
Keheningan yang panjang membuat udara terasa menyesakkan. Andrew dan Mr.Tanaka beradu pandang dengan sengit. Mereka memiliki pemikiran masing-masing. Meski ada banyak keluhan dalam hatinya, Andrew tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia tahu apa pun yang akan ia katakan, tidak akan meengubah situasi dengan mudah. Perkataannya melawan bukti nyata di lapangan, siapa pun tidak akan mempercayai apa yang ia ucapkan.
Sepertinya Mr.Tanaka telah mengambil keputusan sebelum Andrew memasuki ruangan itu. Pria tua itu tidak menoleh ketika dua orang pria berseragam lengkap memasuki ruangan, lalu mengapit Andrew di sisi kanan dan kiri.
Mr. Tanaka masih tidak berkedip ketika berkata, “Untuk sementara kamu dinonaktifkan. Sampai kasus ini jelas, kamu tidak boleh keluar dari tempat ini.”
Andrew pun tetap bungkam. Dengan perlahan ia mengangkat kedua tangannya di udara, membiarkan dua petugas di sampingnya menggeledah tubuhnya dan melucuti senjata satu demi satu. Aksesnya untuk masuk atau keluar dari tempat ini sepertinya sudah lebih dulu dihapus, terbukti ia tidak bisa melewati gerbang penjagaan ketika baru tiba tadi. Itu artinya, secara tidak resmi ia telah menjadi tahanan di tempat ini.
Akan tetapi, ia tetap harus mencari Sakamoto Keiko. Bagaimana pun caranya, ia harus melindungi gadis itu. Ia tetap yakin apa yang dikatakan oleh Hiro bukanlah sebuah kebohongan. Pria itu terlalu mencintai tunangannya sehingga tidak mungkin bermain-main dengan keselamatan gadis itu.
“Mereka akan mengantarmu ke sel sementara. Jangan salah paham denganku, aku hanya mengikuti protokol standar organisasi. Setelah semuanya jelas, kamu bisa mendapatkan lencanamu dan kembali beroperasi,” ujar Mr.Tanaka setelah mendesah pelan.
Ia memberi tanda kepada dua orang anak buahnya untuk membawa Andrew keluar. Setelah pintu tertutup, pria itu duduk dan bersandar ke kursi. Kedua tangannya terkepal dan memukul-mukul lututnya dengan cukup keras. Seharusnya ia bisa menciptakan satu prestasi sebelum pensiun, tapi sekarang ... lihatlah semua kekacauan ini.
Benar-benar kacau ....
Drrrt.
Getaran dari ponsel yang tergeletak di atas meja mengalihkan perhatian Mr.Tanaka. Pria itu mengambil benda berwarna hitam itu dan memeriksa kotak pesan.
[Semuanya sudah diatur sesuai permintaan Anda. Kami menunggu perintah selanjutnya]
Seringai lebar muncul di wajah pria tua itu. Ia mengetik pesan balasan, lalu segera menghapus isi dari kotak pesan.
Seharusnya tidak akan ada orang yang curiga ....
Ia bisa mencapai posisi sekarang ini, tentu saja bukan karena keberuntungan semata, melainkan karena ia memiliki kemampuan. Baik dan buruk, itu bergantung pada sudut pandang. Baginya, selama apa yang ia lakukan bisa membawanya mencapai puncak tertinggi, maka tidak ada hal yang baik atau buruk. Semuanya hanya alat untuk memudahkan mencapai rencananya ....
***
Jovanka mengarahkan pasukan untuk menyisir seluruh gedung dengan teliti. Setiap sudut ruangan, toilet dan pintu darurat diperiksa dengan saksama, tapi tidak ada satu pun tanda keberadaan Kobayashi Junior atau pun asistennya. Selain mayat-mayat yang bergelimpangan, tidak ada tanda keberadaan Hiro yang terluka parah menurut keterangan Andrew.
Tidak mungkin ‘kan dua orang itu menghilang begitu saja? Apakah mereka bersekongkol untuk keluar dari tempat ini? Rasanya tidak mungkin karena Hiro ditahan selama empat hari dan tidak melakukan kontak dengan siapa pun. Lebih mustahil lagi jika Andrew bekerja sama dengan pria itu dan membantunya kabur. Akan tetapi, jika demi gadis Jepang itu ... apakah Andrew bersedia berkhianat?
Raut wajah Jovanka benar-benar tidak enak dilihat. Semua dugaan berkelebat dalam kepalanya, menimbulkan rasa tidak nyaman dan juga emosi yang bercampur aduk. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak bisa berpikir secara logis. Wanita itu tidak bisa memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan sehingga tidak dapat mengambil kesimpulan secara objektif.
“Kapten!” seru Jimmy seraya berlari menghampiri Jovanka.
“Ada apa?” tanya Jovanka yang sudah kembali ke ruangan tempat Andrew dan Hiro ditawan tadi. Ia sedang berjongkok dan memeriksa di ujung lorong, tempat seharusnya Hiro berada.
Jovanka berdiri dengan cepat dan berseru, “Bawa aku ke sana!”
Ia berjalan cepat di belakang Jimmy dan turun satu lantai, lalu menuju balkon di sisi kiri, dekat anak tangga. Mulanya ia tidak melihat ada yang aneh, sampai akhirnya Jimmy berjongkok dan menarik seutas tali baja yang menancap di bagian luar pagar pembatas.
“Sial!” umpat Jovanka seraya membanting helaian tali itu dengan kesal, “Periksa semua CCTV dalam radius dua kilometer, cegat semua kendaraan besar yang lewat, periksa dengan teliti! Mereka pasti belum jauh.”
Rupanya Ryuchi dan komplotannya meniru cara Jovanka dan Andrew kabur dari acara amal tempo hari. Benar-benar licik dan menyebalkan. Satu kasus terpecahkan, sekarang tinggal Kobayashi Hiro. Jovanka cukup yakin pria itu tidak dapat melarikan diri dengan cara yang sama seperti asistennya, itu jika yang dikatakan oleh Andrew bahwa pria itu terluka parah benar adanya.
“Tetap geledah gedung ini, firasatku mengatakan putra Kobayashi masih ada di sini. Dia tidak bisa pergi jauh, tidak bisa juga terus bersembunyi selamanya. Tangkap dia dan bawa padaku!” perintah Jovanka tegas.
“Siap, Kapten!” jawab Jimmy dengan patuh. Ia memberi isyarat kepada pasukannya untuk kembali memeriksa setiap ruangan yang ada dalam gedung itu.
Sementara itu, Jovanka berbalik dan meraih tali baja yang menjuntai ke bawah. Ia mengusap pelan permukaan benda itu, menariknya hingga ujung paling bawah terkumpul dalam genggamannya. Saat itulah ia menyadari ada aroma anyir yang cukup menusuk hidung, juga cairan kental dan pekat yang menempel di sarung tangannya.
Wanita itu mendekatkan tangannya ke hidung, menghidu aroma yang terasa semakin jelas dikenali oleh indera pembaunya. Itu adalah darah. Bisa saja milik anak buah Ryuchi yang terluka, atau milik Hiro yang nekat dan mempertaruhkan semua keberuntungannya.
Jovanka menekan tombol 'on' pada alat komunikasinya dan memanggil salah satu anak buahnya. Sampel darah itu harus dibawa ke laboratorium agar dapat diidentifikasi. Sambil menunggu anak buahnya datang, Jovanka menggulung untaian tali baja dan memasukkannya ke dalam plastik yang digunakan khusus untuk menyimpan barang bukti.
Ia baru saja selesai membereskan tali itu ketika suara bergemerisik terdengar lagi dari alat komunikasinya.
“Kapten, Clark menghilang dari kediaman Kobayashi. Tidak ada yang melihatnya pergi. Alat komunikasinya pun tidak dapat dihubungi.”
Jovanka terdiam cukup lama. Ini semakin tidak masuk akal. Atau ....
Jangan-jangan pria itu mengetahui sesuatu? Tapi tidak mungkin ... tidak ada yang tahu ....
“Kapten?”
“Ya. Aku mengerti. Kalian bereskan sisanya di sana, aku akan mengurusi yang ini,” ujar Jovanka sebelum mematikan sambungan komunikasinya.
Diam-diam wanita itu mengeluarkan sebuah ponsel sekali pakai dari kantong celana militernya dan mengirim pesan singkat.
[Situasi tidak terkendali. Ada banyak pihak yang terlibat, jangan bergerak sebelum aku memberi aba-aba]
***