
Setelah Keiko menghabiskan minuman di gelasnya, ia bergegas keluar. Garis pantai sudah terlihat dari kejauhan. Ia ingin pergi ke anjungan, tapi suara-suara samar yang terbawa angin dari geladak membuatnya mengurungkan niat semula. Dengan perlahan gadis itu mengubah arah langkah kakinya dan berdiri diam di sisi kanan badan kapal. Tak lama emudian, percakapan antara Kim dan Andrew di depan sana membuatnya tertegun.
Anak kunci?
Membuka segel?
Apa maksudnya? Ayah tidak pernah mengatakan apa pun, atau menyerahkan apa pun, kecuali ....
Keiko menatap cincin di tangan kanannya dengan kening mengernyit. Hanya benda itu satu-satunya peninggalan dari ayahnya. Mungkinkah rahasia mengenai kunci yang dicari itu berada pada simbol-simbol yang terukir di bagian dalam cincin?
Gadis itu berpikir sejenak, lalu mengambil keputusan dengan cepat. Ia melangkah keluar dari tempatnya berdiri dan menghampiri Andrew. Pria itu terlihat sedikit terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba. Sedangkan Kim mengangguk dengan hormat dan segera menyingkir dari sana.
“Aku mendengar pembicaraanmu dengan Kim,” kata Keiko seraya memerhatikan perubahan raut wajah Andrew dengan teliti.
Ada kilatan rasa terkejut di iris matanya, tapi hanya sebentar. Dengan cepat sorot mata yang tajam itu kembali tenang seperti semula, bahkan ada segaris senyum tipis di bibirnya. Cahaya bulan menyinari separuh wajah pria itu, memberi ilusi yang tidak nyata ... seolah kedekatan mereka saat ini pun tidak nyata.
Pria itu benar-benar terlihat seperti elf yang baru keluar dari dasar samudra, dengan tatapan yang memikat dan memabukkan. Keiko menghela napas dan memalingkan wajah. Semakin lama bersama Andrew Roux membuat kemampuan mengendalikan dirinya semakin payah.
"Apa yang kamu dengar?" tanya Andrew meski sudah tahu apa jawaban yang akan meluncur keluar dari mulut Keiko.
"Soal Ryuchi dan apa yang dia cari."
“Jangan khawatirkan hal-hal itu, aku akan mengurusnya,” jawab Andrew sambil menahan dorongan kuat dari dalam dirinya untuk menghambur ke dalam pelukan gadis di hadapannya, mungkin menyusupkan kepala ke leher jenjang itu dan menghidu aroma yang menguar dari sana. Rasanya pasti sangat luar biasa.
"Tapi aku mungkin bisa membantu. Dengan begitu semua masalah ini bisa cepat selesai, dan kita bisa kembali ke kehidupan semula," balas Keiko seraya mengusap permukaan berlian yang mengenai jari telunjuknya.
“Andrew?” panggilnya lagi ketika Andrew tak kunjung merespon perkataannya, seolah sedang larut dalam pikirannya sendiri.
“Huh?” Andrew mengerjap dan kembali memusatkan perhatiannya, “Apa yang kamu katakan?”
“Aku bilang, aku mungkin tahu benda yang kalian cari ... tapi aku punya persyaratan.”
Andrew menatap Keiko dengan sorot yang sedikit rumit. Ia jelas tidak ingin melibatkan gadis itu ke dalam masalah, terutama hal-hal yang berkaitan dengan konspirasi antara EEL dan para mafia. Jika Keiko terlibat, kemungkinannya untuk terluka sudah pasti akan sangat besar. Selain memiliki benda terakhir yang diinginkan oleh semua orang, gadis itu juga merupakan kelemahannya yang akan selalu diincar.
“Bicarakan setelah kita sampai di darat,” ujar Andrew setelah menimbang dengan saksama.
Keiko menoleh ke arah rumah tebing yang sudah mulai terlihat jelas. Ia mengangguk pelan, setuju untuk membahas permasalahan ini setelah sampai di rumah.
Apa yang tidak Keiko ketahui adalah apa pun persyaratannya nanti, Andrew sudah bertekad untuk menolaknya, tidak ada kesempatan untuk negoisasi sama sekali jika harus melibatkan gadis itu.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, perahu motor sudah bersandar di dermaga. Keiko berjalan turun lebih dulu, disusul oleh Andrew dan Kim. Setelah mengucapkan terima kasih kepada kapten kapal yang mengantar mereka tadi, Keiko berjalan kembali memanjat anak tangga menuju rumah tebing.
Gadis itu berjalan dengan kecepatan yang konstan, deru napasnya pun cenderung stabil. Umumnya orang biasa akan mudah merasa letih dan napas memburu ketika harus menaiki anak tangga yang cukup banyak, tapi Keiko tidak merasakan hal itu.
Dua butir keringat meluncur turun dari kening Keiko. Gadis itu menyingkir dan membiarkan Andrew membukakan pintu. Ia sama sekali tidak tahu pikiran-pikiran random yang berkeliaran dalam kepala pria itu. Sudah hampir waktu untuk makan malam. Ia ingin menyiapkan beberapa hidangan. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih kepada Andrew dan Kim yang sudah sangat banyak membantunya.
“Apa yang ingin kalian makan malam ini?” tanya Keiko kepada dua orang di hadapannya.
Mata Andrew berkilat tajam, lagi-lagi bayangan keterkejutan melintas sekejap sebelum manik hitam itu kembali tenang. Inisiatif Keiko membuatnya semakin bersemangat, seolah semua rasa lelah dan tekanan yang harus ia alami untuk membantu gadis itu tidak ada apa-apanya.
“Apa saja boleh, aku tidak pilih-pilih makanan,” jawab Andrew seraya tersenyum tipis.
Keiko menoleh kepada Kim dan bertanya, “Bagaimana denganmu? Ada yang ingin kamu makan?”
Kim menggeleng dengan sopan dan menjawab, “Saya harus segera kembali ke markas agar tidak menimbulkan kecurigaan. Terima kasih atas tawaran Nona, tapi lain kali saja.”
“Oh ... sayang sekali. Kalau begitu, lain kali aku akan mentraktirmu makan.”
“Baik,” balas Kim seraya membungkuk dengan hormat, “Kalau begitu, saya pamit dulu, Kapten ... Nona Keiko ....”
“Terima kasih atas bantuanmu hari ini. Hati-hati di jalan," ujar Andrew.
“Ya. Sampai jumpa lagi.” Kim berjalan menuju mobil dan segera mengendarai benda itu keluar dari halaman.
“Baiklah kalau begitu ... kamu duduk dulu, aku akan memanggil kalau makanan sudah siap,” ujar Keiko kepada Andrew yang masih berdiri di sampingnya.
“Baik,” jawab Andrew dengan patuh.
Raut wajah gadis itu terlihat cukup baik. Sepertinya suasana hatinya juga sudah jauh lebih baik daripada tadi pagi. Diam-diam Andrew menghela napas lega. Ia cukup khawatir Keiko akan tenggelam dan berlarut-larut dalam kesedihan. Nyatanya gadis itu cukup realistis dan optimis. Apakah hal ini ada kaitannya dengan pembicaraan di perahu motor tadi?
Apakah dia sedang merencanakan sesuatu?
Meski sedikit curiga dan bertanya-tanya, Andrew tetap merasa senang karena Keiko terlihat baik-baik saja, tidak seperti yang ia cemaskan. Dibanding melihat gadis itu berlutut dan menangis seperti tadi pagi, ia lebih suka melihat Keiko yang penuh semangat seperti sekarang.
Keiko membuka kulkas dan memeriksa sayuran di dalamnya. Ia memilih dan mengambil beberapa bahan, lalu mulai bersiap untuk memasak. Meski merupakan putri yang dimanja oleh ayahnya, Keiko tetap mempelajari keterampilan dasar seperti memasak dan urusan rumah tangga yang lain.
Bukan ayahnya yang meminta ia melakukan hal itu, tapi ia sendiri yang menginginkannya. Pada suatu waktu, ketika ayahnya bertanya mengapa ia mau repot-repot mempelajari hal-hal tidak penting itu, Keiko menjawab bahwa kelak ia ingin memasak sendiri untuk suami dan anak-anaknya.
Mengingat percakapan bersama ayahnya waktu itu tiba-tiba membuat wajah Keiko memerah. Ia menggelengkan kepalanya keras-keras. Selama ini, Andrew-lah yang selalu memasak untuk mereka berdua. Ini adalah kali pertamanya mengambil inisiatif untuk memasak. Lalu kenapa tiba-tiba pemikiran absurd ini muncul?
Apanya yang memasak untuk suami? Aku hanya ingin berterima kasih saja!
Meski terus menyangkal pemikiran anehnya dengan keras, wajah gadis itu tetap saja merona. Benar-benar payah. Bahkan Hiro tidak pernah membuatnya berpikir seabsurd ini. Mengapa Andrew Roux berbeda?