
Setelah memindahkan koper ke rumah mungil, Andrew memeriksa kembali perlengkapan yang dibawa oleh para awak kapal. Koper pakaian, perlengkapan mandi, bahan makanan dalam ice box, kompor portable untuk memasak, juga potongan kayu kering untuk perapian.
Ada panel surya yang terpasang, jadi pondok mungil itu dilengkapi dengan listrik dan pemanas air. Mesin pendingin pun berfungsi tanpa kendala. Andrew mengangguk puas, semuanya sudah dipersiapkan sesuai permintaannya.
Anak buah kapal tinggal sebentar untuk memeriksa apakah ada yang kurang atau tertinggal, juga memastikan mesin penyaring air berfungsi dengan baik. Setelah yakin semuanya sudah beres, mereka segera meninggalkan tempat itu, membiarkan Tuan dan Nyonya mereka menikmati waktu berduaan di sana. Andrew sudah memberitahukan untuk menjemput esok hari di jam yang sama.
Keiko menyeringai lebar, ini seperti piknik, tapi sudah di-upgrade dengan menggunakan fasilitas mewah. Ia menertawakan pemikiran konyolnya itu, kemudian membantu Andrew menata barang-barang di dapur. Senyuman manis yang tak lekang dari wajahnya itu membuat garis bibir Andrew ikut melengkung. Ia tak menyangka Keiko akan sangat antusias. Tadinya ia sudah sedikit khawatir istrinya akan kurang menyukai tempat ini. Siapa sangka sekarang wanita itu yang paling bersemangat menata barang-barang dan menyusun kayu bakar di perapian.
“Mau makan apa, Sayang?” tanya Andrew seraya membuka ice box.
Keiko ikut melongok. Di dalam kotak itu ada beragam sayuran dan daging beku, juga makanan pokok lainnya. Tiba-tiba perutnya terasa lapar dan ia ingin makan dumpling.
“Um ... aku ingin makan dumpling isi udang dan ayam,” jawab Keiko sambil memamerkan giginya yang putih dan berbaris rapi.
“Dumpling?” Alis Andrew terangkat. Ini sedikit aneh, Keiko tidak pernah meminta makanan itu sebelumnya.
“Um. Isi udang dan ayam.”
Keiko mempertegas jawabannya sambil mengangguk cepat. Ia sudah tidak tahan membayangkan saus cabai yang nikmat, pedas, manis dan gurih memenuhi mulutnya bersama kulit dumpling yang lembut. Hum ... enak sekali! Air liurnya hampir menetes.
“Oke. Tunggu sebentar.”
Andrew segera membongkar isi ice box hingga bagian yang paling dasar. Sayangnya, tidak ada satu pun dumpling beku di dalam sana, tapi ada sebungkus terigu. Ia segera mengambil ponsel dan mencari cara untuk membuat kulit dumpling dari internet. Tak lama kemudian, pria itu sudah memakai celemek bergambar stroberi dan sibuk di dapur. Ia tidak memperbolehkan Keiko membantunya sedikit pun.
“Pergi berjemur atau berbaring di kamar, aku akan memanggilmu kalau sudah siap,” perintahnya seraya mengacungkan spatula.
Keiko terkekeh dan duduk di sofa abu-abu yang ada di ruang depan. Karena tidak ada pembatas antara ruang depan dan dapur, semua gerak-gerik Andrew terlihat jelas olehnya. Diam-diam ia mengambil ponsel dan merekam dari jauh.
Gerakan suaminya terlihat kaku dan kikuk saat menguleni tepung dan membuat kulit dumpling, beberapa kali mengaduh ketika membersihkan udang dan mencincangnya bersama daging ayam. Meski demikian, pria itu sangat keras kepala, dari awal sampai akhir ia bersikeras melakukannya sendiri.
Setengah jam kemudian, adonan sudah dikukus. Aroma daging yang gurih dan segar menguar di udara, membuat tubuh Keiko secara otomatis bangun dan menghampiri suaminya yang kini sedang membuat saus cabai. Pria itu terlihat sangat fokus mengikuti instruksi dari internet, melakukan tahapannya satu demi satu dengan sangat serius.
“Sudah bisa dimakan?” tanya Keiko dengan mata bulatnya berbinar penuh harap.
Andrew menoleh dan menjawab, “Sedikit lagi ....”
“Pffft ....” Keiko menahan tawa melihat wajah yang dipenuhi tepung, ekor udang bahkan menempel di bajunya.
Ia mengulurkan tangan untuk membersihkan wajah dan baju Andrew, kemudian mendaratkan kecupan di sudut bibir pria itu.
“Suamiku yang paling baik,” pujinya dengan tulus dan penuh kesungguhan.
Andrew tersenyum lebar seperti seorang bocah yang dipuji ibunya karena mendapat nilai bagus. Ia merangkul pinggang Keiko dan mencium puncak kepalanya sekilas dan berkata, “Istriku sangat mudah dipuaskan. Begini saja sudah senang?”
Keiko mengangguk dan bertepuk tangan sambil menjawab, “Sangat senang! Juga lapar ....”
“Duduklah. Aku akan menyiapkannya untukmu. Seharusnya sudah matang.”
“Oke.”
Keiko kembali ke tempat duduknya dan menunggu dengan tidak sabar, ingin mencicipi bagaimana rasa masakan suaminya kali ini.
“Silakan, Mrs.Roux.”
Andrew meletakkan piring berisi delapan buah dumpling yang masih mengepulkan uap panas, juga semangkuk kecil saus cabai yang terlihat lezat. Meski bentuk dan ukurannya tidak seragam, Keiko merasa sangat bahagia dan terharu. Suaminya sudah bekerja keras untuk memasak hidangan itu untuknya, ia merasa sangat beruntung. Saat ia mengulurkan tangan dan hendak mengambil makanan itu, Andrew menepis tangannya.
Tidak ada sumpit, jadi ia mengambil garpu untuk menusuk dumpling. Ia meniupnya, lalu mencelupkannya ke dalam saus dan menyodorkannya ke mulut Keiko.
Keiko membuka mulut dengan patuh dan memakan dumpling itu. Kulit dumpling terasa sedikit keras karena tebal, juga agak sedikit asin, tapi Keiko tetap mengunyahnya tanpa berkedip. Rasa saus dan isiannya pas, membuat Keiko semakin bersemangat dan makan dengan lahap.
“Sangat enak,” pujinya seraya mengacungkan jempol.
“Benarkah?”
“Eng. Kamu coba.” Keiko mengambil garpu dari tangan Andrew, mencocol dumpling ke dalam saus dan menyodorkannya kepada suaminya.
Kening Andrew mengernyit ketika menggigit kulit dumpling yang keras.
“Ini keras, tidak seperti dumpling yang biasa—“
“Ini dibuat khusus oleh suamiku, tentu saja sangat enak,” sela Keiko seraya memasukkan satu potong dumpling lagi ke mulutnya, “Di dunia ini, hanya aku seorang yang bisa memakannya, bukankah aku sangat beruntung?”
Pujian yang berlebihan itu entah mengapa terdengar sangat manis di telinga Andrew. Mereka berdua duduk dan menghabiskan sisa dumpling yang tersisa. Keiko yang makan dengan lahap membuat Andrew merasa sangat senang. Jika mengatakan soal keberuntungan, dirinyalah yang paling beruntung ... di masa lalu dan sekarang, bertemu dengan wanita ini adalah sebuah keajaiban ....
“Mau lihat kamarnya tidak?” tanya Andrew setelah membereskan sisa makanan mereka.
“Oke,” jawab Keiko tanpa menyadari tatapan suaminya yang penuh arti, “Di mana kam—kya! Andrew!”
Belum sempat menuntaskan perkataannya, tubuh Keiko sudah melayang, sedetik kemudian menempel erat di dada suaminya.
“Istriku sudah kenyang, sekarang giliran aku makan ....”
Seketika tubuh Keiko menyusut.
“Dasar serigala buas!” Ia memarahi Andrew dengan wajah memerah.
Suaminya ini benar-benar seperti serigala tua yang menjebak kelinci putih polos yang tak berdosa. Setelah memberi makan sampai kenyang, ia balik dimakan hingga tak bersisa!
Pagi itu, seperti ucapan Andrew sebelumnya ... Keiko menjerit kencang ketika Andrew menekannya dengan keras, dimulai dari meja makan sampai sofa ruang depan, sebelum berakhir di kamar tidur.
Saat akhirnya Andrew meletakkannya di atas kasur, Keiko sudah tidak bisa memperhatikan seperti apa bentuk ruangan itu lagi. Matanya terpejam erat, ia tertidur dengan pulas.
***
gemetar....
gemetar....
gemetar....
uhuk!
jangan lupa like dan votee😘