Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Cara yang tulus



“Apanya yang sudah oke?” sergah Andrew sambil melotot, “Itu namanya tabrakan bibir, bukan ciuman. Tidak tulus sama sekali.”


“Tapi—“


Andrew menghapus jarak di antara mereka dan membungkam mulut Keiko sebelum gadis itu menyelesaikan kalimat bantahannya.


“Umph!” Keiko meronta dan menggeliat di bawah tubuh Andrew, tapi tindakan itu justru memancing reaksi yang lebih besar.


Setelah melewati begitu banyak ketegangan yang meluap-luap, Andrew seolah ingin melampiaskan semuanya kepada kekasihnya, menghukum gadis itu karena sudah membuat dadanya sesak karena cemburu. Ia mencubit dagu Keiko dan memaksanya mendongak, kemudian menjarah mulutnya tanpa ampun. Lidahnya menerobos di antara sela gigi dan menyesap kuat setiap bagian yang tersentuh, mencecap semua rasa yang membuatnya mabuk kepayang.


Lidah saling membelit, napas saling memburu, detak jantung yang tak beraturan ....


Tubuh Keiko mendadak kesemutan dan mati rasa. Otaknya kosong melompong. Ciuman Andrew kali ini terasa sangat mendominasi dan menuntut hingga membuatnya merasa sebentar lagi mungkin ia akan mati karena lemas. Semakin ia bergerak, semakin kuat Andrew menekannya ke bawah, sama sekali tidak memberi celah untuk melarikan diri.


“Patuh sedikit,” geram Andrew ketika merasakan tubuh Keiko masih berusaha untuk memberontak.


Pria itu mematuk sudut bibir Keiko dengan lembut, kemudian kembali menjelajahinya dengan penuh minat. Ia lalu meletakkan satu tangannya di leher Keiko, menekannya dengan kuat untuk memperdalam ciuman mereka.


Hingga akhirnya ketika ia merasa bahwa Keiko benar-benar sudah hampir pingsan, ia baru menjauh dan menatap wajah kekasihnya itu dengan ekspresi yang sangat puas.


Ia mengusap bibir Keiko yang tampak memerah dan dan bengkak sambil berkata, “Gadis pintar. Itu baru namanya tulus.”


“Pintar kepalamu!” Keiko melotot dan meninju dada Andrew hingga membuat pria itu mengaduh.


Gadis itu segera mendorong tubuh Andrew dengan keras hingga pria itu sedikit bergeser. Ia lalu bangun dan merapikan rambut dan bajunya yang sedikit kusut.


“Bagaimana kalau ada yang melihat?” gerutunya dengan bibir mengerucut, “Mereka akan berpikir bahwa kita baru saja melakukan hal yang tidak senonoh.”


“Tidak akan ada yang berani melihat,” balas Andrew seraya membetulkan posisi duduknya dan bersandar miring di sisi Keiko, “Tidak ada yang berani masuk tanpa kupanggil, jadi ... kalau kita mau melakukan hal yang tidak senonoh, di sini sangat—“


Buk!


“Aduh! Hey ... apa salahku?” protes Andrew sambil memasang wajah tidak bersalah ketika Keiko sudah bersiap melemparkan sebuah bantal lagi ke arahnya.


“Kamu menjengkelkan.”


“Oke ... oke ... sekarang aku serius, kamu ingin kembali ke Tokyo atau langsung ke Paris?”


Pengalihan topik pembicaraan yang tiba-tiba itu membuat Keiko mematung sejenak. Tangannya yang sudah siap melempar bantal sofa perlahan luruh ke atas pangkuannya. Kembali ke Tokyo atau langsung ke Paris? Jika ke Tokyo, orang-orang Ryuchi pasti tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang. Untung saja sekarang ada Hiro dan Andrew yang menjaganya. Bagaimana ia harus bertahan jika sendirian?


Selama ini ia bebas pergi ke mana pun karena identitasnya tersembunyi dengan rapi. Akan tetapi, sekarang Ryuchi sudah tahu semuanya. Ia juga tidak bisa 100% mengandalkan orang-orang yang dulu bekerja dengan ayahnya, mungkin saja mereka berubah haluan jika Ryuchi berhasil mengiming-imingi dengan nominal yang besar. Siapa yang tidak tertarik dengan uang, bukan? Lalu ... bagaimana nasibnya nanti?


“Bagaimana?” tanya Andrew lagi ketika kekasihnya hanya termenung dengan kening mengernyit. Ia meraih tangan gadis itu, meremas jari-jari mungilnya sambil berkata, “Kamu akan lebih aman di Paris. Orang-orangku lebih banyak di sana. Semua lebih terkendali karena berada dalam pengawasanku.”


“Mengkhawatirkan Hiro?” tebak Andrew seolah bisa membaca pergumulan batin kekasihnya.


Keiko mengangkat kepala dengan ragu-ragu seraya menggigit bibirnya, tampak seperti seorang anak kecil yang takut melakukan kesalahan. Meski demikian, ia tetap membuka mulut dan bertanya, “Aku ... apakah kita akan meninggalkan dia di sini?”


“Ya. Jika kamu mencemaskannya sekali lagi, maka aku akan menyuruh orang untuk melemparkannya keluar dari pesawat ini,” jawab Andrew dengan kejam. Matanya menyipit dan menatap Keiko dengan tajam. Sepertinya hukuman tadi belum membuat gadis itu jera.


“D-dia ada di sini? Aku pikir ....”


“Apa? Kamu pikir aku akan setega itu dan meninggalkannya sendirian di kota ini?”


Keiko menghela napas lega. Namun, sedetik kemudian matanya membulat seolah baru saja mendapatkan sebuah pemahaman.


“Jadi dia akan ikut kita ke Paris?” tanya gadis itu setengah tidak percaya.


Andrew berdecak sebal dan menjawab, “Kalau dia kembali ke Tokyo, selain Ryuchi yang mungkin akan mengincarnya lagi karena keberadaannya sudah terekspos, pihak EEL pun tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia pasti akan ditangkap dan diadili. Kamu mau hal itu terjadi kepadanya?”


Keiko menggeleng pelan. Biar bagaimanapun, ia dan Hiro dibesarkan bersama. Ada ikatan yang terjalin di antara mereka. Jadi meskipun ia tidak bisa menerima cinta pria itu, ia juga tidak rela jika sesuatu terjadi kepadanya.


“Aku akan menyuruh Garry membuatkan identitas baru untuknya begitu kita tiba di Paris. Dia bisa membuka usaha atau melakukan pekerjaan apa pun di sana, dengan satu syarat ... dia harus melepaskan dunia mafia yang dipimpinnya di Jepang. Jika dia keberatan dan tidak menyetujui syarat itu, aku akan menendang pantatnya kembali ke Jepang, biar saja dihabisi oleh mereka yang sedang memburunya.”


“Terima kasih, dia pasti akan setuju!” seru Keiko penuh semangat. Bukankah Hiro memang ingin berubah menjadi orang yang lebih baik?


Namun, Keiko tidak ingin memberitahu apa alasan pria itu ingin berubah kepada Andrew, bisa-bisa kekasihnya itu berubah pikiran dan benar-benar mencampakkan Hiro di sini.


“Kenapa kamu yang bersemangat sekali?” tanya Andrew sedikit curiga. Mata elangnya menelisik wajah Keiko, berusaha menebak apa yang ada dalam pikiran gadis itu.


Keiko menggeleng dan menyangkal dengan cepat. “Mana ada? Aku hanya merasa berterima kasih kepadamu saja!”


“Benarkah?” Mata Andrew menyipit, ekspresi wajahnya sedikit licik dan berbahaya ketika melanjutkan, “Berterimakasihlah dengan cara yang tulus.”


Keiko mencibir dan bangun dari sofa. Ia berkelit ketika Andrew hendak meraih tangannya, kemudian segera berlari ke arah kamar yang kemarin ditempatinya.


Andrew hanya bisa tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. Ia mengulurkan tangan untuk membuka panel di dekat jendela pesawat dan menekan tombol yang menghubungkannya dengan pilot.


“Langsung berangkat ke Paris,” perintahnya begitu salurang komunikasi terhubung.


“Baik, Kapten.”


Tak lama kemudian, suara mesin yang berdengung memecah kesunyian malam. Pesawat jet itu bergerak maju perlahan-lahan, lalu melesat semakin cepat dan mengangkasa, seolah hendak menembus lapisan langit dan menghampiri bintang-bintang yang bertaburan di atas sana.


***