Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Semua untuknya



Silversea Cruises.


Semburat jingga keemasan di sisi kanan tampak kontras dengan kilau keperakan di sisi kiri. Kedua warna yang memiliki daya tarik masing-masing itu dipisahkan oleh buih yang tercipta di permukaan air. Ajaib, bagaimana cahaya matahari yang sama bisa menghasilkan perpaduan warna yang berbeda. Keiko yang sedang bersandar di tepi pagar pembatas dan menikmati sunrise hanya bisa terpukau, tak mengalihkan tatapannya dari keindahan di depan matanya.


“Kamu menatap air dengan tatapan memuja seperti itu, suamimu ini bisa cemburu, tahu tidak?”


Keiko menoleh cepat dan tidak bisa menahan diri untuk tertawa. Suaminya yang semakin hari semakin manja itu benar-benar tidak masuk akal, bahkan terhadap benda mati pun bisa cemburu ... sungguh tidak tertolong lagi.


“Tapi pemandangannya benar-benar cantik. Aku sangat ... hey, apa yang kamu lakukan?”


Keiko melotot saat melihat Andrew melepas seluruh kancing kemejanya, memamerkan otot-otot perutnya yang keras dan berkilat memantulkan cahaya matahari pagi. Lekukan di bawah pusar itu membuat Keiko menelan ludah dan menggigit bibir. Ia tahu dengan jelas apa yang ada di bawah sana, monster buas ... itu monster yang tak terkalahkan ....


Andrew tersenyum puas melihat reaksi istrinya. Ia mendekat dan mengungkung tubuh wanita itu dengan kedua tangannya, kemudian berbisik, “Ke depannya, hanya boleh memberikan tatapan itu untukku seorang. Oke, Baby?”


“Astaga, Andrew ... pakai kembali bajumu,” gerutu Keiko seraya mengulurkan tangan dan mengancingkan bulatan-bulatan hitam di sisi kemeja suaminya satu per satu.


Suara kekehan pelan berbaur dengan debur ombak yang bergulung tertiup angin. Sementara Keiko merapikan kancing bajunya, Andrew mengusap rambut Keiko dan menyelipkan helaian yang meriap ke balik telinga.


“Sebentar lagi kita akan sampai. Kamu mau sarapan di kapal atau nanti sekalian di sana?” tanya Andrew.


“Um ... nanti saja. Lagi pula sekarang belum terlalu lapar,” jawab Keiko seraya mengaitkan kancing terakhir. Ia menepuk dada suaminya dengan keras sebelum melanjutkan, “Sudah selesai. Lain kali tidak boleh membuka baju sembarangan. Hanya boleh di depanku saja. Di tempat terbuka seperti ini, sembarang orang bisa ikut melihat. Aku tidak suka.”


Sontak Andrew terbahak hingga matanya menyipit, sama sekali tak menyangka istrinya akan membalas dengan intonasi angkuh dan dominan yang biasa digunakannya. Ia mencubit ujung hidung Keiko dengan gemas sebelum menjawab, “Tidak berani lagi, lain kali hanya akan membukanya di depan istriku saja.”


“Keputusan yang bagus. Kalau berani sembrono lagi, aku akan memukul bokongmu,” ujar Keiko sambil mengangguk puas dan memasang wajah galak.


Huh, memangnya hanya suaminya yang bisa posesif? Barang miliknya, tidak ada yang boleh sembarangan melihat. Apalagi bentuk tubuh suaminya itu bisa membuat wanita mana pun kehilangan akal sehat.


“Tuan, Nyonya.”


Andrew dan Keiko menoleh bersamaan saat terdengar suara dari balik tubuh mereka. Seorang pria berjas biru tua tampak memberi hormat dengan sopan sebelum melapor.


“Kita sudah memasuki perairan dangkal, kapal hanya bisa sampai di sini saja. Speedboat sudah disiapkan kalau Tuan dan Nyonya ingin turun sekarang.”


Andrew menoleh ke arah istrinya dan memberi tatapan yang mengandung tanya, apakah wanita itu mau turun sekarang atau tidak?


“Ayo, turun sekarang.” Keiko membuat keputusan dan menggenggam jemari suaminya, menariknya untuk berjalan mengikuti awak kapal menuju geladak bawah dengan sangat antusias.


Suara derit logam yang bergema menandakan jangkar sedang diturunkan. Keiko semakin tidak sabar. Andrew bilang mereka akan menginap di sebuah pulau kecil selama satu hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Finlandia. Tiga hari lalu mereka berhenti di Ibiza dan kepulauan Mallorka yang berada di kawasan Spanyol, berkeliling dengan sampan dan menikmati pemandangan, membakar ikan dan menikmati seafood berdua di tepi pantai, melakukan hal-hal sepele yang membuat hubungan mereka semakin dekat dan hangat.


Um ... dan juga aktivitas ranjang yang hampir dilakukan setiap waktu. Andrew benar-benar memakannya seperti seekor binatang buas, mengombang-ambingkan dan merobeknya tanpa ampun—di atas kapal pesiar, di tepi pantai, di balkon penginapan yang menghadap ke laut, di atas sampan yang tersembunyi di ceruk tebing ... di mana-mana. Ia sudah tak sanggup mengingat berapa banyak tempat yang mereka jelajahi.


“Sayang, jangan melamun.”


Teguran Andrew membawa kembali kesadaran Keiko. Ia membiarkan pria itu menuntun tangannya dan membantunya naik lebih dulu ke atas speedboat. Andrew lalu menyusul di belakangnya, juga seorang anak buah kapal yang membawakan satu koper berisi perlengkapan mandi dan baju ganti mereka.


Ia menatap pria itu dengan sorot penuh kesungguhan sambil berkata, “Suamiku, aku sangat senang ... terima kasih. Ini adalah perjalanan paling indah dalam hidupku.”


“Sangat senang?”


Keiko mengangguk cepat dan menggumam, “Eng. Sangat senang.”


“Termasuk servis dari suamimu ini? Apakah—“


“Diam!” Keiko melompat maju dan membungkam mulut suaminya dengan tangan, tak ingin anak buah kapal yang berada di dekat mereka ikut mendengar ucapan mesum itu.


Andrew menjilat telapak tangan yang lembut itu sehingga Keiko bergidik dan melepaskannya.


Ia lalu memeluk pinggang istrinya, menempelkan dagunya di bahu dan mengendusi aroma wanita itu seperti anak kucing yang minta disayang.


“Di pulau nanti, kamu bisa berteriak yang kencang, tidak akan ada yang mende—Aw!”


Keiko mencubit pinggang suaminya dengan gemas, lalu memberi tatapan seram yang membuat Andrew terkekeh karena istrinya malah terlihat semakin menggemaskan.


“Lihat, sudah hampir sampai,” ujarnya seraya menunjuk ke depan.


Keiko memutar tubuhnya dan menatap ke arah yang ditunjukkan oleh Andrew. Sekejap kemudian mata bulatnya tampak terkesima. Rumah kayu di antara pepohohan yang berwarna hijau muda bercampur cokelat tampak seperti hunian dalam buku dongeng yang dibacanya saat kecil. Bahkan ada dermaga kayu mungil di depan pondok itu, juga cerobong asap dan bangku untuk berjemur!


“Andrew! Ini sangat keren dan imut!” Keiko hampir melompat dan bertepuk tangan karena terlalu bersemangat.


Perairannya tenang, sangat bersih dan jernih. Keiko tak hentinya berdecak kagum. Ia pikir ketika Andrew menyebutkan pulau maka akan seperti pulau kecil tempat mereka bersembunyi di Jepang, siapa sangka pulau kecil ini hanya cukup untuk satu rumah dan beberapa batang pohon dan dermaga.


“Dari mana kamu mengetahui tempat ini? Kamu membeli atau menyewanya?” tanya Keiko setelah pulih dari kekaguman yang membuat matanya berbinar seperti bocah yang mendapatkan mainan baru.


“Apakah itu penting?” balas Andrew sambil tersenyum penuh arti. Ia menangkup wajah Keiko dan melanjutkan, “Untuk membuatmu bahagia, apa pun akan aku lakukan, Baby ....”


Pria itu menunduk dan mendaratkan satu kecupan singkat di sudut bibir istrinya, mengusap wajahnya dengan penuh rasa sayang. Di kehidupan ini, meski harus menahan peluru dengan telapak tangannya, akan ia lakukan demi Sakamoto Keiko.


***


Jangan lupa vote yaaa, Kesayangan.


Like, komen, Vote kalian sangat berarti untukku.


makasihh🥰