
Ketiga orang itu terus masuk ke dalam hutan, menerobos semak perdu dan tanah yang dipenuhi dedauan dan ranting kering. Suara ranting yang berderak patah karena terinjak menjadi satu-satunya suara yang menimpali derik jangkrik dan binatang malam lainnya.
Ketika Keiko sudah hampir kehabisan napas karena terus berlari, tiba-tiba langkah Hiro melambat dan memasuki jalan setapak yang sepertinya sudah biasa dilewati.
“Kita sudah hampir sampai,” ujar Hiro sambil menunjuk ke depan.
Sekitar 200 meter di depan sana, samar-samar terlihat bayangan sebuah pondok kayu yang berdiri di tengah sebuah tanah lapang yang cukup luas. Di bawah temaram cahaya bulan yang bersinar redup di langit malam, bangunan itu terlihat besar tapi juga sedikit menyeramkan. Di sebelah pondok itu ada sebuah bangunan yang mirip gudang ... atau garasi, atau istal kuda? Entahlah, gambarannya tidak cukup jelas dari jangkauan pandangan Keiko.
“Itu pondok berburu. Kita ... sssh, jangan bergerak.” Hiro menghentikan langkahnya tiba-tiba dan berlindung di balik pohon. Tangannya bergerak-gerak, memberi isyarat agar Andrew dan Keiko melakukan hal yang sama.
Dari balik pondok di dekat pondok kayu, tampak seberkas cahaya yang menyorot ke sana kemari. Tak lama kemudian, muncul dua bayangan manusia dari sana, berpencar ke sisi kiri dan kanan sambil terus menyoroti hutan dengan senter di tangan mereka.
“Entah bagaimana mereka bisa sampai di sini,” gumam Hiro pelan.
“Sepertinya mereka mengepung dari semua sisi, tidak hanya menyerang rumahmu saja,” timpal Andrew seraya memperhatikan orang-orang yang masih mencari dalam kegelapan di depan sana, “Kalau mereka tak kunjung pergi, sepertinya kita harus melawan mereka.”
“Ryuchi sialan itu, seharusnya aku membunuhnya selagi ada kesempatan,” umpat Hiro kesal. Seandainya ia tahu sejak awal semua akan menjadi seperti ini, sudah pasti ia tidak akan memberikan kesempatan kepada pria itu untuk hidup dengan tenang.
Hiro menghela napas satu-satu sambil mengernyit. Sepertinya berlari dengan jarak lumayan jauh membuat luka-lukanya kembali robek. Cairan hangat yang tadi merembes dari baju dan membasahi tangannya kini sudah terasa dingin.
Setelah deru napasnya sudah lebih teratur, Hiro membuka mulut dan berkata, “Ada helikopter di sana. Aku memakainya untuk datang ke sini kemarin. Kita bisa memakainya untuk keluar dari tempat ini, tapi mungkin tidak bisa mencapai jarak yang jauh. Bahan bakarnya belum diisi lagi.”
“Tidak apa-apa. Kita bisa pergi ke landasan pacu milikku dan memakai pesawat jet dari sana. Aku sudah mengirim pesan kepada anak buahku dan menyuruh mereka untuk bersiap,” balas Andrew.
“Bagus. Sekarang kita hanya perlu sampai di pondok itu tanpa tertangkap.”
Krak!
Suara ranting yang terinjak membuat tubuh ketika orang itu menegang. Andrew menarik tangan Keiko untuk berjongkok sambil mengedarkan pandangan dengan waspada. Dari arah kiri mereka, tampak sorotan cahaya senter menari-nari seperti kunang-kunang raksasa yang siap menguak keberadaan mereka. Rupanya salah satu dari orang-orang itu datang dari sisi yang lain dan hampir mencapai lokasi mereka berada.
Andrew segera meletakkan metal case di atas tanah dan membukanya. Ia mengambil belati bergerigi dari kotak itu dan memegangnya dengan mantap. Setelah menutup kembali kotak itu, ia menyerahkan mini gun miliknya kepada Hiro dan berkata, “Suara tembakan akan memicu orang-orang itu semakin banyak datang ke sini. Jadi gunakan hanya jika benar-benar dalam situasi yang terdesak.”
“Aku mengerti,” kata Hiro seraya bersandar ke pokok pohon. Ia menerima senjata itu dan menyelipkannya di balik punggung.
“Tunggu di sini,” ujar Andrew kepada Keiko, “Sebaiknya kamu buka ikat pinggang itu untuk berjaga-jaga.”
Keiko mengangguk dengan patuh dan menjawab, “Baik. Kamu berhati-hatilah.”
Andrew tetap menunduk dan melangkah perlahan ke sisi pohon yang lain, memutari si pria pemegang senter yang semakin mendekat ke arah Hiro dan Keiko.
Andrew terus berjalan dengan hati-hati, bersembunyi di balik pepohonan setiap kali lampu senter menyorot ke arahnya. Kemudian, ketika menemukan sebatang pohon yang tidak terlalu besar dengan banyak cabang dan ranting, ia berhenti dan mendongak. Matanya berkilat, lalu tubuhnya bergerak cepat dalam kegelapan.
Rupanya si pria pemegang senter mulai curiga. Ia mengalihkan langkah kakinya menuju pokok pohon tempat Andrew berlindung. Dengan sangat hati-hati, ia melangkah maju. Tangannya teracung lurus ke depan dengan sikap waspada.
Kini dari jarak yang semakin dekat, Andrew dapat melihat dengan jelas bahwa yang ada dalam genggaman pria itu bukanlah senter biasa, melainkan sebuah senjata taktis berupa senapan laras panjang semi otomatis yang dilengkapi lampu sorot di ujungnya.
Bugh!
“Umph!”
Andrew membelitkan kakinya ke pinggang pria itu, mengunci dan membantingnya ke tanah. Dalam gerakan yang hampir bersamaan, ia membekap mulut pria itu dengan tangan kiri sambil mencabut belati yang tadi ia tancapkan dengan tangan kanan. Sepersekian detik kemudian, ia membuat gerakan horizontal di depan leher pria itu.
Darah muncrat ke mana-mana, sebagian mengalir membasahi tangan Andrew yang masih menekan belati di belakang kepala korbannya.
Tak sempat memberikan perlawanan, tubuh pria yang disergap Andrew berkelonjotan dengan mata melotot. Kakinya menendang ke sembarang arah hingga dedaunan kering tersepak ke udara. Seketika aroma anyir menyeruak di udara, bercampur dengan bau apak daun-daun busuk yang terangkat akibat pergulatan di atas tanah itu.
Beberapa saat kemudian, tubuh pria berkepala pelontos itu berhenti bergerak. Matanya masih terbuka lebar, memancarkan sorot keterkejutan dan kengerian saat jiwa terlepas dari raganya.
Andrew berguling dan hendak mengambil senjata pria yang sudah mati itu. Namun, saat ia mendongak, seberkas cahaya langsung menyinari wajahnya, membuatnya menyilangkan tangan di depan wajah untuk menghadang cahaya yang menyakiti matanya.
“Jangan bergerak!” perintah pria yang berjarak sekitar tiga langkah di depan Andrew dalam bahasa Jepang. Ia mengambil alat komunikasi dari balik jasnya dan menekan tombol on.
“Lapor. Aku—“
Crash!
Bruk.
Kepala pria itu menggelinding di atas tanah sebelum sempat menyelesaikan perkataannya. Potongan kepala itu baru berhenti ketika menabrak jasad rekannya yang bermandikan darah. Tak lama kemudian, tubuhnya yang masih tegak terlihat limbung sesaat sebelum jatuh berdebam ke atas tanah.
***
Yang bilang Hiro itu reinkarnasi Benji, yup ... bener banget😁
Dulu dia berharap agar bisa dipertemukan lebih awal dengan Kinara di kehidupan berikutnya.
Tapi sayangnya, Kinara Lee hanya untuk Alex Smith seorang.
Uhuk!
Jangan lupa like dan votee yaaa,mwuah...
btw,tlg bantu like di sini yaa
mikasihh