
“Kenapa kamu mengatakan ini semua, Nona?” tanya Andrew seraya membalikkan tubuhnya perlahan, “Bukankah dia itu tunanganmu? Kenapa mengatakan hal seperti itu? Aku bisa salah paham ....”
Andrew memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu sedikit bersandar di tembok dan menatap Keiko lekat-lekat. Rasanya ia sanggup memandangi gadis itu sepanjang waktu tanpa merasa bosan sedikit pun. Ada daya tarik tersendiri yang membuatnya tidak pernah puas menatap gadis itu. Mata bulat yang jernih itu seolah memerangkap jiwanya, membuatnya merasa telah menemukan telaga yang teduh untuk beristirahat.
Ditatap sedemikian rupa membuat Keiko gelagapan. Ia tidak berani membalas sorot tajam dari manik kelam yang memandanginya dengan sorot ... memuja?
Aku pasti salah lihat. Tidak mungkin. Kami baru saja bertemu beberapa kali. Tidak mungkin ....
“A-aku hanya ingin membalas kebaikanmu kemarin. Jangan salah paham. Kamu tidak tahu dunia seperti apa yang dikendalikan oleh Hiro,” jawab Keiko setelah berhasil mengatur degup jantungnya agar kembali normal. Berada di dekat Andrew selalu membuatnya kehilangan kendali. Anehnya, ia tidak merasa terganggu sama sekali.
“Benarkah?” balas Andrew, “Bagaimana kalau aku tahu dunia seperti apa yang dikendalikan oleh tunanganmu itu, tapi aku tidak mau berhenti?”
Keiko ingin memarahi pria di hadapannya, tapi ketika melihat kilau jenaka yang terpantul dalam sorot mata Andrew, ia segera mengurungkan niatnya. Ia sadar pria itu hanya sedang menggodanya.
“Maka itu bukan urusanku lagi,” balas Keiko seraya berjalan cepat melewati Andrew.
Gadis itu sungguh tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya karena gerakan Andrew sangat cepat. Sepersekian detik kemudian ketika ia membuka mata, tubuh pria itu sudah mengungkungnya dengan rapat di tembok. Aroma maskulin yang kuat menerobos masuk dalam hidung Keiko, membuatnya merasa ... merasa ... um, nyaman? Ini benar-benar aneh.
Ia mendongak dan menatap wajah Andrew yang hanya berjarak satu jengkal di hadapannya. Tangan kanannya bergerak untuk mendorong tubuh Andrew, tapi lagi-lagi pria itu bergerak lebih cepat ...mencekal pergelangan tangannya dan menahannya di tembok. Posisi ini ... Hiro pasti membunuh mereka berdua kalau mendapati mereka sedang berdiri dengan posisi yang ambigu seperti ini.
Keiko membalas tatapan Andrew dan mendesis lirih, “Apa—“
“Shhht ...,” sela Andrew sebelum gadis di hadapannya sempat protes.
“Katakan dengan jujur. Kenapa kamu memancingku ke sini dan memberitahu hal-hal tadi. Benarkah hanya karena ingin membalas budi? Bukan karena kamu juga tertarik padaku? Katakan ... apa kamu tertarik padaku?” cecar Andrew dengan suara yang menuntut.
Embusan napasnya yang hangat menerpa wajah dan leher Keiko. Pandangan Keiko mengabur, deru napasnya mulai tak beraturan. Jutaan kupu-kupu seolah-olah sedang berputar di perutnya, memberi sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Deg ....
Deg ....
Deg ....
Sial. Apakah pria ini membuatku bergairah? Mengapa seluruh tubuhku meremang? Ini tidak masuk akal!
Alih-alih merasa marah karena sikap dan perkataan Andrew yang provokatif, Keiko justru merasakan darahnya mulai memanas.
“Kamu berdebar-debar?” tanya Andrew seraya menyeringai tipis. Pembuluh nadi di pergelangan Keiko yang dipegangnya berdenyut semakin cepat.
Blush.
Wajah Keiko memerah hingga ke daun telinga. Ia menggigit bibirnya dengan gugup dan berusaha menarik tangannya.
“Ini sudah terlalu lama. Hiro akan menyuruh orang untuk menyusul. Lepaskan!” pintanya dengan sorot memohon hingga membuat Andrew tidak tega.
Pria itu melepaskan cekalannya perlahan dan membiarkan Keiko melarikan diri seperti seekor kelinci yang sedang diburu. Ia mendesah pelan dan berjalan ke toilet khusus pria. Setelah menyalakan keran, ia mengulurkan tangan dan membiarkan air membasahi ujung kemejanya. Orang-orang pasti akan bertanya-tanya kalau ia kembali dengan kondisi yang sama ketika pergi tadi.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa bisa senekat tadi. Sakamoto Keiko memang memiliki kemampuan untuk membuatnya kehilangan akal sehat. Untung saja tidak ada yang menyusul dan memergoki aksi gilanya itu. Apalagi kalau Clark sampai tahu, bisa-bisa sahabatnya itu menceramahinya sepanjang malam.
Andrew menyalakan alat pengering dan meletakkan tangannya di bawah embusan angin panas yang keluar dari mesin. Setelah ujung kemejanya sudah agak kering, ia merapikannya lalu berjalan kembali ke ruangan VIP.
Sorot mata Hiro yang penuh selidik membuat Andrew mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Sory, ayahku menelepon. Dia sangat sulit dihentikan ketika sudah mulai berbicara.”
Perkataan itu membuat Hiro terkekeh dan mengangguk-angguk puas. Tadinya ia sudah sedikit curiga ketika Keiko masuk dengan gerak-gerik yang sedikit aneh. Akan tetapi, sepertinya kecurigaannya tidak beralasan, bukan?
“Mari kita lanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda tadi. Saya sudah tidak sabar untuk menjalin kerja sama dengan Phoenix.Co. Jangan khawatir, Hynn Industri memiliki lahan di beberapa wilayah yang cukup strategis. Anda bisa memilih mana pun yang Anda inginkan,” jelas Hiro seraya memberi isyarat pada Ryuchi agar mendekat.
“Bagus sekali,” balas Andrew seraya mengempaskan bokongnya ke atas sofa.
Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Keiko yang sudah duduk kembali di depan mini bar. Permainan kecil di kamar mandi tadi sudah cukup ... untuk saat ini.
Fokus, Drew. Selesaikan misi dengan baik, lalu kau bisa melakukan apa pun untuk mendapatkan gadis itu.
Ryuchi duduk di sebelah Hiro, lalu mengeluarkan sebuah benda yang mirip dengan alat proyektor milik Mr. Tanaka. Sebuah blue print berbentuk hologram langsung mengambang di atas meja.
“Anda bisa memilih di Tokyo, Osaka, Nagoya, Kobe,Fukuoka, Sapporo, dan beberapa kota kecil lainnya,” ujar Ryuchi seraya menyentuh di beberapa titik dan memperbesarnya.
Apakah itu berarti mereka juga mempunyai kendali untuk menyaring informasi apa saja yang bisa diketahui oleh orang lain? Sama seperti identitas Keiko yang benar-benar tersembunyi sehingga Garry pun kesulitan melacaknya.
“Sangat menarik,” ujar Andrew setelah Ryuchi selesai mempresentasikan Hynn Industry, “Sekarang, bagaimana sistem kerja sama yang Anda inginkan, Tuan?”
“Well ... kami hanya menginginkan saham dalam Phoenix.Co. Mudah, bukan?” jawab Hiro seraya tersenyum lebar.
Di depan bar, Keiko menahan napas. Ia sungguh berharap Andrew mendengarkan peringatannya tadi dan membatalkan kerja sama dengan Hiro. Kalau pria itu sampai menyetujuinya, maka sudah dipastikan dia akan terjebak, selamanya menjadi sapi perah bagi Hynn Industri.
“Itu ... cukup rumit ...,” jawab Andrew sambil bersikap sedang menimbang-nimbang, “Masalah pembagian saham ini harus dibicarakan dalam rapat dewan direksi, tidak bisa langsung saya putuskan sendiri. Saya harap, Anda bisa bersabar dan menunggu.”
“Tentu saja ... tentu saja,” balas Hiro cepat. Ia menuangkan lagi minuman ke gelas dan menyodorkannya pada Andrew dan berkata, “Saya akan bersabar dan menunggu kabar baik itu.”
Bodoh! Dasar bodoh! Benar-benar cari mati, rutuk Keiko dalam hati. Ia mencengkeram gelas cocktail dan meneguknya sampai tandas.
Gadis itu meletakkan gelas kosong dengan cukup keras ke atas meja sehingga semua orang langsung menoleh ke arahnya.
“Aku mau pulang,” ujarnya seraya berjalan lurus ke arah pintu.
Hiro baru membuka mulut dan hendak menahan langkahnya, tapi Andrew sudah lebih dulu menerjang ke arah gadis itu hingga mereka berdua terlempar ke atas lantai.
Prang!
Dor!
Dor!
Dor!
Suara pecahan kaca dan tembakan bertubi-tubi membuat semuanya menjadi kacau balau dalam sekejap. Para pengawal berusaha melindungi Hiro. Sepertinya pria itu terkena tembakan. Cairan merah pekat merembes dan menembus jasnya. Dia berteriak-teriak dan memberi instruksi dalam bahasa Jepang, memanggil pasukan tambahan agar datang ke tempat itu. Namun, musuh yang menyerang pun semakin banyak, merangsek maju dengan peralatan taktis yang lengkap.
“Tetap merunduk!” seru Andrew seraya menunduk di atas tubuh Keiko.
Untunglah ia lebih dulu melihat sinar laser yang menembus kaca jendela bangunan itu.
“Lindungi dia!” seru Jovanka seraya menunjuk pada Hiro.
Dengan sigap wanita itu menekan tombol komunikasi dan memberi perintah pada Jimmy dan dua anak buah Mr. Tanaka agar bersiap untuk evakuasi.
Keiko menatap Andrew yang masih melindunginya dan bertanya, “Siapa sebenarnya kalian?”
“Aku akan memberitahumu nanti, setelah kita berhasil keluar dari sini,” jawab Andrew sambil menarik tangan Keiko dan membawanya ke balik mini bar, “Diam di sini. Jangan ke mana-mana.”
Setelah merasa Keiko sudah berada di tempat yang aman, Andrew kembali untuk membantu Clark dan Jovanka. Suara desingan peluru dan ledakan kecil terdengar di beberapa tempat. Tak lama kemudian, seluruh ruangan mendadak gelap gulita.
“Ayo pergi sekarang!” seru Jovanka memberi aba-aba.
“Baik,” jawab Andrew dan Clark bersamaan.
Plan-B terpaksa dijalankan.
***
Haii...
jangan lupa vote,like,dan komen yang banyakkk biar othor makin semangat ...
xixixixi...
makasihhh😍🥰
gambar hanya pemanis 😁