Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Rencana untuk merebutnya



Kediaman Marquess of Alrico.


Sejak tiga hari lalu, para pelayan dibuat pusing oleh tingkah Nona Muda mereka. Gadis berusia 26 tahun itu tidak hanya menangis sepanjang hari dan mengurung diri di kamar, makan dan minum pun hanya sekadarnya saja. Wajahnya yang dulu selalu bersinar seperti marigold kini tampak layu. Lingkaran hitam di bawah kelopak matanya terlihat menyeramkan. Berat tubuhnya menyusut dratis, membuat kedua orang tuanya pun kewalahan menghadapi tingkah gadis itu.


“Sudahlah, Cecille, jangan menangis lagi,” bujuk wanita paruh baya yang fitur wajahnya terlihat sangat mirip dengan Cecille. Wajahnya terlihat kusam, tidak bisa tidur karena memikirkan putri semata wayangnya yang sedang patah hati.


“Papa akan mencarikan seorang pria yang tak kalah tampan dan kaya untukmu, bagaimana?” Antonio Alrico ikut merayu putrinya.


“Aku tidak mau pria lain! Aku hanya mau Andrew Roux ... aku mencintanya, Papa ....” Cecille terisak dan menutup wajahnya dengan tangan.


“Kenapa dia sangat kejam terhadapku,” gumamnya di sela isak tangis. Suaranya terdengar penuh keluhan. Seluruh masa mudanya ia gunakan untuk menunggu Andrew Roux, hanya mencintai pria itu seorang, tapi ... lihat apa yang dilakukan oleh pria itu sekarang! Benar-benar tak berperasaan!


“Maria ....” Sang Marquess memanggil istrinya dengan nada putus asa. Ia sungguh tidak tahu bagaimana cara untuk menenangkan putrinya.


Maria menoleh dan menatap suaminya. Raut wajahnya terlihat sedikit kesal ketika berkata, “Ini semua salahmu, Antonio! Sejak awal sudah kukatakan untuk langsung menikahkan mereka saja! Kamu terlalu lemah dan mendengarkan apa kata Marco Roux dan putranya yang tidak tahu diri itu. Dulu kalau bukan karena kita yang membantu modal ketika perusahaan mereka hampir bangkrut, mana mungkin akan berkembang seperti sekarang?!”


Antonio memijit pelipisnya yang semakin pening. Ia dan Marco berteman sejak kecil, masalah bantuan modal itu karena Marco sudah lebih dulu membantunya beberapa kali, bagaimana bisa ia memaksa menggunakan hal itu untuk mengancam Marco Roux demi menuruti keinginan putri semata wayangnya. Ia sudah menjelaskan hal ini kepada Maria berkali-kali, tapi istrinya itu tidak mau mengerti. Semua ini karena air mata dan kesedihan Cecille yang membuat hati dan akal sehatnya menjadi buta. Salahnya juga karena terlalu memanjakan Cecille sejak kecil, sekarang putrinya menjadi sangat keras kepala dan manja.


“Jangan mengungkitnya seperti itu, Maria. Marco sudah memberi dua asetnya di Paris dan Moskow, itu sudah lebih dari cukup.”


“Apa kamu pikir itu cukup? Menukar dua aset dengan kondisi putri kita yang seperti sekarang, kamu pikir itu sepadan?”


Antonio baru membuka mulutnya untuk membalas perkataan istrinya. Namun, putrinya yang berbaring di ranjang tiba-tiba bangun dan meloncat ke depan.


“Mama, aku harus bagaimana ... biar aku mati saja!”


Cecille mengambil pisau buah yang ada di atas meja. Tanpa berpikir dua kali, ia menggoreskan benda itu di pergelangan tangannya.


“Cecille!” teriak Maria dan Antonio bersamaan. Wajah mereka pias melihat darah yang menetes dan membasahi lantai.


“Pelayan!” raung Antonio dengan tubuh gemetaran, “Panggilkan Bryan sekarang!”


“Cecille, putriku ... kenapa kamu sangat bodoh?” tangis Maria sambil memeluk tubuh putrinya yang limbung dan memapahnya untuk duduk di sofa.


Antonio menarik syalnya dan melilitkannya ke tangan putrinya. Ia merasa marah sekaligus terenyuh. Hatinya ikut sakit melihat kondisi putrinya yang seperti itu. Namun, apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia sudah berkali-kali memperingatkan gadis itu sejak Andrew menolak rencananya dan Marco secara terang-terangan, tapi putrinya benar-benar tidak mau menyerah. Sekarang, ia harus menyalahkan siapa? Mungkin seharusnya ide konyol mengenai perjodohan itu tidak ia cetuskan sama sekali.


“Aku hanya mencintainya, Ma ... biarkan aku mati saja ya, hatiku sakit sekali ... aku tidak bisa menahannya,” racau Cecille dengan mata terpejam. Dua bulir bening menetes dari sudut matanya. Penampilannya itu sungguh sangat menyedihkan.


“Berhenti mengatakan hal yang tidak masuk akal!” seru Maria dengan panik.


“Cecille, apa yang kamu lakukan?” Seorang pria muda masuk ke kamar dengan terburu-buru. Ia berjongkok dan segera membuka kotak peralatannya. Di jalan tadi pelayan sudah menjelaskan apa yang sedang terjadi.


Bryan Scoth adalah dokter pribadi keluarga Alrico. Ia meneruskan pekerjaan yang telah dilakoni oleh ayahnya selama puluhan tahun. Ia tumbuh besar bersama Cecille dan tahu obsesi gadis itu terhadap Andrew Roux.


Untung saja lukanya tidak terlalu dalam. Bryan segera membersihkan luka itu dengan cairan antiseptik dan menyemprotkan obat untuk menghentikan pendarahan. Setelah selesai menempelkan plester, pria itu bangun dan duduk di samping pasiennya.


Bryan menghela napas panjang dan berkata, “Cecille, berhenti bersikap seperti ini. Kamu membuat kedua orang tuamu ikut sedih. Kalau tidak, kita pacaran saja? Aku akan melamarmu sekarang?”


Mata Cecille yang terpejam tiba-tiba terbuka. Ia memelototi pria berambut pirang yang sedang menyeringai lebar di hadapannya itu dan berkata, “Pergi! Aku tidak mau melihatmu!”


Sebuah lekukan mungil muncul di pipi kanan Bryan ketika seringai di wajahnya semakin lebar. Ia berkata, “Nah, begitu lebih bagus. Itu baru putri sang Marquess yang aku kenal,” ujarnya seraya mengangkat tangan dan mengusap puncak kepala Cecille, “Katakan, kamu mau pergi ke mana? Aku temani ....”


Cecille mendengkus dan membuang muka. Ia tidak ingin pergi ke mana-mana atau melakukan apa pun. Ia hanya ingin Andrew datang dan mengatakan bahwa yang resepsi pernikahan pada hari Sabtu nanti adalah milik mereka berdua.


Sang Marquess dan istrinya yang melihat sudah ada seseorang yang menghibur putri mereka segera bangun dan keluar dari ruangan itu diam-diam, berharap agar gadis itu bisa lebih ceria dan mau melanjutkan hidupnya dengan normal.


Meski diacuhkan, Bryan tidak menyerah. Ia kembali menggoda, “Aku dengar kamu belum mandi selama tiga hari. Pantas saja sedikit bau ... kalau terus begini, bagaimana bisa ada pria yang jatuh cinta kepadamu?”


Cecille tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan menatap Bryan dengan ekspresi sangat serius. Matanya yang semula muram dan tak bercahaya kini tiba-tiba bersinar gemilang.


“Bryan, kalau tidak ... kamu bantu aku untuk merebut Andrew, ya? Aku mohon ....”


Ia mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Bryan, membuat mata pria itu membulat sempurna.


“Aku tidak bisa,” sahut Bryan cepat. Sejujurnya dalam hati ia cukup senang Cecille tidak jadi menikah dengan Andrew karena diam-diam ia memiliki perasaan khusus untuk gadis itu. Ia pasti sudah gila kalau mau membantu rencana Cecille yang tidak masuk akal itu.


“Kalau begitu aku akan pergi mati saja!” ancam Cecille seraya berusaha melepaskan perekat di tangannya.


“Hentikan! Baik ... baik ... aku akan membantumu.”


Gerakan Cecille terhenti. Ia menoleh dengan cepat ke arah Bryan dan bertanya, “Benarkah? Kamu janji?”


“Hum. Janji.”


“Terima kasih! Kamu sahabatku yang terbaik. Ingat, jangan beritahukan kepada papa atau mamaku.”


Bryan mengangguk pasrah ,ia memang sudah gila.


Sementara itu, senyuman lebar terpatri di wajah Cecille. Ia yakin bisa mendapatkan Andrew untuk menikahinya!


***


Untuk yg nanya kpn Andrew-Keiko mp mlu,sabaaarrr


awas ye nti panas dingin kl udh kejadian -_-"