
Andrew mendorong pintu kamar Keiko dengan sikunya, lalu berjalan menuju ranjang dan menurunkan gadis itu di sana. Tanpa banyak cakap ia menggulung kaki celana Keiko, membersihkan lumpur dan kotoran yang menempel di permukaan kulit, lalu mengompres bagian yang bengkak.
Keiko hanya bisa membiarkan pria itu mengobatinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ancaman Andrew tadi membuatnya berdebar-debar. Apa yang akan dilakukan pria itu setelah selesai mengobatinya? Mungkinkah ....
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tegur Andrew seraya menjentikkan jarinya ke kening Keiko.
Ia sudah selesai mengoleskan obat dan membalut pergelangan kaki Keiko dengan perban, tapi gadis itu justru termenung dengan tatapan yang hampa, seolah sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tertekan.
Keiko hanya bisa melotot dan mengaduh pelan. Ia mengusap-usap keningnya yang terasa sakit tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.
Andrew terkekeh pelan dan berkata, “Lidahmu benar-benar digigit hantu, ya? Tidak berani bersuara lagi, hem?”
Ia maju dan mendekat ke arah Keiko, tapi gadis itu beringsut dan menjauh. Ia mendekat lagi. Keiko mundur lagi. Begitu seterusnya sampai akhirnya punggung Keiko tertahan oleh kepala dipan.
Mata Andrew berkilat , bibirnya menahan tawa melihat kepanikan yang tergambar dengan jelas di wajah Keiko. Namun, mengingat tadi gadis itu yang menggodanya lebih dulu, maka ia kembali maju dan mendekatkan wajahnya ke arah Keiko sehingga hidung mereka hanya berjarak sekitar satu jengkal.
“J-jangan dekat-dekat ...,” gumam Keiko sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Kakinya sangat sakit dan tidak bisa digerakkan. Jika Andrew Roux benar-benar melakukan sesuatu, maka ia sudah pasti tidak bisa melarikan diri ke mana pun.
Tawa Andrew meledak. Setelah gelak tawa itu reda, ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Keiko pelan.
“Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu, Baby ... meskipun aku sangat ingin, aku pasti meminta persetujuanmu lebih dulu,” ujar pria itu seraya tersenyum lembut.
Wajah Keiko seperti terbakar. Terbakar hingga seluruh tubuhnya mendadak terasa panas dan membara. Perkataan Andrew membuat tubuhnya meremang tidak karuan. Meskipun pria itu tidak mengatakannya secara gamblang, tapi ia mengerti dengan sangat jelas apa maksud ucapan itu!
“Aku hanya ingin mengambil ini,” sambung Andrew lagi seraya menunjukkan sehelai daun kering yang menempel di rambut Keiko.
Sekarang Keiko merasa ingin menggali lubang dan bersembunyi di dalamnya. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara, persis seperti yang dilakukan Andrew tadi ketika merasa gugup dan malu.
“Aku akan menyiapkan makan siang. Beristirahatlah, jangan gerakkan kakimu dulu,” ujar Andrew seraya merapikan ujung selimut yang menutupi leher Keiko.
Pria itu kemudian bangun dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi. Meski demikian, Keiko masih bisa melihat pundak pria itu yang bergetar karena menahan tawa. Dengan cepat kesadaran gadis itu kembali. Andrew Roux baru saja membalas mempermainkannya.
Pria itu benar-benar ....
Keiko mengepalkan tangannya dan meninju udara. Seharusnya tadi ia memukul kepala pria itu dengan lampu tidur di atas meja. Sungguh menjengkelkan!
Meski terus memarahi Andrew di dalam hati, perlahan seulas senyum tipis membuat garis bibir Keiko melengkung indah. Bersama Andrew Roux membuat perasaannya jungkir balik hanya dalam hitungan menit. Sesuatu yang tidak pernah ia alami sebelumnya.
***
Andrew ingin langsung ke dapur dan menyiapkan masakan untuk makan siang. Ia bingung hendak memasak sup ayam gingseng atau tumis ayam asam manis. Atau, sepertinya tumis daging sapi dengan saus teriyaki pun lumayan. Hmm ... atau mungkin ia bisa mencoba menu baru dengan mencari resep di internet.
Pria itu masih menimbang-nimbang apa yang akan dimasaknya ketika ponsel dalam saku celananya bergetar dan berdering kencang. Ia mengambil benda itu dan memeriksa kotak pesan. Keningnya sedikit berkerut ketika membaca pesan dari Clark. Sahabatnya itu memintanya untuk segera memeriksa informasi yang sudah dikirimnya.
Ia menatap layar monitor sambil mengetuk-ngetuk permukaan meja perlahan. Ada beberapa pertimbangan yang menurutnya merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan kasus ini. Namun, ia masih memerlukan beberapa kepingan informasi lagi agar dapat menyusun siasat dan strategi dengan tepat. Melangkah dalam kegelapan hanya akan membahayakan keberlangsungan misi yang sudah diaturnya sejak jauh hari, terutama juga dapat mengancam keselamatan Sakamoto keiko. Andrew tidak mau hal itu sampai terjadi.
Jika sampai terjadi sesuatu terhadap Keiko akibat kelalaiannya, maka ia tidak bisa menanggung beban itu di kehidupan selanjutnya. Lebih baik ia tidak pernah dilahirkan kembali.
Bip. Bip. Bip.
Suara dari laptop yang menandakan file telah selesai diunduh mengalihkan perhatian Andrew. Pria itu segera menggerakkan kursor ke salah satu file yang diberi nama “Jovanka dan Mr.Durrant.”
Suara percakapan yang jernih langsung terdengar begitu file itu terbuka, juga menampakkan wajah kedua orang itu dengan sangat jelas. Andrew menyimak semuanya dengan saksama, termasuk tata letak ruangan yang terlihat dalam rekaman itu. Kini ia paham mengapa Jovanka selalu menempelinya ke mana pun. Rupanya Mr. Durrant yang menyuruhnya untuk melakukan hal itu.
Andrew lalu memeriksa rekaman kamera CCTV tersembunyi yang ia pasang di rumah tebing dan disambung ke ponselnya. Memang benar tempat itu sudah ditembus oleh para penyusup. Sistem pengamannya berhasil dibobol meski sempat membuat orang-orang itu kesulitan saat memecahkan kata sandinya.
Pria-pria bersenjata lengkap itu mendobrak pintu depan dan merangsek masuk, memeriksa seluruh tempat sambil mengacungkan senjata, seolah siap menembak siapa pun yang mereka temui. Orang-orang suruhan Jovanka itu menghancurkan semua barang yang ada di dalam rumah ketika tidak berhasil menemukan satu pun petunjuk.
Perlahan Andrew menghela napas dan mengembuskannya dengan tenang. Untunglah Kim segera memperingatkan sehingga ia dan Keiko bisa pindah dari rumah tebing tepat waktu. Kalau tidak ... entah apa yang akan terjadi ....
Bip. Bip. Bip.
Layar laptop kembali berkedip-kedip ketika menerima beberapa file yang otomatis terunduh dan tersimpan ke dalam folder khusus. Andrew kembali mengakses laptopnya dan membaca pesan yang ditulis oleh Garry.
Ini lokasi yang Anda cari, Mr.Roux.
Dengan cepat Andrew membuka tautan yang dikirimkan oleh Garry. Tiga titik lokasi yang ia minta untuk diselidiki sudah ditemukan. Tiga buah simbol yang tercetak di balik cincin Sakamoto Keiko pun sudah berhasil dipecahkan. Rupanya simbol-simbol itu adalah sebuah lambang keluarga.
Garry berhasil melacak dan menemukan lambang yang sama tercetak pada tiga buah bangunan peninggalan tiga dinasti utama yang menguasai pemerintahan dan ekonomi di Jepang sejak abad ke-16.
Tiga lambang keluarga itu terpencar di kota Kamakura yang berjarak sekitar satu jam perjalanan ke arah selatan dari Tokyo, Takayama yang berada di pegunungan Alpen Jepang, dan Hakone—kota kecil yang hampir selalu berkabut di dekat pegunungan Fuji.
Andrew memperbesar titik yang ditandai oleh Garry dan mengamati bangunan menyerupai kastil kuno di layar monitor. Semuanya tampak sepi dan suram. Namun, ia yakin ada sesuatu yang tersembunyi di dalam sana.
Pria itu mendesah pelan. Tampaknya, sistem organisasi yakuza tidak sesederhana yang terlihat di permukaan. Mau tidak mau, ia harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan masalah pelik ini. Dengan bantuan Garry dan Clark, seharusnya tidak memakan waktu terlalu lama.
Setelah menimbang-nimbang sesaat, Andrew mengetik pesan balasan untuk Clark dan Garry kemudian mematikan laptopnya. Ia memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul 12.00.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba ia teringat kepada Keiko yang mungkin sedang menunggu makan siang. Buru-buru pria itu keluar dari kamarnya dan langsung memasuki dapur.
***
Disclaimer: Kesamaan nama tokoh dan tempat hanya kebetulan, tidak berdasarkan kisah/tokoh nyata.