Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Kejutan untuk Keiko



Dari kejauhan terlihat dua orang pria dan seorang wanita sedang berdiri di dekat helikopter. Keiko memicing dan menajamkan penglihatannya. Ia merasa mengenal wanita yang berdiri tegap di samping helikopter itu. Ketika semakin dekat, cekalannya semakin erat ... hampir meremas jemari Andrew yang masih menggandengnya menuju bukit.


“Andrew,” panggil Keiko sedikit ragu, “Dia ....”


Andrew menoleh dan tersenyum, lalu menarik tangan Keiko sehingga gadis itu semakin dekat padanya.


“Ada apa, Baby?”


Sedikit lagi mereka sampai di puncak bukit. Andrew senang karena bisa mempersiapkan semuanya tepat waktu. Ia ingin memberi hadiah untuk Keiko, dan sepertinya rencana itu berhasil. Terbukti dari mimik wajah Keiko yang benar-benar tampak terkejut. Ia menuntun Keiko langsung menuju wanita berpakaian semi militer yang menarik perhatian Keiko sejak tadi.


“Kapten Andrew,” sapa wanita itu seraya memberikan hormat ala militer. Ia lalu menghadap kepada Keiko dan membungkuk dengan hormat, “Nona Keiko,” sambungnya lagi seraya tersenyum tipis.


Mulut Keiko terbuka lebar, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia menatap wanita itu dan Andrew bergantian dengan ekspresi kebingungan.


“Kenapa seperti orang bodoh begitu?” goda Andrew seraya mencubit pipi Keiko. Kekasihnya terlihat sungguh imut ... ah, kekasih ... satu kata itu membuat hati Andrew terasa hangat. Kalau saja masih ada banyak waktu, ia sangat ingin duduk dan menatap gadis itu seharian. Sayangnya ada tugas yang lebih penting yang harus segera diselesaikan.


“K-kim? Dia ... Kim?” tanya Keiko setelah pulih dari keterkejutannya.


“Sebenarnya aku belum memberinya nama. Kim adalah nama dan identitas yang aku berikan kepada prototype A agar dia dapat menyusup ke dalam organisasi. Sedangkan prototype B ini baru saja tiba dari Paris, khusus untuk menjagamu selama aku pergi,” jawab Andrew dengan tenang.


“....”


Keiko sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Ia tersanjung karena perhatian Andrew, tapi juga merasa tidak bisa menerimanya. Berapa dana yang dihabiskan untuk membuat satu humanoid seperti ini? Ia tidak sanggup memikirkannya.


“Kenapa diam saja? Kamu boleh mengganti namanya kalau ingin,” ujar Andrew lagi seraya meraih jemari Keiko dan meremasnya pelan.


“Tidakkah ini sedikit berlebihan?” bisik Keiko pelan. Mata bulatnya menatap Andrew dengan ekspresi yang rumit.


Andrew terkekeh pelan dan menjawab, “Tidak ada yang berlebihan kalau untuk keselamatanmu.”


“Pasti mahal sekali,” bisik Keiko lagi seraya melirik ke arah Kim. Atau, haruskah ia mengganti namanya? Rasanya agak aneh karena wajahnya benar-benar mirip dengan Kim. Bahkan cara bicara dan senyumannya pun sama. Hanya rambutnya saja yang terlihat sedikit lebih panjang.


Tawa Andrew semakin keras. Ia merengkuh bahu Keiko dan memeluknya erat-erat.


“Jangan khawatirkan itu, Baby. Kekayaanku masih cukup banyak untuk menghidupimu dan anak-anak kita kelak,” bisiknya di telinga Keiko.


“K-kamu! Menjengkelkan!” desis Keiko seraya mendorong tubuh Andrew sekuat tenaga. Wajahnya kembali memerah seperti buah plum yang matang.


Andrew mengulurkan tangan dan mengacak pelan rambut Keiko sambil berkata, “Jangan marah lagi, aku hanya bercanda.”


Kalau bukan karena harus segera pergi sekarang, ia masih sangat betah berlama-lama menggoda gadis itu.


“Kamu boleh memanggilnya Kim atau apa pun. Yang jelas tidak boleh jauh-jauh darinya. Kamu bisa mengandalkannya jika ada yang kamu butuhkan,” lanjut Andrew lagi.


Ia menoleh kepada dua orang pria yang berdiri di samping Kim dan bertanya, “Di mana benda yang aku minta kalian bawakan?”


“Ini, Kapten,” jawab salah seorang dari pria itu sambil maju dan menyodorkan sebuah kotak.


Andrew mengambil benda itu dan membukanya. Rupanya isinya adalah sebuah ponsel berwarna biru tua. Andrew mengutak-atik benda itu sebentar sebelum menyerahkannya kepada Keiko.


“Ini untukmu. Kalau merindukanku, kamu boleh meneleponku kapan saja,” ujarnya seraya mengedipkan mata.


“Kalau terus mengatakan hal-hal yang menjengkelkan, aku tidak akan memedulikanmu lagi,” ancam Keiko seraya mengambil kotak yang diberikan oleh Andrew.


“Baik. Tidak menggodamu lagi,” balas Andrew sambil terkekeh pelan.


Senyum lebar menghiasi wajah tampannya, membuat dua orang pengawal yang ada di situ menatap bos mereka dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan. Selama mereka bekerja untuk pria itu, mereka tidak pernah sekali pun melihatnya tersenyum atau tertawa. Sejak kapan tuan mereka berubah?


“Jaga dia baik-baik. Seluruh informasi ada di sini,” kata Andrew seraya menyerahkan sebuah anak kunci kepada Kim.


“Baik, Kapten,” jawab Kim dengan hormat.


Andrew menoleh kembali ke arah Keiko dan berkata, “Aku pergi dulu, ya.”


“Kemarilah.” Andrew mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan kamera, lalu mengangkat tangannya sedikit lebih tinggi.


“Tersenyumlah untukku,” pintanya dengan lembut.


Lagi-lagi wajah Keiko merona. Meski begitu, ia tetap mengulas senyum tipis dan menatap ke layar ponsel.


Andrew pun tersenyum puas dan mengambil beberapa foto mereka berdua. Ia benar-benar merasa sangat bahagia.


“Baiklah. Aku pergi sekarang,” kata Andrew dengan sedikit berat hati mundur satu langkah.


“Berhati-hatilah,” ujar Keiko pelan.


“Hum. Aku akan kembali secepat mungkin untuk menjemputmu.”


“Baik.”


Andrew tersenyum lembut, lalu dengan sedikit tidak rela berjalan menuju halikopter. Dua orang pengawalnya mengikuti dari belakang. Salah satunya menuju kokpit dan menyalakan mesin. Baling-baling berputar pelan, deru mesin yang bising membuat Keiko mundur beberapa langkah.


“Aku akan menunggumu pulang!” seru Keiko sambil melambaikan tangan. Senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.


Penampilan Sakamoto Keiko yang berdiri di tepi tebing sambil berseru bahwa akan menunggunya pulang membuat Andrew benar-benar terharu. Ia tersenyum dan balas melambai, lalu memakai alat komunikasi khusus yang sudah disiapkan. Helikopter terbang menjauh, membuat tubuh Keiko terlihat semakin mengecil sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan.


Andrew mencoba menghubungi Garry lagi, tapi semua akses masih terblokir. Clark dan Leon belum bisa dihubungi, sinyal mereka pun menghilang sebelum memasuki kastil keluarga Nakamura. Hal itu mempersulit dalam melacak di mana mereka berada. Namun, Andrew menebak ini semua ada hubungannya dengan keluarga itu. Dengan kekuatan yang begitu besar, bukan tidak mungkin bagi keluarga Nakamura untuk mendapatkan informasi kalau kediaman mereka sedang dimata-matai.


Menjadi sebuah dilema bagi Andrew untuk memutuskan, apakah ia harus pergi ke kediaman keluarga Nakamura untuk memastikan keberaan Clark dan Leon, atau tetap pergi ke Takayama seperti rencana semula.


“Kapten, apakah perlu mengubah koordinat?” tanya pilot dari alat komunikasi.


Kedua tangan Andrew mengepal erat. Mau tidak mau, ia harus segera membuat keputusan.


“Putar haluan ke Kamakura,” ujar Andrew memberi perintah.


Menemukan petunjuk memang penting, tapi nyawa Clak dan Leon lebih utama. Andrew tidak ingin merasa menyesal kalau sampai terjadi sesuatu terhadap kedua orang temannya itu. Apalagi Garry masih tetap tidak bisa dihubungi. Takutnya ada yang menyabotase rencana mereka.


Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Getaran dari ponselnya menarik perhatian Andrew. Matanya berbinar penuh harap ketika melihat nama yang tertera di layar telepon.


“Garry?” panggil Andrew setelah menerima panggilan itu.


“Kapten, sudah dipastikan bahwa Clark dan Leon menghilang di kediaman keluarga Nakamura. Sinyal terakhir terdeteksi sebelum mereka memasuki gerbang utama. Sepertinya ada seseorang yang sedang menyiapkan jebakan. Anda berhati-hatilah.” Garry langsung menghujani Andrew dengan banyak informasi yang didapatnya setelah mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya.


“Baik. Aku mengerti,” jawab Andrew.


Rupanya dugaannya benar. Ada seserorang yang ingin menjebaknya. Dari semua musuh yang ia hadapi, siapa yang memiliki kemungkinan dan kemampuan untuk melakukan hal semacam ini? Di dalam hati, Andrew sudah memiliki dugaan. Ia hanya perlu mengkonfirmasinya saja.


***


Mau curhat, Gaes...


Jujur udah sempet kepikiran untuk tamatin di seadanya aja. Tapi terus saya keinget komen2 kalian yg selalu setia menanti, setia semangatin, tetap nunggu meski saya sempat hiatus lumayan lama...


akhirnya saya memutuskan untuk tetap lanjut sesuai janji saya sebelumnya untuk happy ending.


So, karya ini murni saya persembahkan untuk kalian, Kesayangan❤️


Happy reading.


❤️❤️❤️