
Mobil yang dikendarai oleh Hiro terus melaju membelah malam. Jalanan yang mereka lewati berkelok-kelok. Pepohonan tinggi menjulang di sisi kiri dan kanan jalan.Tak ada lampu dan rumah penduduk yang terlihat. Dilihat dari jalur yang diambil oleh Hiro, sepertinya pria itu mengambil jalan pintas menjauh dari pusat kota.
“Aku akan membawa kalian ke tempatku di perbatasan kota. Dari sana kalian bisa kembali ke Tokyo,” ujar Hiro seolah bisa membaca isi kepala Andrew.
Andrew hanya menggumam dan mengganggukkan kepalanya pelan.
“Apakah tempat yang kita tuju ini adalah propertimu?” tanya Keiko dari belakang.
“Bisa dibilang begitu,” jawab Hiro, sekilas menoleh ke arah Keiko melalui kaca spion, “Jangan khawatir, aku tidak akan menagihkan biaya apa pun kepada kalian,” sambungnya lagi, mencoba untuk bercanda.
Keiko memaksakan seulas senyum dan tidak bertanya lagi. Hiro yang sekarang sedikit berbeda dengan Hiro yang dikenalnya dulu. Bahkan rambut panjangnya yang selalu terikat rapi kini sudah dipangkas habis, sekilas mirip potongan rambut Andrew. Dengan postur tubuh dan fitur wajah yang juga memiliki sedikit kesamaan, kedua pria itu terlihat seperti kakak beradik.
“Bagaimana kamu bisa tahu kamar mana yang kami pakai?” tanya Keiko lagi untuk menghentikan pikirannya mengembara ke mana-mana.
“Aku menanyakannya kepada pemilik penginapan, mengatakan bahwa Mr.Roux menyuruhku untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Bukankah begitu, Mr.Roux?”
“Apa maksudmu?” tanya Andrew, menatap tidak mengerti ke arah Hiro.
“Bukankah kotak besi itu adalah milikmu?” Hiro memberi isyarat agar Andrew menoleh ke belakang.
Andrew melepaskan sabuk pengamannya dan memutar badannya untuk melihat apa yang ada di balik tubuhnya. Keiko ikut menoleh. Kedua orang itu sedikit terkejut ketika melihat metal case Andrew ada di sana.
“Kamu bisa berterima kasih kepadaku nanti,” ujar Hiro dengan ekspresi sedikit sombong, “Kali ini kamu berutang kepadaku, Mr.Roux.”
“Terima kasih, aku pasti akan membalas kebaikanmu ini,” balas Andrew dengan tulus. Meskipun sedikit enggan, harus ia akui bahwa Hiro memang berjasa kali ini. Dengan peralatannya yang berada dalam metal case, akan lebih mudah baginya untuk meminta bantuan.
Hiro menyeringai tipis dan kembali fokus ke jalanan di depannya. Jarak yang harus mereka tempuh kurang lebih 20 kilometer lagi. Ia menekan gas, membuat mobil melaju dengan kecepatan maksimal. Dalam hati, pria itu mencibir dirinya sendiri. Demi Sakamoto Keiko ia rela menurunkan ego dan harga dirinya seperti ini. Padahal jelas-jelas gadis itu tidak pernah menaruh hati padanya. Entah utang budi apa yang dimilikinya kepada Keiko di kehidupan sebelumnya hingga rela melakukan hal seperti ini.
Setelah berkendara selama hampir dua jam, akhirnya mobil itu berbelok memasuki pelataran sebuah bangunan yang tampak menjulang di tengah pepohonan yang rimbun. Tak terlihat bangunan lain di sekitarnya. Hanya ada rumpun perdu dan semak-semak di sekeliling banguna itu. Di bawah cahaya lampu taman yang temaram, Keiko bisa melihat bentuk bangunan yang lebih menyerupai rumah dari abad modern, tapi tampak suram dan tak terurus. Cat berwarna hijau tua menambah kesan gelap dan misterius.
“Ayo, masuk dan beristirahatlah,” ujar Hiro seraya mematikan mesin dan membuka pintu mobil.
Andrew turun dan membuka pintu belakang untuk Keiko. Setelah kekasihnya keluar, Andrew lalu menunduk dan mengambil metal case miliknya. Mereka berdua kemudian mengikuti Hiro berjalan menuju anak tangga. Ketika mencapai ujung tangga, pintu sudah terbuka lebar. Hiro berdiri di sisi pintu dan memberi jalan bagi Andrew dan Keiko untuk masuk.
Begitu langkah Andrew dan Keiko memasuki ruang tamu, mereka tertegun sejenak. Ada belasan ... tidak, mungkin puluhan pria bertampang sangar di dalam sana. Para pria itu berada hampir di setiap sudut ruangan, sibuk membungkus dan mengepak beberapa bungkusan putih ke dalam peti. Beberapa lainnya berdiri dan berjaga dengan memegang senjata laras panjang.
Refleks Andrew maju, berdiri di depan Keiko dengan sikap waspada, menatap pria-pria itu dengan sorot penuh ancaman. Tangannya menyusup ke balik jas, memegang gagang mini gun yang tadi ia selipkan di sana.
“Whoa ... whoa ... easy, Mr.Roux. Tidak ada yang akan menyakiti kalian di sini,” ujar Hiro seraya mengangkat kedua tangannya ke udara dan berdiri di antara Andrew dan pria-pria itu, “Mereka adalah anak buahku.”
Ia lalu menoleh ke belakang dan berkata, “Bersikaplah ramah terhadap tamuku.”
Pria-pria bertubuh kekar dan dipenuhi tato itu pun menunduk untuk memberi hormat, kemudian melanjutkan aktivitas mereka kembali. Sekilas sebuah pemahaman muncul di kepala Andrew ketika melihat bungkusan-bungkusan putih itu, tapi ia tidak memberikan komentar sama sekali.
Keiko menghela napas lega dan melongok dari balik tubuh Andrew. Sekejap kemudian, matanya membulat sempurna ketika melihat kemeja putih Hiro yang memerah di bagian pundak kanan dan pinggangnya.
“Kamu terluka?” seru gadis itu seraya maju dan mengulurkan tangan, hendak menyentuh Hiro.
“Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja,” balas Hiro sambil menatap lurus ke wajah Keiko.
“Apanya yang luka kecil? Nanti bisa infeksi, cepat obati.”
Andrew menarik tangan Keiko agar mendekat kepadanya dan berbisik, “Tetap waspada. Kita tidak tahu apa rencananya.”
“Tapi dia menyelamatkan kita,” bantah Keiko seraya berjalan bersisian bersama Andrew, mengekor sekitar tujuh langkah di belakang Hiro.
“Aku tahu, tapi selama kita berada di sini, kamu harus tetap waspada. Aku tidak yakin ia menolong kita tanpa mengharapkan imbalan.”
Keiko terdiam sejenak sebelum menjawab, “Baik, aku mengerti.”
Mata Andrew berkilat ketika melihat sabuknya yang kini berada di pinggang Keiko. Ia bergumam, “Gadis pintar. Jangan lepaskan itu dari tubuhmu.”
“Um.” Keiko mengangguk dengan patuh dan mulai menaiki anak tangga besi yang berbentuk spiral.
Ia menoleh ke sekeliling, memperhatikan ornamen dan bentuk bangunan yang cukup unik. Hampir ¾ bagian dalam ruangan itu terbuat dari logam campuran yang anti karat dan anti peluru. Hampir tidak ada pajangan di dalam rumah itu, selain sebuah jam dinding perak yang menempel di dinding ujung tangga.
“Lewat sini,” ujar Hiro seraya berbelok ke kiri.
Mereka berjalan melewati lorong sejauh lima meter, kemudian berhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam dengan ukiran burung phoenix keemasan di depannya.
“Mr.Roux, ini kamar Anda. Silakan masuk.”
“Terima kasih,” jawab Andrew, “Di mana kamar Keiko?”
Sudut bibir Hiro terangkat sekilas sebelum menjawab, “Jangan mengkhawatirkannya. Dia masih tunanganku. Aku tidak akan mencelakainya.”
Tubuh Andrew menegang. Kedua tangannya terkepal hingga urat-urat menonjol di punggung tangannya. Sorot matanya jelas memancarkan aura ingin membunuh. Geliginya bergemerutuk sebelum ia membuka mulut dan membalas, “Jangan lupa, kamu sudah menyerahkannya kepadaku, Tuan Muda Kobayashi. Dia milikku sekarang.”
Melihat dan mendengar perkataan Andrew membuat Hiro terkekeh pelan. Ia mencibir dan berkata, “Kita sudah impas, Mr.Roux. Sekarang justru Anda berutang kepadaku. Bayar itu, kembalikan dia kepadaku.”
Bugh!
“Ugh!” desis Hiro ketika sebuah tinju bersarang di dagunya. Ia terjajar beberapa langkah ke belakang sambil sedikit membungkuk.
“Andrew! Hentikan! Dia sedang terluka!” seru Keiko seraya berlari dan memapah tubuh Hiro yang sempoyongan.
“He-he ... tak kusangka Mr.Roux, Anda sangat emosional ....”
“Ayo, biarkan aku mengobati lukamu. Di mana kotak P3K?” ujar Keiko sambil membantu Hiro agar dapat kembali berdiri tegak.
Mata Hiro berkilat penuh kepuasan. Meskipun pukulan Andrew terasa sakit, setidaknya ia berhasil memprovokasi pria itu dan mendapatkan perhatian Keiko. Setidaknya, rasa sakit itu sepadan ....
Ia lalu berbalik dan membiarkan Keiko membantunya berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Andrew yang masih terpaku di depan pintu kamarnya.
***
Gantengan siapa?
Othor ngumpet dulu, takut ditimpuk pembaca 😂😂