Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Dia Tidak Ingat



Hiro membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, seperti sedang dihimpit sebuah batu besar. Belikatnya lebih parah lagi. Rasa perih dan panas yang menyengat membuatnya menggeram pelan. Sepertinya efek obat bius sudah mulai menghilang.


Pria itu mencoba membuka mata, tapi mendadak kepalanya terasa berputar cepat ketika melihat cahaya lampu yang cukup terang. Ia ingin mengangkat tangannya yang tidak sakit untuk menutup mata, tapi pergelangan tangannya tertahan di sisi ranjang.


Ia memiringkan kepala dan melihat sebuah rantai besi mengikat tangannya ke tepi tempat tidur. Hiro mendengkus pelan dan mencibir sinis. Untuk bangun saja ia tidak bisa, tapi orang-orang itu takut ia akan melarikan diri. Benar-benar konyol.


“Keiko,” gumamnya pelan seraya kembali memejamkan mata. Suaranya terdengar serak dan lirih.


Ia sangat mengkhawatirkan tunangannya itu. Meskipun gadis itu keras kepala dan tangguh, tetap saja dia adalah seorang perempuan. Lagipula, Keiko tidak membawa apa pun saat berangkat tadi. Tidak ada senjata, atau apa pun. Itu karena Hiro terlalu yakin dan percaya diri bahwa Keiko akan aman bersamanya. Akan tetapi, nyatanya ia justru menempatkan wanita yang ia cintai itu dalam bahaya.


Hiro merasa bersalah karena tidak bisa menjaga tunangannya dengan baik. Meski Keiko juga diselamatkan, ia tidak tahu gadis itu terluka atau tidak. Apakah orang-orang di sini memperlakukannya dengan baik atau tidak. Jangan-jangan dia pun diperlakukan seperti seorang tahanan? Kalau sampai benar begitu, maka ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri karena sudah membuat Keiko berada dalam situasi ini.


Tidak lama kemudian, Hiro mendengar langkah-langkah kaki mendekat ke arahnya. Pria itu berdeham untuk menjernihkan suaranya, lalu bertanya, “Di mana tunanganku?”


“Tenanglah, tunangan Anda baik-baik saja,” jawab seorang pria seraya memeriksa kondisi Hiro dengan teliti.


Pendarahannya sudah berhenti. Mauser 8 milimeter yang menembus belikatnya hampir menyerempet paru-paru, hanya berjarak 10 milimeter dari selubung pleuranya. Selain itu, tidak ada luka lain yang cukup berbahaya.


“Kondisinya sudah cukup stabil,” lapor dokter itu kepada Mr. Tanaka yang sedang berdiri sekitar dua langkah dari ranjang Hiro.


“Bagus,” ujar Mr. Tanaka seraya mengaitkan kedua tangannya di balik tubuh, “Bantu dia duduk. Aku ingin bicara dengannya.”


“Baik, Tuan.”


Seorang pengawal di sisi Mr. Tanaka segera mengambilkan kursi untuk atasannya, sedangkan sang perawat mengatur posisi ranjang sehingga kepala Hiro menjadi lebih tinggi, setengah bersandar di ranjangnya.


Hiro memaksa membuka matanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pria bersetelan semi militer dengan stetoskop yang melingkar di lehernya itu pasti dokter yang baru saja memeriksanya. Pria berseragam mirip seperti sang dokter itu sepertinya hanya seorang pengawal biasa. Sementara pria paruh baya yang duduk dengan angkuh di kursi besi di hadapannya itu pasti atasan mereka. Tak ada satu pun yang ia kenal.


Mr. Tanaka duduk dan berpangku kaki. Ia menatap ke arah Hiro yang juga sedang mengawasinya dalam diam. Selama 30 tahun bekerja dalam organisasi rahasia, ini adalah kesempatan emasnya untuk membuktikan kemampuannya. Setelah ini selesai, ia bisa pensiun dan menikmati masa tua dengan tenang. Oleh karena itu, ia tidak akan berbelas kasihan pada siapa pun yang tidak mau bekerja sama, atau mencoba menghalangi niatnya.


“Aku ingin menawarkan kesepakatan denganmu, Anak Muda,” ujar Mr. Tanaka memecah keheningan yang terasa mencekam.


Hiro terkekeh pelan. “Apa aku bisa menolaknya?”


Mr. Tanaka ikut terkekeh sebelum menjawab, “Kudengar tadi kamu menanyakan kekasihmu?”


Sorot matanya berkilat licik, menatap penuh arti ke arah Hiro sehingga membuatnya menggertakkan gigi. Kalau saja tidak sedang terluka, ia pasti sudah menerjang ke arah pria tua yang berani menggunakan Keiko untuk mengancamnya itu.


“Kalau dia terluka ... sedikit saja ... maka akan kupastikan kau akan menyesal seumur hidupmu, Pak Tua,” desis Hiro penuh ancaman.


Mendadak semua rasa sakitnya menghilang begitu saja. Seperti singa jantan yang siap menjaga pasangannya, Hiro tidak gentar. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyakiti Keiko, atau ia akan menyeret orang itu ke neraka.


“Kalau begitu, bawa Robert Castillo padaku, maka aku akan menjaga gadismu dengan baik. Kalau tidak ... aku tidak bisa menjaminnya.”


“Tentu saja. Kamu bisa bertemu dengannya. Pengawal akan segera mengantarnya ke sini.”


Mr. Tanaka bangun dan keluar dari ruangan itu sambil tersenyum puas. Ia bersyukur Andrew memutuskan untuk menyelamatkan gadis itu juga, kalau tidak ... tawar-menawar tidak akan semudah tadi. Ia dapat memastikan bahwa Kobayashi Hiro tidak akan menuruti keinginannya dengan mudah jika tidak ada putri Sakamoto di sini. Sekarang ia hanya bisa berharap Hiro segera setuju dan membantunya menangkap Robert Castillo.


***


“Siapa kamu?” tanya Keiko lagi ketika pria di hadapannya hanya terus menatapnya tanpa berkedip, “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Aku—“


“Miss Keiko?”


Seruan dari depan pintu disertai ketukan pelan menyela ucapan Andrew.


“I-itu pasti Kim. Lepaskan aku,” pinta Keiko dengan panik. Ia tidak mau kedapatan sedang dalam posisi seperti ini oleh Kim. Ia melirik dengan gelisah ke arah pintu, takut kalau tiba-tiba Kim memutuskan untuk masuk.


Andrew tersenyum tipis dan melepaskan cekalannya, tidak ingin membuat gadis di hadapannya semakin gugup.


“Pergilah. Sepertinya tunanganmu sudah sadar,” ujar Andrew pelan seraya memberi jarak di antara mereka berdua. Nada suaranya sedikit berubah. Kadang ia sama sekali tidak ingat kalau gadis itu adalah tunangan orang lain.


“Keluarlah,” bisik pria itu lagi ketika Keiko masih menatapnya dengan linglung, “Aku akan keluar setelah kamu pergi. Kamu tidak ingin ada yang melihat kita hanya berdua di dalam sini bukan?”


“Um ... aku ... aku pergi.”


Keiko berjalan cepat ke arah pintu dan keluar tanpa membiarkan Kim melongok ke dalam. Jantungnya berdebar-debar dengan sangat kencang hingga ia takut Kim bisa mendengar detaknya.


“Tuan Hiro mencari Anda, Nona,” ujar Kim dengan sopan.


“Oh. Syukurlah, bisa tolong antar aku ke sana?”


“Tentu. Mari ikut saya.”


“Baik.”


Keiko mengekor di belakang Kim dengan patuh. Ia berjalan tanpa menengok ke belakang lagi. Tidak ingin memikirkan pria asing dalam kamarnya, pria yang selalu berhasil memporak-porandakan semua pertahanannya dengan mudah. Pria asing yang sama sekali tidak terasa asing ... seolah mereka telah saling mengenal sebelumnya.


Dan seberapa menyebalkannya sikap Andrew Roux, tidak pernah berhasil membuatnya kesal ... atau membuatnya ingin menjauh. Ia justru ingin semakin dekat ... ingin semakin mengenalnya ... bukankah ini adalah sebuah kegilaan yang tidak masuk akal?


Di dalam kamar, Andrew duduk di tepi ranjang dan menyugar rambutnya dengan frustrasi. Pria itu memejamkan mata dan bergumam pelan, “Dia tidak ingat.


***