
Keiko menyantap makan siangnya sambil melamun. Dua puluh menit lalu Andrew mengabari lewat telepon bahwa gaun pengantinnya sedang sedang diantar ke mansion. Sekarang ia jadi bersemangat sekaligus berdebar, tidak sabar ingin melihat gaun-gaun itu. Tidak terasa ... tiga hari lagi ... waktu bergulir begitu cepat.
Alangkah bagusnya kalau ayah dan ibu masih hidup, pasti akan lebih sempurna.
“Kenapa makan sambil termenung seperti itu? Apa yang sedang istriku pikirkan?”
Keiko mendongak dengan cepat ketika mendengar suara yang familiar di telinganya.
“Andrew? Kapan kamu pulang? Bukannya kamu bilang ada rapat hari ini?” tanya Keiko, terkejut melihat sang suami yang seharusnya masih berada di kantor tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.
“Rapat bisa dijadwalkan ulang, tapi kesempatan untuk melihat istriku mencoba gaun pengantin hanya satu kali, tentu saja aku memilih istriku,” balas Andrew seraya menunduk dan mengecup kening Keiko sekilas.
Keiko tersipu. Ada ayah mertuanya di kursi utama , si Tua Alfred di sebelahnya, dan para pelayan di sekitar mereka, tapi Andrew bersikap seolah hanya ada mereka berdua di ruang makan.
Seolah tidak melihat wajah istrinya yang bersemu merah muda, Andrew menarik kursi dan duduk di samping Keiko sambil berkata, “Kebetulan aku juga belum makan siang. Ingin makan bersama istriku ....”
Marco Roux dan Alfred saling menatap dan mengangkat alis. Seingat mereka, seumur hidup Andrew tidak pernah bersikap manja dan lembut seperti itu kepada siapa pun. Mulutnya selalu seperti bisa yang berbahaya, kejam dan sadis, sikapnya selalu dingin terhadap semua orang, bahkan terhadap gadis yang paling manis sekalipun. Namun, sekarang mereka sudah hampir muntah darah melihat tingkah pria itu. Seolah kehadiran mereka tak kasat mata, Andrew hanya memperhatikan Keiko seorang.
“Sudahlah, bukankah ini yang kamu inginkan?” tegur Alfred yang mengerti jalan pikiran Marco Roux.
Marco menggeram dan kembali menikmati makan siangnya. Alfred benar, Andrew menikahi seorang wanita, itu sudah lebih dari cukup. Apa lagi yang ia harapkan? Hanya ini keinginannya selama bertahun-tahun, jadi sekarang biarkan saja putranya itu melakukan apa pun yang dia inginkan.
Keiko yang menyadari ayah mertua dan Alfred sedang berbisik-bisik di seberang meja segera memberi isyarat agar suaminya menyapa kedua orang tua itu. Andrew yang sejak masuk hanya memperhatikan Keiko segera berpaling ke arah yang ditunjukkan oleh istrinya.
“Ayah, Pak Tua,” sapanya dengan seringai lebar di wajahnya. Ia mengambil piring dan mengisinya dengan menu yang sama dengan Keiko.
Marco hanya mendengkus dan bergumam tidak jelas sebagai jawaban, sedangkan si Tua Alfred membalas dengan melambaikan tangan.
“Tampaknya kami sudah menjadi bayangan di matamu, tidak terlihat sama sekali,” goda pria tua itu seraya terkekeh pelan.
“Bukan begitu, Pak Tua ... aku hanya terlalu bersemangat saja,” balas Andrew dengan senyuman yang semakin lebar.
“Bagaimana kondisi perusahaan?”
“Baik, sejauh ini tidak ada masalah.”
“Bagus. Tunjukkan kepada ayahmu bahwa kamu bisa diandalkan.”
“Tenang saja, aku akan membuat nama Phoenix.Co dikenal di seluruh dunia.”
Alfred mengangguk puas. Marco yang sejak tadi terus menunduk tapi diam-diam mendengarkan percakapan putranya dan Alfed ikut menyunggingkan seringai tipis. Ia bukannya lepas tangan sepenuhnya dengan urusan perusahaan, Dewan Direksi sudah mengirimkan laporan rapat yang dipimpin oleh putranya sejak menjalankan perusahan tiga hari lalu, dan itu memang sangat memuaskan. Tampaknya ia benar-benar sudah bisa pensiun dan beristirahat dalam damai.
Keempat orang itu melanjutkan makan siang mereka dengan tenang. Setelah selesai, mereka pindah ke aula utama untuk bersantai, sesekali bertukar cerita dan membahas hal-hal sepele, tertawa saat Andrew bertingkah konyol dan membuat Keiko salah tingkah. Dilihat dari sudut mana pun, pemandangan itu tampak sangat harmonis. Kim yang berjaga di dekat pintu sampai tak tahan dan ikut menyunggingkan senyum.
“Tuan, Nona Almira sudah datang,” lapor salah seorang pelayan kepada Andrew, “Pengawal sudah mengarahkannya untuk langsung menuju aula timur.”
“Baik. Terima kasih.” Andrew bangun dan mengulurkan tangannya ke arah Keiko sambil berkata, “Ayo, Sayang. Aku sudah tidak sabar ....”
“Ayah, Paman Alfred, kami pergi menemui Nona Almira dulu,” pamit Keiko seraya menggandeng tangan Andrew.
“Ya, pergilah," jawab Marco sekilas, kemudian kembali berbincang dengan Alfred.
Keiko mengangguk sopan, kemudian berjalan beriringan dengan Andrew. Gadis itu menggigit bibir, alisnya bertaut di kening. Tinggal tiga hari lagi, bagaimana kalau gaunnya tidak sesuai? Apakah masih ada waktu untuk memperbaikinya?
“Gugup?” tanya Andrew ketika merasakan genggaman tangan istrinya menguat ketika mereka sudah mencapai ujung selasar yang mengarah ke aula timur.
“Lumayan,” jawab Keiko sambil meringis, jantungnya sekarang sudah berdentam-dentam karena gugup sekaligus tidak sabar ingin melihat gaun pengantinnya.
“Jangan cemas, kalau gaunnya tidak sesuai dengan yang kamu inginkan, nanti kita langsung ke butik saja untuk mencari model yang kamu mau,” ujar Andrew seolah mengetahui kecemasan istrinya.
"Um. Oke."
Seorang pengawal yang berjaga di pintu masuk aula segera membukakan pintu.
“Silakan, Tuan Muda, Nyonya ...,” ujarnya seraya memberi hormat.
Ketika kedua orang itu melangkah memasuki aula, mereka tertegun sejenak karena kilau berlian yang bertaburan di permukaan tiga potong gaun pengantin terlihat sangat menyilaukan. Keiko kehilangan kata-kata. Model gaunnya terlihat sederhana tapi sangat cantik. Di sisi kanan, sebuah tuxedo berdiri dengan agung di tiang penyangga. Dilihat dari modelnya, jelas dikerjakan oleh tangan yang terampil dan profesional.
“Nona Almira, ini sangat cantik,” puji Keiko dengan tulus. Ia merasa enggan mengalihkan tatapannya dari gaun-gaun cantik yang dipajang di depannya itu.
“Aku benar-benar suka. Anda sangat hebat, Nona,” sambungnya lagi sambil berjalan maju dan mengangkat tangan untuk menyentuh gaun yang berjejer rapi itu. Rasanya sangat lega. Semua kecemasannya tadi mendadak sirna seketika.
Almira Gonzales menyeringai lebar dan membalas, “Syukurlah kalau Anda suka, Mrs.Roux. Kalau Anda ingin mencobanya, asisten saya akan membantu Anda memakainya.”
“Oke,” jawab Keiko dengan bersemangat. Ia lalu menoleh cepat ke belakang dan berkata, “Andrew, kamu juga coba, ya. Aku ingin lihat ....”
Melihat istrinya yang bersemangat, Andrew menjadi lebih antusias. Ia melangkah maju dan memeluk pinggang Keiko sambil berkata, “Jadi istriku ingin melihat suaminya yang tampan ini memakai tuxedo pernikahan? Oke ... aku akan memakainya untukmu.”
Keiko mendesis dan mencubit pinggang Andrew, membuat pria itu mengaduh dan melompat menjauh.
“Tidak tahu malu,” omel Keiko.
“Dengan istri sendiri, kenapa harus malu?”
Keiko mendengkus dan tidak mau menanggapi suaminya lagi. Ia menoleh ke arah Almira dan berkata, “Bagaimana kalau mencoba yang ini dulu?”
Sebuah gaun berpotongan off-shoulder menarik perhatiannya sejak pertama kali masuk ke dalam ruangan itu, benar-benar sudah tidak sabar untuk mencobanya.
“Silakan, Anda bisa mencoba semuanya dan memilih mana yang paling cocok,” balas Almira seraya tersenyum lebar. Ia lalu memberi arahan kepada asistennya untuk membantu Keiko mengepas pakaian itu. Mereka pergi ke salah satu ruangan yang ada di aula dan membantu Keiko mencoba gaun pengantinnya.
Setelah selesai, Almira mempersilakan Keiko untuk melihat cermin. Dalam sekejap mata bulat gadis itu bercahaya. Potongan gaun sangat pas dengan tubuhnya! Bahannya terasa ringan dan sangat halus. Benar-benar kualitas terbaik!
“Saya rasa Anda harus keluar dan menunjukkannya kepada Mr.Roux,” saran Almira Gonzales.
“Oke ....”
Di luar, Andrew yang sudah lebih dulu selesai memakai tuxedo segera menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Rahangnya terbuka, tidak sanggup mengalihkan pandangan dari istri mungilnya yang terlihat secantik peri.
“Bagus tidak?” tanya Keiko yang menjadi sedikit ragu saat melihat ekspresi wajah suaminya yang tak terbaca.
“Cantik sekali,” puji Andrew yang masih belum berkedip, “Bisakah kita menikah sekarang saja?”
Semua orang yang ada dalam ruangan itu seketika terbahak. Sang calon mempelai pria tampaknya benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kalau disampaikan ke luar, takutnya tidak ada yang akan percaya bahwa Andrew Roux pun bisa bertingkah sangat konyol di depan calon mempelai wanitanya.
Keiko mengangkat tatapannya dan menelisik tubuh suaminya yang terbalut tuxedo hitam, terlihat sangat tampan dan berkharisma. Ia mendekat, berjinjit dan berbisik di telinga Andrew, “Suamiku juga sangat tampan dengan tuxedo ini, tapi sepertinya terlalu banyak lapisan ... aku takut akan merusaknya ketika melepaskannya saat malam ....”
Pupil mata Andrew menyusut. Ia menatap Keiko lekat-lekat ketika membalas bisikan itu dengan suara yang sedikit serak, “Sudah berani menggodaku?”
“Tidak. Tidak berani.” Keiko berkelit cepat dan mundur dua langkah. “Masih ada dua gaun yang harus aku coba. Bye.”
Gadis itu lalu terbirit-birit kembali ke kamar sebelum Andrew menerkamnya di depan semua orang.
“Istriku yang nakal ... lihat bagaimana aku memakanmu nanti ....”
***
gambar hanya pemanis, biar halunya makin maksimal 😂😂
btw, minta tlg mampir ke "Teror Arwah Penasaran" ya, manteman...
titip like aja gpp kl takut baca, hehe...
makasihhh