Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Berduka



Tanpa terasa sudah dua hari Keiko terisolasi bersama Andrew di rumah tebing, begitu Keiko memberi nama pada bangunan bernuansa putih itu. Ia biasanya menghabiskan waktu di pantai, atau diam-diam berlatih bela diri di halaman belakang. Ia hanya bertemu dengan Andrew ketika tiba waktunya untuk makan, itu pun hanya sesekali karena pria itu lebih banyak mengurung diri di dalam kamar.


Beberapa kali Keiko mendapati Andrew sedang menelepon seseorang dan berbicara dengan ekspresi wajah yang cukup serius. Namun, Keiko tidak mau terlihat terlalu ingin ikut campur, jadi ia hanya bersikap seolah-olah tidak melihat atau mendengarnya, seperti tadi pagi saat pria itu mengangkat ponselnya dan terburu-buru kembali ke kamarnya tanpa sempat mencicipi masakannya sendiri, Keiko tidak bertanya sedikit pun.


Sekarang belum terlalu siang. Setelah sarapan dan berjalan-jalan sebentar untuk mencari udara segar, Keiko kembali ke rumah dan ingin menemui Andrew untuk meminta bantuan. Ia sudah memikirkannya dengan matang dan memutuskan untuk meminta Andrew memberinya sebuah ponsel. Ia sungguh memerlukannya untuk mengetahui kondisi yang sedang terjadi di luar sana.


Gadis itu merasa ia tidak bisa hanya berdiam diri dan membiarkan Andrew melakukan semuanya sendirian. Setidaknya, ia bisa mencoba mencari tahu apakah orang-orang kepercayaan ayahnya masih ada yang tersisa.


Keiko mendorong pintu depan dan langsung berjalan menuju kamar Andrew. Meski sempat ragu sejenak karena merasa sungkan harus meminta tolong, akhirnya ia tetap mengetuk dengan pelan sambil memanggil nama pria itu.


“Andrew, kamu ada di dalam?” sapanya seraya meremas kedua tangannya dengan gugup.


Sejujurnya, ini cukup memalukan. Andrew Roux sudah sangat banyak membantunya, sedangkan pria itu tidak memiliki kewajiban sama sekali untuk menjaga keselamatan atau pun menyediakan apa pun yang ia butuhkan. Akan tetapi, untuk saat ini Keiko sudah bertekad hal-hal seperti itu akan ia catat dan ia kembalikan kepada Andrew ketika situasinya sudah cukup stabil. Ia akan mengingat semua budi baik pria itu dan membalasnya dengan layak.


“Andrew?” panggil Keiko lagi ketika tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Mungkinkah pria itu sedang mandi? Atau pergi ke luar tanpa sepengetahuannya?


Mungkin saja seperti itu.


Setelah mempertimbangkan sejenak, Keiko memutuskan untuk kembali dulu ke kamarnya. Ia akan menunggu hingga Andrew kembali. Namun, ketika ia baru saja membalikkan tubuh telah terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.


Dengan cepat gadis itu berjingkat dan mengintip dari balik jendela di ruang tamu. Sebuah mobil sedan hitam memasuki pelataran dengan perlahan sebelum akhirnya benar-benar berhenti di dekat pintu.


Keiko memicing. Ia mengenali pengemudi mobil itu, gadis yang membantunya atas permintaan Andrew saat ia masih berada di camp militer. Kalau tidak salah, namanya Kim.


Apa yang dia lakukan di sini?


“Andrew?” gumam Keiko tanpa sadar ketika melihat pria itu keluar dari kursi penumpang.


Apa yang dilakukan pria itu? Kapan dia pergi?


Keiko mengernyit sambil berpikir dan menebak-nebak dalam hati. Andrew tidak mengatakan apa pun padanya tadi pagi. Apakah ada peristiwa yang tidak terduga? Atau ada hal-hal yang mendesak?


Apa itu?


Keiko tercekat dan tertegun sesaat ketika melihat ada sebuah benda dalam genggaman tangan Andrew yang berkilat tertimpa cahaya matahari. Pria itu tampak sangat berhati-hati memegang benda di tangannya, seolah itu adalah satu-satunya permata paling langka yang tersisa di dunia.


Tanpa sadar Keiko berjalan dengan tergesa ke depan untuk menyambut dua orang yang baru saja datang itu. Ia benar-benar telah melupakan niatnya semula untuk kembali ke kamar.


Begitu pintu terbuka, Andrew mendongak untuk menatap siluet yang menjulang di hadapannya dengan linglung. Wajah Keiko terlihat sedikit emosional, ada embun halus di pelupuk matanya yang bening. Sorot mata itu menyiratkan seribu pertanyaan tak terucap. Andrew bisa melihat buku-buku jari gadis itu sedikit memutih karena terlalu kuat mengepalkan jemarinya.


Tatapan mata gadis itu tidak beranjak sedikit pun dari guci porselen yang ada di tangan Andrew. Bibir tipisnya terbuka dan menutup beberapa kali, tetapi tidak ada satu patah kata pun yang terucap. Gadis itu benar-benar gemetaran sekarang, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa sangat kasihan.


“Keiko,” panggil Andrew pelan seraya berjalan menaiki anak tangga satu per satu.


Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri Andrew untuk memeluk dan menenangkan gadis itu. Akan tetapi, ia sadar hubungan mereka belum sampai pada tahap di mana ia bisa melakukan hal itu. Jadi, meski melihat Keiko tampak terluka dan kesepian, ia hanya bisa menahan rasa tidak nyaman dalam hatinya dan menghampiri gadis itu dengan hati-hati.


“Ini ... ini, apakah ... aku ...,” gumam Keiko dengan mata memerah.


Ia terlihat sangat tidak fokus. Suaranya terdengar serak dan sengau. Ia menatap nanar pada guci di tangan Andrew dan mengucapkan beberapa kata yang tidak bisa dirangkai menjadi satu kalimat utuh, tetapi Andrew dapat mengerti apa maksudnya dengan sangat jelas.


Tubuh Keiko gemetar semakin keras. Meskipun sudah dapat menebaknya sejak awal, ia sama sekali belum dapat menerima kalau ayahnya sudah tidak ada lagi. Sekarang ia benar-benar sebatang kara, tidak mempunyai siapa-siapa lagi ...


Gadis itu langsung limbung dan terjatuh seperti daun kering yang tertiup angin. Kedua lututnya menghantam lantai dengan cukup keras, tapi ia seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Hatinya lebih sakit. Sangat sakit hingga napasnya terasa sangat sesak. Seolah ada seseorang yang baru saja mengoyak dadanya dan menarik jantungnya keluar.


“Ayah ... maafkan aku ... maafkan anakmu yang tidak berguna ini ... aku tidak bisa melindungimu, maafkan aku ayah ....”


Gadis itu berlutut dan memberikan penghormatan sebanyak tiga kali di depan guci yang masih dipegang oleh Andrew. Suaranya terdengar pilu dan menyedihkan. Bahkan Kim tidak tahan dan datang untuk menenangkannya, tapi Keiko seolah sedang berduka dalam dunianya sendiri. Berduka dan putus asa.


Meski ayahnya tinggal di dunia hitam, dia tidak pernah melakukan sesuatu yang membahayakan putri semata wayangnya. Pria itu menjaga Keiko dengan sangat hati-hati, memperlakukannya seperti seorang putri, mendidiknya dengan sangat baik, melatih seni bela diri agar putrinya dapat mempertahankan diri dari incaran musuh-musuhnya ... pria itu telah melakukan begitu banyak hal yang akan membekas selamanya di benak Keiko. Karena kebaikannya itu pula maka Keiko tidak menolak perjodohannya dengan Hiro, hal itu karena ia ingin menyenangkan hati ayahnya ... tapi kini, semuanya sudah berakhir bukan?


Tidak ada lagi yang tersisa ... bahkan Hiro juga ....


Andrew menyerahkan guci kepada Kim, lalu berjongkok di sisi Keiko dan menekan pundaknya yang terkulai. Ia bisa merasakan rasa sakit dan kehilangan yang dialami oleh gadis itu. Kehilangan seseorang yang dicintai memang tidak pernah mudah. Ia sudah pernah merasakannya.


“Jangan bersedih, aku akan membantumu membalaskan dendam ayahmu,” ucap pria itu dengan ketenangan yang membuat Keiko tersadar dari rasa sakit yang menyesakkan.


Mata bulat gadis itu merah dan berair, membuat Andrew ingin mendekat dan mengecupnya, memindahkan semua rasa sakit dan kesedihan itu kepada dirinya sendiri. Seandainya ada cara untuk mewujudkan hal itu, ia pasti akan melakukannya dengan sukarela.


“Sakamoto Keiko, mulai hari ini ... bersandarlah padaku, aku akan membalaskan dendam ayahmu,” ulang Andrew ketika melihat gadis di sampingnya menatapnya dengan ekspresi penuh rasa sakit dan kebingungan. Dengan hati-hati ia menopang tubuh gadis itu untuk berdiri, lalu menuntunnya ke dalam.


Kali ini Keiko tidak menolak, ia diam dan membiarkan Andrew membimbingnya ke kamar.


Kim mengikuti dua orang itu dalam diam. Ia tidak tahu caranya menghibur seseorang, jadi ia hanya meletakkan guci abu di atas meja kemudian berjalan keluar.


“Beristirahatlah sebentar. Kalau sudah siap, aku akan menemanimu untuk mengantar ayahmu ke tempat peristirahatannya yang terakhir.”


“Terima kasih,” jawab Keiko singkat tanpa menoleh. Tatapannya matanya fokus pada guci porselen yang tergeletak di atas meja. Perlahan ia berlutut di depan meja. Ia tidak memiliki kesempatan untuk melakukan upacara pemakaman yang layak, bahkan tsuya pun tidak. Oleh karena itu, ia ingin menebusnya meski hanya sebentar.


Andrew pun tidak mengatakan apa-apa lagi dan segera berjalan keluar. Ada hal lain yang harus segera ia siapkan.


***


Upacara pemakaman di Jepang disebut dengan soushiki (葬式) atau Osoushiki (お葬式).


Soushiki (葬式) berlangsung selama dua hari penuh yang terdiri dari satu hari Tsuya (通夜) atau Otsuya (お通夜), dan satu hari Kokubetsu shiki (告別式).


Tsuya merupakan upacara yang dilakukan satu hari sebelum jenazah dimakamkan. Pada kesempatan ini para kerabat yang datang tidak tidur semalaman menjaga di samping jenazah yang akan dimakamkan keesokan harinya.


Akhir-akhir ini banyak yang melakukan tsuya dengan waktu yang lebih singkat, tidak lagi sehari penuh melainkan mulai dari senja satu malam sebelum kokubetsu shiki, disebut hantsuya atau setengah tsuya.


sumber: google


jangan lupa vote yaa😍


tengkyuu