Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Reinkarnasi?



“Tidak mungkin!” seru Keiko seraya mundur satu langkah.


Mata bulatnya melebar, dengan ragu-ragu mencari eksperesi bercanda dalam wajah Andrew, seperti yang biasa muncul saat pria itu sedang menggodanya. Sayangnya, hanya keseriusan yang tergambar dalam wajah rupawan itu.


“K-kamu ... kamu sedang bercanda bukan?” tanya gadis itu lagi dengan sangat lirih. Suaranya hampir-hampir tak terdengar.


Andrew melihat gerakan bibir gadis di hadapannya, dan menyadari kebingungan yang terpancar dari wajahnya.


Pria itu tersenyum tipis dan berkata, “Aku tidak bisa menjagamu dengan baik sehingga membuatku harus kehilangan dirimu. Aku tidak rela dan bersumpah untuk mencarimu dalam kehidupan berikutnya. Aku sudah mencarimu sangat lama ... terlalu lama sampai-sampai aku merasa aku sudah mulai gila. Lalu ... kita bertemu di museum Furukawa ....”


Keiko menggeleng cepat, seirama dengan gumaman pelan yang terucap berulang-ulang dari bibir tipisnya.


“Tidak ... tidak ... aku tidak percaya ... mustahil ... benar-benar tidak bisa dipercaya.”


Gadis itu tak melepaskan tatapannya dari wajah Andrew, mencoba menyelami ke dalam di manik matanya yang teduh, berusaha membongkar lapisan dan lapisan yang tersembunyi di sana. Akan tetapi, hasilnya tetap sama, pria itu tidak terlihat seperti sedang bercanda.


Keiko menelan ludahnya dengan susah payah. Ia ingin mempercayai semua ucapan pria di hadapannya itu, tapi semua terasa seperti bualan yang tidak masuk akal. Reinkarnasi hanyalah mitos, legenda, omong kosong yang diceritakan turun temurun oleh para leluhur di masa lalu. Pada zaman yang begini maju ... apakah reinkarnasi itu sungguh ada?


“Kamu tidak bercanda,” ujar Keiko, lebih menyerupai sebuah pernyataan daripada pertanyaan.


Bip. Bip. Bip.


Suara dari ponsel Andrew membuat pria itu mengurungkan perkataan yang akan ia ucapkan. Ia membaca pesan masuk dan memasukan benda itu ke saku celana.


“Istirahatlah. Panggil aku kalau kamu membutuhkan sesuatu,” ujar pria itu sebelum berjalan keluar dari dapur sebelum Keiko sempat menjawab.


Tangan Keiko terulur, ia hendak memanggil Andrew, tapi pada akhirnya tangannya kembali terkulai ke sisi tubuhnya. Hanya desahan pelan yang terdengar dari mulutnya.


Reinkarnasi ... sungguh suatu konsep yang absurd dan seperti lelucon. Bagaimana bisa seorang manusia terlahir kembali karena cinta? Memang terdengar romantis ... sekaligus tidak masuk akal. Bagaimana dia bisa mengingat? Rasanya itu terlalu mengada-ada.


Mendadak seluruh Keiko terasa lemas. Ia bertumpu pada sandaran kursi sambil terus bergelut dengan pemikirannya sendiri.


Reinkarnasi ....


Betapa konyolnya itu.


Namun, bukan berarti tidak mungkin ‘kan?


“Aish!” gumam Keiko sambil menggoyangkan kepalanya dengan cukup keras.


Semua ini terlalu memusingkan. Terlalu mendadak. Informasi yang tidak bisa dicerna sama sekali, tapi anehnya ... Keiko tidak bisa mengabaikannya secara mutlak. Setidaknya ia sedikit memercayai perkataan Andrew Roux tadi. Mungkin hanya sekitar satu persen, atau lima persen? Keiko sendiri tidak mengerti mengapa ia tidak meragukan pernyataan yang tidak masuk akal itu secara absolut.


Bisa jadi karena ketulusan yang terpancar dari sorot mata Andrew Roux terlihat sangat nyata, bukan seperti sebuah kepalsuan atau kepura-puraan. Teringat kembali binar penuh kerinduan di wajah Andrew yang sesekali tertangkap olehnya ketika mereka bersama, juga sikap dan perkataannya yang terkadang menggoda dan sangat intens. Apakah itu semua karena hal ini?


Reinkarnasi ....


***


Andrew memasuki kamarnya dan membuka laptop yang tergeletak di atas meja. Selain mengirim video pemakaman keluarga Kobayashi dan Sakamoto Zen, Clark juga memberitahukan bahwa orang yang ia curigai mulai melakukan pergerakan. Mereka mencoba melacak di mana ia dan Keiko bersembunyi. Untungnya ia telah mengatur semuanya dengan sangat matang sebelum menjalankan misi pelarian ini.


Jemari Andrew bergerak cepat di atas keybord untuk mengakses berkas yang dikirimkan kepadanya. Setelah menekan tombol enter, sebuah hologram data melayang di atas meja. Ia memerhatikan tampilan di hadapannya sambil mengernyitkan kening. Informasi yang baru saja ia dapatkan ini sama sekali berbeda dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya.


Pria itu baru saja hendak menyamakan hasil pemeriksaan Clark dengan catatan miliknya ketika tiba-tiba layar hologram di hadapannya berkedip-kedip pelan. Dengan cepat ia menyentuh bulatan hijau yang menyala di dekat tangan kanannya.


Loading ....


Connected.


“Hey!”


Potongan wajah Clark langsung menggantikan salinan informasi yang baru saja dibaca oleh Andrew ketika panggilan virtual itu terhubung.


“Ada apa?” tanya Andrew sedikit cemas, “Apakah ada masalah?” sambungnya lagi. Tidak biasanya Clark menghubunginya seperti ini.


Clark menyeringai lebar dan menjawab, “Tidak ada. Hanya ingin melihat wajahmu setelah mengetahui kabar terbaru itu.”


Andrew menunjukkan wajah masamnya dan mendengkus pelan. Ia hendak memutuskan sambungan panggilan, tapi Clark lebih dulu berseru, “Di mana Kakak Ipar?”


Mata Andrew memicing sebelum ia menjawab, “Kakak Ipar kepalamu!”


Clark terkekeh puas hingga tampilan hologram di depan Andrew bergoyang mengikuti getaran di wajahnya.


“Kenapa? Berpura-pura tidak senang? Bukankah kamu sangat bahagia karena bisa berduaan saja dengannya di sana?” ledek Clark masih sambil menyeringai lebar.


“Tutup mulut busukmu itu,” gerutu Andrew sambil melotot.


“Bagaimana perkembangan hubungan kalian? Dia sudah tahu siapa kamu?” cecar Clark tanpa memedulikan ekspresi Andrew yang sudah sangat jelek.


Kernyitan di kening Andrew semakin dalam. Ia menatap Clark dengan sorot penuth ketidakpuasan dan berkata, “Apakah kamu menghubungiku hanya untuk bergosip? Pekerjaanmu terlalu sedikit kah? Sepertinya sangat santai ....”


Clark langsung terdiam. Ia mengangkat kedua tangannya dan melambai-lambaikannya dengan gugup.


“Tidak. Tidak. Aku tidak bercanda lagi!” serunya dengan cepat. Ekspresi wajahnya pun menjadi kaku dan serius sebelum melanjutkan, “Aku sudah melacak keberadaan Ryuchi. Bedebah itu beberapakali muncul di Tokyo, tapi beberapa klan merasa tidak puas dan bersikap dingin terhadapnya. Selain itu, ia belum bisa melakukan apa pun, mungkin karena Sakamoto Keiko masih hidup. Oleh karena itu, kamu jagalah gadis itu baik-baik. Untuk saat ini jangan dulu keluar dari tempat persembunyian kalian.”


Andrew mengangguk-angguk pelan dan mengetukkan jarinya ke atas meja, seolah sedang menimbang dan memikirkan sesuatu. Ada beberapa tebakan dan dugaan dalam hatinya, tapi tidak ia ungkapkan kepada Clark. Ia masih harus memastikannya terlebih dahulu.


“Untuk Jovanka dan Mr.Tanaka, file-nya sudah kukirimkan kepadamu. Kamu sudah selesai membacanya?” tanya Clark.


“Belum semuanya. Aku baru akan memeriksa catatan sebelum diinterupsi olehmu,” jawab Andrew seraya menaikkan alisnya dengan tidak senang. Ia pikir Clark menghubungi karena ada hal mendesak, ternyata ....


“Di mana Kakak Ipar? Aku benar-benar ingin melihatnya,” ujar Clark seraya menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri.


“Pergi kamu!” seru Andrew seraya menyentuh bulatan merah untuk memutuskan sambungan panggilan itu.


Clark membuka mulutnya untuk protes, tapi suaranya tidak terdengar lagi. Andrew menyeringai tipis dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Ia duduk di depan laptop dan mulai meneliti berkas-berkas dengan sangat hati-hati.


Jika ingin mengalahkan lawan, temukan kelemahan mereka ... satu kesalahan kecil, atau detail yang mungkin terlewat oleh mereka. Misalnya ... mereka tiba-tiba saja memutuskan untuk tidak mendatangi cafe yang sudah mereka datangi untuk membeli sarapan selama lima tahun terakhir, dan lebih memilih untuk membeli kopi di dekat stasiun, tepat satu minggu sebelum kejadian di Zeotrope.


Meski tidak terlalu jelas, Andrew bisa mengenali salah seorang dalam foto yang terpampang di layar monitor adalah Jovanka. Sedangkan pria yang berdiri di sebelanya dan memakai topi hingga menutupi seluruh wajahnya itu ... Andrew tidak bisa mengenalinya sama sekali. Ia tersenyum sinis dan meneruskan potongan gambar yang baru saja dikirim oleh Clark itu kepada Garry.


[Cari tahu semua informasi mengenai orang ini]


***