Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Melarikan diri



Napas Keiko tersengal, tersandung-sandung mengikuti langkah kaki Andrew yang panjang dan cepat. beberapa kali lengan dan bahunya terantuk pada tembok di sepanjang lorong dan sisi pintu, tapi ia menahan rasa sakitnya dan terus berlari. Gadis itu paham bahwa mereka hanya memiliki waktu di bawah satu menit sebelum daya kembali menyala dan menyingkap keberadaan mereka.


Deru napas Andrew tak kalah memburu. Satu tangannya menggenggam jemari Keiko erat-erat, tangan yang lain menenteng koper besi yang diambilnya dari atas meja. Tidak ada banyak waktu. Berdasarkan pelatihan dasar yang diikutinya ketika mendaftar sebagai anggota EEL, ia tahu saat ini para pasukan sudah mulai mengaktifkan mode malam dalam perangkat tempur mereka. Itu artinya ....


“Lewat sini,” ujar Andrew seraya menarik tangan Keiko ke arah tangga darurat di lorong sebelah kiri.


Suara pintu besi yang berderit dan terbuka tersamarkan oleh suara ledakan yang kembali terdengar sebanyak dua kali. Andrew tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menarik tangan Keiko dan berlari menuruni tangga.


“Ah!” pekik Keiko cukup keras. Kakinya terantuk dan membuat tubuhnya limbung.


Merasakan entakan kuat dari gadis di sampingnya, refleks Andrew menarik tangan Keiko dan menahan pinggangnya. Embusan napas mereka membaur di udara, menyebarkan rasa hangat di wajah masing-masing. Untuk sepersekian detik, Andrew dan Keiko saling menatap dalam keheningan yang memabukkan, seolah suara keributan di sekitar mereka berasal dari dimensi yang berbeda.


Andrew yang lebih dulu pulih dari pengaruh magis itu, menunduk untuk memperhatikan kaki Keiko dan bertanya, “Sakit tidak?”


Keiko menggeleng pelan, lalu menyadari mungkin Andrew tidak melihatnya, jadi ia menjawab, “Tidak sakit.”


“Bagus. Ayo cepat,” ujar Andrew sambil menarik tangan Keiko lagi, memutari anak tangga yang melingkar hingga ke bawah.


Keiko baru saja berjalan tiga langkah ketika pintu besi di atasnya kembali berdentang dengan keras. Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang lebar dan cepat mendekat ke arah mereka. Tubuh gadis itu mendadak tegang, tanpa sadar ia meremas jemari Andrew dengan gugup. Ia bahkan hampir lupa untuk bernapas.


Langkah kaki itu semakin dekat. Secara naluriah Andrew menarik Keiko ke balik tubuhnya, menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng. Ia melepaskan cekalannya di tangan Keiko, lalu mengangkat satu kakinya dengan hati-hati untuk menggunakan pahanya sebagai penopang. Karena terlalu buru-buru, ia lupa memeriksa benda itu tadi.


Suara “Klik” yang sangat halus terdengar ketika koper besi terbuka. Andrew mengambil dua pucuk pistol semi otomatis dalam wadah itu dan memeriksa benda lain yang ada dalam benda itu. Matanya terpaku pada sebuah kacamata night vision jenis terbaru yang dikeluarkan oleh Phoenix.Co. Tanpa ragu ia mengambil benda itu dan menyerahkan benda itu beserta pistol kepada Keiko.


“Bisa menggunakannya?” tanya Andrew pelan. Ia mengunci kembali koper besi dan memegangnya dengan satu tangan.


“Hum,” gumam Keiko pelan. Ia hampir melompat karena bahagia. Kalau ada senjata seperti ini, maka ia tidak perlu khawatir lagi.


Gadis itu segera memakai kacamata dan melepaskan pengaman pada pistol. Ia memegang gagang senjata itu dengan mantap dan membidik ke atas, pada sosok yang sekarang hanya berjarak sekitar lima langkah dari hadapannya. Tubuh Keiko kembali menegang. Itu ....


Charles Mo? Bagaimana dia bisa sampai di sini?


“Andrew?” panggil Charles Mo seraya berjalan mendekat.


Andrew mengangkat tangannya dan mendorong ujung pistol Keiko ke bawah. Ia sendiri mengunci kembali senjatanya dan menyelipkannya di balik punggung.


Mulut Keiko bergerak-gerak, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia menatap dua orang pria di hadapannya bergantian dengan bimbang. Bukankah mereka bermusuhan?


“Kim sudah menunggu kalian di basement. Ada sebuah mobil van putih yang bertugas mengantar obat-obatan. Cepatlah sebelum Charles Mo yang asli sadar dan menguliti kita hidup-hidup,” ujar pria berambut ikal itu seraya menggapai bagian belakang kepalanya.


Charles Mo yang asli?


Keiko hampir memekik ketika melihat lapisan kulit wajah Charles mengelupas. Tidak. Lebih tepatnya kulit wajah itu dilepas. Sepotong wajah yang familiar muncul dari balik topeng itu. Meski kemampuan visual kacamata night vision terbatas, tapi Keiko cukup yakin bahwa pria itu adalah orang yang sama yang selalu berada di samping Andrew Roux.


“Terima kasih,” ujar Andrew dengan tulus.


Ia segera menyadari bahwa 'Charles Mo' yang tadi menginterogasinya tadi adalah Clark ketika pria itu meletakkan koper besi miliknya ke atas meja.


Andrew tahu menyusup ke rumah singgah mereka untuk mengambil metal case-nya dan menyusup ke sini untuk menyerahkan benda itu kepadanya bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi Clark berhasil melakukannya. Ia benar-benar merasa berutang budi kepada sahabatnya itu.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Andrew segera berlari menuruni tangga diikuti oleh Keiko. Lampu di ujung tangga darurat sempat menyala beberapa saat, tapi hanya sebentar. Tampaknya Clark benar-benar mematikan sumber daya seluruh gedung. Kalau dilihat dari penampilannya yang asal-asalan dan seenaknya, tak ada yang percaya jika pria itu memiliki kemampuan hebat seperti ini.


Andrew lebih dulu keluar dari lorong dan mengintai sebelum memberi aba-aba kepada Keiko untuk mengikutinya. Tidak terlihat satu pun penjaga di sekitar situ. Mungkin orang-orang itu berjaga di pintu keluar dan bagian dalam gedung.


“Awas!” teriak Keiko setengah menahan napasnya ketika dua bayangan tiba-tiba berkelebat dari balik mobil dan menerjang ke arah mereka.


Sialan. Dugaannya salah!


Andrew mengarahkan pistolnya, tapi salah seorang penyerang itu lebih dulu menendang hingga senjatanya terlempar ke kolong mobil. Sepertinya para penjaga sudah mengaktifkan mode malam. Meski lampu dan kamera tidak beroperasi, para pengawal tetap bisa melihat mereka dengan jelas jika berpapasan seperti ini.


Melihat rekannya berhasil melumpuhkan Andrew, pria yang lain menodongkan senjatanya dan bersiap untuk menembak. Melihat itu Keiko segera melompat dan menendang lutut pria itu hingga mereka sama-sama terguling di atas lantai. Dengan cepat ia mengaitkan kedua kakinya di leher pria itu dan menguncinya sekuat tenaga.


Tidak boleh ada suara tembakan, kalau tidak ... akan ada lebih banyak penjaga yang datang.


Pria yang terkunci di bawah kakinya meronta, tapi Keiko memutar tubuhnya sehingga pria itu benar-benar tercekik dan bergerak dengan panik, memukul-mukul ke sembarang arah dengan putus asa ... tapi tentu saja sia-sia, Keiko sama sekali tidak melepaskannya.


Melihat rekannya roboh, pria yang tadi lebih dulu menyerang ingin menendang wajah Keiko, tapi Andrew menangkis kakinya dengan sigap hingga pria itu terjungkal. Dalam satu gerakan cepat yang hampir tidak terlihat, Andrew mengambil belati dari sarung yang menempel di pinggang musuhnya. Ia melompat dan duduk di atas tubuh lawannya, lalu tanpa ragu menekan benda itu ke pangkal leher dan membuat gerakan melintang.


Tubuh pria berseragam militer itu berkelonjotan sesaat sebelum akhirnya terbujur kaku. Andrew mengabaikan cairan hangat yang menyembur dan membasahi lantai dengan cepat. Ia bangun dan menghampiri Keiko yang juga sudah berdiri, terkesiap melihat lawan gadis itu yang sudah tidak bergerak lagi.


Andrew sedikit tidak menyangka di balik tubuh mungil dan wajah polos itu tersimpan kekuatan dan kemampuan yang mematikan, juga nyali yang cukup besar. Dibutuhkan keberanian yang cukup besar untuk menghabisi nyawa seseorang.


“Terima kasih,” ujar Andrew, “Kamu terluka?”


“Tidak,” jawab Keiko singkat.


Andrew menghela napas lega. Ia memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya. Kali ini mereka lebih waspada, dengan hati-hati mengendap-endap di antara pilar dan langsung menuju satu-satunya mobil van putih yang terparkir di basement.


“Cepat masuk,” bisik Andrew seraya membuka pintu belakang mobil yang tidak terkunci.


Dengan sigap Keiko melompat masuk, diikuti oleh Andrew. Gadis itu menurut dengan patuh ketika Andrew memintanya duduk di ujung, tepat di bagian belakang kursi supir. Keiko terus mengamati gerak-gerik Andrew yang terlihat benar-benar terlatih dan cekatan.


Kalau melihat alur pelarian yang sangat terencana,ini seharusnya pria itu memiliki orang dalam yang membantunya. Apakah dia sudah bisa menduga akan ada kejadian seperti ini?


Diam-diam Keiko merasa kagum. Ia tahu, orang biasa tidak akan mungkin bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup, tapi pria di hadapannya itu ... benar-benar luar biasa ....


Setelah yakin Keiko sudah aman, Andrew meraba-raba di lantai mobil dekat pintu, lalu menekan tombol bulat kecil yang teraba oleh tangannya. Suara dengungan halus ditutupi oleh suara mesin mobil yang dinyalakan.


“Kapten,” sapa Kim yang duduk di balik kemudi. Wanita itu mengenakan setelan putih yang biasa digunakan oleh petugas farmasi. Penyamarannya benar-benar hebat, sama sekali tidak terlihat sebagai Kim.


Andrew menghampiri Keiko dan duduk di sampingnya. Tanpa ragu ia mengulurkan tangan dan menggenggam jari-jari lembut yang terasa dingin milik Sakamoto Keiko. Mereka bisa merasakan mobil mulai bergerak pelan, melewati beberapa tanggul sehingga tubuh mereka bergoyang pelan.


Keiko menatap lurus ke depan dan tidak berniat melepaskan genggaman tangan Andrew yang membuatnya merasa aman. Ia tahu pria itu akan menjaganya, seperti yang diucapkannya beberapa waktu lalu. Ia tidak mau memusingkan soal salah atau benar, yang pasti ... saat ini sesungguhnya seluruh tubuhnya sedikit gemetar. Ia membutuhkan seseorang untuk membuat hatinya kuat.


***