Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Selamat datang di rumah



Seolah mengerti apa kegelisahan kekasihnya, Andrew kembali menggoda, “Apa yang kamu takutkan? Mobil ini kedap suara, kacanya satu arah. Tidak akan ada yang tahu meski kita berciuman dan—“


“Tutup mulutmu!” sergah Keiko seraya mengangkat tangan dan menekannya ke mulut Andrew.


Mata Andrew berkilat licik. Dengan tiba-tiba ia menjulurkan lidah dan menjilat telapak tangan Keiko, membuat gadis itu tersentak seperti baru saja tersengat aliran listrik ribuan volt.


“Andrew!”


“Yes, Baby?”


“Berhenti bercanda.”


“Oke, Baby.”


Keiko memutar bola matanya dan kembali melihat keluar. Mendadak rasa gugup kembali melanda ketika ia menyadari mobil memasuki sebuah gerbang yang menjulang tinggi dengan sepuhan warna keemasan. Begitu melewati gerbang, deretan mansion dengan gaya mediteran semi klasik langsung menarik perhatian Keiko.


Desain bangunan-bangunan itu membuatnya teringat kepada gambar rumah di abad ke-21 yang pernah dilihatnya di internet, tapi ini dengan ukuran yang lebih besar. Mengingat sekarang ini tidak ada banyak orang yang bisa memiliki rumah pribadi, apalagi dengan ukuran yang fantastis di dekat pusat kota, Keiko hanya bisa menahan napas dan berharap agar ayah Andrew tidak berpikiran negatif tentangnya.


“Andrew, bisakah kamu mengatur seseorang untuk menjual semua aset dan warisan ayahku di Jepang?” tanya Keiko dengan suara yang sangat pelan.


“Ada apa?” tanya Andrew, sedikit terkejut dengan permintaan yang tiba-tiba itu.


“Aku rasa aku akan menyerahkan hasil penjualan semua asetku sebagai mas kawin kepadamu. Aku tahu mungkin itu semua tidak sebanding dengan harga saham perusahaan keluarga kalian, tapi ... aku tidak ingin ayahmu menganggap aku hanya mengincar hartamu saja,” jawab Keiko, wajahnya terlihat sedikit putus asa dan merana.


Andrew terbengong satu detik, kemudian terbahak di detik berikutnya. Ia tertawa hingga hampir menangis. Setelah tawanya reda, ia meraih dagu Keiko dan mencium bibirnya dengan gemas.


“Gadis bodoh, apa yang kamu cemaskan? Ayahku tidak akan berkomentar apa-apa. Jangan khawatir ....” Mata Andrew kemudian berbinar ceria ketika menambahkan, “Apa kamu baru saja membahas tentang mas kawin? Sudah tidak sabar untuk menikah denganku?”


“Bukan itu inti masalahnya!” Keiko berdecak sebal dan memalingkan wajah. “Kamu tahu apa maksudku ....”


Andrew tersenyum dan meraih jemari Keiko, meremasnya pelan dan berkata, “Jangan takut, ada aku di sisimu ....”


Napas Keiko tiba-tiba tercekat.


“Apa kita sudah sampai?” tanyanya ketika mobil berbelok memasuki salah satu mansion dengan cat berwarna cream.


“Hum. Selamat datang di rumah, Mrs.Roux.”


Telinga Keiko memerah. Ia bergumam pelan, “Apanya yang Mrs.Roux? Apakah ayahmu sedang di rumah?”


“Yeah, mungkin sekarang dia sedang sibuk mempersiapkan diri untuk memarahiku, memberi ceramah dan hal-hal semacam itu,” jawab Andrew dengan tidak berdaya.


“Memangnya kenapa?” Keiko semakin gugup ketika mobil memutari kolam yang warnanya serupa batu pirus, kemudian melaju pelan mendekati pintu utama. Rasanya jantungnya sudah hampir terlepas dari rongganya.


“Apa lagi? Tentu saja menyuruhku agar cepat menikah dan memberinya cucu.”


“....” Keiko kehabisan kata-kata. Keringat dingin membasahi telapak tangannya ketika mobil akhirnya berhenti di depan anak tangga pintu utama.


Andrew lebih dulu turun ketika mobil berhenti. Ia memutar dan membukakan pintu untuk Keiko.


“Andrew, aku sangat gugup.”


“Semua akan baik-baik saja, Baby. Ayo ....”


Keiko menerima uluran tangan Andrew dan membiarkan pria itu menuntunnya menuju pintu kaca yang ada di depan mereka. Sepertinya sudah ada pengawal yang melapor sehingga baru saja Andrew dan Keiko menginjak anak tangga paling atas, seorang pria paruh baya muncul dari balik pintu dan menyambut Andrew dengan sebuah pelukan yang sangat erat.


“Ayahmu sudah hampir gila karena menunggu kepulanganmu, Anak Muda. Dia terus melacak lokasimu, tapi tidak pernah berhasil. Jangan terlalu kejam kepadanya,” ujar pria itu setelah mengurai pelukannya. Kemudian, saat ia mendongak dan menyadari ada seseorang di balik tubuh Andrew, pria tua itu terpaku beberapa detik lamanya.


“Halo, Tuan,” sapa Keiko sambil tersenyum kikuk.


“Alfred, ini Sakamoto Keiko. Keiko, ini si Tua Alfred yang kuceritakan kepadamu sebelumnya,” jelas Andrew seraya menunjuk ke arah Alfred.


“Tuan Marco! Cepat kemari! Anda harus melihat ini!” teriak Alfred dengan suara yang sangat keras dan sedikit bergetar. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Keiko. Bibirnya bergerak-gerak, seolah ada yang ingin dikatakannya. Akan tetapi, pria tua itu hanya terpaku dan terus menatap Keiko tanpa berkedip.


“Ada apa berteriak seperti orang gi ... Andrew? Bocah sialan! Akhirnya kamu ingat untuk pulang?!” seru Marco Roux yang berdiri di lantai dua.


“Halo, Ayah, tidak merindukanku?”


Marco Roux bahkan lebih terkejut daripada Alfred. Pria itu seolah tidak mendengar sapaan putranya, hanya terus menatap Keiko tanpa berkedip.


“Alfred, apakah aku salah lihat?” tanyanya setelah yakin bahwa gadis muda di depannya itu bernapas dan berkedip seperti manusia normal.


“Tidak, Tuan. Saya pun melihatnya.”


“Kamu bilang, apakah dia nyata?”


Alfred menatap Keiko dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian menjawab, “Sepertinya begitu.”


“Jadi putraku tidak gila?”


“Sepertinya begitu.”


“Aku rasa aku ... aku ... Alfred ... ini bukan mimpi, ‘kan?”


“Sepertinya begitu.”


Kedua pria itu saling menatap, kemudian kembali terbengong menatap Keiko.


Keiko tidak mengerti mengapa kedua pria tua di hadapannya terus menatapnya dengan ekspresi yang campur aduk dan saling berbicara dengan tidak jelas seperti itu, jadi ia menarik ujung lengan kemeja Andrew pelan untuk meminta bantuan.


“Ayah, kenalkan ... ini Sakamoto Keiko, kekasihku. Kami bertemu di Tokyo.”


"Halo, Mr.Roux. Senang berjumpa dengan Anda." Keiko menyapa seraya membungkuk dengan hormat.


Ucapan itu menarik kembali kesadaran Marco Roux. "Halo, Keiko. Selamat datang di rumah."


Pria tua itu kemudian berkacak pinggang dan berseru kepada Andrew, “Anak kurang ajar! Kamu pikir dengan membawa kekasih lalu aku tidak akan menghajarmu? Membawa kabur prototipe termahalku dan meledakkan satu di antaranya, menggunakan semua sumber dayaku untuk mencari informasi, mengambil semua senjata dan—“


“Itu demi melindungi calon menantumu, Ayah,” sela Andrew.


Marco Roux mengangkat tangan dan meninju perut Andrew dengan cukup keras sehingga membuat putranya itu mengaduh kesakitan.


“Ayah bisa memukuliku nanti, setidaknya ... biarkan kami masuk dulu,” ujar Andrew sambil meringis.


Marco Roux tersadar dari kekeliruannya. Ia segera menegakkan tubuh dan memberi perintah, “Alfred, tolong antarkan calon menantuku ke kamarnya untuk beristirahat. Siapkan apa pun yang dia butuhkan. Panggil dua orang pelayan untuk melayaninya.”


“Baik, Tuan.” Alfred membungkuk dengan hormat dan memberi jalan. “Silakan, Nona Sakamoto.”


Keiko tampak ragu, tapi Andrew mengangguk sekilas sebagai isyarat agar gadis itu mengikuti Alfred. Mendapat persetujuan dari Andrew, Keiko segera berjalan masuk meski masih sedikit ragu.


“Ayah, bagaimana denganku?” seru Andrew ketika melihat ayahnya bersiap untuk menutup pintu tanpa menoleh kepadanya sama sekali.


“Kamu tinggallah di luar sampai mengerti apa kesalahanmu.” Marco Roux lalu menutup pintu dan menguncinya.


“Ayah! Aku putramu! Kenapa begitu kejam?”


Andrew menggedor-gedor pintu dengan keras, tapi ayahnya melenggang pergi dengan acuh, tidak peduli akan seruannya sama sekali. Andrew menghela napas dan memijit pelipisnya. Ia pikir dengan membawa Keiko maka ia akan bebas dari hukuman, nyatanya sama saja.


Mau bagaimana lagi? Sekarang ia hanya bisa menerima nasibnya dengan lapang dada dan memikirkan cara untuk menemui Keiko. Takutnya ayahnya akan mengatakan hal-hal yang membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


***



Like dan komen yang banyaak yaaa


yang belum kasih rating, bisa kasih rating di bagian depan. Makasihh😍