
Berbanding terbalik dengan Andrew yang masih merasa sangat bahagia, Keiko mulai merasa malu setelah akal sehatnya kembali berfungsi dengan normal. Sekarang gadis itu tidak tahu bagaimana melepaskan pelukannya. Ia tidak ingin Andrew membalikkan tubuh dan melihat penampilannya sekarang. Pasti sangat memalukan.
Bagus sekali, Keiko. Benar-benar ceroboh dan impulsif, rutuk gadis itu dalam hati.
“Sampai kapan ingin memelukku?” tanya Andrew sambil tersenyum menggoda, seolah bisa membaca kegelisahan gadis yang masih menyembunyikan wajah di punggungnya itu. Ia berusah menoleh ke belakang, tapi Keiko mencubit pinggangnya dengan sangat keras sampai ia mengaduh kesakitan.
“Jangat lihat!” desis Keiko dengan kesal.
“Baik. Baik ... tidak lihat,” balas Andrew sambil tertawa lepas.
Pria itu benar-benar bahagia! Penantiannya dan kesabarannya selama ini tidak sia-sia. Semua usahanya untuk menemukan permata yang berharga ini mendapat bayaran yang setimpal.
Ya. Sakamoto Keiko adalah permatanya yang paling berharga. Ia akan menjaganya baik-baik, tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.
“Masih ada waktu lima menit. Masih sempat sarapan, ayo ...,” ajak Andrew sembari melepas tangan Keiko yang melingkar di pinggangnya. Ia berjalan lebih dulu ke dapur tanpa menoleh ke belakang, tidak mau membuat Keiko merasa lebih malu lagi.
Keiko menggigit bibir dan memukul kepalanya pelan. Ia menyukai Andrew Roux. Itu memang benar. Selama ini ia berusaha keras untuk menyangkal perasaan itu, mati-matian membuat benteng dengan berbagai alasan.
Akan tetapi, nyatanya hanya dengan mendengar bahwa mungkin ia tidak bisa bertemu lagi dengan pria itu lagi langsung membuat akal sehatnya tidak bisa berfungsi dengan baik. Apakah itu berarti secara tidak sadar pengaruh Andrew terhadap alam bawah sadarnya sudah sangat kuat?
Hhh ... mau bagaimana lagi. Keiko benar-benar merasa tidak berdaya dengan perasaannya sendiri. Sejujurnya, sejak pertama kali bertemu di Museum Furokawa ... saat itu Keiko sudah terpikat oleh tatapan Andrew Roux yang sangat memesona.
“Baby, aku pikir kamu mengikutiku ke dapur, tapi ternyata malah termenung di sini. Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Andrew sambil menaikkan alis mata, menatap Keiko dengan sorot menyelidik. Tangannya memegang nampan berisi roti selai dan segelas susu hangat.
“Ti-tidak ada,” jawab Keiko cepat, lalu buru-buru menundukkan kepala.
Andrew menyeringai tipis. Ia tahu gadis itu tidak jujur, tapi tidak ingin memaksanya untuk mengatakan apa yang sedang dipikirkannya.
“Mau makan sendiri atau aku yang menyuapimu?” goda Andrew sambil mengedipkan matanya.
“Tidak tahu malu!” balas Keiko sambil mendelik, membuat tawa Andrew kembali berderai.
Gadis itu mengambil nampan dari tangan Andrew dan berderap menuju bangku kayu panjang yang ada di teras samping. Ia duduk di sana dan mulai makan, tidak mengacuhkan pria yang sudah menyusul dan duduk di sebelahnya.
Andrew duduk menyamping, menopang dagu dengan tangan kanannya dan memperhatikan Keiko yang sedang memakan roti tanpa memedulikan dirinya. Hal itu tiba-tiba membuatnya ingin menggoda gadis itu lagi.
“Apakah sekarang kita sudah resmi sebagai sepasang kekasih?” tanyanya sambil terus menatap Keiko lekat-lekat.
“Umph! Uhuk!” Keiko tersedak dan menggigit bibirnya sendiri.
“Hey, pelan sedikit,” tegur Andrew seraya menyodorkan gelas susu ke arah gadis itu.
Keiko melotot dan ingin memarahi Andrew, tapi tenggorokannya tercekik. Buru-buru ia meraih gelas susu dan meneguk isinya hingga hanya tersisa separuh. Sambil memukul-mukul dadanya, ia mendesis dan mencari kalimat yang tepat untuk memarahi Andrew yang sedang menatapnya dengan sedikit panik itu. Namun, akhirnya tidak ada satu pun kata yang bisa ia ungkapkan. Pria itu benar, mulai sekarang mereka sudah resmi sebagai sepasang kekasih. Ia pun tidak mungkin menarik kata-katanya sendiri.
“Bibirmu berdarah. Coba kulihat,” kata Andrew dengan mata menyipit ketika melihat noda darah di sudut bibir Keiko.
Andrew mengabaikan penolakan dan sorot mengancam yang memancar dari mata Keiko. Ia duduk di samping gadis itu dan menangkup wajah mungil itu dalam kedua telapak tangannya.
Keiko kembali mendesis seperti seekor kucing yang teritorialnya diganggu oleh musuh, tapi Andrew sudah mengulurkan tangan untuk menyentuh bibirnya yang berdenyut nyeri dan pedih karena tergigit tadi.
“Jangan bergerak, aku hanya ingin memeriksa lukanya,” gerutu Andrew ketika tangan Keiko terus mencoba mendorongnya menjauh.
Keiko terdiam ketika jari Andrew mengusap tepi bibirnya dengan hati-hati. Rasanya seperti ada aliran listrik statis yang menjalar di permukaan kulitnya, membuat rasa yang aneh berkumpul di dalam perutnya, menggelitik dan membuatnya merasa sedikit mual sekaligus pusing. Seolah ada ribuan kupu-kupu yang sedang beterbangan di dalam sana, memberi sensasi aneh yang membuatnya merinding sekaligus bahagia.
Gadis itu mematung, tiba-tiba terlihat seperti boneka barbie yang kehabisan baterai. Ia tidak berani bernapas dan tidak berani berkedip, hanya menatap wajah Andrew yang sangat dekat. Aroma mint yang sangat segar menggoda indera penciuman Keiko, membuatnya ingin menyusup di leher Andrew untuk menghirup aromanya sampai puas.
Aliran listrik itu rupanya tidak hanya merambati tubuh Keiko, tapi juga menjalar melalui jemari Andrew dan mengaliri seluruh pembuluh darahnya, membuat jantungnya memompa berpuluh kali lebih kencang dan kuat. Tangannya membeku di sudut bibir Keiko. Ia menatap nanar pada bibir merah yang ribuan kali membuatnya hampir gila karena ingin mencicipi rasanya.
Sorot mata Andrew meredup. Ia menyentuh dagu Keiko dengan lembut dan bertanya, “Sakamoto Keiko, bolehkah aku—“
“Kapten, helikopter sudah ... oh, aku akan kembali nanti.” Tuan Sergio mematung sejenak di pintu samping, lalu buru-buru menambahkan, “Ka-kalian lanjutkan saja, anggap aku tidak pernah datang.”
Pria itu mengepalkan kedua tangannya dan membalikkan tubuhnya dengan cepat. Matilah sudah. Kali ini mungkin bos muda akan mengirimnya ke kutub utara untuk menemani penguin jantan yang sedang mengerami telur.
Suara Tuan Sergio mengembalikan kesadaran Keiko. Gadis itu mendorong tubuh Andrew dengan keras hingga pria itu hampir terjungkal. Untung saja piring dan gelas yang ada di situ tidak ikut terlempar.
“K-kamu tidak apa-apa?” tanya Keiko ketika melihat Andrew mendesis sambil mengusap kakinya yang terantuk bangku, tapi ia tidak berani mendekat untuk memeriksa apakah pria itu terluka atau tidak.
“Tidak,” jawab Andrew, kesal karena momen berharganya menguap begitu saja.
Ia bangun dan kembali menghampiri Keiko, kemudian berkata, “Setidaknya izinkan aku memelukmu ... sebentar saja ....”
Meski sedikit ragu-ragu, akhirnya Keiko mengangguk dan membiarkan Andrew merengkuhnya dalam dekapan. Rasa hangat yang nyaman membuat Keiko tanda sadar melingkarkan tangan di punggung Andrew dan menyusupkan kepala di dadanya yang bidang. Ia benar-benar merasa aman setiap kali berada di dekat pria itu.
Andrew tersenyum puas. Ia mengusap puncak kepala Keiko dengan penuh rasa sayang. Seolah baru saja mendapat suntikan energi yang luar biasa, Andrew merasa sangat bersemangat.
“Ayo, aku sudah harus pergi,” kata Andrew seraya mengurai pelukannya.
Ia meraih jemari Keiko dan menuntunnya ke tebing yang mereka datangi kemarin. Hanya wilayah itu yang cukup datar dan luas untuk dijadikan landasan helikopter.
Keiko membalas genggaman tangan Adrew erat-erat. Dalam hati ia diam-diam berdoa, berharap pria itu bisa kembali dengan selamat ....
***
Yang pengen tabokin Tuan Sergio, angkat tangan!
🤣🤣🤣