
Kamar perawatan Hiro berada di sisi kanan selasar, tidak jauh dari lift. Dua orang pengawal yang berjaga segera memberi hormat dan menyapa ketika melihat Andrew dan Keiko tiba.
“Selamat sore, Tuan, Nyonya.”
“Sore. Apakah ada yang datang menjenguknya?” tanya Andrew.
“Tidak ada Tuan, hanya ada seorang dokter dan perawat di dalam. Mereka baru saja masuk,” jawab sang pengawal sambil membukakan pintu.
“Baik. Terima kasih.”
Andrew berjalan bersisian dengan Keiko masuk ke ruangan bernuansa putih itu. Kehadiran mereka berdua menarik perhatian seorang pria botak yang memakai kacamata dengan bingkai perak yang sedang memeriksa monitor di sisi ranjang pasien.
“Mr.Roux, Anda sudah datang,” sapa pria itu seraya menghampiri Andrew dan Keiko yang masih berdiri di dekat pintu masuk.
“Selamat sore, Dokter. Bagaimana keadaannya?” tanya Andrew kepada dokter yang tampaknya memang sengaja menunggu kedatangannya di ruangan itu.
“Kondisinya cukup stabil, besok siang sudah bisa pulang dan beristirahat di rumah."
“Bagus. Apakah kami bisa menemui pasien sekarang?”
“Ya. Silakan, Mr.Roux.”
“Terima kasih.” Andrew mengangguk puas dan memberi isyarat kepada Keiko untuk menghampiri ranjang.
“Hiro,” panggil Keiko pelan.
Pria yang berbaring di atas ranjang itu terlihat murung dan kesepian. Cairan infus menetes satu demi satu melalui selang, mengalir dan masuk melalui jarum yang tertancap di punggung tangannya, membuat hati Keiko tergerak karena belas kasihan.
“Aku dan Andrew datang untuk menjengukmu,” sambung Keiko lagi ketika melihat mata Hiro masih terpejam.
Mungkin karena mendengar suara yang familier dan dirindukannya, mata Hiro perlahan terbuka. Ia menatap wajah Keiko yang berada sekitar satu rentangan tangan di depannya dan merasa seperti sedang berhalusinasi.
“Keiko?” panggilnya dengan suara serak.
“Ya, ini aku. Bagaimana keadaanmu.? Apa sudah merasa lebih baik?”
“Aku—"
“Ehm! Aku membawakan suplemen untukmu,” sela Andrew dengan suara keras sehingga membuat Hiro terkejut.
Pria yang masih terbaring di atas ranjang itu langsung menoleh ke arah Andrew dengan cepat sehingga membuat matanya berkunang-kunang.
“Minumlah agar kamu lekas pulih,” lanjut Andrew lagi seraya meletakkan bungkusan suplemen di atas meja dekat jendela.
Binar yang sempat terpancar dari wajah Hiro perlahan memudar, digantikan raut masam dan berat hati. Mengapa pula Andrew Roux harus ikut muncul di hadapannya?
“Jangan cemberut seperti itu. Aku membawakan benda lain untukmu” tegur Andrew saat melihat perubahan ekspresi wajah Hiro.
Ia segera merogoh ke dalam saku jas, mengeluarkan setumpuk dokumen dan menyerahkannya kepada Hiro sambil berkata, “Ini identitasmu yang baru. Periksalah.”
“Apa ini lelucon?” tanyanya dengan intonasi meninggi. Dalam dokumen itu, namanya yang tertera di dokumen adalah Hansel Roux, keponakan dari Marco Roux.
Jelas terlihat bahwa Hiro sedang berusaha mati-matian menahan diri agar tidak melemparkan setumpuk dokumen itu ke wajah Andrew.
“Bagaimana bisa lelucon? Kamu tidak bisa memakai nama dan margamu di sini kalau tidak ingin terlacak dengan mudah. Satu-satunya cara adalah menjadi anggota keluarga Roux, kebetulan aku memiliki sepupu jauh dari pihak ayah yang meninggal ketika berusia satu tahun. Bukankah itu sempurna?” balas Andrew dengan santai.
Bukan hanya Hiro yang tercengang, Keiko bahkan tidak bisa memaksa otaknya untuk mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Andrew.
“Sudah begini lama, tidak akan ada yang menyadarinya. Orang suruhanku sudah meretas dan mengubah data base dari pusat. Dengan begitu kamu akan menjadi anggota keluarga Roux secara resmi dan tidak ada yang bisa mengganggumu. Oh, jangan khawatir, aku sudah meminta izin kepada paman dan bibiku. Mereka tidak keberatan,” jelas Andrew lagi ketika tak kunjung mendapat tanggapan dari Hiro.
Keiko mengulurkan tangan dan menarik ujung jas Andrew, tapi pria itu memberi isyarat dengan tatapan matanya agar Keiko tetap diam. Akhirnya gadis itu hanya menggigit bibir dan meremas jarinya dengan cemas. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh Andrew?
Geligi Hiro bergemerutuk. Urat-urat di pelipisnya menonjol, menjalar seperti cacing-cacing gemuk yang menggeliat di permukaan kulitnya. Bagaimana bisa ia jadi memiliki hubungan darah dengan rivalnya? Ini benar-benar lelucon!
“Kalau kamu setuju, silakan masukkan nomor tanda pengenal barumu di ponselmu untuk otorisasi pemindai retina. Dengan begitu identitas barumu langsung bisa digunakan.”
Hiro mengurai kepalan tangannya dan mengatur deru napasnya yang memburu. Tidak ada gunanya untuk marah sekarang. Lebih baik ia pura-pura bekerja sama dengan patuh, lalu mengumpulkan kekuatan untuk membalas Andrew Roux.
Setelah berhasil menenangkan dirinya, Hiro melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Andrew. Ia memasukkan angka-angka yang tercantum di formulir ke dalam laman resmi milik pemerintah dan mendekatkan wajahnya ketika scanning di ponselnya menyala.
Registration completed.
Lampu di layar ponsel Hiro berubah menjadi hijau ketika ia secara resmi terdaftar sebagai Hansel Roux. Seluruh identitas kelahiran dan latar belakang pendidikannya berubah 180°. Ia bahkan hampir tidak bisa mengenali dirinya sendiri dengan semua pengaturan yang dilakukan oleh Andrew Roux itu. Kalau bisa berontak, ia pasti sudah melakukannya. Akan tetapi, ia tahu dengan jelas posisinya sekarang tidak bisa melakukan tawar menawar, apalagi membantah.
“Bagus sekali.” Andrew mendesah puas dan menarik tangan Keiko hingga tubuh mereka berdua saling menempel erat. “Sekarang sapalah kakak iparmu.”
“APA?!”
Tiiit ... tiiit ... tiiit ....
Monitor yang tersambung dengan alat medis yang ditempel di dada Hiro mendadak menjerit kencang. Gelombang yang menunjukkan detak jantungnya meningkat cepat, bergerak seperti gelombang tsunami yang akan menyapu bersih apa pun yang menghadang di depannya. Dokter yang masih berada di dalam ruangan itu segera merangsek maju dengan cemas.
“Tuan, tenangkan dirimu,” tegur pria tua itu dengan panik saat melihat bukan hanya denyut jantung, tapi juga tekanan darah Hiro yang melonjak drastis.
Hiro menepis tangan sang dokter, mencabut jarum infusnya dalam satu tarikan kasar sehingga darah muncrat membasahi lantai dan ranjang, tapi pria itu benar-benar tidak peduli. Tubuhnya berdiri dengan limbung di depan Keiko, memegang tangan gadis itu dan menatap dengan ekspresi yang berubah-ubah dengan cepat, ada keterkejutan, rasa sakit, tidak percaya, permohonan, juga tidak berdaya.
***
Hmmm... gimana ini nasib Hiro?
btw, mampir ke cerpen lainku yaaa
genre fantasy: Purnama Darah Gunung Mort.
makasiihh utk kalian yang udah mampir, mwuahhh