ke sana bersama Keiko.”
“Apa menantuku baik-baik saja?”
“Jangan cemas, kondisinya sedikit lemah, tapi kata dokter tidak ada pendarahan atau semacamnya yang patut dicemaskan.
“Oh, syukurlah ... kalau begitu aku akan menunggu kalian di sana.” Marco Roux segera berbalik dan menarik tangan Alfred pergi ke ruap VIP yang sudah disiapkan sebelumnya.
Andrew tersenyum lebar dan membawa bayinya kembali masuk ke ruangan. Keringat sebesar biji jagung menetes di kening dan punggungnya. Delapan jam menemani istrinya menahan rasa sakit dan berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anak-anak mereka membuatnya napasnya juga hampir putus.
Saat melihat Keiko sangat kesakitan membuatnya sangat tersiksa karena tidak bisa melakukan apa pun untuk meredakannya. Untunglah semuanya sudah berakhir sekarang. Bayi laki-laki yang sangat sehat dan menggemaskan dalam gendongannya terus menatap ke arahnya dengan ekspresi yang sangat lucu, membuatnya ingin menciumnya berulang kali.
“Maaf, Tuan, kami akan memindahkan bayi dan ibu mereka ke kamar,” ucap seorang perawat yang berdiri di dekat inkubator.
“Baik. Hati-hati.”
Perawat itu mengambil bayi dari gendongannya dan memindahkannya ke inkubator. Andrew kemudian menghampiri Keiko yang masih terbaring lemah di atas brankar. Rambutnya tampak basah dan lengket karena keringat, tapi pakaiannya sudah diganti dengan yang bersih. Ada infus di punggung tangan kanannya. Penampilannya itu membuat Andrew merasa sangat kasihan. Ia menunduk dan mencium kening istrinya dengan hati-hati. Namun, Keiko tetap terbangun karena gerakan ringan itu.
“Aku membangunkanmu?”
Keiko menggeleng dan tersenyum. Ia tidak benar-benar tidur, hanya memejamkan mata untuk mengumpulkan kembali energinya yang terserap habis.
“Di mana anak-anak?”
“Ada di inkubator. Kalian akan dipindahkan ke kamar.”
“Oh ... oke.”
Keiko kembali memejamkan mata saat brankarnya didorong keluar. Andrew berjalan di sampingnya sambil menggenggam jemarinya yang bebas. Tindakan itu mengundang decak kagum sekaligus rasa iri dari para perawat. Mereka juga ingin menikah dan memiliki suami seperti itu!
Saat tiba di kamar, Marco langsung pergi ke inkubator untuk melihat cucunya yang berbaring bersisian. Ia benar-benar menangis karena bahagia pada saat itu, membuat si Tua Alfred kewalahan karena harus membujuknya.
“Terima kasih telah berjuang untuk melahirkan anak-anak ini,” ucapnya kepada Keiko.
“Sama-sama, Ayah,” balas Keiko seraya tersenyum tipis.
Setelah merasa puas melihat dan mengambil foto cucunya, Marco meminta agar perawat membawa bayi itu kepada ibunya.
“Aku akan pulang dan mempersiapkan acara untuk menyambut bayi ini pulang ke mansion. Oh, aku akan mengirim beberapa pelayan untuk membantu di sini,” ucap Marco Roux sebelum keluar dari ruangan.
Andrew hanya mengangguk sekilas, sedangkan Keiko hanya bisa menghela napas pasrah. Biarkan saja pria tua itu melakukan apa pun untuk menyambut cucunya.
Seorang perawat membawa seorang bayi yang dibungkus kain putih dan membaringkannya di sisi Keiko. Bayi itu balik menatapnya dengan mata bulatnya yang tampak sangat imut.
"Ini kakaknya," ucap si perawat.
“Ini adiknya,” ujar perawat itu lagi seraya membaringkan satu lagi bayi laki-laki yang dibungkus kain biru muda di samping Keiko. “Mereka sangat tampan dan sehat. Selamat, ya, Nyonya. Anda sangat beruntung.”
Menyaksikan bagaimana Andrew Roux mendampingi istrinya selama proses persalinan dengan cara water birth membuatnya merasa sangat iri. Pria itu memeluk dan membujuk istrinya dengan sangat telaten, jelas menunjukkan betapa besar cinta pria itu untuk istrinya.
Keiko mendesah tak berdaya.
“Kalian tidur di perutku selama sembilan bulan, aku kesakitan setengah mati saat melahirkan ... tapi lihat, wajah siapa yang kalian ambil,” gumamnya seraya mengusap pelan pipi si bungsu dengan telunjuknya.
Mendengar keluhan istrinya, Andrew terkekeh pelan dan membalas, “Mereka putraku, tentu saja harus mirip denganku.”
Keiko memutar bola matanya dan mengerucutkan bibir. “Dasar narsis,” gerutunya pelan.
“Lihat, Mama sangat susah menjaga kalian di dalam perut dan melahirkan kalian dengan penuh perjuangan, kelak ... harus patuh kepada Mama, kalau tidak, Papa akan memukul pantat kalian dengan keras.”
Kedua bayi itu sontak meraung kencang. Seperti sedang melakukan paduan suara, kedua bayi itu menangis dengan sangat sedih. Andrew langsung terkejut dan tidak tahu harus melakukan apa.
Keiko memelototi suaminya dan mengulurkan tangan untuk mengusap-usap bayinya dengan sangat lembut, tapi sang bayi masih tetap menangis.
“Mungkin mereka lapar, Nyonya.”
Sang perawat mendekat dan membantu Keiko mencari posisi nyaman untuk menyusui. Si kakak menyusu lebih dulu. Bocah itu menyusu dengan sangat rakus. Ekspresi wajahnya terlihat sangat kasihan sehingga Keiko tergerak untuk membujuknya.
“Jangan dengarkan Papa kalian, kalau dia berani memukul, Mama akan menendang bokongnya dengan keras,” gumam Keiko dengan penuh rasa sayang.
Ajaib, dua bayi itu langsung berhenti menangis. Kini mereka justru terkekeh-kekeh hingga mata bulat mereka tampak menyipit. Si sulung sampai berhenti menyusu sesaat karena ikut tertawa bersama adiknya.
Andrew terpana dan menatap kedua putranya bergantian, kemudian mengeluh, “Kalian ini benar-benar ....”
Keiko tertawa puas. Meski sangat mirip dengan Andrew, tapi kedua anaknya sangat patuh dengannya. Begitu juga sangat bagus.
Wanita itu melirik suaminya dan berkata dengan sombong, “Kamu lihat, kelak jika kamu menindasku, aku punya dua putra yang siap membelaku.”
“Sepertinya begitu,” gumam Andrew tak berdaya. Tatapannya terpaku pada bayi yang sedang menyusu dan kembali berucap, “Bocah, itu seharusnya milikku. Minum pelan sedikit.”
Perawat yang ada dalam ruangan itu tidak tahu apakah mereka harus tertawa atau menangis. Sedangkan Keiko memelototi suaminya dengan ganas. Bahkan dengan anak sendiri pun sangat perhitungan!
“Kamu ... dasar tidak tahu malu, masih mau berebut dengan bayi?” desis Keiko.
“Itu memang punyaku,” balas Andrew tak mau kalah. “Sekarang terlihat begitu montok, tapi aku bahkan tidak bisa menyentuhnya.”
Suara pria itu terdengar jelas mengandung banyak keluhan, membuat Keiko benar-benar ingin menendang pantatnya.
Si sulung tampaknya sudah puas menyusu, ia menjauh dari dada ibunya dan menatap Andrew dengan ekspresi yang imut.
Andrew tidak tahan, ia mengangkat bayi itu dan berkata, “Selamat datang ke dunia, Alexander Roux ....”
Saat si bungsu di dekatkan kepadanya untuk menyusu, Keiko mengusap pipi bayi mungil itu dan berbisik, “Selamat datang ke dunia, Sebastian Roux ... .”
Andrew membungkuk untuk mencium Sebastian, kemudian mencium kening istrinya.
“Aku akan menjaga kalian dengan baik,” janjinya dengan sepenuh hati.
***
Haiii ... Lorie-Raymond udah aku up, disambung di novel Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda, silakan intip.
Semoga kalian suka ...
Makasiiih ....
***
Season 2 "You are Mine" udah rilis dengan judul terpisah ya, manteman. silakan klik profilku dan pilih karya.
silakan bagi yang mau mampir. thank you 🥰