Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Siapa yang bertahan



Cairan kuning keemasan dalam gelas yang dipegang Hansel berputar, membuat bongkahan es batu di dalam saling membentur pelan. Entah sudah berapa kali ia melirik jam bulat besar yang menempel di tembok di depannya. Jarum jam terasa berputar sangat lambat. Tiba-tiba ia ingin memiliki kekuatan untuk memutar waktu, mempercepat atau memperlambat ... seandainya saja bisa ....


Pria itu menenggak isi dalam gelas dua teguk. Cairan dingin yang meluncur melewati kerongkongannya terasa menyengat dan memberi sensasi panas yang merambat hingga ke dada. Ia mendengkus dan memejamkan mata. Entah sudah berapa gelas vodka yang masuk ke lambungnya. Sekarang ia mulai merasa pening, tapi masih sangat sadar. Toleransinya terhadap kadar alkohol dalam darah memang sangat tinggi, mungkin karena sudah terbiasa.


Ding.


Suara pesan yang masuk ke ponselnya membuat Hansel membuka mata. Ia meraih benda itu dari atas meja, kemudian membaca nama pengirim pesan. Itu dari Lanny.


Pesta sudah dimulai, Tuan Hansel. Nona Cecille sudah datang.


Sudut bibir Hansel berkedut. Ia memang meminta Lanny untuk memantau di hall utama dan mengabarinya semua perkembangan di sana, tidak ingin muncul sebelum waktunya.


Pria itu menunggu selama setengah jam sebelum bangun dan berjalan keluar. Mengenakan setelan yang pas di tubuhnya, Hansel terlihat ramping dan seksi. Garis tulang selangkanya sedikit terlihat karena dasinya sudah dilepas dan satu kancing paling atas terbuka. Warna kulit yang putih putih bersih tampak kontras dengan kemeja hitam yang mengilap dan licin. Rambut yang acak-acakan dan aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya memberi kesan dominan dan atraktif, membuat setiap gadis yang berpapasan dengannya di lorong hampir mimisan.


“Tuan Hansel.”


Lanny langsung menghampiri dan menggayut manja di lengannya ketika ia berjalan melewati pintu merah yang terhubung dengan hall utama.


“Panggil namaku saja, tidak perlu pakai ‘Tuan’. Lakukan tugasmu dengan benar.”


Lanny menggangguk dengan patuh dan menempelkan tubuhnya semakin erat di lengan Hansel. Dengan usia di awal 20-an, tubuh gadis itu sangat proporsional: pinggang kecil, panggul lebar, bokong dan dada yang montok berisi. Hal itu membuat meskipun ia memakai dress yang tertutup dan panjang sampai ke betis, tetap saja memberikan kesan seksi dan menggoda. Gaunnya berwarna merah tua, tampak serasi dengan setelan Hansel dan senada dengan nuansa warna hall utama.


Ketika pasangan itu melangkah memasuki aula yang sudah dipenuhi orang, beberapa pasang mata menatap ke arah mereka dengan penuh rasa ingin tahu. Sebagai club eksklusif, beberapa member sudah saling mengenal sebelumnya, mereka memiliki lingkup pergaulan yang cenderung stabil. Tentu saja kehadiran orang baru akan sangat mencolok. Apalagi orang itu belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Beberapa pria melirik dengan tatapan menilai, para wanita menelisik sambil berbisik-bisik, tapi Hansel tetap berjalan dengan tenang dan duduk di depan bar yang berbentuk setengah lingkaran. Lanny yang sangat bekerja sama sesekali mendekat dan berbisik di telinga Hansel, lalu tertawa dengan sangat elegan. Hansel melingkarkan tangannya di pinggang Lanny dan membalasnya dengan senyuman yang memikat.


Dari lantai atas, tatapan yang tajam mengikuti seluruh gerak-gerik Hansel sejak pria itu memasuki hall utama. Iris berwarna biru itu berpendar di bawah cahaya lampu yang berkelip warna-warni. Tiba-tiba dunia seolah berhenti berputar, suara-suara di sekitarnya menghilang. Seluruh panca indranya hanya terpusat kepada pria yang sedang bercengkerama dengan gadis cantik di bawah sana.


“Cecille, siapa yang sedang kamu lihat?” tegur seorang pemuda yang memakai kemeja kotak-kotak merah bata dan celana jeans belel.


“Huh?”


“Apa yang sedang kamu lihat?”


“Tidak ada. Johan, mana barang yang aku minta?” balas Cecille seraya menarik pandangannya dan kembali fokus dengan pemuda bermata sayu di sisi kanannya.


Pemuda yang dipanggil dengan nama Johan itu menyeringai dengan ekspresi dan tatapan yang mengawang. Dilihat sekilas, siapa pun bisa menebak jika pemuda itu sedang berada di bawah pengaruh obat. Pemuda itu menyusut hidungnya dengan punggung tangan punggung tangan, lalu merogoh ke dalam saku celananya.


“Kamu yakin ini tidak akan gagal?”


“Kalau gagal, aku akan mengembalikan uangmu dua kali lipat,” jawab Johan seraya mengerling nakal.


Cecille bersemangat. Ia mengambil ponsel dan langsung melakukan transfer ke nomor rekening Johan, mengimbuhkan beberapa digit karena merasa sangat puas.


“Jangan katakan hal ini kepada siapa pun,” ujar Cecille, memberikan tatapan mengintimidasi.


Johan terkekeh pelan mendengar ancaman itu. Ia melakukan gerakan “OK” dengan tangannya, menepuk pipi Cecille sekilas, kemudian beranjak pergi seraya bersenandung ringan. Suaranya perlahan hilang ditimpa ingar-bingar musik dan percakapan orang lain. Cecille mendesah puas, kemudian kembali mengalihkan tatapannya ke bawah.


Pria bodoh itu, bagaimana bisa ada di sini? Wanita dari mana yang dibawa olehnya?


Cecille mengeratkan kepalan tangannya dan mulai melangkah menuruni anak tangga berulir yang terbuat dari besi. Semua orang yang sedang berdiri di lantai dansa langsung menyingkir saat gadis itu lewat, beberapa menyapa dengan ramah seraya mengangkat gelas berisi minuman untuk bersulang. Wajah Cecille terangkat tinggi, sesekali membalas sapaan dengan seringai tipis yang membuatnya tampak semakin menarik.


Lanny yang menyadari Cecille mendekat ke arah mereka segera mendekatkan tubuhnya dan berbisik ke telinga Hansel, “Dia datang, tepat di sebelah kita. Dua kursi.”


Ada riak yak tak terlihat dalam sorot mata Hansel, smirk samar muncul sekilas lalu hilang sekejap kemudian. Ia berpura-pura tidak menyadari kehadiran gadis itu, padahal jelas-jelas semua orang menyapa dan menyebutkan namanya dengan cukup keras.


Alih-alih menoleh, Hansel justru menekan punggung Lanny hingga tubuh gadis itu menempel dengan lengannya, menggeram dengan suara yang sedikit keras, “Nanti saja di kamar ....”


Perkataan yang ambigu seperti itu, siapa yang tidak tahu maksudnya? Cecille yang baru saja menenggak segelas tequila segera membanting gelasnya dengan keras ke atas meja bar sehingga menarik perhatian semua orang. Hanya satu orang yang tetap bergeming, pria sialan di sebelahnya yang masih sibuk saling menggoda dengan wanita murahan itu!


He-he ... kemarin mengajakku berkencan, sekarang saling membelit dengan perempuan lain. Laki-laki ... semuanya sama saja, hanya menggunakan tubuh bagian bawah mereka untuk berpikir!


“Isi lagi!” perintahnya kepada bartender.


Segera setelah minuman itu datang, Cecille meneguknya habis dalam sekali tarikan napas, membuat udara yang mengembus keluar dari hidungnya terasa seperti uap panas yang membara! Terbakar sama seperti dirinya!


Sialan!


Bahkan ingin meredakan emosi pun tidak bisa. Masih harus bertemu dengan Hansel Roux sialan yang membuatnya ingin muntah darah ini!


Hansel bukannya tidak tahu gadis di sebelahnya sedang minum alkohol seperti sedang meminum air mineral, tapi ia tetap tidak mau berpaling dan menegur. Lihat saja, siapa yang lebih kuat bertahan ....


***