
Sepasang mata elang Hansel menyipit ketika melihat sosok yang terikat di atas kursi. Seulas senyum tipis yang muncul di wajahnya entah mengapa justru memberi kesan mengerikan, seperti seekor singa jantan yang sedang bersiap untuk merobek mangsa dengan taring dan cakarnya.
“K-kamu ....” Bryan yang menyaksikan sosok Hansel keluar dari balik tembok tiba-tiba gemetar.
“Heh. Masih bisa bicara?” tanya Hansel kepada lima anak buahnya yang berada dalam ruangan itu. Ia pikir setidaknya lidah Bryan Scoth sudah dicabut dari pangkalnya.
Kelima orang yang ditanyai segera berlutut dan meminta ampun. Hansel mengibaskan tangannya, memberi isyarat kepada mereka untuk berdiri. Seperti yang diharapkannya, orang-orang itu sangat bisa diandalkan. Membawa Bryan kemari dalam waktu kurang dari satu jam, itu adalah hal yang cukup hebat mengingat tingkat pengawasan di rumah sakit pasti berlapis.
Di atas kursi, Bryan kini mengerti mengapa tadi dokter yang merawatnya tiba-tiba berubah dan ia mendapat suntikan yang membuat pandangannya tiba-tiba menjadi gelap. Meski merasa takut, tapi pemuda berusaha sekuat tenaga untuk terlihat kuat dan tegar saat Hansel semakin dekat ke arahnya.
“A-apa maumu? A-aku bisa menuntutmu, k-kau tahu?” Bryan mencoba menggertak meski suaranya lebih terdengar seperti seekor tikus yang sedang mencicit.
Hansel terkekeh pelan melihat upaya Bryan untuk menakuti dirinya. Sayang sekali, di bawah sini ... ia adalah satu-satunya hukum yang berkuasa.
“Tanda tangan di sini!” perintahnya seraya menunjukkan kertas berisi surat pernyataan yang tadi diketik olehnya.
Meski gegar otak ringan, Bryan bisa membaca dengan jelas isi surat yang dipaparkan di depan wajahnya.
Baru membaca setengah, ia sudah hampir muntah darah. Dari awal, surat itu jelas merupakan pernyataan bahwa ia menyerang Cecille, putri dari Marquess of Alrico, secara sadar dan terencana. Bagian tengah surat itu menyatakan bahwa ia pergi dari rumah sakit karena merasa bersalah. Pada akhir surat tertulis bahwa ia akan pergi dari Paris dan tidak akan pernah muncul kembali.
“Itu gila! Aku tidak akan menandatanganinya!” seru Bryan .
Upaya kerasnya untuk meronta dan berteriak membuat kepalanya seperti dihantam godam, isi perutnya bergolak dan mendesak sampai ke kerongkongan, tapi ia menggertakkan gigi dan menahan semuanya. Sampai mati pun ia tidak akan membubuhkan tanda tangannya di atas surat pernyataan itu!
Wajah yang babak belur dan menatapnya dengan sorot penuh perlawanan itu tampak konyol sekaligus menjengkelkan di mata Hansel. Ia memakai sarung tangan hitam yang disodorkan oleh anak buahnya, lalu meninju hidung Bryan yang dibalut perban sekuat tenaga. Seketika raungan putus asa dan caci maki bergema dalam ruangan itu.
Tubuh Bryan Scoth tersentak-sentak ke belakang. Rasa sakit yang sangat membuatnya menangis seperti bayi. Hidungnya yang patah baru saja selesai dioperasi, tapi sekarang perban yang menutupi lukanya terpental entah ke mana. Ia bisa melihat ujung hidungnya itu bengkok ke sisi kiri, bahkan hampir terkulai ke atas pipi. Darah segar mengalir melewati bibirnya yang bengkak seperti disengat tawon.
“Tanda tangan di sini,” perintah Hansel dengan intonasi yang terdengar sangat santai tapi juga mematikan. Ia menyodorkan kertas dan bolpoin ke arah tangan kanan Bryan.
“Brengsek! Lebih baik kau bunuh saja aku! Sampai mati pun aku tidak akan--" Pemuda itu panik saat melihat salah seorang pria yang mengelilingnya maju dan membuka ikatan tangannya. "... hey, apa yang kau--Arrrgh!”
Teriakan Bryan kembali terdengar saat salah seorang pria berpakaian hitam dalam ruangan itu mencekal lengannya yang terikat di kursi dan menariknya dengan keras ke belakang, kemudian memutarnya ke atas.
Krak!
Suara tulang yang patah bercampur dengan lolongan panjang yang memilukan. Pandangan Bryan menggelap saat menyadari telapak tangan kirinya terkulai seperti ranting patah. Cairan merah pekat menetes dan menggenang di lantai, membentuk lingkaran yang semakin lama semakin lebar. Rasa sakit yang tak tertahankan membuat pemuda itu akhirnya jatuh pingsan.
Sambil menyilangkan kaki, pria itu memberikan perintah, “Jangan biarkan dia mati karena kehabisan darah. Itu terlalu mudah untuknya.”
Dua orang pria segera mengambil sebuah kotak, lalu mengeluarkan “peralatan” dan “obat-obatan” dari dalam kotak itu. Salah satu dari mereka menyemprotkan cairan berwarna keperakan ke luka Bryan. Tak lama kemudian, darah yang menetes di lengan dan hidungnya mulai mengental. Pria yang satunya mengambil jarum suntik dan botol kaca kecil berisi cairan berwarna merah, lalu menyuntikkan cairan itu ke lengan kiri Bryan.
Tak lama kemudian, Bryan tersentak bangun dengan napas termengah-mengah, seolah sebuah jangkar raksasa baru saja menyeretnya ke dasar samudra. Sedetik kemudian rasa sakit yang menyengat membuatnya menoleh ke sisi kiri, lalu kembali hampir kehilangan kesadaran ketika melihat lengannya yang sudah menghitam. Saat matanya terfokus ke arah patahan ujung hidungnya, potongan itu pun sudah terlihat seperti daging gosong yang busuk. Ia mual dan hampir muntah.
“A-apa yang kau lakukan kepadaku?” desisnya dengan mata semerah darah. Rasa sakitnya sungguh tak tertahankan.
Hansel bangun dan berdiri di depan kursi Bryan.
“Tanda tangan! Aku tidak akan mengulanginya lagi!” perintahnya dengan penuh penekanan. Asap yang mengepul dari mulutnya bergumpal dan menerpa wajah Bryan sehingga pemuda itu terbatuk-batuk.
“Tidak akan!”
“Huh.”
Hansel memiringkan kepalanya. Satu tangannya bertengger di pinggang. Meski ia tidak mengatakan apa pun, salah seorang anak buahnya segera mendekat dan merentangkan tangan kanan Bryan. Rekannya yang lain maju dan menebaskan samurai di tangannya dengan cepat. Bryan bahkan tidak sempat melihat gerakan itu, hanya kilau keperakan yang berkilat di bawah cahaya lampu yang membuat nalurinya memberi perintah untuk menarik tangan.
Akan tetapi, cekalan yang menjepit tangannya terlalu kencang. Ikatan di pinggang dan kaki membuatnya tidak bisa bergerak. Sepersekian detik kemudian, tangannya terasa ringan. Detik berikutnya, perih yang menyengat dan shock membuatnya terkencing di celana.
Tangannya terputus sebatas siku. Darah yang menyembur keluar terlihat seperti air mancur yang amis dan anyir. Pemuda itu kehilangan kesadaran untuk yang kedua kalinya. Namun, dengan sigap anak buah Hansel melakukan prosedur yang sama saat ia pingsan pertama kali. Sekejap kemudian, ia kembali terbangun dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
“K-kamu iblis,” desis Bryan dengan napas terputus-putus.
Tubuh pemuda itu gemetar saat melihat Hansel memegang potongan tangannya, menekan ibu jarinya ke atas kotak tinta, lalu menempelkannya di atas helaian surat pernyataan. Cap jempol yang mengguratkan sidik jari miliknya dengan jelas.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Hansel akan segila itu. Namun, sudah terlalu terlambat untuk menyesali semuanya.
"Kapan kapal kargo berangkat ke Asia Tenggara?" tanya Hansel sambil melemparkan potongan tangan Bryan ke sembarang arah.
"Pukul enam sore, Tuan."
"Eng. Pastikan dia menjadi pengemis yang merangkak dengan perutnya untuk bertahan hidup."
Hansel mematikan rokok dan melepaskan sarung tangannya, membuangnya ke tong sampah di sudur ruangan. Ia lalu berjalan menuju lift pribadinya seraya bersenandung, mengabaikan teriakan putus asa Bryan Scoth di belakangnya.