Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Happy (Ending)



Saat resepsi berakhir pukul 22.00, Andrew dan Keiko adalah tamu terakhir yang bangun dari kursi dan menghampiri mempelai yang tampak bersinar meski jelas kelelahan. Acara yang berjalan selama enam jam itu berjalan lancar, tidak ada kendala sama sekali.


“Selamat untuk pernikahan kalian,” ucap Andrew seraya menyalami Hansel dan Cecille.


“Aku sungguh berharap kalian bahagia selamanya,” timpal Keiko.


“Terima kasih,” balas Hansel dan Cecille hampir bersamaan.


“Aku rasa kamu berutang sesuatu kepadaku, Tuan,” goda Andrew seraya mengedipkan mata ke arah Hansel.


Hansel terkekeh dan menepuk bahu Andrew.


“Sekarang aku benar-benar tidak bisa membencimu. Aku rasa aku harus berterima kasih secara langsung, bagaimana kalau pergi ke Berlyn’s akhir pekan nanti? Aku yang traktir,” ucapnya.


Ucapan Hansel membuat Keiko dan Cecille berdeham dan memelototi suami mereka masing-masing. Lihat apakah mereka bisa masuk ke kamar kalau sampai berani pergi ke sana untuk minum-minum!


“Selamat bergabung di club yang sesungguhnya, Saudaraku,” bisik Andrew seraya mengangkat bahunya dengan ekspresi tak berdaya.


Tawa Hansel semakin lebar. Ia mengangkat telunjuk dan meletakkannya di dada Andrew, sedangkan tangan yang satu lagi melingkar di pinggang Cecille dengan sangat posesif sambil berkata, “Satu lagi, ke depannya ... tidak boleh menindas istriku, kalau tidak ... aku tidak akan segan.”


Cecille terpana mendengar ucapan suaminya. Ia melirik ke samping dan menatap pria itu dengan sorot penuh kekaguman dan memuja. Dilindungi seperti itu membuatnya merasa ... seolah seluruh dunia berada dalam genggamannya.


Andrew menepis jari Hansel dengan ekspresi acuh tak acuh dan membalas, “Tenang saja, kita adalah keluarga. Istriku juga tidak akan mengizinkanku menindas kalian. Kelak, jika ada masalah ... kita akan menghadapinya bersama. Jangan sungkan ....”


Hansel tersenyum dan menatap Keiko. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa tenang dan begitu lega, juga bahagia. Keiko benar-benar mendapatkan suami yang sangat baik. Hansel mengetatkan pelukannya di pinggang Cecille dan berjanji dalam hati untuk menjadi suami yang baik juga bagi istrinya.


Keiko melangkah maju untuk memeluk Cecille. “Senang kita bisa menjadi keluarga,” bisiknya di telinga sang pengantin. Kini ia rasa mereka bisa benar-benar menjadi sahabat.


“Terima kasih, maafkan aku dulu—“


“Lupakan,” sela Keiko seraya menepuk lengan Cecille pelan. “Jaga Hiro baik-baik.”


“Um.” Cecille mengangguk dan tersenyum tulus ke arah Andrew dan Keiko. “Terima kasih, Mr.Roux, Mrs.Roux ....”


Andrew Roux dan Keiko menghadiahkan sebuah manor megah di pinggir Kota Paris untuk pernikahannya dengan Hansel. Dan lucunya, kini ia memandang pria itu tanpa riak apa pun di dalam dadanya. Sangat tenang, sangat biasa ... berbeda saat Hansel menyentuh dan atau menatapnya, rasanya jantungnya hampir selalu kehilangan ritmenya.


Andrew melambaikan tangannya dan menjawab, “Tidak perlu sungkan.”


“Sudah larut, kami pamit dulu,” ucap Keiko.


“Baik. Hati-hati di jalan,” balas Cecille.


Andrew menepuk lengan Hansel sekilas, kemudian menggandeng tangan Keiko dan berjalan menuju pintu keluar.


Hansel menatap istrinya dan berkata, “Jadi, Nyonya Kobayashi ... mari kita pulang?”


Cecille membalas tatapan suaminya dan tersenyum lebar.


“Um. Tapi pamit kepada papa dan mama dulu, kalau tidak mungkin dia akan mencambukmu lagi,” balasnya sambil memberi tatapan menggoda.


Hansel menghela napas dan mengedarkan pandangan untuk mencari mertuanya. Pria tua itu benar-benar galak, tapi mau bagaimana lagi ... dia satu paket dengan istrinya yang sangat imut ini, hanya bisa pasrah dan menerima takdirnya. Ia menggandeng Cecille untuk menghampiri sang Marquess dan istrinya yang sedang berbincang dengan Marco Roux.


“Ayah, Ibu, Tuan Roux,” sapanya seraya membungkuk dengan sopan kepada tiga orang tetua di hadapannya.


“Terima kasih banyak karena telah menjadi wali saya, Tuan Roux,” sambungnya lagi.


“Jangan sungkan, sudah sepatutnya aku melakukan ini,” balas Marco Roux. Ia menoleh kepada tuan rumah dan berpamitan, “Sudah malam, aku pulang dulu, Antonio, Maria.”


“Terima kasih, Marco.” Antonio menjabat dan memeluk sahabatnya dengan erat. Ia sangat bersyukur semua masalah berakhir seperti ini, meski di luar ia masih bersikap keras kepada Hansel, tapi ia tahu pria itu mampu menjaga putrinya dengan baik.


“Sering-seringlah mampir kemari,” imbuh Maria.


Marco Roux mengangguk dan tersenyum lebar sebelum berbalik dan meninggalkan keluarga sang Marquess. Sepanjang jalan ia menggumam puas, sesekali menggelengkan kepalanya dengan sangat bahagia. Sungguh tak disangka, di masa tuanya ia akan mendapat kebahagiaan ganda seperti ini. Alfred yang sudah menunggunya di mobil ikut tersenyum lebar sebelum menyalakan mobil dan membawa tuannya kembali ke mansion.


Di ruang utama kastil, Hansel juga berpamitan kepada kedua mertuanya.


“Ayah, Ibu, kami akan kembali ke manor,” pamitnya.


“Sudah berani memanggilku ayah?” gertak Antonio.


Hansel melangkah maju dan memeluk pria tua itu erat-erat.


“Tentu saja, suka atau tidak ... mulai saat ini Anda adalah ayahku, aku akan menjaga kalian semua dengan baik," jawabnya seraya menyeringai lebar.


Antonio tertegun sejenak, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap pundak menantunya sekilas.


“Hum. Hiduplah dengan bahagia. Aku memberikan restuku untuk kalian,” ucapnya pelan.


Di sampingnya, Maria dan Cecille berkaca-kaca menatap pemandangan yang mengharukan itu. Mereka berdua pun saling berpelukan dan mengucapkan kata perpisahan.


“Jaga cucuku baik-baik,” pesan Maria kepada putrinya. Air mata menetes di pipinya yang keriput.


Cecille mengulurkan tangan untuk mengusap air mata ibunya sambil mengangguk cepat.


“Jangan khawatir, Mama ... kami akan sering datang mengunjungi kalian,” gumamnya dengan suara serak.


“Sudah, sudah ... ini hari bahagia, jangan menangis lagi,” kata sang Marquess seraya mendorong putrinya dengan lembut ke arah Hansel.


“Pulanglah. Aku sudah meminta sopir untuk mengantar kalian.”


“Terima kasih, Ayah. Kami pergi dulu.” Hansel merangkul pinggang istrinya dan berjalan keluar.


Malam ini mereka akan langsung menempati manor yang diberikan oleh Andrew dan Keiko. Ia sudah meminta orang-orangnya untuk merapikan dan menata bangunan itu sejak minggu lalu. Untuk perabot lain yang harus diisi ke dalam ruangan-ruangan di dalamnya, biarlah istrinya yang mengaturnya sesuai dengan seleranya.


...***...



“Ayo, turun ...,” ajak Hansel seraya membukakan pintu mobil untuk Cecille.


Wanita itu turun dan menatap arsitektur bangunan di hadapannya dengan kagum. Andrew Roux dan istrinya benar-benar sangat murah hati. Diam-diam ia merencanakan untuk memberikan hadiah balasan saat Keiko melahirkan nanti. Ada sebuah kastil di Jerman yang sangat indah, sangat cocok untuk si kembar. Cecille puas dengan pemikirannya itu dan berniat untuk membicarakannya dengan Hansel saat ada waktu senggang.


“Oh!”


Cecille memekik ketika tiba-tiba tubuhnya terangkat dan melayang di udara. Secara refleks ia melingkarkan tangan di leher Hansel.


“Apa yang kamu lakukan?” tegurnya sambil melotot. Benar-benar membuatnya terkejut.


“Nyonya Kobayashi, aku punya kejutan untukmu,” jawab Hansel seraya mengedipkan mata.


Ia membopong istrinya berjalan melalui lorong-lorong yang dihiasi dengan buket bunga dan lilin-lilin besar yang membuat suasana tampak romantis. Beberapa pelayan menyambut mereka di tiap pintu masuk dan menyapa dengan sopan.


Saat memasuki aula utama, Cecille lagi-lagi buat terkejut ketika mendapati ada barisan orang-orang berpakaian serba hitam di tengah ruangan. Ada puluhan ... tidak, sepertinya ada ratusan orang yang sedang berdiri dengan kepala menunduk.


“Hansel, siapa mereka?” bisik Cecille seraya mencengkeram kerah baju suaminya erat-erat.


Hansel menurunkan istrinya tepat di depan barisan itu, membantunya berdiri dengan kokoh sebelum menoleh ke arah barisan di depannya dan memberi perintah, “Beri salam untuk Nyonya kalian.”


“Nyonya!” seru orang-orang itu serentak seraya berlutut dengan satu kaki.


Mulut Cecille membuka dan menutup tanpa suara. Ia menatap Hansel dan pasukan di depannya bergantian. Mata birunya yang cermelang tampak linglung dan takjub pada satu waktu, membuat Hansel gemas dan ingin menciumnya dengan keras.


“Mereka adalah anak buahku. Jangan khawatir, mereka sangat mahir dalam menyamar, kamu tidak akan menyadari sama sekali saat mereka berada di sekitarmu,” jelas pria itu seraya mengusap punggung istrinya dengan penuh kasih sayang.


“Untuk apa mereka berada di dekatku?” Cecille mendesis pelan.


Hansel terkekeh melihat respon istrinya. Ia mematuk sudut bibir wanita itu dengan lembut sebelum membalas, “Tentu saja untuk menjagamu dan anak kita kelak. Mulai hari ini, selain aku ... kamu adalah satu-satunya orang yang berhak memberi mereka perintah.”


Cecille tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia masih menatap barisan di depannya dengan ekspresi yang rumit.


“Sudah cukup, kalian boleh pergi!” perintah Hansel.


Hanya dengan satu perintah itu, barisan di hadapan Cecille membubarkan diri tanpa suara. Saat wanita itu mengerjap satu kali, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di depan sana.


Bagaimana cara mereka pergi?


“Oh!”


Wanita itu memekik lagi ketika tubuhnya kembali melayang. Hansel menggendongnya menaiki anak tangga, berjalan menyusuri selasar dan pilar sebelum akhirnya berhenti di depan pintu kayu sebuah kamar berwarna cokelat muda. Pria itu mendorong daun pintu dengan kakinya, kemudian melangkah masuk dan membaringkan istrinya di atas kasur.


Hansel mengungkung tubuh istrinya dengan kedua lengannya, lalu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak satu jengkal sebelum bertanya, “Istriku, apa kamu bahagia?”


Cecille mengedipkan mata dengan perasaan yang campur aduk. Apakah perasaan menggelitik di dalam perutnya yang membuat jantungnya berdetak seperti jam rusak ini mengartikan kalau ia bahagia?


Dengan sangat pelan ia mengulurkan tangan untuk meraih wajah Hansel dan mendaratkan satu kecupan ringan di bibirnya. Seharusnya dengan begini suaminya tahu kalau ia bahagia, ‘kan?


Hansel membalas pagutan istrinya dengan bersemangat.


"T-tunggu." Cecille menahan tangan suaminya yang mulai nakal.


"Ada bayi ...," bisiknya lagi dengan sangat pelan. Wajahnya merah padam melihat kabut di wajah suaminya yang tampak pekat dan berbahaya.


"Aku tidak akan menyakiti bayi, sangat pelan ...."


Pria itu membungkuk dan menjilat leher istrinya, menghidu aroma mawar yang menguar dari rambutnya. Saat wajahnya bergerak turun ke dada istrinya yang menyembul dari balik bra, ia bisa mendengar detak jantung yang berpacu seperti derap kaki kuda.


Pria itu memeluk tubuh istrinya erat-erat, membiarkan jantung mereka berdetak dan beresonansi dalam gelombang yang sama ... untuk selamanya ....



...***...



Di villa kota Dinan, seorang pria memanfaatkan kesempatan karena istrinya tidak lagi muntah saat berada di dekatnya. Ia menjerat tubuh mungil itu dengan erat, mengendusi leher dan dadanya sehingga wanita dalam dekapannya itu menggeliat kegelian.


“Hentikan!” seru Keiko seraya memukul lengan suaminya. Jemari pria itu merayap seperti ular di perut dan pinggangnya!


Andrew merangkum wajah Keiko dan menciumnya dengan ganas, menciumnya sampai wanita itu megap-megap kehabisan napas.


“Aku sangat rindu,” bisik pria itu di sela ciuman mereka.


“Masih ada bayi, kamu tidak boleh—“


“Aku akan sangat pelan,” bujuk Andrew.


Wajah Keiko memanas. Apanya yang pelan?! Perkataan ambigu seperti ini membuatnya meremang. Ia belum sempat protes ketika Andrew sudah melucuti pakaian mereka dengan sangat cepat, kemudian menyentuhnya di mana-mana, membujuk dengan sangat hati-hati hingga tubuhnya seperti berubah menjadi air, hanyut dalam perlakuan lembut pria itu.


Di antara deru napas yang tak beraturan dan keringat yang bercampur saliva entah milik siapa, Andrew kembali berbisik di telinga istrinya, “Di kehidupan ini dan selanjutnya, kamu hanya milikku seorang. Kinara Lee ... Sakamoto Keiko ... siapa pun kamu kelak, aku akan menemukanmu dan menjagamu dengan baik ... akan mencintaimu dengan sepenuh hati dan jiwaku ....”


Pelupuk mata Keiko memanas. Itu adalah janji paling indah yang pernah didengar olehnya. Ia mengulurkan tangan dan memeluk leher suaminya erat-erat dan membalas, “Aku akan selalu menunggumu ....”


Bunga musim semi bermekaran di mana-mana. Aromanya menelusup masuk terbawa angin malam. Di bawah cahaya bulan yang menembus kaca jendela, pasangan sejati yang saling mengikat janji bergerak pelan seirama aliran Sungai Rance yang mengalir tenang. Penantian panjang penuh perjuangan terbayarkan dengan segenap cinta dan rindu yang membuncah, meleleh dan mengisi setiap relung dengan kehangatan.



...TAMAT...


...***...