Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Pertempuran



Ryuchi merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah remote control, kemudian menekan tombol berwarna hijau. Dinding kubah di belakang altar bergetar dan berdengung, membuat gerakan orang-orang yang sedang saling menembak terhenti untuk sesaat.


Mata Andrew menyipit, dalam sekejap memahami apa yang sedang dilakukan oleh Ryuchi. Pria itu sedang memanggil bala bantuan. Tidak boleh dibiarkan!


“Lucy!” teriak Andrew kepada anak buahnya yang berlindung di pilar dekat altar. Ia melemparkan sebuah pistol sambil terus menembaki pengawal yang sesekali melongok dari balik pilar.


Lucy menangkap pistol yang dilemparkan oleh Andrew dan menggenggamnya dengan mantap. Dengan gerakan yang tak kalah cepat ia menarik lepas bandul kalungnya dan melemparkannya ke arah dinding yang sedang bergeser. Gadis itu memicing dan membidik, menunggu hingga bola alumunium pada mata rantai itu melayang sedekat mungkin dengan tembok, kemudian ia menarik pelatuk dua kali berturut-turut.


Percikan api tercipta di udara disusul suara ledakan yang memekakkan telinga. Lubang besar muncul di bagian tembok yang tadinya sedang bergerak untuk terbuka. Runtuhan bangunan menutupi jalan yang seharusnya berada di balik tembok itu. Suara teriakan dari balik dinding disertai raung kemarahan sayup-sayup terdengar di balik dinding.


Sedangkan di dalam ruangan bawah tanah, beberapa pengawal yang tidak siap dengan serangan itu terpental dan menghantam lantai dengan keras. Sisanya tiarap dan melindungi kepala mereka dari serpihan bangunan yang hancur dan terlempar ke segala arah.


Lucy yang langsung berputar dan bersembunyi di sisi pilar yang aman terlindungi dari ledakan. Ia memanfaatkan situasi yang masih kacau balau untuk kembali mengokang senjata dan menghabisi sisa pengawal yang tidak terluka. Desing suara peluru melesat dan menembus tubuh pria-pria itu. Satu demi satu tumbang terkena timah panas. Beberapa lainnya tidak bisa bergerak akibat luka yang cukup fatal.


Sementara itu Jovanka yang berada sekitar lima meter di sisi kiri Lucy tampak merangkak di antara puing-puing. Wajah dan lengannya berdarah, tapi ia masih berupaya bangkit. Saat ini dikepalanya berkelebat berbagai macam penyesalan. Bukan akhir seperti ini yang ia inginkan.


Ryuchi yang berada paling dekat dengan lokasi ledakan mengalami luka yang cukup parah. Kepalanya terkena serpihan batu. Tubuhnya tertutup debu dan reruntuhan. Darah menetes dari telinga dan pelipisnya. Gendang telinganya berdenging kencang, seolah baru saja dihantam oleh palu godam raksasa. Ia terbatuk-batuk dan mencoba untuk bangun, tapi tubuhnya limbung dan kembali jatuh ke atas lantai.


“Andrew Roux! Aku akan membunuhmu!”


Ryuchi meraung kencang, membuat darah yang keluar dari telinganya semakin banyak, tapi pria itu seolah tidak merasakan sakit yang mendera tubuhnya. Amarah dan kebencian menutupi akal sehatnya. Ia bersandar sebentar di dinding altar untuk mengumpulkan kekuatan, lalu berpegangan pada sisi-sisi altar untuk membantunya bangkit.


Jantungnya berdentam-dentam tak beraturan. Pembuluh darah di pelipis dan lehernya berkedut dan menonjol keluar. Kerja keras seumur hidupnya ... tidak boleh gagal begitu saja ....


Dengan langkah tersaruk-saruk pria itu memungut senjata milik salah satu anak buahnya yang tergeletak tak jauh dari kakinya. Matanya berkobar oleh api pembalasan, tertuju pada satu titik yang berdiri sekitar 20 meter di depan sana.


“Menyerahlah, Ryuchi. Ini sudah berakhir,” ujar Andrew seraya menodongkan senjata ke arah Ryuchi. Namun, hanya Tuhan yang tahu bahwa pistol itu telah kehabisan amunisi. Peluru terakhir telah ia gunakan untuk merobohkan seorang pengawal yang tadi membidik Lucy. Kini ia hanya mengandalakan keberuntungan dalam taruhan hidup dan mati itu, berharap Ryuchi mau mendengarkan ucapannya dan menyerahkan diri.


Ryuchi terkekeh dan meludahkan darah ke lantai. Pandangannya kabur, tapi ia mengunci sosok Andrew yang berbayang dalam area bidikannya. Setidaknya jika ia harus mati di tempat itu, maka Andrew Roux harus ikut dengannya ke neraka.


“Menyerah ...? He-he-he ....”


Selangkah demi selangkah tubuhnya mendekat ke arah Andrew. Meski terhuyung dan terseok-seok, tangannya tetap teracung lurus ke depan, seolah takut tiba-tiba Andrew akan menghilang dari hadapannya.


“Aku hanya akan menyerah ketika sudah mencabut jantungmu dengan tanganku sendiri,” geram Ryuchi seraya berhenti sejenak untuk mengambil napas. Kini jaraknya dari tempat Andrew berdiri hanya sekitar 10 meter.


Napas Ryuchi tersengal, seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis. Pandangannya mengabur. Di depan sana, bayangan Andrew semakin menumpuk, berderet di sepanjang pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi. Tangan Ryuchi gemetaran. Ia mengumpat dan menarik pelatuk bertubi-tubi. Api memercik di moncong senjata ketika amunisi merangsek keluar dari selongsong dan melesat di udara.


Blup!


Blup!


Blup!


Suara peluru merobek jaringan otot di perut dan dada. Darah muncrat dari lubang yang dilewati oleh peluru. Rasa sakit menyengat hingga membuat napas tercekat.


“An-drew ... p-pergi ...,” ucap Jovanka dengan terbata-bata.


Ia melompat di detik-detik terakhir, menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk menjadi tameng bagi Andrew. Jika harus mati di tempat itu, setidaknya ada satu hal yang bisa ia lakukan agar dapat diampuni, agar dapat dikenang dengan cara yang layak ....


“Jovanka!” seru Andrew seraya menunduk dan hendak menyentuh bekas atasannya itu.


Jovanka menepis tangan Andrew dengan susah payah sambil berkata, “M-maaf, la-lari ... uhuk!”


Wanita itu terbatuk beberapa kali. Darah kental dan hitam muncrat dari mulutnya, menetes turun dan bercampur dengan cairan pekat yang terus merembes dari luka di perut dan dadanya.


“Jangan bicara,” sela Andrew seraya mengambil tangan Jovanka dan menekannya ke luka yang terus mengeluarkan darah, “Tekan di sini. Bertahanlah. Bantuan akan segera datang.”


Di depan sana, Ryuchi mengumpat dan membanting senjatanya yang kehabisan amunisi. Matanya nyalang melihat ke sekitar, mencoba mencari senjata lain yang berada dalam jarak jangkauannya. Sorot matanya yang sempat redup mendadak kembali bersinar ketika melihat sebuah senjata semi otomatis berada sekitar dua langkah di sisi kirinya. Dengan sisa tenaga dan semangat terakhir yang ada, ia maju dan hendak memungut benda itu. Namun, ia tidak menyadari Andrew yang sedang menerjang ke arahnya dengan kecepatan penuh.


Bugh!


“Akh!”


Sebuah tendangan di tulang rusuk menghentikan niat Ryuchi. Pria itu terpental dan terguling beberapa meter, meringkuk dan meringis menahan sakit yang kini bertambah ribuan kali lipat, tapi ia mengabaikannya dan kembali mencoba bangkit, merayap ke arah senjata yang hanya berjarak tiga jengkal.


Bugh!


Krak!


Suara tulang patah terdengar jelas ketika Andrew menginjak pergelangan tangan Ryuchi sekuat tenaga menggunakan sepatu larsnya. Ryuchi menggertakkan gigi hingga urat-urat hijau menonjol di pelipisnya, tak ada suara teriak kesakitan yang keluar dari mulutnya. Ia menumpu bobot tubuhnya dengan siku dan kembali merayap ke arah senjata.


Tidak boleh menyerah ... tidak akan menyerah ....


***


Haloo...


Duh,maaf kalo ada kesalahan typo/tokoh/alur dlm part ini ya, nggak sempat baca ulang.


tolong notice aja di kolom komentar kl ada kesalahan yaa,biar nanti saya betulkan.


O iya,jangan lupa vote yaa


makasiih kesayangku,sehat2 ya kalian...


with love, B ❤