
“Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku pergi dulu.” Andrew bangun dan membawa berkas-berkas di atas meja, bersiap untuk pergi.
“Tunggu!”
Cecille tiba-tiba bangun dan berjalan sisi ranjang. Ia membuka laci kecil yang ada di bawah meja dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna ungu muda dari sana.
“Kudengar istrimu sedang hamil, aku meminta pelayan untuk menyiapkan suplemen yang terbaik untuknya. Aku sungguh berharap istrimu dan bayi di dalam perutnya bertumbuh dengan sehat,” ujar gadis itu seraya menyodorkan bungkusan di tangannya kepada Andrew.
Mata Andrew memicing. Ia hanya berdiri di sana dan tidak menyentuh benda yang diserahkan kepadanya sama sekali.
“Tenang saja, aku tidak bermaksud untuk ....”
Tiba-tiba Cecille mundur satu langkah sebelum menyelesaikan ucapannya. Ia menatap curiga ke arah Andrew yang sedang memperhatikannya dengan sorot yang aneh. Sangat aneh ... karena pria itu tidak terlihat seperti ... tunggu, apa yang terjadi?
Kado di tangan Cecille jatuh ke lantai. Napas gadis itu memburu, seiring detak jantungnya yang terus meningkat. Hawa panas menjalar dari telapak tangan dan kakinya, perlahan menjalar seperti semut yang sedang menggigiti seluruh permukaan tubuhnya, terasa sedikit gatal.
“Panas ... ini sangat panas.” Cecille mendesah tak karuan dan mulai melucuti pakaiannya satu per satu. Ia menatap ke arah Andrew, berusaha memastikan dugaan dalam hatinya.
“An-drew ... kamu ... gelas mana yang kamu minum?”
Cecille menggeliat seperti cacing, tangannya mulai meraba dirinya sendiri. Seluruh kulitnya mulai berubah warna dengan tidak normal, merah cerah seperti buah ceri merah yang sudah matang.
“Kenapa? Apakah ada bedanya?” tanya Andrew sambil bersedekap. Ia sudah curiga sejak awal. Rupanya tebakannya benar. Gadis tidak tahu diri di depannya itu berusaha menggunakan trik. Heh. Dasar bodoh.
“Ti-tidak ... a-aku ... oh ....”
Cecille benar-benar tidak tahan. Sekujur tubuhnya terasa membara. Rasa yang aneh menggelitik inti tubuhnya, memberi sensasi seperti kesemutan dan membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Napasnya terengah-engah. Ia mendesah-desah sambil menempelkan tubuh polosnya ke kaki dan dada Andrew, kemudian mulai meraba-raba ikat pinggang pria itu, berusaha untuk membukanya.
Andrew menepis tangan Cecille dengan kasar sambil berkata, “Hanya ada satu orang yang boleh membuka ikat pinggangku, dan itu bukan kamu.”
“Andrew, aku mohon ... tolong aku ... panas sekali, beri aku ....” Cecille menggeliat dan mencoba untuk meraih wajah Andrew, ingin menciumnya.
Andrew memutar tubuh Cecille hingga membelakanginya. Dari cermin besar yang ada di lemari, pantulan tubuh mereka yang kontras terlihat sangat jelas. Tubuh Cecille yang polos merah merona dan dengan wajah yang dipenuhi hasrat, berbanding terbalik dengan Andrew yang masih berpakaian utuh dengan ekpresi dingin dan acuh tak acuh.
“Lihat baik-baik,” ujar Andrew seraya menunjuk ke cermin. “Meski kamu tidak memakai apa pun dan menggesek-gesekkan tubuhmu kepadaku, aku tetap tidak tertarik. Sekarang kamu sudah mengerti?”
Tubuh Cecille semakin gemetaran. Ia sama sekali tidak menyangka Andrew akan mempermalukannya seperti itu. Meski demikian, dengan sisa-sisa keberanian yang masih ada, gadis itu kembali memutar tubuhnya menghadap Andrew dan memohon, “Tolong aku, anggap saja kamu sedang membantuku ... aku tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab. Biarkan yang pertama kali, kuberikan kepadamu, ya ....”
Tanpa menunggu jawaban Andrew, gadis itu berjinjit dan mencium sudut bibir Andrew. Kedua tangannya terentang dan memeluk pria itu erat-erat.
Refleks, Andrew mendorong tubuh Cecille dengan jijik hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Ia mengusap bekas sentuhan gadis itu dengan kening berkerut dalam.
“Aku tidak bisa membantumu,” sahut pria itu dengan dingin. “Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah membawakan seseorang untuk menolongmu. Sebutkan sebuah nama, kalau tidak ... aku akan menyeret siapa pun yang kutemui di jalan dan membawanya ke sini.”
Cecille tertunduk dan menangis dengan keras. Tubuhnya terasa sangat tidak nyaman, kepalanya seolah sudah hampir pecah. Namun, ia sama sekali tidak menyangka Andrew akan benar-benar menolaknya seperti ini. Pria itu bahkan mengancam akan membawa sembarang orang, benar-benar tidak punya hati!
“Cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu. Istriku sedang menungguku pulang,” ujar Andrew seraya melihat arlojinya dengan tidak sabar.
Kalimat itu semakin membuat Cecille terpuruk dan tak berdaya. Obat yang ia siapkan ini tidak biasa diatasi, satu-satunya cara menuntaskannya adalah melakukannya. Akhirnya gadis itu menyerah dan menyebutkan satu-satunya nama yang terlintas di benaknya. Meski di bawah pengaruh obat, ia tidak rela memberikan pertama kalinya kepada sembarang orang!
“Hansel. Aku mau dia ...,” jawab Cecille dengan suara yang serak dan sengau. Ia sudah kalah. Semuanya sia-sia ... ia tidak akan pernah bisa ....
Hansel. Bagus sekali. Sangat bagus!
Mata Andrew berkilat, sudut bibirnya tersungging sekilas. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia segera keluar dari kamar itu. Dua orang pengawal yang tadi menyambutnya sudah tidak terlihat. Tampaknya Cecille sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.
Andrew mendengkus kasar sebelum melakukan panggilan. Ia terlihat benar-benar sudah tidak sabar, ingin segera pulang dan membersihkan tubuhnya dari aroma Cecille yang menempel. Ia tidak ingin Keiko mencium aroma itu dan salah paham terhadapnya.
“Di mana Keiko? Apa yang terjadi padanya?” tanya Hansel di antara deru napas yang masih memburu.
“Maaf, sepertinya anak buahku salah memberikan informasi. Itu bukan Keiko, tapi masih seseorang yang kamu kenal. Cepat masuk dan bantu dia,” jawab Andrew dengan santai. Ia lalu menepuk bahu Hiro dan berjalan menjauh.
“Hey! Apa maksudmu? Teman apa?” teriak Hiro kebingungan.
“Masuklah. Kamu akan tahu,” balas Andrew tanpa menoleh ke belakang.
“Dasar sial,” umpat Hiro kesal. Ia menatap pintu yang sedikit terbuka dengan ragu-ragu. Apakah Andrew sedang mencoba untuk menjebaknya?
“Aku akan membunuh bajingan itu kalau berani menjebakku,” gerutu pria itu sebelum mendorong pintu dan melangkah masuk.
Namun, baru maju tiga langkah ke dalam, tubuh pria itu mendadak membeku. Melihat tubuh molek yang masih tergeletak di lantai, ia langsung mengerti akan apa yang baru saja terjadi. Ia mendorong pintu hingga menutup dan terdiam sejenak untuk berpikir. Andrew sialan itu benar-benar menariknya masuk ke dalam perangkap. Namun, ia juga tidak bisa meninggalkan gadis di hadapannya itu begitu saja. Benar-benar sial.
“T-tolong aku,” pinta Cecille dengan napas satu-satu. Sorot matanya yang sayu terlihat penuh permohonan.
Hansel mengumpat dalam hati, kemudian membuka jasnya dan melangkah maju. Ia menyampirkan jasnya ke tubuh Cecille dan memapahnya ke ranjang.
“Gadis Bodoh, sudah kukatakan sebelumnya, sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik. Kenapa kamu sangat keras kepala?” omel Hansel sambil merogoh ponsel dari saku celananya. “Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter.”
Cecille menabrak tubuh Hansel dan mendesah di telinganya, “Dokter tidak bisa menolong ... hanya bisa hilang dengan cara melakukannya. Kumohon ... tolong aku ....”
Hansel menelan ludah dengan susah payah. Ia adalah laki-laki normal. Seorang gadis tanpa busana menempel erat di tubuhnya dengan aroma khas yang menguar di udara, tentu saja tubuh bagian bawahnya segera memberi reaksi. Apalagi ia memang sedikit tertarik kepada Cecille. Ini sungguh pertarungan antara surga dan neraka ....
“Cecille, apakah kamu sadar dengan ucapanmu saat ini?” tanya Hansel dengan suara serak dan dalam. "Kamu tahu siapa aku?"
“Umh, yeah ... aku tahu,” balas Cecille sambil menggosokkan tubuhnya semakin keras. Seluruh permukaan kulitnya terasa semakin panas dan gatal. Ia sungguh sudah tidak tahan lagi.
“Kalau kita melakukannya, besok semuanya tidak akan sama lagi. Tidak ada jalan untuk kembali. Aku tidak ingin—“
“Aku tahu.” Cecille mendesis tidak sabar dan segera membungkam mulut Hansel dengan bibirnya.
Hansel mendorong tubuh Cecille menjauh. “Jangan begini. Kamu tahan sebentar. Aku akan—“
“Kenapa? Apa aku begitu buruk? Bahkan kamu pun tidak menginginkanku ....” Bahu Cecille gemetar. Matanya yang sudah merah terlihat semakin menyedihkan ketika butiran air bergulir turun melewati pipinya.
Hansel mengepalkan tangan erat-erat dan menahan napas. Sekarang ia sedikit tahu apa yang mungkin diucapkan oleh Andrew kepada Cecille. Rupanya mulut Andrew Roux sangat berbisa!
Pria itu berdeham dan bergumam, “Bukan begitu ... aku ....”
Jari-jari ramping Cecille bergerak dengan sedikit terburu-buru di depan dada Hansel dan melepaskan kancing kemejanya satu per satu. Tangannya terus meluncur ke bawah, melepaskan kait ikat pinggang dan menurunkan celana pria itu hingga sebatas paha. Sementara itu, bibir dan lidahnya terus bergerak dengan aktif, mengirimkan gelenyar nikmat yang membuat Hansel tak bisa menahan diri lebih lama lagi.
Iblis dalam dirinya menang ....
***
uhuk!
mana nih yang ngoceh2?
🤣🤣🤣
***
jangan lupa like dan vote yaaa