
“Um ... maafkan aku,” gumam Keiko pelan, “Aku hanya sedang kesal dan asal bicara.”
Wajah gadis itu terlihat sedikit bersalah. Emosinya yang meledak-ledak terkadang membuatnya berpikir sembarangan dan berkata sesuka hati. Biar bagaimana pun, apa yang sudah dilakukan Andrew untuknya sudah terlalu banyak.
Pria itu juga tidak pernah melakukan sesuatu di luar batas kewajaran, seperti diam-diam menyelinap ke kamarnya, atau memaksanya melakukan hal-hal yang tidak ia kehendaki. Padahal kalau Andrew mau memaksa, pria itu sangat bisa melakukannya karena seberapa pun kuat dirinya, ia tetaplah seorang perempuan.
Selama ini yang Andrew lakukan hanya sebatas menggodanya seperti tadi, membuatnya kesal dan merona. Um ... sebenarnya ia kesal kepada dirinya sendiri karena selalu merasa berdebar-debar setiap kali pria itu menggodanya seperti tadi. Debaran yang terasa aneh dan tidak wajar. Ia kesal sekaligus menyukai godaan pria itu. Benar-benar menjengkelkan karena dalam hati ia terpaksa mengakui bahwa ia menyukai cara pria itu menggodanya.
Andrew yang dapat membaca pergolakan batin dari raut wajah Keiko hanya bisa tersenyum pasrah. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan? Memarahinya? Tidak mungkin! Ia sangat mencintai gadis itu sampai-sampai tidak rela jika melihatnya bersedih.
Pria itu mengembuskan napas pelan dan berkata, “Tidak apa-apa, wajar kalau kamu marah. Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menahan diri untuk mengganggumu. Siapa suruh kamu sangat imut kalau sedang marah. Aku jadi ingin terus menggodamu.”
Keiko kembali duduk dengan perlahan sambil menatap Andrew yang sedang tersenyum lembut ke arahnya. Lihat, lagi-lagi jantungnya berdentam-dentam tak beraturan, seperti seorang bocah perempuan yang sedang bertemu kekasihnya. Sungguh memalukan.
Gadis itu mengabaikan tampang Andrew yang jelas-jelas sedang menggodanya lagi. Ia berdeham untuk menjernihkan suaranya, kemudian berkata, “Cincin itu ... ayah memberikannya saat aku bertunangan dengan Hiro. Dia mengatakan agar aku tidak memberikannya kepada siapa pun. Saat itu, aku tidak terlalu memerhatikan perkataannya. Tapi kemudian, aku merasa ucapannya itu sedikit aneh. Bukankah cincin pemberiannya memang tidak akan aku berikan kepada siapa pun? Lalu, aku melepas dan memeriksa benda itu. Lihatlah ukiran di bagian dalamnya.”
Andrew memicing. Dengan hati-hati ia mendekatkan cincin dan memiringkannya sehingga bagian dalamnya terlihat cukup jelas. Keningnya berkerut ketika melihat beberapa angka dan gambar aneh yang terukir di sana.
Ada tiga buah simbol dengan bentuk yang berbeda satu sama lain. Simbol paling depan menyerupai piramida terbalik dengan garis-garis horizontal memenuhi seluruh bidangnya. Simbol kedua seperti menyerupai huruf “U” dengan kedua ujung yang sedikit melengkung ke bawah, ada sulur-sulur tipis yang merambati simbol itu hingga kedua ujungnya. Simbol ketiga menyerupai trisula dengan mata tombak yang tumpul. Benar-benar sangat aneh.
“Aku rasa itu adalah sebuah titik koordinat,” ujar Keiko memecah keheningan.
Alis Andrew bertaut. Kemungkinan besar ukiran angka-angkanya memang menunjukkan sebuah titik koordinat, tapi apa makna simbol-simbol kecil di antara angka-angka itu?
“Tunggu sebentar,” ujar Andrew sambil meletakkan cincin di atas meja, lalu berjalan ke kamarnya.
Tak lama kemudian, ia kembali dengan menggunakan The Eyes. Pria itu mengambil kembali cincin dan memindainya di depan kacamata khusus miliknya, lalu menekan tombol kecil di gagang kacamata sehingga gambar yang hanya bisa dilihat olehnya itu kini melayang di atas meja dapur dengan warna biru cerah yang mencolok.
Keiko memerhatikan angka dan simbol dari cincinnya tersalin dan muncul dengan format yang lebih besar di hadapannya dengan penuh minat.
Garis-garis hologram yang memindai cincin kembali bergerak dan berkedip-kedip. Tak lama kemudian, garis-garis itu menampilkan sebuah peta kota Tokyo secara umum, lalu perlahan menyempit hingga ke tiga titik. Namun, hasil pemindaian dan pelacakan hanya sampai di sana. The Eyes berhenti beroperasi setelah menemukan tiga lokasi di tiga titik yang berbeda.
“Apa maksud ini semua?” gumam Keiko setelah sadar dari rasa terkejutnya.
Ia masih menatap tidak percaya ke arah hologram yang masih menyala di depannya. Ia pernah melihat kacamata yang sedang dipakai oleh Andrew satu kali, saat pria itu menyelamatkannya dan melompat dari gedung yang menjadi tempat penyelenggaraan acara amal. Namun, ia sungguh tak mengira kemampuan kacamata itu bisa sehebat ini.
Mr.Sakamoto memikirkan hal-hal secara detail dan luar biasa untuk melindungi warisan bagi putrinya, bahkan setelah dia meninggal, dia masih bisa menjaga Keiko dengan cara yang ajaib.
“Dia pasti sangat menyayangimu,” sambung Andrew lagi sambil mengakses informasi yang baru saja ia dapat dan mengirimkannya kepada Garry. Ia yakin seharusnya bocah laki-laki itu bisa membantunya memecahkan masalah ini.
Sementara itu, tatapan Keiko kembali menerawang jauh. Ucapan Andrew membangkitkan kenangannya akan sang Ayah. Pria itu memang tidak pernah bersikap kasar kepadanya. Padahal, menurut pengetahuannya, orang-orang seperti ayahnya lebih memilih untuk mendapatkan keturunan laki-laki daripada perempuan. Akan tetapi, ayahnya tidak pernah menyinggung hal ini sama sekali.
Ayahnya selalu menjaga dan mencintainya dengan sepenuh hati. Ia tahu, perjodohan dengan Hiro pun disetujui oleh ayahnya karena mempertimbangkan keselamatan dirinya. Ayahnya pasti tidak ingin ia diincar oleh keluarga Kobayashi karena masalah perebutan kekuasaan antar klan, oleh karena itulah ayahnya menjodohkannya dengan Hiro.
Tanpa terasa air mata Keiko kembali menetes. Kini ia mengerti, ayahnya hanya ingin melindunginya ... sama seperti dirinya yang ingin melindungi sang ayah dengan menyetujui perjodohan itu.
“Jangan menangis,” bujuk Andrew ketika melihat wajah Keiko yang penuh kesedihan.
Keiko menunduk dan buru-buru mengusap jejak air mata di pipinya. “Tidak menangis, hanya kemasukan debu,” gumamnya pelan.
Andrew melepas The Eyes dan meletakkannya di atas meja. File sudah dikirim kepada Garry dan Clark. Sekarang ia hanya harus menunggu hasilnya saja.
Pria itu mengambil cincin berlian yang sudah selesai dipindai dan berjalan ke sisi Keiko. Dengan lembut ia meraih jemari gadis itu dan menyematkan kembali cincin itu di tempat semula.
“Sakamoto Keiko, jangan bersedih, ya ... jangan khawatir ...,” ujar Andrew sambil berjongkok untuk menyejajarkan tubuh mereka.
Mata bulat Keiko menatap tak berkedip ke arah Andrew. Posisi pria itu mirip seperti seseorang yang akan melamar kekasihnya. Pemikiran absurd itu membuat wajah Keiko tiba-tiba memerah. Ia baru saja hendak menepis tangan Andrew ketika suara pria itu kembali terdengar.
“Mulai hari ini, serahkan semua kekhawatiranmu kepadaku, ya?” ujarnya dengan nada membujuk yang terdengar sedikit seksi sekaligus penuh kesungguhan, “Aku akan mengurus semuanya untukmu, jadi ... jangan takut, Baby ....”
Pelupuk mata Keiko kembali memanas. Dengan susah payah ia menahan dorongan untuk menghambur ke pelukan pria di hadapannya itu. Tatapan Andrew benar-benar terlihat murni, tidak ada kepura-puraan, hanya ada ketulusan dan kejujuran.
Keiko mati-matian mencegah agar ia jangan sampai tersedak karena menahan tangis, jadi ia tidak membuka mulut untuk menjawab perkataan Andrew barusan, hanya menggigit bibir dan mengangguk pelan.
Andrew tersenyum lega. Dengan jawaban sesederhana itu pun sudah membuatnya sangat puas. Keiko percaya kepadanya, itu sudah lebih dari cukup.
***