Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Janji



Melihat Keiko yang sedikit kesulitan dalam menjawab permintaannya, Andrew menghela napas dalam-dalam. Meskipun keinginannya untuk bisa bersama gadis itu sangat kuat, tapi ia juga tidak mau memaksakan kehendak. Ia tidak mau menjadi pria arogan yang mendikte apa yang harus dilakukan oleh kekasihnya.


Pria itu menggenggam tangan Keiko dan berkata, “Baby, tidak apa-apa kalau kamu tidak mau. Aku mengerti. Aku akan kembali ke sana dan mengurus semuanya secepat mungkin agar bisa kembali ke sini agar bisa tinggal di dekatmu. Aku—“


“Aku bersedia,” sela Keiko seraya mengambil berkas-berkas miliknya dari tangan Andrew.


“Apa?” Andrew terbengong sejenak, menatap dengan linglung ke arah Keiko yang sedang tersenyum dengan sangat manis di hadapannya.


“Apa katamu?” ulangnya lagi setengah tidak percaya. Ia pikir Keiko sudah akan menolak permintaannya yang memang sedikit tidak masuk akal itu.


“Aku bersedia untuk pulang bersamamu ke Paris,” jawab Keiko tanpa menghilangkan senyuman dari wajahnya, “Tapi risikonya, kamu harus menjagaku seumur hidupmu. Bagaimana?”


Andrew bangun dan menubruk tubuh Keiko, memeluknya erat-erat hingga mereka berdua sama-sama meringis kesakitan, lalu sama-sama tertawa hingga tidak tahu lagi air mata yang mengalir di pipi mereka itu karena menahan rasa sakit atau karena bahagia yang membuncah.


“Aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku, Baby. Tetap di sisiku selamanya, oke?” gumam Andrew seraya mengusap wajah Keiko dengan penuh rasa sayang.


Keiko mengangguk cepat. Air mata menderas di pipinya, tapi senyumannya semakin lebar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mempercayakan hidupnya pada orang asing ... orang asing yang sangat dicintainya ... orang asing yang mencuri perhatiannya sejak pandangan pertama ... orang asing yang akan menjadi satu-satunya tempat ia pulang, tempatnya bersandar dan berbagi segalanya ....


“Jangan menangis lagi, hatiku ikut sakit ...,” bujuk Andrew sambil menarik tangan Keiko yang bebas dan meletakkannya di dadanya.


Keiko terkekeh dan menarik tangannya. Ia menyusut air matanya dan berkata, “Mulutmu manis sekali, pantas saja jika para gadis tergila-gila padamu.”


“Hmm ... manis atau tidak, bagaimana kamu bisa tahu sebelum mencicipinya?”


Andrew mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa jarak dua jengkal di antara wajah mereka. Keiko terkejut dan refleks menjauhkan kepalanya. Ia memelototi Andrew dengan kesal, tapi pria itu bergeming, malah semakin lama wajahnya semakin dekat.


Napas Andrew yang panas menyapu pipi dan leher Keiko, menimbulkan gelenyar aneh yang membuat wajah gadis itu merona. Rasa hangat merambat hingga ke ujung jari-jari kaki, lalu kembali naik dan menggelitik jantungnya dengan irama tak beraturan. Rasanya gatal, seperti ada duri-duri kecil yang menusuk-nusuk permukaan kulitnya. Benar-benar membuatnya tidak nyaman dan tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana.


“K-kamu ... kamu mundur sedikit ...,” bisik Keiko sangat pelan, suaranya hampir-hampir tak terdengar. Seluruh permukaan kulitnya panas dan membara, seolah ada inti nuklir sedang bereaksi di dalam tubuhnya.


“Tidak mau. Aku ....” Andrew menyentuh ujung dagu Keiko dengan hati-hati, menatap lekat bibirnya yang sedikit pucat dan melanjutkan, “Boleh tidak?”


Keiko menelan ludah dengan susah payah. Mendadak tenggorokannya seperti disumpal oleh sebongkah kapas. Ia tahu maksud pertanyaan Andrew. Ia ingin memalingkan wajah, tapi Andrew tidak memberinya kesempatan untuk merasa ragu sedikit pun. Bulu mata gadis itu bergetar ketika wajah Andrew semakin dekat hingga napas mereka beradu di udara.


Aroma mint yang segar menggelitik ujung hidung Keiko, membuatnya ingin mengatakan bahwa wangi pria itu sangat menyenangkan. Namun, sesuatu yang hangat dan lembut lebih dulu membungkam mulutnya. Sepersekian detik kemudian, gadis itu terombang-ambing seperti perahu yang digulung oleh ombak di tengah lautan lepas.


Tanpa sadar Keiko mengangkat tangan dan berpegangan erat-erat pada ujung baju Andrew, takut jika ia akan tersesat dan kehilangan kendali atas dirinya. Kaki dan tangannya mendadak terasa lunak seperti jelly.


Cekala gadis itu semakin erat ketika udara dalam paru-parunya dirampok habis oleh kekasihnya. Kepalanya mulai pening, tapi ia tidak berani membuka mata. Seluruh panca inderanya terfokus pada rasa lembut dan hangat yang seolah meleleh di tepian bibirnya. Rasanya benar-benar luar biasa.


Andrew menekan tengkuk Keiko dan memperdalam ciuman mereka. Ia tidak mau melepaskan gadis itu meski napasnya mulai tersengal dan berat. Rasa bibir yang manis dan lembut seolah menjadi candu, membuatnya tidak mau berhenti menyesap semua rasa yang memabukkan itu. Hingga akhirnya ketika cengkeraman Keiko di lengannya semakin mengetat, ia baru melepaskan gadis itu dan membiarkannya menghirup oksigen banyak-banyak.


“Manis sekali,” gumam Andrew seraya mengusap bibir Keiko dengan ibu jarinya. Ia menatap wajah Keiko yang tampak memerah dengan pandangan yang berkabut.


Gadis itu benar-benar salah tingkah. Aroma tubuh Andrew seolah masih tertinggal di bibirnya. Ia melirik dengan gugup ke arah pintu, lalu menarik napas lega ketika melihat daun pintu itu masih tertutup rapat.


Andrew tertawa pelan dan meletakkan dagunya di bahu Keiko, menghidu aroma gadis itu dan menyimpannya dalam memori. Alangkah bahagianya jika seumur hidup bisa seperti ini, mendekat dan memeluk gadisnya kapan pun ia mau.


“Baby, seumur hidup ini ... jangan pergi dari sisiku, ya? Jadilah milikku seorang ... oke?”


“Aku ....”


“Berjanjilah padaku. Apa pun yang terjadi nanti, kita akan terus bersama. Kamu harus berjanji padaku, dengan begitu aku baru akan tenang.”


“Baik, aku berjanji. Seumur hidupku, hanya ada kamu seorang. Apa pun yang terjadi, aku akan melewatinya bersamamu ....”


Keiko tersenyum dan mengulurkan tangan untuk mengusap punggung Andrew perlahan. “Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?”


“Bagus sekali!” seru Andrew. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan puas.


Pria itu menjauh dan menepuk-nepuk punggung tangan Keiko yang tidak dipasangi infus dan berkata, “Beristirahatlah dengan baik. Aku sedang mengurus surat kepemilikan properti peninggalan ayahmu. Kamu bisa memeriksa dan membereskannya sebelum pindah ke Paris nanti.”


“Baik. Terima kasih, Sayangku.”


“Apa?!”


“Apa?”


“Gadis nakal ....” Andrew mencubit ujung hidung Keiko dengan gemas. "Panggil aku suami."


"Tidak mau!" Keiko melotot dan mencebik ke arah Andrew.


"Calon suami?"


"Belum!" Keiko menggeleng keras.


"Kekasih tampanku?"


"Norak sekali." Keiko mendengkus dan memutar bola matanya dengan ekspresi bosan.


Andrew menyerah dan memasang ekspresi tidak berdaya. Melihat itu, tawa Keiko tiba-tiba bergema di dalam kamar, terdengar hingga lorong dan selasar rumah sakit. Suara tawanya terdengar merdu dan menular.


Kim yang sedang berjaga di depan pintu ikut mengulum senyum. Ia lega akhirnya semua berjalan dengan baik. Ia sungguh berharap semuanya tetap seperti ini untuk selamanya, dengan begitu ... ia pun bisa tetap hidup dengan tenang ....


***