Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Mari Bermain



Kediaman Keluarga Nakamura.


Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit bagi Andrew untuk tiba di kediaman Keluarga Nakamura. Sejak lepas landas dari rumah sakit militer, salah satu anak buahnya sudah memberi kabar bahwa kepala pelayan Keluarga Nakamura hanya memberi izin kepada Andrew untuk masuk ke wilayah mereka, selain Andrew, siapa pun yang melewati gerbang utama akan dihentikan oleh pasukan khusus Keluarga Nakamura tanpa pandang bulu.


Sebenarnya hal itu cukup aneh mengingat Keiko lah yang memiliki tiga simbol dan titik koordinat untuk petunjuk yang dicari. Ia sama sekali tidak ada hubungannya dengan benda-benda itu. Lalu, mengapa siapa pun orang yang ada di balik semua ini bersikeras agar ia masuk ke dalam kediaman Keluarga Nakamura? Kecuali orang itu memiliki rencana licik lainnya, seluruh hal ini terlihat sedikit tidak masuk akal.


Sambil turun dari helikopter, Andrew mengambil ponselnya dan menghubungi Kim. Begitu sambungan telepon terhubung, ia langsung mencecar anak buahnya itu dengan perintah dan peringatan.


“Kim, gandakan pertahanan di rumah sakit. Jangan izinkan orang asing masuk, terutama yang tidak membawa tanda pengenal. Meski jenderal besar sekali pun, tidak ada yang boleh masuk tanpa izin dariku. Mengerti?”


“Mengerti, Kapten!” jawab Kim dengan penuh rasa hormat, “Saya akan menjalankan protokol alpha sekarang.”


“Baik. Terus kabari aku mengenai perkembangan di sana.”


“Siap, Kapten!”


Setelah memutuskan sambungan telepon, Andrew menghampiri salah satu anak buahnya dan bertanya, “Di mana kepala pelayan itu?”


“Pria berambut perak yang berdiri di sisi kanan gerbang, Kapten.”


Andrew mengangguk tanda mengerti. Ia lalu berpesan kepada para ketua tim yang berbaris rapi di dekat gerbang utama, “Jangan ada yang bertindak sebelum ada instruksi dariku. Mengerti?”


“Siap, Kapten!”


Setelah menghela napas dalam-dalam, Andrew berjalan menuju gerbang utama Keluarga Nakamura. Kali ini ia tidak mungkin kembali lagi demi Keiko. Clark dan Leon pasti sedang berharap dan menunggu di dalam sana. Entah siksaan seperti apa yang sudah mereka alami, ia tidak sanggup memikirkannya.


“Selamat pagi, Sir. Saya Andrew Roux,” ujar Andrew seraya menyodorkan kartu identitasnya melalui celah pagar besi kepada satu-satunya pria berambut perak yang berdiri di balik gerbang utama.


Andrew memperkirakan usianya mungkin sekitar di akhir 50-an, tapi pria itu masih terlihat gagah dan berwibawa. Raut wajahnya benar-benar khas Jepang, tapi postur tubuhnya lebih tinggi dari rata-rata orang Asia. Sekilas Andrew juga mendapati bahwa iris pria itu berwarna biru terang. Menilik dari hal itu, bisa jadi sang kepala pelayan adalah keturunan mix Jepang dan Eropa atau Amerika.


Setelah memeriksa kartu tanda pengenal Andrew dengan cermat dan mencocokkannya dengan wajah aslinya, sang kepala pelayan mengangguk singkat kepada penjaga pintu.


“Biarkan Mr.Roux masuk,” ujar pria tua itu.


Dua orang penjaga pintu memberi akses kepada Andrew untuk masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Andrew masuk dengan tenang dan membungkuk kepada sang kepala pelayan sekilas, tapi pria tua itu langsung membalikkan tubuh dan berjalan menuju mobil sedan hitam yang diparkir di dekat pintu gerbang.


Sudut bibir Andrew terangkat membentuk seringai tipis. Pantas saja pria tua itu membuat anak buahnya gentar, auranya lebih menyerupai seorang bangsawan daripada seorang kepala pelayang.


Mereka berhenti sebentar di depan seorang bodyguard yang memegang sebuah metal detector. Pria itu mendekatkan alat seukuran remote control ke tubuh Andrew dan memindai dengan cepat. Setelah itu ia mengatakan kepada kepala pelayan bahwa Andrew tidak membawa senjata.


“Silakan masuk, Mr.Roux. Perjalanan ke kediaman utama cukup panjang,” ujar sang kepala pelayan seraya memberi isyarat kepada Andrew untuk masuk ke dalam mobil.


“Tenang saja, tidak ada trik dan tipuan,” sambung pria tua itu lagi. Ia lalu lebih dulu masuk dan duduk di sebelah sopir.


Andrew memperhatikan arlojinya dan masuk ke mobil tanpa mengatakan apa-apa. Jarak dari gerbang ke kediaman utama memang terbilang jauh. Jika berjalan kaki, mungkin akan memakan waktu sekitar setengah jam. Sepanjang jalan dari ujung gerbang hingga di depan pintu masuk kediaman utama dipenuhi oleh pasukan bersenjata yang siaga penuh. Jumlah mereka hampir sama banyaknya dengan pasukan EEL yang berada di seberang gerbang.


“Kita sudah sampai, Mr.Roux,” ujar kepala pelayan ketika mobil berhenti di depan pintu kediaman Keluarga Nakamura. Pria tua itu lebih dulu keluar dan berdiri di sisi mobil dan memberi kode kepada salah satu penjaga yang ada di situ untuk membukakan pintu mobil untuk Andrew.


“Silakan, Tuan,” ujar sang penjaga setelah membuka pintu mobil dan menyingkir.


“Terima kasih,” balas Andrew seraya turun dari mobil dan mengikuti kepala pelayan yang sudah lebih dulu berjalan menuju pintu masuk.


Pria tua itu berjalan ke dalam kastil megah peninggalan salah satu dinasti terkuat yang ada di Jepang. Ia memimpin Andrew menuju lantai dua, melewati tempat yang pernah didatangi Clark dan Leon sebelumnya.


Senyum tipis muncul di wajah Andrew. Orang-orang itu, apakah mereka tidak tahu bahwa ia tidak mungkin masuk dengan sukarela ke kandang musuh tanpa membawa senjata sama sekali? Atau mereka sangat percaya diri bahwa Andrew akan menyerahkan diri dengan mudah. Konyol sekali.


Seperti biasa, Andrew memerhatikan setiap detail bangunan dan para pengawal yang berjaga di setiap pintu masuk dan lorong. Meski pasukan di sepanjang jalan menuju bangunan utama dan yang berada di dalam kastil cukup banyak, Andrew cukup yakin pasukan yang dipimpin olehnya dapat menandingi kekuatan musuhnya.


Ia memperlambat langkahnya ketika kepala pelayan yang berjarak sekitar empat langkah di depannya itu berbelok dan berhenti sebuah pintu dengan ukiran naga di depannya. Pria berambut perak itu sekali lagi mempersilakan Andrew untuk masuk ke ruangan itu.


“Saya hanya bisa mengantar Anda sampai di sini, Mr.Roux. Silakan ...,” ujar pria itu sambil membungkuk dengan sopan.


Sekilas, Andrew masih bisa menangkap sorot mata pria itu yang mengandung semacam aura yang penuh permusuhan terselubung, juga menyerupai rasa puas predator yang berhasil menjebak mangsanya. Insting dalam kepala Andrew menyalakan alarm tanda bahaya.


Sambil tersenyum, Andrew membungkuk dan membalas ucapan basa-basi sang kepala pelayan, lalu berjalan masuk ke ruangan bernuansa Jepang klasik itu. Ia tidak menoleh ke belakang ketika suara pintu yang tertutup terdengar dari balik tubuhnya.


Dengan hati-hati Andrew berjalan maju, waspada mengawasi situasi dalam ruangan. Ada satu set zabuton di dekat perapian, juga teko dan dua buah gelas di atas meja. Aroma teh melati menguar dalam ruangan itu, bercampur dengan aroma buku-buku kuno yang berjejer di rak-rak kayu di dekat dinding. Secara keseluruhan, tidak ada yang aneh. Namun, keheningan dalam ruangan itu membuat udara seolah menyusut dari paru-paru, membuat orang merasa tidak nyaman karena rasa sesak.


“Halo?”


Andrew menunggu beberapa saat, tapi hanya suaranya yang bergaung dalam ruangan itu. Selanjutnya hanya ada keheningan.


“Tuan Muda Nakamura? Atau harus saya panggil Nona Nakamura?”


Andrew mematung. Masih tidak ada jawaban, membuat sinyal bahaya berdentang semakin kencang dalam kepala Andrew. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi kepala tim pasukannya, tetapi hanya suara operator yang terdengar berulang-ulang mengatakan bahwa jaringan tidak tersedia.


Andrew menyipit. Itu berarti ada alat pemblokir sinyal di kediaman ini. Namun, seperti yang sudah ia pikirkan sebelumnya, ia bukannya masuk ke tempat itu tanpa persiapan sama sekali. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Andrew menyentuh permukaan klip dasinya. Ada bulatan kecil menyerupai batu permata pada benda itu.


Dalam sepersekian detik, permata tiruan itu memancarkan gelombang sinyal ke salah satu satelit komunikasi milik EEL, mengaktifkan sistem komunikasi dua arah yang sudah diatur sebelumnya oleh Garry.


“Kepung tempat ini, jangan biarkan satu orang pun lolos!” perintahnya begitu semua saluran komunikasi kembali online.


Orang-orang ini ingin bermain-main dengannya, maka ... mari bermain ....


***


zabuton: tempat duduk lesehan khas Jepang