Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Memori ....



Lift berhenti bergerak, pintunya bergeser dan terbuka, tapi Keiko masih mematung di tempatnya. Isi kepalanya seperti sedang diaduk. Kecemasannya saat mempertimbangkan untuk menerima pernyataan cinta Andrew kembali menyeruak ke permukaan. Perbedaan status sosial dan latar belakang mereka, keluarga dan lingkup pergaulan, semuanya sangat bertolak belakang. Mendadak gadis itu merasa benar-benar rendah diri.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Andrew sambil menahan agar pintu lift tidak tertutup.


“Oh. Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya ... sedikit mengantuk ....”


“Dasar pemalas,” goda Andrew seraya menautkan jemarinya dengan jari-jari lentik milik Keiko, ”Ayo, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.”


Pria itu menuntun Keiko keluar dan berjalan menuju sebuah ruangan yang terdapat di ujung selasar. Sepertinya itu adalah satu-satunya ruangan yang ada di sana karena wilayah lain di sekeliling roof top itu lebih terlihat seperti kebun yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang indah. Keiko mendongak dan menyadari bahwa atap ruangan itu terbuat dari kaca.


“Ini adalah rumah kaca?” tanya gadis itu untuk memastikan dugaannya.


“Hum. Dulu ibuku sering mengikuti ayah ketika sedang pergi ke luar negeri untuk membuka kantor cabang baru. Ayahku selalu menyediakan ruangan khusus untuk ibu, membiarkannya menanam bunga dan melakukan apa pun yang diinginkannya agar tidak bosan,” jawab Andrew sambil mengusap punggung Keiko dengan telapak tangannya.


"Sayang sekali aku tidak memiliki cukup banyak waktu untuk mengenal ibuku. Kebanyakan hal tentangnya, aku ketahui dari si Tua Alfred, nanti aku akan mengenalkanmu kepadanya. Kadang cerita itu dikisahkan sendiri oleh ayah ketika dia sedang mabuk," sambung pria itu lagi.


“Ayahmu pasti sangat mencintai ibumu,” gumam Keiko. Matanya berpendar dalam keremangan, memancarkan sinar kekaguman dan sedikit rasa iri. Ia jadi penasaran, seperti apa sosok pria yang menjadi ayah Andrew Roux.


“Yeah, dia sangat mencintai mendiang ibuku. Dia tidak menikah lagi sampai sekarang.” Andrew tertawa kecil dan mengimbuhkan, “Tapi setiap saat dia selalu mengejar dan memaksaku untuk segera menikah. Kalau kamu bertemu dia nanti, abaikan saja semua omong kosongnya, ya? Hanya pria tua yang sangat terobsesi untuk segera memiliki cucu.”


Keiko hampir tersedak. Cucu ... tiba-tiba gadis itu merona. Jemarinya dalam genggaman Andrew gemetar sesaat. Ia lalu buru-buru menghela napas dan meredam degup jantungnya yang bertalu.


Andrew yang tidak menyadari reaksi kekasihnya masih terus mengoceh, “Setelah aku dewasa, ayah menyerahkan semua otoritas ruangan-ruangan itu kepadaku. Katanya, aku harus mengajak wanita yang kucintai ke tempat itu untuk menghormati ibuku. Aku tidak mengerti apa korelasinya. Aku pikir dia hanya sedang berusaha melarikan diri dari kenangannya bersama ibu. Kau tahu ... kenangan dan memori ... itu lebih mengerikan dari mimpi buruk.”


“Kau sedang membicarakan ayahmu atau mengeluh mengenai kehidupanmu sendiri?” sindir Keiko sambil mengangkat alisnya dan menatap Andrew dengan mata berkilat jenaka.


Andrew terkekeh dan mencium pipi Keiko sekilas. “Gadisku semakin pintar membaca situasi,” gumamnya dengan seringai lebar menghiasi wajah tampannya.


Pria itu segera membuka pintu ruangan dengan menggunakan pemindai biometrik retina, kemudian menuntun Keiko untuk masuk ke dalam.


“Ini indah sekali,” puji Keiko seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang beralaskan marmer terbaik.


Hampir seluruh pajangan didominasi kristal dengan mutu yang paling bagus, ornamen-ornamen klasik, juga beberapa lukisan langka yang hanya dimiliki oleh kalangan atas.


“Kamu menyukainya?”


“Suka sekali. Benar-benar cantik dan elegan. Selera ibumu sangat mahal,” balas Keiko sambil terkekeh pelan.


“Aku rasa aku harus berterima kasih kepada ayahku saat tiba di Paris nanti,” balas Andew semringah.


Andrew mengarahkan Keiko ke dekat jendela. Ia membuka pintu kaca yang membatasi ruangan utama dan balkon, kemudian menuntun gadis itu ke dekat pagar pembatas.


Meski tidak mengerti apa yang ingin dilakukan oleh Andrew, Keiko tetap mengikuti kekasihnya itu dengan patuh. Ia bersandar pada tepian besi dan melihat ke bawah. Kesunyian di atas tampak sangat kontras dengan keramaian di bawah sana.


“Apa yang mau kita lihat?” tanyanya sekilas.


“A-apa yang kamu lakukan?” Keiko tergagap dan menjauhkan wajahnya. Ia kembali menoleh ke depan. Jantungnya seperti akan meloncat keluar dari tenggorokan.


Andrew tersenyum lembut dan meletakkan kepalanya di pundak kekasihnya. Uap panas dari mulut Andrew menyentuh daun telinga Keiko, membuat gadis itu tidak berani bergerak sama sekali. Rambut-rambut halus di sekujur tubuhnya meremang, rasanya tubuhnya membesar dua kali lipat.


“Kamu menjauh dulu sedikit,” pinta Keiko dengan suara yang tiba-tiba menjadi serak. Ia berdeham dengan gugup, tapi Andrew justru terkekeh pelan dan melingkarkan tangan di pinggangnya.


“Ciuman pun sudah sering, masih gugup jika berada di dekatku?” goda Andrew seraya menggosok-gosokkan hidungnya di leher Keiko.


Keiko berubah menjadi patung. Bahkan untuk bernapas pun ia tidak berani. Tiba-tiba terbesit sesuatu di kepalanya. Andrew bukannya sedang marah karena cemburu terhadap Hiro, lalu ingin ... ingin melakukan hal itu kepadanya ‘kan?


Gadis itu mengepalkan tangannya erat-erat dan berkata, “Andrew ... jangan begini ... aku ... aku ....”


“Hum? Kenapa? Dingin?” Andrew menarik ujung mantel Keiko dan merapikannya di depan tubuhnya. “Begini sudah oke?”


Keiko tertegun. Sepertinya ia sudah berpikir sedikit berlebihan. Belum sempat membalas perkataan Andrew, pria itu sudah mengangkat tangan dan menunjuk ke arah timur.


“Lihat.”


Keiko menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Andrew. Di kejauhan, semburat jingga perlahan memancar dari garis batas langit. Keiko tertegun. Dari atas puncak yang paling tinggi, pemandangan itu benar-benar terlihat sangat indah, bahkan terasa sedikit tidak nyata. Namun, rupanya itu bukan satu-satunya kejutan yang didapat oleh Keiko. Saat tiba-tiba kemilau keemasan cahaya matahari menerpa sebuah benda yang diulurkan oleh Andrew di depan wajahnya, Keiko benar-benar kehabisan kata-kata.


“Baby, aku sangat mencintaimu ... meski harus mengulang ribuan kali, aku akan tetap mencarimu,” ucap Andrew dengan penuh kesungguhan..


Keiko tergamam. Pantulan yang terpancar dari cincin di tangan Andrew terlihat lebih berkilau daripada cahaya matahari yang semakin terang. Dengan sangat perlahan ia memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Andrew. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara.


Apakah pria di hadapannya itu sedang melamarnya? Ini semua sangat manis, tapi juga terlalu mengejutkan. Di saat ia sedang gamang karena status sosial mereka yang berbeda, Andrew justru memberinya simbol untuk semakin mendekat.


“Andrew ... aku ....“


“Cincin ini peninggalan ibuku, diberikan oleh ayah kepadaku. Dia berharap suatu saat akan bisa memberikannya kepada orang yang aku cintai, orang yang ingin aku jaga dan lindungi seumur hidupku. Tapi jika kamu tidak mau, maka tidak perlu menerimanya. Jangan cemas, aku tidak akan memaksamu.”


Pendar batu permata pada cincin itu berkilau gemilang, cahayanya berkelap-kelip seperti bintang fajar yang menarik hati. Dari tanpilannya, Keiko cukup yakin bahwa mata cincin itu adalah sebongkah berlian yang sangat mahal. Ukiran kelopak mawar berwarna rose gold itu benar-benar sangat cantik.


Keiko mengerjap pelan, tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menyentuh benda itu. Sepersekian detik kemudian, tubuhnya seperti dialiri aliran listrik statis, menjerat syaraf-syaraf di sekujur tubuhnya dan membangkitkan sesuatu di dalam tempurung kepalanya, sesuatu yang sepertinya telah tersimpan lama di sana.


Memori ....


***



kredit to Pinterest