Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Milikku adalah milikmu juga



Lima jam kemudian, saat pesawat berhasil mendarat dengan selamat di landasan pribadi milik Phoenix.Co, Andrew menuntun tangan Keiko dengan bersemangat menuju pintu keluar. Karena masih pagi, cuaca masih terasa dingin. Untunglah Andrew sudah mengingatkan Keiko untuk memakai mantelnya sebelum turun dari pesawat.


Langit Kota Paris terlihat sedikit berawan, tapi tidak mengurangi keindahannya. Keiko berhenti sebentar di ujung tangga dan menarik napas dalam-dalam, menikmati kesegaran yang menguar di udara. Hatinya terasa sangat lega dan nyaman. Hatinya diliputi semangat dan optimisme untuk menyambut masa depan yang baru. Senyum lebar yang terpatri di wajahnya terpantul di manik hitam milik Andrew.


“Tampaknya suasana hatimu sedang sangat baik. Sudah tidak marah kepadaku karena menggoda Hiro?” tegur Andrew dengan sudut bibir melengkung ke atas.


Deretan gigi Keiko yang putih dan rapi terlihat jelas ketika menyeringai lebar. Ia mengangguk pelan seraya menjawab, “Lumayan.Tapi kamu harus berhenti mengganggunya. Aku tidak ingin melihat kalian terus bertengkar.”


“Aku tidak bisa berjanji untuk tidak mengganggunya. Tapi, selama dia tidak terus berusaha untuk merebutmu dariku, maka aku pun tidak akan mengambil tindakan terhadapnya,” balas Andrew dengan tegas. Ia tidak ingin menutup-nutupi dari Keiko bahwa ia tidak suka melihat Hiro yang masih keras kepala.


Keiko menarik menghela napas dan menggeleng pelan, lalu bergumam, “Terserah kamu saja."


“Kamu marah?”


“Tidak. Bagaimana bisa aku marah kepadamu ....” Keiko menoleh ke arah Andrew dan tersenyum manis.


Andrew mendadak berhenti melangkah. Ia memegang dada kirinya dengan kedua tangan sambil bergumam, “Oh, jantungku ....”


Keiko terkekeh dan memukul bahu pria itu dengan cukup keras.


“Kamu lebih norak dari yang aku bayangkan,” gumamnya di sela tawanya.


Kedua orang itu terus berjalan ke arah mobil jemputan sambil bercanda, sesekali berhenti dan saling menggoda, sama sekali tidak menyadari jika ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari belakang. Tatapan itu begitu membara sehingga sepertinya mampu menaikkan suhu udara kota Paris dalam sekejap.


“Tuan, hati-hati, Anda bisa melukai diri sendiri,” tegur salah seorang perawat ketika melihat Hiro mencabut jarum infus dari punggung tangannya dengan asal-asalan.


Darah segar mengalir dari bekas tusukan jarum, tapi Hiro seolah tidak merasakan sakitnya. Ia berjalan selangkah demi selangkah. Sorot matanya yang tajam seakan ingin menusuk punggung Andrew dari belakang. Namun, ketika melihat tangan Keiko yang membalas genggaman Andrew dan merapat ke tubuh pria itu, tatapan Hiro meredup. Ia mengalihkan pandangan dan menggertakkan gigi. Keiko tampak begitu bahagia saat bersama Andrew, haruskah ia memaksakan diri dan membuat senyum ceria itu hilang dari wajah gadis yang dicintainya?


Di depan sana, setelah masuk ke mobil yang menjemput mereka di bandara, Keiko baru ingat bahwa Hiro tidak ada bersama mereka. Ia menoleh ke belakang dan mendapati bahwa Hiro baru saja mencapai ujung tangga pesawat. Wajah pria itu terlihat sangat muram, membuat Keiko merasa sedikit merasa bersalah.


Andrew ikut melihat dari kaca spion dan berkata, “Tenang saja. Ada mobil yang akan mengantarnya ke rumah sakit. Biarkan dia beristirahat beberapa hari di sana.”


“Oh. Oke ....”


“Kalau kamu masih terus memikirkannya, aku akan menyuruh orang untuk membuangnya ke semak-semak,” ancam Andrew. Pria itu mengangkat dagunya dengan angkuh dan memberi tatapan mengancam.


Keiko terkekeh geli dan mencubit pinggang pria itu hingga membuatnya mengaduh.


“Kurangi sedikit rasa cemburumu, Mr.Roux. Benar-benar kekanakan,” gerutu Keiko di sela tawanya.


Keiko mendesah tak berdaya. Ia menarik tangan Andrew dan menggengamnya dengan erat, kemudian berkata, “Aku sudah mengatakannya sebelumnya, aku hanya mencintaimu Mr. Roux ....”


Sudut bibir Andrew berkedut. Ia menoleh, lalu menarik tangan Keiko dan mencium punggung tangannya, menangkupnya dan menggengamnya dengan erat.


“Mulutmu semakin manis saja, tunggu sampai di rumah, aku akan memberimu hadiah ....”


Keiko mendengkus sebagai jawaban. Hadiah apanya. Paling pria itu hanya akan menindasnya lagi seperti seekor serigala yang buas. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Salahkan dirinya yang terlanjur mencintai si serigala.


Supir mengendarai mobil keluar dari wilayah landasan pacu, memutar ke arah west gate dan meluncur mengikuti jalan beraspal yang terbentang jauh.Keiko mengamati deretan gedung dan pesawat yang melintas dari kaca jendela dengan perasaan takjub. Jelas-jelas ini adalah landasan untuk pesawat pribadi, tapi bangunannya terlihat semegah bandara internasional. Mobil yang sedang mengantar mereka itu pun ia tahu harganya tidak murah. Setidaknya mampu untuk membeli tiga buah rumah megah di pusat Kota Tokyo.


Keiko gelisah. Bagaimana reaksi ayah Andrew ketika bertemu dengannya nanti? Ia menggigit bibir dan melirik ke sebelah. Tangan Andrew yang membungkus jemarinya tampak kokoh, garis tulang rahangnya yang tegas terlihat serius, tetapi senyuman di wajahnya tampak manis dan lembut. Mau tak mau sudut bibir Keiko melengkung. Kecemasannya perlahan mereda. Ada Andrew di sisinya, semua akan baik-baik saja, ‘kan?


Beberapa kilometer kemudian, mobil berbelok memasuki jalan raya, melaju cepat di jalanan Kota Paris yang tidak terlalu dikenal oleh Keiko. Terakhir kali ia berkunjung ke Paris adalah ketika harus menemani Hiro menghadari acara lelang amal yang dilakukan oleh salah satu kolega. Setelah acara itu selesai, mereka langsung pulang karena ayahnya khawatir terjadi sesuatu kepadanya. Ia bahkan hanya sempat melihat sekilas menara Eiffel yang terkenal itu.


Di sepanjang jalan, gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi dengan rapat. Meski demikian, arsitektur bangunan tampak indah dipandang. Rumpun perdu dan pohon-pohon kecil ditanam di balkon dan atap gedung sehingga udara tetap sejuk, tidak terasa gersang sama sekali. Keiko cukup kagum dengan teknologi yang digunakan di kota itu, berbeda dengan Tokyo yang masih menggunakan cara yang lebih kuno dengan membuat taman dan hutan kota.


Pantulan matanya yang berbinar tertangkap oleh Andrew saat menoleh. Dalam hati pria itu sedikit berharap Keiko akan menyukai Paris. Wajah gadis itu terlihat cukup antusias, membuatnya ikut merasa bersemangat.


“Aku harap kamu akan senang tinggal di kota ini, tapi kalau kamu kesulitan untuk menyesuaikan diri, kita bisa mencari tempat yang lebih tenang untuk tinggal.”


Keiko menengok ke arah Andrew dengan cepat saat mendengar suaranya. Ia tersenyum tipis dan menjawab, “Kota ini cukup indah dan nyaman, tapi sangat ramai. Sejujurnya aku suka lingkungan yang lebih tenang.”


“Tidak masalah, kita dapat mengaturnya nanti. Setelah kamu cukup istirahat, aku akan mengajakmu berkeliling untuk melihat-lihat.”


“Apa aku merepotkanmu?” balas Keiko, sedikit merasa bersalah karena takut akan menyulitkan Andrew.


“Tenang saja, Baby. Apa yang menjadi milikku adalah milikmu juga, kamu hanya perlu menunjuk mana yang kamu mau.”


Andrew mengedipkan matanya dan melanjutkan, “Kamu cukup menjadi Mrs.Roux saja, melayani suamimu dengan baik di ranj ... aw, kenapa mencubitku?“


Keiko mendelik. Pipinya memerah. Pria di sampingnya itu benar-benar tidak tahu malu. Apakah dia tidak takut supir menguping pembicaraan mereka dan menyebarkannya ke luar? Bagaimana ia harus menyembunyikan wajahnya nanti?


***