
Cecille menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Ia melirik ke arah Hansel yang sedang menatapnya sambil mengangkat alis dan ekspresi yang tak terbaca. Jangan bilang kalau pria itu yang mengganti bajunya dan memeluknya tidur semalaman?
Tidak ... tidak ...
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Hansel merasa lucu melihat air muka gadis di depannya yang tampak kompleks.
“S-siapa yang mengganti pakaianku?” tanya Cecille dengan suara rendah. Ia takut mendengar jawabannya, tapi juga sangat penasaran.
“Menurutmu?" Hansel balas bertanya. "Hanya ada kita berdua di sini.”
Pria itu bersedekap, menahan seringai yang hampir muncul karena wajah gugup yang imut di depannya terlihat sangat menggemaskan. Gadis yang biasanya galak dan angkuh itu kini mati kutu, menarik-narik ujung selimutnya dan tidak tahu harus melihat ke arah mana.
Karena tak tahan lagi, tawa Hansel meledak. Ia lalu melambaikan tangan sambil berkata, “Aku meminta pelayan menggantinya, jangan cemas ... aku hanya sempat melihat bra berenda yang—aduh! Kenapa melemparku?”
“Diam!” Cecille mendesis kesal. Wajahnya merah padam.
Sayangnya, Hansel tidak mau melepaskan gadis itu begitu saja. Ia kembali menggoda, “Ukurannya tidak terlalu besar, tapi cocok dengan seleraku.”
Pria itu berkelit dengan gesit ketika sebuah bantal kembali melayang ke arahnya.
“Bokong yang cukup montok dan—“
“Hansel Roux! Aku akan membunuhmu!” Cecille mengerang putus asa. Pria sialan itu benar-benar membuatnya sakit kepala!
Hansel terkekeh dan mengangkat kedua tangannya ke udara.
“Jangan marah lagi. Cepat makan dan minum obat. Semalam dokter meresepkan obat untukmu," ujarnya.
“Dokter?”
“Eng. Kamu demam semalam. Aku tidak tahu harus bagaimana, jadi memanggil dokter.”
“Kamu ... menjagaku semalaman?” Ekspresi wajah Cecille langsung berubah. Ia tidak dapat membayangkan Hansel Roux merawatnya sepanjang malam.
“Kenapa? Terharu? Aku bisa menjadi kekasih yang baik, bukan?”
Cecille mencibir. Sebentar mengajaknya berkencan, hari berikutnya menempel dengan gadis lain, esok hari kembali menggodanya.
Memangnya dia pikir dirinya itu sangat hebat? Siapa yang mau percaya semua omong kosong yang keluar dari mulutnya itu?
Meski kesal karena pria menyebalkan itu terus menggodanya, Cecille tetap mengucapkan terima kasih dengan suara yang sangat lirih.
Hansel menyeringai lebar dan bersandar di tepi meja. Cahaya matahari yang menerpa tubuhnya membuatnya tampak berkilau. Untuk sesaat Cecille merasa jantungnya seperti berhenti berdetak. Kalau dilihat-lihat, pria menyebalkan itu tak kalah tampan dari Andrew. Hidung yang tinggi tampak serasi dengan tulang rahangnya yang tegas. Alisnya tebal, melengkung sempurna di atas sepasang mata yang tajam dan memikat. Hanya mulutnya saja yang tajam seperti silet.
Cecille mendengkus dan memalingkan wajah. Rasanya ingin menghantam kepalanya sendiri yang sempat-sempatnya mengamati dan menilai Hansel dalam hati. Ia merasa seperti sedang mengkhianati perasaannya untuk Andrew!
Gadis itu lalu menunduk dan makan dalam diam. Sementara itu, Hansel yang masih bersandar di sisi meja memperhatikan semua gerak-gerik Cecille dengan saksama. Lebam di lengannya terlihat sangat mencolok, begitu pun bekas tamparan di wajahnya. Meski sudah dikompres dan diberi obat, memar kebiruan masih sedikit terlihat di pipi. Entah mengapa tiba-tiba Hansel merasa kesal, seharusnya semalam ia mematahkan kaki dan tangan Bryan saja!
“Lain kali, bawa pengawal ke mana pun kamu pergi. Seharusnya dengan uang yang kamu miliki, tidak sulit untuk mencari pengawal yang bagus.”
Pembahasan yang tiba-tiba itu membuat Cecille yang hendak menyuapkan bubur tertegun. Mata bulatnya yang tampak polos menatap ke arah Hansel, seolah sedang memikirkan sesuatu yang rumit.
“Oh ...,” gumamnya lagi sedetik kemudian. Ia mengangkat tangan yang sedang memegang sendok sambil mengangguk sambil berkata, “Ayahku sudah mengaturnya.”
“Bagus.”
Hansel mengangguk puas. Sekarang ia baru merasa tenang. Kalau tidak, entah apa lagi yang akan dialami oleh gadis ceroboh di hadapannya itu. Ia juga tidak mungkin selalu ada untuk mengawasinya setiap saat. Lagi pula, mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
“Kamu tidak makan?” tanya Cecille ketika menyadari pria di depannya hanya berdiri dan mengamatinya sejak tadi, sedangkan bubur di mangkuknya sudah habis. Ia merasa telah menjadi gadis yang tidak pernah diajari tata krama.
“Aku sudah makan lebih dulu, lapar karena menunggui seseorang yang tidur mengorok dan mengigau seperti—“
“Aku tidak mengorok!” Cecille mendelik. Pria sialan itu mulai lagi!
“Pffft ....” Hansel menahan tawa, matanya berkilat licik ketika mendekat ke arah Cecille dan berbisik, “Aku punya rekamannya, kamu mau dengar?”
“A-apa? T-tidak mungkin ....”
Hansel mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar. Tak lama kemudian, suara dengkuran yang halus terdengar dalam ruangan itu.
Wajah Cecille berubah menjadi biru dan ungu. Pelipisnya berkedut kencang, perpaduan antara rasa malu dan amarah membuatnya hampir meledak. Tangannya bergerak secepat kilat, merebut ponsel di tangan Hansel dan ingin menghapus rekaman yang memalukan itu. Namun, saat melihat ke layar ponsel ... matanya membulat sempurna. Itu adalah rekaman dari kanal YouTube!
Benar-benar pria bedebah sialan!
“Brengsek!” umpat Cecille seraya meninju dada Hansel dengan keras.
“Pffft ... wahahaha ....” Tawa Hansel membahana dalam ruangan. Bahunya berguncang, tawa yang keluar dari mulutnya terdengar sangat puas.
“Kamu benar-benar pria paling menjengkelkan yang pernah aku temui!” gerutu Cecille dengan mata menyipit. Tadi ia pikir suara memalukan itu benar-benar miliknya, membuatnya sudah hampir menggali tanah dan bersembunyi di dalamnya.
Tawa Hansel perlahan mereda. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian berkata, “Karena kamu sudah bisa memarahiku, seharusnya bisa bertahan hidup sampai orang tuamu datang, bukan? Aku harus ke kantor sekarang. Ada rapat dengan dewan direksi pukul delapan. Kalau polisi ingin meminta kesaksian dariku, suruh hubungi saja ke kantor. Itu kalau ayahmu tidak membunuh pemuda brengsek itu dengan tangannya sendiri. Kalau begitu, tentu saja aku tidak perlu repot-repot mencari alibi lagi.”
Pria itu terkekeh mendengar leluconnya sendiri. Ia lalu mengambil obat di atas meja beserta segelas air dan menyerahkannya kepada Cecille, kemudian mengembalikan mangkuk kosong bekas bubur ke atas nampan.
“Minumlah. Tidak apa-apa kalau masih ingin beristirahat di sini. Nanti kuncinya titipkan saja di bagian resepsionis. Aku pergi dulu.” Hansel meletakkan kartu aksesnya di atas meja, mengambil jas dan berjalan menuju pintu tanpa menunggu jawaban.
Cecille yang masih mencerna semua ucapan beruntun itu hanya bisa terbengong menatap butiran obat di tangannya. Keheningan yang tiba-tiba itu membuatnya merasa sedikit kehilangan. Sepertinya mulut yang tajam dan kurang ajar itu tidak terlalu buruk.
Gadis itu meminum obatnya dan kembali berbaring. Ranjangnya terasa hangat ... apakah benar pria itu menjaganya semalaman?
Memikirkan kemungkinan Hansel Roux mengompresnya dan menungguinya dengan sabar membuat pipi Cecille bersemu merah muda. Namun, saat pandangannya tertuju pada tas yang berada di bufet sisi ranjang, air mukanya berubah keras dan penuh tekad.
Ia harus mencoba untuk yang terakhir. Kali ini jika tidak berhasil juga, maka ... mungkin ia akan mempertimbangkan opsi kedua.
***