
Kakslauttanen arctic resort, Finlandia.
Di dalam salah satu iglo kaca di kawasan resort mewah itu, Keiko bergulung dengan nyaman dalam pelukan Andrew. Keduanya menatap keluar, langit malam yang bertabur bintang tampak semakin indah dengan adanya aurora borealis. Perpaduan warna hijau, biru, dan keunguan itu sangat memikat. Keiko tidak bisa berhenti menatapnya dengan penuh rasa kagum.
Tadinya mereka ingin menyaksikan pemandangan menakjubkan itu dari luar, tapi cuaca terlalu dingin. Meski sudah memakai baju berlapis dan mantel bulu yang tebal, Keiko tetap bersin-bersin sehingga Andrew membawanya ke resort. Walau demikian, pemandangan dari dalam iglo kaca itu tak kalah indah. Kasurnya sangat empuk dan lembut. Ditambah bisa bergelung berdua dalam selimut yang hangat, Keiko tidak merasa menyesal sama sekali karena tidak bisa melihat langsung aurora yang menari di atas lapisan es. Dari dalam tempat itu pun aurora terlihat sangat indah dan menakjubkan.
Andrew mengusap lengan Keiko dan mengendusi rambutnya. Tadi istrinya sempat sedikit kurang enak badan saat baru tiba di resort, mungkin karena perubahan cuaca yang terlalu dingin dan ekstrim. Untunglah sekarang tampaknya kondisinya sudah lebih baik.
Wanita dalam pelukannya itu tidur melingkar seperti seekor anak kucing yang patuh, membuat Andrew merasa gatal dan ingin melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Membuatnya berteriak kencang misalnya, atau menekan kedua tangannya di atas kasur saat ia memasukinya dengan keras, um ... mungkin menjelajahi setia inchi kulit yang halus dan wangi itu dengan lidahnya.
Oh ... astaga, memikirkannya saja sudah membuatnya mengeras.
Andrew menggeram dan mengetatkan pelukannya. Kepalanya menyuruk semakin dalam ke lekukan leher Keiko dan menyesap pembuluh darah yang berdetak dan menggelitik lidahnya.
Keiko men*desah dan menggeliat. Fokusnya terbagi pada pemandangan indah di luar tirai kaca dan gerakan konstan yang membuat sekujur tubuhnya meremang.
“Sayang, aku masih lelah,” gumam Keiko ketika merasakan telapak tangan yang hangat dan lebar menelusup masuk ke balik punggung dan melepaskan kait branya. Andrew benar-benar seperti binatang kelaparan, memakannya tanpa henti sepanjang waktu.
Gerakan Andrew terhenti. Ia mengecup kening istrinya, lalu turun ke pipi dan bibir wanita itu.
“Ingin kuambilkan camilan?” tawarnya. Mungkin ia akan mampir ke kamar mandi untuk mandi air dingin sebelum mengambilkan camilan untuk istrinya. Tubuh Keiko benar-benar seperti magnet yang menarik kutub-kutub dalam dirinya untuk terus menempel dan menggesek dengan intim.
“Um ... apakah ada kakigori*?” tanya Keiko sambil menggigit bibir.
“Kaki ... apa?” Kening Andrew mengernyit. Ia belum pernah mendengar nama makanan yang baru saja disebutkan oleh istrinya itu.
“Kakigori ... es serut dengan aneka toping.” Mata Keiko berbinar penuh harap. Membayangkan rasa yang manis dan segar membuat air liur berkumpul semakin banyak dalam mulutnya.
“Es serut?” Mata Andrew menyipit. “Ini sudah hampir tengah malam dan kamu tadi bersin-bersin karena kedingingan. Aku ambilkan yang lain saja bagaimana?”
Pendar di mata Keiko mendadak padam. Wanita itu memalingkan wajahnya ke samping sebelum menjawab, “Oke.”
Melihat keceriaan yang menghilang secara tiba-tiba itu membuat Andrew menghela napas panjang. Hatinya paling lemah melihat Keiko kecewa seperti itu.
“Sangat ingin kaki itu?” tanyanya sambil mengangkat alis.
“Kakigori!” ralat Keiko seraya menoleh cepat ke arah Andrew dengan bibir mengerucut.
Andrew terkekeh pelan dan bangun dari ranjang. Hasratnya yang menggebu sudah raib entah ke mana. Ia pergi ke ruang depan dan mengubungi room service untuk meminta camilan yang diinginkan oleh istrinya.
“Baik, Tuan. Kami akan segera mengantarkannya ke kamar Anda,” jawab pelayan dari seberang sana.
Andrew kembali ke kamar dan menarik Keiko ke dalam pelukannya. Kedua orang itu sama sekali tidak tahu keributan yang baru saja mereka ciptakan di dapur resort pada tengah malam itu. Koki yang bertugas sampai harus mencari tahu di internet apa itu Kakigori. Ia sudah panik karena mengira itu adalah jenis makanan yang sulit dibuat dan bahan-bahan mahal yang mungkin tidak mereka miliki. Namun, saat mengetahui itu adalah sebuah nama untuk es serut khas Jepang yang hanya diberi toping permen/jeli, matcha, kacang merah, dan sebagainya, koki langsung menghela napas lega. Tak sampai setengah jam kemudian, es serut dengan aneka toping itu sudah di antar ke ruangan VIP milik Andrew Roux.
“Ada apa, Baby?” tanya Andrew yang menyusul karena cemas melihat tingkah istrinya itu.
“Kenapa rasa jelinya pahit?” keluh Keiko dengan wajah cemberut.
“Pahit?” Andrew semakin heran. Meski demikian, ia tetap membantu istrinya membasuh mulut, lalu menggandengnya kembali ke kamar.
“Ini sangat pahit. Kamu coba,” ujar Keiko seraya menyendok es serut dan topingnya, lalu menyuapkannya ke mulut Andrew.
Andrew mengunyah jeli dalam mulutnya dengan perlahan, mencoba mencari rasa pahit yang dikeluhkan oleh istrinya tadi. Anehnya, hanya rasa kenyal dan manis yang ia rasakan.
“Ini tidak pahit, Sayang,” kata Andrew sambil menatap Keiko dengan ekspresi keheranan. Sedetik kemudian, matanya berkilat ketika mengingat Keiko sudah bertingkah aneh sejak tiba di Finlandia. Istrinya itu hanya mau makan dumpling buatannya dan selalu memuntahkan makanan yang terlalu berbumbu.
“Baby, tanggal berapa biasanya periode bulananmu?” tanya Andrew hati-hati, tidak ingin mengejutkan istri mungilnya itu meski jantungnya sendiri sudah berdentam tak beraturan.
Keiko tampak shock beberapa saat mendengar pertanyaan itu. Otaknya berusaha mencerna semua informasi yang didapatnya hanya dengan satu pertanyaan singkat itu. Sial. Mengapa ia bahkan tidak mengingatnya sama sekali. Sepertinya itu sudah lewat dari tanggal yang seharusnya ... astaga, tanggal berapa mereka menikah? Itu terlalu tiba-tiba dan ia tidak sempat mempersiapkan atau memikirkan semuanya.
“Aku ... itu ... seharusnya saat kita menikah,” gumam Keiko dengan linglung. Itu artinya sudah lewat dua minggu. Hatinya tiba-tiba merasa hangat dan cemas pada satu waktu.
“Selama dua minggu ini kamu tidak ....” Kata-kata Andrew mengambang begitu saja. Ia meniduri Keiko hampir sepanjang waktu tanpa pengaman ... dan ia tahu wanita itu tidak sedang dalam siklus bulanannya. Itu berarti ... astaga, apakah mungkin?
Tangan Andrew sedikit gemetar ketika menyentuh perut istrinya yang masih rata, mengusapnya dengan sangat perlahan dan hati-hati. Tidak berani menebak, tapi juga sedikit berharap.
Mau tak mau Keiko menahan senyum saat melihat ketegangan dalam pantulan mata suaminya. Pria sehebat itu pun bisa tegang dan merasa takut?
“Baru terlambat dua minggu, besok saja beli—“
“Tidak. Aku panggil dokter sekarang,” sela Andrew sambil melompat kembali ke ruang depan untuk menghubungi room service.
Ia tidak mau melakukan kesalahan sekecil apa pun yang bisa membuatnya kehilangan Keiko atau calon bayi mereka ... um, jika janin itu sudah ada ....
Malam itu, kehebohan terjadi lagi di dalam resort karena Andrew Roux meminta dokter kandungan untuk datang malam itu juga. Tidak hanya satu, tapi lima dokter dari lima rumah sakit yang berbeda, hanya untuk memastikan bahwa ada nyawa mungil miliknya dan Keiko yang akan segera hadir ke dunia.
***
Kakigori adalah es serut khas jepang dengan toping permen/jeli, tapi sekarang sudah banyak modifikasi topingnya.
Jangan lupa likeee ❤