Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Mengatasi Masalah



Keiko berjalan mengikuti Alfred, menaiki anak tangga yang melingkar. Ulir besi pegangan tangga berwarna abu-abu, senada dengan marmer yang melapisi lantai bangunan itu.


Sambil berjalan, Keiko mengamati bahwa kebanyakan pajangan dan ornamen dalam mansion itu terbuat dari kristal. Ia juga cukup yakin bahwa beberapa hiasan bahkan terbuat dari permata asli.


Mereka berbelok ke lorong sisi kanan, kemudian terus melangkah hingga tiba di kamar paling ujung. Alfred lalu berhenti dan mereset sistem yang ada pada panel di samping pintu.


“Ini kamar Anda, Nona. Silakan tempelkan ibu jari Anda di sini,” ujar pria itu seraya menunjuk kepada pemindai biometrik dalam panel.


Keiko mendekat dan menempelkan ibu jari tangan kanannya. Lampu pada panel berubah warna dari merah menjadi hijau, membuat daun pintu yang berwarna putih bergerak dan terbuka lebar.


“Terima kasih.” Keiko menatap pintu yang terbuka itu sambil tersenyum gugup. Ke mana Andrew? Apa yang harus dilakukannya di sana?


“Jangan khawatir, Tuan Besar hanya sedang memberi pelajaran kepada Tuan Muda saja. Seharusnya sebelum jam makan siang mereka sudah berbaikan. Anda beristirahatlah dulu. Saya segera menyiapkan pelayan untuk Anda. Nanti, katakan saja apa yang Anda butuhkan kepada mereka,” jelas Alfred seolah mengerti kegundahan hati Keiko.


“Baik. Sekali lagi terima kasih banyak atas sambutan yang ramah ini,” balas Keiko seraya membungkuk dalam-dalam. Tiba-tiba ia merasa menyesal karena tidak sempat menyiapkan buah tangan untuk ayah Andrew. Mungkin nanti ia bisa meminta Andrew untuk menemaninya mencari sesuatu di pusat kota.


“Sama-sama. Kalau begitu, saya pergi dulu.” Alfred mengangguk sekilas kemudian berbalik dan berjalan kembali menyusuri lorong.


Setelah punggung Alfred tak lagi terlihat, Keiko masuk ke dalam kamar. Ia menekan tombol merah di panel sisi dalam kamar, membuat pintu otomatis tertutup dan terkunci. Ia mengedarkan pandangan, mengamati dan menilai ruangan bernuansa klasik itu dengan sedikit takjub.


Desainnya kamar itu minimalis, tapi diisi dengan barang-barang berkualitas nomor satu. Keiko melangkah maju dan menyentuh permukaan lemari baju yang menempel di dinding dekat balkon, mereknya sama dengan miliknya yang ada di Tokyo. Begitu pun dengan ranjang yang berada di tengah ruangan, jenisnya sama seperti yang ia gunakan sebelumnya, tapi dengan ukuran yang lebih besar.


Keiko mendesah pelan dan berbaring di atas kasur. Rasanya sedikit asing, membuatnya tiba-tiba merasa kesepian dan merindukan rumahnya di Tokyo, juga ayahnya ....


Mata gadis itu memerah. Ia menyusut hidungnya yang tiba-tiba terasa masam dan pedih. Seolah ada bongkahan kapas yang menyumpal tenggorokannya, membuatnya tercekat dan merasa sesak. Kehidupannya yang dulu ... sepertinya tidak ada jalan sama sekali untuk kembali ke sana ....


***


Di lantai bawah, Alfred memberikan instruksi kepada salah satu kepala pelayan untuk mencarikan dua orang pelayan wanita terbaik khusus untuk melayani Keiko. Ia meminta agar kepala pelayan melakukan tugas itu dengan segera. Setelah itu, ia segera kembali ke ruang tamu dan menghampiri Marco Roux yang sedang menenggak whiskey sendirian.


“Tuan, apa yang Anda lakukan? Perhatikan kesehatan Anda kalau masih ingin melihat cucu dari Tuan Muda,” tegur Alfred. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil botol dan gelas minuman beralkohol itu dari tangan Marco Roux, tapi tuannya itu menepis tangannya dengan keras.


“Alfred, beri tahu aku, apa yang harus aku katakan kepada Marquess of Alrico? Dia pasti akan mengamuk kalau tahu Andrew pulang membawa gadis lain. Orang tua mana yang tidak marah ketika tahu putrinya dipermainkan?”


“Tidak usah khawatir, Tuan. Katakan saja bahwa Tuan Muda dan Nona Keiko sudah menikah di luar negeri. Tidak mungkin sang Marquess akan tetap memaksa Tuan Muda untuk menikah dengan Nona Cecille,” jawab Alfred dengan tenang. Ia sudah memikirkannya saat mengantar Keiko ke kamar. Satu-satunya cara untuk memutuskan pertunangan Mr.Roux junior hanya dengan cara itu.


Atau ....


“Kalau tidak, katakan saja kalau Nona Keiko sudah mengandung calon penerus keluarga Roux,” imbuhnya lagi.


“Itu hanya saran saja, atau Anda bisa membicarakannya lebih dulu dengan Tuan Muda dan Nona Keiko.”


Marco Roux menatap Alfred dengan ekspresi yang rumit, lalu mendesah dan menutup matanya. Ia benar-benar merasa tidak berdaya dengan tingkah putra satu-satunya itu. Namun, kegigihan Andrew selama bertahun-tahun ternyata membuahkan hasil. Putranya berhasil membuktikan bahwa keraguannya selama ini adalah hal yang keliru. Saat melihat wajah kekasih Andrew tadi, ia rasa nyawanya sempat melayang beberapa saat sebelum kembali ke raganya. Ia pikir gadis itu adalah lukisan Andrew yang hidup. Bagaimana bisa mereka begitu mirip?


Lalu, mengenai Cecille ... itu merupakan kesalahannya karena terus memaksa Andrew untuk menjalin hubungan dengan gadis itu. Seharusnya sejak awal ia sudah mengambil keputusan yang tegas saat Andrew terus menolak. Kalau sudah begini ... bukankah ia sendiri juga yang kesulitan?


Setelah menghela napas dan mengembuskannye keras-keras, Marco Roux menenggak habis minuman dalam botolnya sebelum berkata, “Undang Marquess untuk makan malam di Le Taillevent, aku perlu bicara dengannya. Jangan lupa siapkan berkas beberapa properti kita yang di Eropa ... ah, tambahkan juga yang ada di Asia Timur, biarkan dia memilih satu atau dua di antaranya. Semoga dengan begitu keadaan hatinya sedikit membaik.”


Alfred tertegun sejenak mendengar perintah atasannya. Ia tahu nilai jual properti milik Phoenix.Co. Bahkan satu gedungnya saja bisa mencapai milyaran. Tuan Marco ingin menyerahkan satu atau dua aset penuh?


“Anggap saja sebagai kompensasi karena putrinya sudah menunggu begitu lama, hanya untuk dicampakkan oleh putraku, si bedebah cilik itu ....” Marco Roux melambai-lambaikan tangannya dengan sangat tidak berdaya. “Di mana dia sekarang?”


Alfred mengangkat dagunya dan menatap melewati pundak Marco Roux sambil menjawab, “Ada di belakang Anda, Tuan.”


“Apa yang sedang dia lakukan?”


“Memukuli kaca ... sepertinya sambil berteriak.”


“Tutup kacanya. Aku benar-benar ingin menendang bokongnya yang tidak tahu diri itu,” gerutu Marco seraya menuangkan whiskey ke dalam gelasnya lagi.


“Baik, Tuan.”


Alfred mengambil remot kontrol di atas meja dan mengarahkannya ke jendela. Dalam sekejap tirai-tirai panjang menjuntai dan perlahan menutupi pandangan. Gerakan Andrew memukuli kaca semakin cepat sebelum akhirnya sama sekali tak terlihat lagi.


Alfred mendesah pelan. Karena masalah ini, ia jadi ikut pening. Sekarang, bagaimana meredakan emosi Marco Roux?


Sementara itu di luar sana, Andrew meninju kaca jendela dengan kesal. Namun, hasilnya hanya buku-buku jarinya yang terlihat memerah. Tentu saja, semua kaca di mansion itu anti peluru, kualitasnya sama dengan berlian terbaik yang ada di muka bumi. Jadi, tindakan bodohnya tadi hanya membuat dirinya sendiri yang terluka.


“Sial!” umpat Andrew seraya meringis menahan sakit. “Apa yang baru saja mereka bicarakan?”


Ia tahu terus berteriak pun tidak menghasilkan apa-apa. Seluruh bangunan itu kedap suara. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menunggu amarah ayahnya mereda.


Akan tetapi, bagaimana dengan Keiko? Ia tidak bisa membiarkan gadis itu sendirian di dalam sana dan kebingungan. Apalagi, ekspresi Alfred saat berbincang dengan ayahnya tadi tampak sangat mencurigakan. Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu. Ia harus segera mencari tahu.


***