Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Nyaman tidak?



Andrew menekan Keiko ke tembok dan menggigit bibirnya dengan gemas. Tangannya bergerak cepat, melepaskan helaian kain yang menutupi tubuh ramping itu dan menjelajah di atasnya, meninggalkan jejak bara api di setiap bekas yang disentuhnya.


Keiko gemetar, bertanya dengan suara yang terpatah-patah, “A-apa yang k-kamu ... oh, An-drew.”


Ia memekik ketika telapak tangan yang hangat itu menggesek bagian tubuhnya yang sensitif.


“Aku tidak tahan lagi, Baby.” Andrew menggeram dengan suara serak, “Ingin mendapatkan dagingku sekarang ....”


Tuhan yang tahu, berendam air dingin sama sekali tidak membantu. Ia benar-benar merasa menjadi seorang petapa tua yang picik dan rakus. Mau bagaimana lagi, ia sangat tergila-gila kepada istri mungilnya ini ....


Tungkai Keiko berubah menjadi jelly saat lidah Andrew menyapu puncak dadanya yang terekspos tanpa penutup. Lutut pria itu menekan di sela pahanya sehingga kedua kakinya terentang. Ia tidak bisa melarikan diri, hanya bisa merangkul leher suaminya erat-erat, menjadikannya sebagai tumpuan agar tubuhnya tidak limbung dan jatuh.


Andrew menekan ... mengusap ... membujuk dengan sangat lembut ... lalu ketika merasa bahwa istrinya sudah cukup siap, ia mengangkat pinggulnya, menahannya di dinding dan memasukinya dengan hati-hati.


Keiko mendesis pelan ketika perih kembali menyengat. Ia menutup mata erat-erat sambil mengernyit, napasnya tertahan satu-satu. Bulir keringat mulai bermunculan di kening, berkilau seperti butiran berlian yang indah dan menawan.


Andrew menunduk dan menciumi wajah istrinya, permatanya ... harta yang paling berharga ....


Deru napas Keiko mulai stabil, rasanya sudah tidak sesakit tadi. Ia membuka mata, lalu tanpa sengaja menoleh ke arah cermin besar yang berada di dekat sofa. Seketika wajahnya merah padam. Posenya bersama Andrew kali ini begitu ....


“Oh!”


Keiko memekik kecil ketika merasakan tubuhnya terangkat. Suaminya memasukinya lebih dalam.


Ia menggigit bibir dan menatap cermin lagi. Pantulan di sana menangkap semuanya dengan jelas. Tubuhnya yang polos tanpa penutup tampak kontras dengan Andrew yang masih memakai kemeja dan celana satin hitamnya. Tubuh mereka bergerak dengan ritme yang seirama, saling menyambut diiringi desah*an erotis yang bergema dalam ruangan.


Keiko menoleh kembali ke arah suaminya, mendapati bahwa hanya dua kancing paling atas kemeja pria itu yang terbuka, menampilkan ototnya yang padat dan keras. Tiba-tiba ia merasa kesal, malu, juga ber*gairah. Jadi, tanpa aba-aba ia membuka mulut dan menggigit dada Andrew dengan keras.


“Baby ....”


Andrew menggeram dan meraih dagu Keiko. Ia ******* bibir istrinya dengan penuh minat dan meningkatkan tempo gerakannya, mengentak dengan kuat hingga wanita dalam pelukannya merintih-rintih dan meracau, memanggil namanya dengan desah*an yang membuatnya semakin bersemangat.


“Siapa petapa tua?” tanya Andrew tiba-tiba dengan nada rendah dan dalam.


Pupil Keiko menyusut. Tidak tahu harus menangis atau tertawa menghadapi suaminya yang pendendam dan kekanakan ini! Dalam situasi seperti ini bisa-bisanya dia ....


“Katakan, siapa petapa tua, hum ...?”


“T-tidak tua, stamina suamiku sangat bagus dan ... ah!”


Keiko gemetar hebat saat Andrew menekannya dengan keras, menghantamnya dengan cepat berulang kali tanpa ampun. Sesaat kemudian, tubuhnya mengejang dan hanyut dalam gelombang yang melambungkannya ke angkasa.


Andrew mengulas senyum puas saat menatap Keiko yang gemetaran dalam dekapannya. Ia menunduk dan berbisik di telinga istrinya itu, “Nyaman tidak?”


Kening Keiko mengerut. Ia menggigit bibir sambil menggeleng keras, lalu menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Bagaimana bisa ia mengakui kalau percintaan mereka terasa nyaman dan ia menikmatinya? Sangat malu sampai ingin menggali tanah untuk bersembunyi di dalamnya.


Mata Andrew berkilat licik. Ia kembali bergumam, “Ah ... itu salahku karena tidak berhasil membuat istriku merasa nyaman. Kalau begitu ... kita coba sekali lagi?”


Andrew mengabaikan protes itu dan membopong istrinya menuju sofa, membaringkannya dengan hati-hati, lalu mengangkat kedua tungkai jenjang itu dan meletakkannya di pundaknya.


“Andrew, sudah ... aku ... oh, astaga!”


Gemetar ....


Gemetar ....


Gemetar ....


Sepertinya Andrew baru saja menghantamnya di relung yang paling dalam.


Keiko mencengkeram sisi sofa sekuat tenaga. Kepalanya mendongak dengan napas tersengal. Kedua telapak tangan yang besar itu menangkup dadanya dan bergerilya di sana, mengusap dan mencubit dengan lembut. Ia sungguh tidak bisa menerimanya lagi ... siksaan ini ....


“An-drew ....”


“Hum ...?”


Keiko terengah. Meski merasa napasnya hampir putus, tubuhnya menginginkan lebih ... lebih dalam ... lebih cepat ....


Akan tetapi, gerakan Andrew tiba-tiba melambat. Pria itu menatap lekat wajah istrinya yang sudah dipenuhi peluh dan bertanya, “Nyaman tidak?”


Keiko tidak berani membuka mata untuk memandang wajah suaminya. Akan tetapi, ia juga tahu jika menolak untuk menjawab, maka suaminya yang pendendam itu tidak akan berhenti menyiksanya. Oleh karena itu, mengabaikan rasa malu yang membuatnya ingin menghilang dari dunia ini, lalu membulatkan tekad dan menjawab, “Sangat nyaman, Suamiku ....”


Andrew menyeringai puas. Ia membungkuk dan memeluk tubuh istrinya erat-erat, seolah dunia akan runtuh dan wanita itu adalah satu-satunya pegangan yang tersisa.


Sama sekali tidak ingin melepaskannya, menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyatukan tubuh mereka ....


Keiko tidak tahu lagi berapa lama ia terayun dan terombang-ambing di atas sofa, berapa kali suaminya membuatnya memekik dan mengerang putus asa saat gelombang kenikmatan itu menghantamnya bertubi-tubi.


Yang ia ingat, saat semuanya selesai, pria itu tetap terlihat tenang seperti karang di bibir pantai, bajunya bahkan tidak kusut sama sekali. Hanya keringat yang menetes satu per satu dari keningnya yang menandakan bahwa dia baru saja mengeluarkan tenaga yang cukup besar.


Setelah memaki suaminya itu dalam hati dengan sebutan petapa tua dan serigala buas, Keiko pun menutup matanya dan tertidur karena kelelahan.


Melihat istrinya yang terlelap dengan tubuh bermandikan keringat, Andrew membopong dan membawanya ke ruang utama. Ia membersihkan tubuh istrinya, lalu mengganti pakaiannya dengan setelan yang baru. Setelah itu, ia menelepon Kim dan memintanya untuk membawakan obat anti radang.


Sepertinya ia terlalu bersemangat tadi. Bercak merah di sofa tampak mencolok saat ia memindahkan tubuh Keiko, juga noda di atas seprai yang sudah mengering.


Tampaknya ia benar-benar harus puasa selama beberapa hari ke depan, kalau tidak ....


Pria itu menunduk dan mengecup kening istrinya. “Maafkan aku, Baby. Lain kali akan lebih hati-hati ...,” gumamnya pelan.


***